seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Di dalam dekapan suaminya, Rara yang sudah lemas hanya bisa tersenyum sangat tipis, menatap wajah cemas Athur dengan pandangan sayu.
"Luka kemarin di tangan kanan saja belum sembuh, Mas... dengan bodohnya, sekarang aku malah menambah luka baru di tangan kiri," cicit Rara lirih, mencoba menghibur Athur di tengah rasa perih yang mendera.
"Bodoh." cicit Athur berkaca-kaca melihat kondisi Rara.
Salah satu anak buah Athur yang bersiaga di luar dengan cepat berlari masuk membawakan kotak P3K yang ia ambil dari ruang kesehatan sekolah yang letaknya tidak jauh dari gudang tua tersebut. Bagas dengan sigap bersiap untuk membantu membersihkan luka Rara.
Namun, di tengah kesibukan tim medis itu, Jesika yang wajahnya sudah tertekan ke lantai semen justru mengeluarkan suara tawa yang sangat melengking dan mengerikan.
"Hahaha... Jangan senang dulu, Athur! Kau... kau sudah terjebak di wilayahmu sendiri!" seru Jesika dengan mata melotot gila.
Athur yang fokusnya sedang terbagi penuh untuk mendekap Rara tidak menyadari ada bahaya lain yang mengintai tepat di samping tubuhnya. Bagas dan Evan sibuk mengurus jesika dan dua remaja ikut serta di pihak jesika.
Seseorang yang baru saja masuk ke dalam gudang—sosok yang selama ini dianggap sebagai orang tepercaya—tiba-tiba melangkah maju dengan sangat cepat. Sebuah pisau komando yang berkilat langsung dengan keras, menusuk tepat ke arah pinggang ramping Athur yang sedang berlutut membelakanginya!
Jleb!
"Bos Athur!!" Bagas membelalak terkejut setengah mati, berteriak histeris menyaksikan darah segar menyembur dari pinggang bosnya.
Informan rahasia Tuan Ganesha yang mengawasi dari balik jendela luar juga langsung terkejut. Tidak ingin membuang waktu satu detik lagi karena situasi sudah menumpahkan darah sang tuan muda, ia langsung melompat menerobos ventilasi gudang dengan gerakan taktis ala militer. Hanya dalam satu hantaman keras, sang informan berhasil memukul roboh dan melumpuhkan pengkhianat tersebut hingga tak sadarkan diri di lantai.
Ternyata, pengkhianat sejati di dalam organisi yang Athur dirikan selama tiga minggu ini dicari-cari—dan baru saja berpura-pura kembali dari Kota S—adalah Daren! Daren sengaja memanfaatkan momen kepanikan ini untuk menghabisi Athur dari jarak dekat atas kerja sama berlapis bersama Jesika.
Athur mengerang rendah, tangannya memegangi pinggangnya yang terus mengalirkan darah, namun dekapannya pada tubuh Rara sama sekali tidak terlepas.
Jesika yang melihat darah Athur mengalir deras langsung tertawa histeris dengan sisa tenaganya di bawah kuncian Evan.
"Hahahahaha! Pada akhirnya... tetap gue yang menang, Athur! Lu dan pelayan sialan lu itu bakal mati membusuk bersama di tempat ini!" raungnya penuh kemenangan gila, memicu emosi pembaca ke titik tertinggi di tengah kepungan darah di dalam gudang tua.
Suasana di dalam gudang tua itu seketika berubah menjadi lautan darah yang mencekam. Informan Tuan Ganesha melangkah maju dengan tatapan mata yang sangat tajam, memberikan perintah mutlak kepada Evan dan Bagas yang masih syok.
"Jangan buang waktu! Cepat bawa Tuan Muda Athur dan Nyonya Muda Rara ke rumah sakit sekarang! Biar bajingan-bajingan ini saya yang urus!" bentak sang informan dengan suara berat penuh wibawa.
Bagas dan Evan menatap pria yang baru saja masuk, raut wajah keduanya masih di selimuti kebingungan.
"Cepat! Jangan diam saja! Kau ingin mereka mati di sini kehabisan darah!" bentak si pria itu membuat kesadaran Bagas dan Evan kembali tertuju pada Athur dan Rara yang sudah tak sadarkan diri.
Kepanikan Massal Menuju Rumah Sakit
Kepanikan luar biasa melanda Evan dan Bagas. Dengan sisa tenaga yang ada, Evan membopong tubuh tegap Athur yang perlahan mulai kehilangan kesadaran akibat hantaman pisau Daren di pinggangnya, sementara Bagas mendekap tubuh mungil Rara yang sudah pucat pasi karena kehabisan banyak darah dari kedua telapak tangannya.
Di dalam mobil MPV hitam yang melaju membelah jalanan dengan kecepatan maut, baju Evan dan Bagas sudah basah kuyup oleh darah segar kedua orang yang mereka sayangi.
Ckiieeeekkkk!
Bagas mengerem mobilnya dengan sangat kasar tepat di lobi darurat rumah sakit pusat. Evan langsung melompat turun dari kursi sebelah kemudi, berlari menerobos pintu kaca sambil berteriak histeris di koridor rumah sakit, meruntuhkan seluruh wibawa ketenangannya sebagai diri Evan saat sedang Serius.
"DOKTER!! SUSTER!! TOLONG!! ADA PASIEN DARURAT!! DUA ORANG DI DALAM MOBIL SAYA SEKARANG JUGA!!" raung Evan dengan suara serak yang bergetar hebat menahan tangis.
Tim medis bergerak secepat kilat membawa dua brangkar dorong. Tubuh Athur dan Rara yang sudah tidak sadarkan diri langsung dialihkan ke atas brangkar. Rara sempat membuka sedikit matanya yang sayu dalam kondisi setengah sadar, jemari kirinya yang robek dan bersimbah darah bergerak lemah di udara, seolah-olah masih berusaha mencari dan menggapai tangan Athur di brangkar sebelah.
Saat brangkar dorong itu bergerak cepat membelah koridor dengan bunyi roda yang berderit nyaring, kesadaran Rara yang sudah berada di ambang batas mendadak tersentak oleh rasa takut yang luar biasa. Bukan takut karena rasa perih yang menyiksa kedua telapak tangannya yang robek, melainkan ketakutan karena melihat tubuh tegap Athur di brangkar sebelah sudah terbujur kaku dengan wajah seputih kertas.Dengan sisa tenaga terakhir yang hampir habis, Rara memaksakan tubuh mungilnya untuk bangkit dari atas brankar. Ia meronta lemah, mengabaikan teriakan panik para suster yang mencoba menahan bahunya.
"M-Mas Athur... jangan pergi... Mas!" jerit Rara dengan suara yang terputus-putus dan sangat parau. Air matanya meluncur deras, bercampur dengan noda debu gudang di pipinya.Tangan kirinya yang hancur dan bersimbah darah segar bergerak gemetar di udara, menolak untuk berbaring. Ia terus menangis histeris, berusaha meraih tubuh suaminya yang berjarak hanya satu meter di sebelahnya.
"Jangan tutup matamu, Mas... aku mohon... bangun... Mas Athur!!"Evan yang berlari mendampingi di sisi brangkar langsung mencengkeram lembut bahu Rara, menahan gadis itu agar tidak terjatuh dari atas kasur dorong.
Setetes air mata akhirnya lolos dari sudut mata pria itu yang biasanya berhati baja itu. Hatinya serasa tersayat melihat kegigihan istri kecil sahabatnya."Rara, dengerin abang! Rara harus tenang, demi bayi... eh, demi Mas Athur!" seru Evan dengan suara serak yang bergetar hebat menahan tangis, mengunci pergerakan Rara agar tim medis bisa bekerja.
"Mas Athur itu kuat, Ra! Dia nggak akan ninggalin kamu! Abang janji demi nyawa abang, Athur bakal selamat! Tapi kamu harus berbaring sekarang, Ra... abang mohon, jangan bikin luka kamu semakin parah..."
"Tapi Mas Athur dingin, Bang... dia nggak denger suara aku..." isak Rara begitu memilukan, suaranya semakin mengecil seiring dengan pasokan darah di tubuhnya yang semakin menipis.
Pandangan matanya yang mulai mengabur tetap dipaksakan menatap ke arah wajah kaku Athur di brankar sebelah. Sebelum pintu ruang operasi/ICU tertutup rapat dan memisahkan mereka, Rara membisikkan satu kalimat terakhir yang teramat sangat menyayat hati semua orang yang mendengarnya.
"Mas... kalau Mas Athur pergi... aku sama adik-adik... ikut siapa lagi...?" Detik berikutnya, seluruh pertahanan tubuh Rara runtuh total. Jemarinya yang bersimbah darah terkulai lemas di atas kasur, dan kelopak matanya tertutup sempurna bersamaan dengan brangkar keduanya yang didorong paksa menerobos pintu steril, meninggalkan Evan yang langsung terduduk lemas di lantai koridor dengan kedua tangan bersimbah darah.