Kisah tentang Sukame yang mendapat julukan Pendekar Murah Hati. Dimana kehidupannya dimulai dari masa kecilnya hingga ketika dia menghadapi hitam putihnya dunia persilatan.
Ternyata banyak sekali suka dan duka yang dia alami, yang membuat dirinya sadar akan apa dan mengapa tujuannya untuk hidup.
Bagi yang penasaran akan kisah ini silahkan membaca semoga menjadi terhibur serta dapat mengambil hikmah dari kisah Pendekar Murah Hati ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon loren defretes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diusir dari Partai Pengemis
Setelah membeli obat dan mengobati luka, mereka berdua kembali menuju ke markas Partai Pengemis.
Tidak lama mereka sampai di markas itu, ternyata sejak dari tadi mereka telah di tunggu oleh ketua Jao yang merupakan ketua kelompok di kota Raja.
"Ada apa dengan kalian?" tanya ketua Jao ketika melihat muka Sukame yang lebam, dan Riek berjalan dengan kaki pincang.
"Maaf ketua barusan kami berkelahi dengan anak orang kaya" jawab Riek.
"Kalian berdua baru sehari di kota Raja sudah buat masalah" seru ketua Jao dengan nada tinggi.
"Maaf ketua" Sukame dan Riek meminta maaf sambil menundukkan kepalanya.
"Cepat masuk!, kalian sudah ditunggu ketua besar" seru ketua Jao kembali.
Mereka berdua bersama ketua Jao melangkah masuk ke ruang utama.
"Perasaanku tidak enak, sepertinya ada sesuatu hal buruk akan menimpaku." gumam Sukame dalam hati.
Ternyata benar apa yang dia takutkan terjadi, Sukame dan Riek terkejut ketika melihat kakek dan anak kaya itu sudah bersama ketua besar.
"Itu mereka" ujar anak kaya itu sambil melotot matanya.
"Apa benar tadi kalian berkelahi dengan anak ini?" tanya ketua besar.
"Benar ketua" sahut Sukame dan Riek bersama sama.
"Yang mukanya bengkak, dialah biang keladinya" ujar anak kaya itu.
Sedangkan Sukame hanya diam menunduk, begitu pula dengan Riek.
"Apakah kalian tahu?, kakek anak ini adalah ketua Partai Belalang Sakti dan kita sudah bersahabat sangat lama" ketua menjelaskan dengan nada tinggi
"Ampun ketua kami tidak tahu!" ujar Sukame dan Riek.
"Sebagai hukumannya, mulai hari ini kamu Sukame dikeluarkan dari anggota Partai Pengemis, sedangkan Riek hukuman yang cocok buat kamu adalah setiap hari harus membersihkan markas dan dilarang keluar dari markas ini!" seru ketua Besar menatap tajam Sukame dengan Riek bergantian.
Setelah mendengar perkataan dari ketua Besar, air mata Sukame jatuh membasahi pipinya, begitu juga dengan Riek.
Sedangkan anak kaya itu tersenyum sinis memandangi mereka.
"Ketua Jao, bawa mereka keluar!" seru ketua Besar. Ketua Jaopun membawa Sukame dan Riek keluar dari ruangan itu.
"Maafkan aku Sukame" ujar Riek, Sukame hanya mengangguk dan mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa.
"Aku juga minta maaf" saut Sukame, mereka berduapun berpelukan.
"Aku akan selalu mengingat kejadian hari ini" ujar Sukame lagi.
Malam itu juga Sukame pergi meninggalkan Partai Pengemis dengan membawa luka di hatinya, luka yang ia alami tak seberapa sakitnya dibandingkan hatinya.
"Sebaiknya aku pergi dari kota Raja" gumamnya dalam hati.
Biarpun malam telah larut ia tetap melangkahkan kakinya meninggalkan kota Raja. Ketika dia sudah mulai kelelahan, Sukame tidur di tanah lapang yang tidak jauh darinya berdiri.
Ketika dia sedang tidur menghadap ke langit sambil memandangi bintang-bintang yang bercahaya, tiba-tiba terdengar suara orang tua terbatuk uhug...uhug...uhug...
Lalu Sukamepun bangkit dari tidurnya dan melihat kearah suara itu, nampaklah orang tua sedang duduk tak jauh dari dirinya berada, sepertinya Sukame pernah bertemu dengan orang tua itu sebelumnya.
"Apakah itu engkau nek?" tanya Sukame.
"Hihihi..." orang tua itupun tertawa.
"Ach, kamu memang pandai menebak" ujar orang tua itu yang tak lain adalah Dewi Tangan Seribu.
"Sepertinya kita memang berjodoh" ujar Dewi Tangan Seribu, sambil melangkah mendekati Sukame. Akan tetapi Sukame masih belum percaya.
"Ini nenek bukan?" Sukame berkata sambil mengucak matanya.
"Dasar sialan, kamu pikir saya hantu" ujar Dewi Tangan Seribu.
"Hi hi hi.." Sukame tertawa, dan seketika itu juga lenyap rasa sedih di hati Sukame, sebab dia sangat mengagumi akan kebaikan Dewi Tangan Seribu.
Sebenarnya sejak Sukame dan Riek kembali ke Partai Pengemis Tongkat Anjing, Dewi Tangan Seribu mengikuti mereka.
"Yang lalu biarlah berlalu nak, hidup ini hanya sementara" ujar Dewi Tangan Seribu.
"Kadang kita tertawa, kadang kita bersedih, biarlah kesedihan itu selalu mengingatkan kita akan keagungan Sang Pencipta" ujar Dewi tangan seribu lagi.
"Hi hi hi..., ternyata nenek pandai bersastra juga ya?" saut Sukame.
"Aku tidak salah pilih, sekian lama aku berkelana, akhirnya aku menemukanmu sebagai penerus" ujar Dewi Tangan Seribu.
"Apakah kamu mau ikut aku?" tanya Dewi Tangan Seribu.
"Mau nek, aku sudah tidak punya siapa siapa lagi aku akan mengikuti nenek kemanapun nenek pergi" ujar Sukame sambil menganggukkan kepalanya.
"Hi hi hi..." sambil tertawa Dewi Tangan Seribu menggandeng tangan Sukame dan mengajaknya pergi.
Sukame terkejut dan takjub ketika Dewi Tangan Seribu mengandeng tangannya sambil berjalan dengan sangat cepat, seakan akan terbang sambil berjalan diatas rerumputan dan alang alang.
Sukame mau pingsan merasakan kecepatan larinya Dewi Tangan Seribu.
Entah sudah berapa lama mereka berjalan dan berlari Sukame tidak bisa mengingatnya.
Sukamepun tanpa sadar diperjalanan ketiduran, ketika ia bangun dari tidurnya dia terkejut sudah berada didalam sebuah gubuk yang berdinding bambu dan beratap jerami.
"Rupanya kamu sudah bangun" ujar Dewi Tangan Seribu.
"Maaf nek saya ketiduran" saut Sukame, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mulai saat ini kamu tinggal disini bersama nenek" ujar Dewi Tangan Seribu sambil mengajak Sukame melihat sekeliling gubuk itu. Ternyata gubuk Dewi Tangan Seribu berada di puncak sebuah bukit,
"Mulai sekarang tugas kamu setiap hari mengambil air dari sungai yang letaknya dibawah kaki bukit ini!" seru Dewi tangan seribu.
"baik nek" saut Sukame.
*****
Sebelum matahari memunculkan wajahnya Sukame sudah bangun lalu bergegas menuju sungai dikaki bukit itu. Air tersebut selain untuk keperluan sehari hari juga untuk menyiram tanaman obat obatan, banyak jenis obat yang tumbuh di sekitar rumah itu.
Perjalanan naik turun dari bukit tempat tinggal itu sangatlah jauh jaraknya, dan jalannya sangat terjal, membuat telapak kakinya bengkak dan gemetar tidak kuat untuk berjalan lagi, sehingga Sukame di hari pertama hanya mampu mengambil air 1 kali.
*****
Sudah hampir 2 bulan melakukan hal tersebut lama kelamaan Sukame menjadi terbiasa sehingga membuat kaki dan tangannya menjadi kuat dan berotot.
Setiap hari sehabis mengambil air Sukame membantu Dewi Tangan Seribu untuk menyiram tanaman obat-obatan yang berada dibelakang gubuk serta membantu memasak.
"*K*ira kira kapan ya..., nenek mengajariku ilmu silat" gumam Sukame dalam hati.
*****
Tidak terasa Sukame tinggal bersama Dewi Tangan Seribu selama 6 bulan, dan kini usianya 10 tahun, dia masih berharap nenek itu mengajarinya ilmu silat akan tetapi apa yang dia inginkan belum juga tercapai tugasnya masih seperti pertama kali dia datang ke gubuk itu yaitu mengambil air dan mengurus tanaman obat.
Terkadang Sukame merindukan Riek beserta teman anggota Pengemis di kota Sunok.
"Bagaimana keadaan Riek dan teman teman yang lainnya?" gumam Sukame dalam hati sambil membayangkan ketika dirinya dengan teman temannya berlatih silat, dan makan bersama sama.
R I P 💐
1. Berlari di atas Awan
2. Tangan Penyembah.
Jurus yg laen pada kmna..!??