Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Apa yang kalian dapatkan?” tanya Vera saat mereka sudah berkumpul kembali di dalam rumah persembunyian itu.
“Aku berhasil mendapatkan dokumen kepemilikan rumah itu,” jawab Andre sambil menunjukkan berkas yang ditemukannya.
“Kamu sampai masuk ke kamar utama dia, Ndre?” tanya Ucup penasaran.
“Tentu saja. Aku penasaran, dan tidak mungkin kita masuk ke tempat itu lalu pulang tanpa membawa hasil apa pun,” jawab Andre mantap.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Ternyata itu Bara dan Kiara yang baru saja turun untuk bergabung bersama mereka. Kiara melangkah sedikit sempoyongan, lalu segera duduk di kursi di samping Vera.
“Kamu masih mabuk?” tanya Vera menatap wajah Kiara yang masih tampak memerah.
“Sedikit saja,” jawab Kiara singkat.
“Saya ingin memberitahu kalian bahwa Rafa dan rombongannya sudah berhasil meloloskan diri dari tempat itu,” lapor Bara.
“Berarti kita gagal menangkap mereka?” gumam Ucup kecewa.
“Tidak juga. Ini baru permulaan. Nanti kita akan melihat sendiri bagaimana kacau dan kisruhnya keadaan ketika para tamu penting itu tertangkap oleh polisi,” sahut Andre tenang.
“Tadi aku juga sempat bertatapan langsung dengan Om Henri. Dia juga melihatku, tapi reaksinya malah seperti orang yang sangat ketakutan,” tambah Bara.
“Mungkin dia mengira melihat hantu, Bar,” canda Vera ringan.
“Sudah, jangan bicara yang lain dulu. Ndre, segera jelaskan isi dokumen itu,” pinta Kiara tak sabar.
“Baik. Pemilik rumah itu bernama Jonathan
Cluster. Ia berasal dari New York, dan sudah membeli rumah ini sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Ia adalah mantan bos mafia yang dulu sempat terlibat dalam jaringan perdagangan manusia berskala besar,” jelas Andre.
“Lalu atas nama siapa rumah itu dikelola sekarang?” tanya Kiara lagi.
“Sepertinya masih dipegang oleh kerabat dekat keluarga Cluster. Nanti kita akan cari tahu lebih lanjut. Sekarang kita harus segera pergi dari perumahan ini sebelum ada yang mulai curiga,” jawab Andre.
Kelima orang itu pun segera membereskan barang-barang mereka dengan tergesa, lalu meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
.
.
.
Sementara itu, di rumah megah milik Anton, ia sedang menunggu laporan dari anak buahnya yang baru saja selesai melakukan pengintaian selama beberapa hari terakhir. Anton sudah lama mencurigai adanya hubungan terlarang antara Risma dan Henri, serta yakin ada rahasia besar yang mereka sembunyikan darinya.
Tak lama kemudian, Baron masuk membawa berkas dan hasil pengamatan yang dinanti-nantikan itu.
“Apa berhasil kamu dapatkan?” tanya Anton tanpa basa-basi.
“Saya mendapatkan informasi bahwa Bu Risma dan Pak Henri sering pergi ke sebuah hotel,” jawab Baron.
“Lalu? Apa lagi yang kamu temukan?” desak Anton.
“Pihak hotel semula enggan memberikan keterangan, namun setelah saya berikan peringatan tegas, mereka akhirnya mengaku bahwa Bu Risma dan Pak Henri sudah sering mengunjungi tempat itu. Mereka biasanya menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan beberapa kali menginap selama berhari-hari,” jelas Baron panjang lebar.
“Sialan… Mereka benar-benar keterlaluan!” geram Anton, namun ia berusaha menahan emosinya agar tetap terkendali.
“Apa lagi yang berhasil kamu temukan?” tanya Anton lagi.
“Bu Risma dan Pak Henri masih berada di Jakarta, Tuan. Mereka berbohong soal rencana pergi ke Yogyakarta,” jawab Baron.
“Jadi mereka memang berbohong…” gumam Anton menahan amarah.
“Selain itu, saya juga mengetahui bahwa mereka berempat—Pak Henri, Bu Risma, Pak Rafa, dan Bu Yuli—pergi ke sebuah perumahan elit di daerah BSD, Tangerang,” tambah Baron.
“Apa?! Untuk apa mereka pergi ke sana?!” tanya Anton dengan nada suara yang tertahan keras.
“Di tempat itu sedang berlangsung acara pelelangan gelap. Mereka menjalankan bisnis haram memperjualbelikan gadis-gadis muda kepada para pejabat dan pengusaha kaya,” lapor Baron tegas.
“Kumpulkan dan simpan semua bukti itu dengan rapi. Suatu saat nanti, aku akan membongkar semua kebusukan mereka di depan umum. Selama ini aku telah tertipu habis-habisan oleh mereka,” perintah Anton dengan mata menyala penuh amarah.
“Namun Tuan, ada satu hal lagi yang membuat saya ragu untuk menyampaikannya,” ucap Baron ragu-ragu.
“Katakan saja. Jangan ragu sedikit pun. Aku siap mendengar semuanya,” jawab Anton tegas.
“Saya tidak sengaja mendengar percakapan antara anak buah Pak Henri. Mereka mengatakan bahwa Angga sebenarnya bukan anak kandung Tuan. Angga adalah anak kandung Pak Henri. Rencananya, jika seluruh harta dan warisan perusahaan jatuh ke tangan Angga, maka secara otomatis Tuan akan disingkirkan dari rumah dan kekuasaan ini selamanya,” jelas Baron hati-hati.
Mendengar penjelasan itu, Anton langsung menggebrak meja di hadapannya dengan sekuat tenaga.
Brak!!!
“Kurang ajar benar mereka berani mempermainkan aku! Baron, siapkan mobil sekarang juga! Malam ini aku akan menemui Diki, dan besok aku akan menemui Pak Hendrik untuk menyelesaikan semuanya!” perintah Anton dengan suara menggelegar.
“Baik, Tuan. Siap laksanakan!” jawab Baron sigap, lalu segera bergegas keluar menuju garasi untuk menyiapkan kendaraan.
“Tunggu saja, Henri dan Risma… Aku pastikan kalian akan menemui ajal di tanganku sendiri,” desis Anton penuh dendam.
Bersambung
oke guys maaf kalo update selalu lama , di karena aku harus mencari ide-ide yg menarik di novel..