Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Lelaki Berjubah Hitam
Malam berlalu dengan rencana dan persiapan. Bobon tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya dipenuhi dengan apa yang dikatakan Aditya tentang segel ketujuh. Melepaskan semua yang dicintai. Itu adalah ujian yang paling berat. Tapi dia tahu dia harus melakukannya.
Pagi tiba dengan sinar matahari yang cerah. Bobon bangun dan memandangi langit di luar jendela. Hari ini adalah hari yang akan menentukan segalanya. Dia menarik napas dalam-dalam dan memutuskan untuk menghadapi semuanya dengan keberanian.
Sarapan berlangsung dengan suasana tegang. Seluruh keluarga kerajaan dan para tetua sekte berkumpul di ruang makan. Mereka semua tahu apa yang akan terjadi. Bobon akan membuka segel keenam dan ketujuh.
"Bobon, kau yakin ingin melakukan ini?" tanya Raja Arya dengan wajah khawatir.
"Aku yakin, Yang Mulia. Tidak ada jalan lain."
"Tapi risikonya sangat besar. Kau bisa kehilangan dirimu selamanya."
"Aku siap menghadapi risikonya. Untuk Kerajaan Kencana. Untuk semua orang yang aku cintai."
Raja Arya mengangguk dengan bangga. "Kau memang Pendekar Dewata sejati. Kami semua mendukungmu."
Setelah sarapan, Bobon, Wulan, dan Aditya berjalan ke ruang meditasi di bagian belakang istana. Ruangan itu sunyi dan gelap. Hanya ada beberapa lilin yang menyala di sudut-sudutnya.
"Ini adalah tempat yang tepat untuk membuka segel keenam," kata Wulan. "Di sini, energi tenang dan fokus."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Bobon.
"Duduklah dan pejamkan matamu. Fokuskan pikiranku pada segel di matamu. Aku akan memainkan melodi khusus yang akan membantumu membukanya."
Bobon duduk di tengah ruangan. Dia memejamkan mata dan mencoba menenangkan pikirannya. Wulan mulai meniup serulingnya. Melodi yang lembut dan menenangkan mengalun di ruangan itu.
Perlahan, Bobon merasakan getaran di kedua matanya. Segel keenam mulai berdenyut. Rasa sakit yang tajam menusuk matanya. Dia menggigit bibirnya menahan sakit.
"Tahan, Bobon!" kata Wulan. "Kau bisa melakukannya!"
Bobon berkonsentrasi. Dia membayangkan segel di matanya terbuka perlahan. Rasa sakit itu semakin kuat. Tapi di balik rasa sakit, ada cahaya yang mulai muncul. Cahaya yang terang dan hangat.
"Aku... aku melihat sesuatu," bisik Bobon. "Aku melihat... masa lalu."
Cahaya itu semakin terang. Bobon melihat kilasan demi kilasan. Dia melihat dirinya sebagai pendekar gagah. Dia melihat Wulan tersenyum padanya. Dia melihat Nenek Mira merawatnya. Dia melihat semua orang yang dicintainya.
Dan kemudian dia melihat dirinya sendiri. Bocah gendut yang bodoh dan polos. Tapi di balik kebodohan itu, ada kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang selama ini tersembunyi.
Segel di matanya retak. Retakan kecil yang terus melebar. Rasa sakit mencapai puncaknya. Bobon berteriak.
"SAKIT!"
Tapi tiba-tiba, rasa sakit itu hilang. Digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. Bobon membuka matanya. Segalanya terlihat berbeda. Lebih jelas, lebih tajam. Dia bisa melihat energi yang mengalir di sekitar Wulan dan Aditya. Dia bisa melihat aliran udara di ruangan itu. Dia bisa melihat jauh melampaui dinding ruangan.
"Aku... aku bisa melihat semuanya," kata Bobon dengan takjub. "Aku bisa melihat energi. Aku bisa melihat aliran alam semesta."
Wulan tersenyum. "Segel keenam telah terbuka. Kau sekarang memiliki penglihatan dewa."
Bobon melihat ke arah Aditya. "Sekarang segel ketujuh."
Aditya menggeleng. "Tidak sekarang, Bobon. Kau butuh istirahat. Tubuhmu perlu menyesuaikan diri dengan kekuatan baru."
"Tapi aku merasa baik-baik saja."
"Kau mungkin merasa baik, tapi tubuhmu sedang dalam masa transisi. Jika kau memaksakan diri, kau bisa pingsan atau bahkan mati."
Bobon menghela napas. Dia tahu Aditya benar. "Baiklah. Aku akan istirahat hari ini."
Malam harinya, Bobon duduk di balkon kamarnya. Penglihatannya yang baru memungkinkan dia melihat bintang-bintang dengan lebih jelas. Dia bisa melihat cahaya mereka, energi mereka, aliran mereka di langit.
"Kau tidak bisa tidur?" suara Wulan dari belakang.
Bobon menoleh. Wulan berdiri di pintu balkon dengan seruling di tangannya. "Aku terlalu bersemangat, Wulan. Semua ini terasa seperti mimpi."
"Ini bukan mimpi, Bobon. Ini kenyataan. Dan kau semakin kuat setiap hari."
"Aku takut dengan segel ketujuh, Wulan. Aku takut kehilangan semua yang aku cintai."
Wulan duduk di sampingnya. "Kau tidak akan kehilangan kami. Kami akan selalu di sisimu. Apapun yang terjadi."
"Tapi Aditya bilang aku harus melepaskan semuanya."
"Mungkin maksudnya bukan melepaskan secara fisik. Mungkin maksudnya kau harus rela melepaskan. Kau harus siap untuk kehilangan, tapi itu tidak berarti kau akan benar-benar kehilangan."
Bobon merenungkan kata-kata Wulan. Mungkin dia benar. Mungkin segel ketujuh adalah tentang penerimaan. Tentang menerima bahwa segala sesuatu di dunia ini sementara. Tentang tidak terikat secara berlebihan.
"Aku mengerti sekarang," kata Bobon perlahan. "Aku harus menerima bahwa aku bisa kehilangan semua yang aku cintai. Tapi itu tidak berarti aku berhenti mencintai mereka."
Wulan tersenyum. "Kau sudah siap, Bobon. Aku tahu itu."
Mereka berdua duduk diam menatap langit malam. Di kejauhan, suara langkah kaki terdengar. Aditya muncul di balkon dengan wajah serius.
"Bobon, ada sesuatu yang harus kau lihat," kata Aditya.
"Apa?"
"Di luar tembok istana. Ada seseorang yang menunggumu. Dia meminta bertemu."
Bobon berdiri. "Siapa?"
"Seorang lelaki berjubah hitam. Aku tidak mengenalinya. Tapi dia bilang dia punya informasi penting tentang Kaisar Kegelapan."
Bobon mengerutkan kening. "Apa itu jebakan?"
"Mungkin. Tapi dia datang sendirian dan tidak bersenjata. Aku pikir setidaknya kita harus mendengarnya."
Bobon mengangguk. "Baiklah. Aku akan menemuinya."
Mereka bertiga berjalan ke gerbang istana. Di luar, seorang lelaki berjubah hitam berdiri sendirian. Wajahnya tertutup, tapi matanya terlihat jelas. Mata yang tua dan bijaksana.
"Kau Bobon?" tanya lelaki itu.
"Aku Bobon. Siapa kau?"
"Aku adalah utusan dari Sekte Es Utara. Aku datang untuk memberitahumu bahwa Kaisar Kegelapan telah bergerak. Dia akan menyerang dalam tiga hari."
Bobon terkejut. "Tiga hari? Tapi kami pikir masih ada waktu beberapa minggu."
"Dia mempercepat rencana. Dia tahu kau semakin kuat. Dia tidak mau memberi kesempatan padamu."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kau harus bersiap. Kumpulkan semua kekuatan yang kau miliki. Karena pertempuran ini akan menjadi pertempuran terakhir."
Lelaki itu menatap Bobon dengan mata serius. "Dan satu hal lagi. Segel ketujuhmu harus terbuka sebelum pertempuran dimulai. Tanpa itu, kau tidak akan cukup kuat."
Bobon menggenggam tangannya. "Aku akan membukanya. Apapun yang terjadi."
Lelaki itu mengangguk dan pergi menghilang dalam kegelapan. Bobon berdiri di gerbang istana, merenungkan semua yang baru saja didengar.
Tiga hari. Hanya tiga hari tersisa. Dan dia masih harus membuka segel ketujuh.
"Aku akan melakukannya," bisik Bobon. "Aku akan membuka segel ketujuh. Dan aku akan mengalahkan Kaisar Kegelapan."
Wulan memegang tangannya. "Kami akan bersamamu, Bobon. Selalu."
Aditya mengangguk. "Aku akan membantumu membuka segel ketujuh. Tapi kau harus siap dengan konsekuensinya."
"Aku siap," kata Bobon dengan tegas. "Aku siap untuk semuanya."
Dan di bawah sinar bulan, Bobon bertekad untuk menghadapi takdirnya. Apapun yang terjadi, dia tidak akan menyerah.