follow Ig 👉 dindin_812
New Adult romance
WARNING!!! Sebelum baca siapkan hati, karena dijamin bakal kesel, baper, tegang dan lain lain.
Setting di London.
Jovanka adalah seorang gadis manja, ia memiliki paman bernama Jody yang begitu sangat menyayangi dirinya sejak kecil. Entah hanya sebuah perasaan sayang terlalu besar atau apa, membuat Jovanka sering merasa cemburu jika sang paman dekat dengan wanita lain.
Hingga suatu ketika karena akal bulus seseorang, membuat Jovanka dan Jody mengalami tragedi satu malam. Jovanka yang tidak ingin Jody merasa bersalah pun memilih pergi, tahu jika tidak mungkin baginya bisa bersama adik sang mamah, meski bunga-bunga cinta tumbuh di hatinya.
Namun, siapa sangka dibalik itu semua, Jovanka tidak tahu kalau Jody ternyata bukanlah adik kandung sang mamah. Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Baca selengkapnya di sini.
Pict from Pinterest editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Awal perseteruan
Disisi lain Jody terus mencoba mengetahui keberadaan Jovanka namun ia heran karena ia tidak dapat lagi melacak posisi Jovanka lewat ponselnya, akhirnya Jody pun menghubungi nomor Jovanka namun nihil, gadis itu tidak menjawab panggilannya.
Satu-satunya nama yang terlintas di pikirannya adalah nama Aiden, Jody pun menghubungi nomor pemuda itu untuk menanyakan keberadaan Jovanka.
Aiden yang masih duduk santai pun menengok ke arah ponselnya yang berkedip, ia lalu melirik Jovanka baru kemudian memperlihatkan nama yang tertera di layar ponselnya.
"Haruskah aku angkat?" tanya Aiden pada Jovanka.
Jovanka yang sedang menyesap coffe latte nya pun terlihat hanya menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.
Akhirnya Aiden menaruh kembali ponselnya di meja, membiarkan hingga ponsel itu berhenti berkedip dengan sendirinya.
Jody yang tidak mendapatkan jawaban dari Aiden pun tampak kesal, ia membanting ponselnya di kursi penumpang sebelahnya seraya mengumpat.
Jody kembali ke rumah, berharap jika Jovanka sudah sampai di rumah. Namun mendapati rumah yang masih gelap Jody pun sedikit kecewa, ia berjalan masuk dan langsung menyalakan lampu rumahnya, berjalan menaiki anak tangga dan langsung menuju ke kamar Jovanka, ia mendapati kamar itu yang kosong.
"Kamu kenapa sih, Jo! Apa yang salah?" tanya Jody pada diri sendiri.
Mendengar suara decit yang di hasilkan oleh pintu depan rumahnya, Jody berlari keluar untuk melihat siapa yang masuk, matanya terlihat berbinar begitu tahu siapa yang baru saja kembali.
Jovanka yang tampak santai melepas Stiletto yang ia kenakan dan bermaksud untuk segera menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika mendapati Jody yang sudah berdiri di bawah tangga dengan tangan yang dia lipat di depan dada, sorot matanya menunjukkan rasa tidak senang dan penuh denga pertanyaan.
Jovanka tampak mengabaikan pamannya, namun ia tetap tersenyum hangat kepada pemuda itu.
"Selamat malam, Paman," sapa Jovanka begitu ia sudah berhadapan dengan Jody yang menghalangi anak tangga.
"Dari mana saja kamu?" tanya Jody dengan sedikit melotot.
"Pergi bersama Aiden, dia mengajakku makan," jawab Jovanka santai.
"Kau tidak memberitahukan paman, juga kau tidak mengangkat panggilan dari paman, kenapa?" cecar Jody.
Jovanka terlihat memutar kedua bola matanya seakan malas menjawab pertanyaan pamannya itu.
"Pertama aku tidak mau mengganggu paman, kedua aku sudah besar dan berhak pergi sendiri, ketiga ponselku aku taruh di tas jadi aku tidak tahu kalau ada panggilan masuk," jelas Jovanka seraya menghitung jarinya.
Jody menangkap pergelangan tangan Jovanka, menatap tajam ke dalam kedua mata Jovanka.
"Kamu marah dengan paman? Kenapa kamu bersikap sangat berbeda?" tanya Jody lembut, berusaha agar Jovanka tidak berdebat dengannya.
"Tidak ada yang marah, berapa kali aku harus mengatakan itu?" jawab Jovanka santai. Jelas itu bukan Jovanka, entah bagaimana dia bisa merubah sifatnya itu hanya dalam satu malam.
"Jo! Paman merasa aneh melihat sikapmu yang seperti ini," keluh Jody.
"Kalau merasa aneh ya jangan di lihat," ujar Jovanka.
Gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jody, ia mengusap lembut pipi Jody kemudian pergi berlalu menaikkan anak tangga meninggalkan Jody di bawah sendirian.
Jody masih terpaku memandangi punggung Jovanka yang lama-lama tidak terlihat.
Jovanka masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu itu, ia berjalan ke arah ranjangnya menatap bingkai foto yang terpampang di meja sebelah tempat tidurnya.
Beberapa jam yang lalu Jovanka menemui Nathan, ia meminta pamannya itu agar di beri pekerjaan di perusahaan tempat Aiden bekerja.
"Apa kamu yakin? Kamu sedang bertengkar dengan Jody?" tanya Nathan yang tampak begitu heran dengan permintaan Jovanka.
Nathan tahu betul jika Jovanka suka menempel pada Jody lalu bagaimana bisa sekarang ia malah memilih untuk pindah dari pekerjaan yang sudah membuatnya bisa terus bersama paman satunya itu.
"Aku sudah besar paman, aku tidak mungkin terus harus bergantung pada seseorang, terlebih lagi jika aku masih membayangi paman Jody, aku takut dia akan terus menghindari para gadis yang ingin dekat dengannya,"jawab Jovanka dengan senyum pahit.
Nathan tampak mengangkat kedua alisnya begitu mendengar jawaban Jovanka, apapun artinya itu ia tidak ingin terlalu ikut campur.
"Baiklah, Paman akan mempersiapkan pekerjaan untukmu disana, jadi sebisa mungkin kau segera menyelesaikan pekerjaan yang sedang kau tangani," ucap Nathan mengiyakan keinginan Jovanka.
"Tentu, terimakasih," balas Jovanka.
Jovanka menghela nafas kasar, ia duduk di atas ranjangnya merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya dengan posisi kaki yang menggantung di sisi tempat tidur.
Tidak membersihkan diri tidak mengganti bajunya, Jovanka terlelap begitu saja dengan posisi meringkuk memeluk kedua kakinya.
Jody duduk di kursi kerjanya, tampak menggoyangkan kursinya kekanan dan kekiri, kepalanya ia sandarkan di sandaran kursi menatap langit-langit kamarnya, mencoba berpikir kesalahan apa yang ia perbuat hingga Jovanka bisa semarah itu.
***
Keesokan harinya Jovanka sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, ia menuruni anak tangga dan mendapati kalau Jody sudah berada di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka. Enggan! Tentu saja, namun ia juga tidak bisa mengabaikan pamannya itu.
"Pagi," sapa Jody begitu melihat Jovanka yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.
Jovanka hanya membalas sapaan Jody dengan senyuman, ia menaruh tasnya di kursi baru kemudian menarik kursi dan duduk disana.
Jody menyodorkan piring berisi roti isi yang sudah ia siapkan ke arah Jovanka, gadis itu tidak memperhatikan pamannya, ia sibuk dengan benda pipih yang ada di tangannya.
Jody mengambil benda pipih dari tangan Jovanka, membuat gadis itu terkejut tidak senang, ia menatap pamannya yang memegang ponselnya.
"Kembalikan!" pinta Jovanka seraya menengadahkan tangannya ke arah Jody.
Jody hanya menggelengkan kepalanya, ia lalu melirik ke piring berisi sandwich yang sudah berada di depan Jovanka mengisyaratkan jika gadis itu harus sarapan.
Dengan wajah besungut, Jovanka mengambil sandwich itu dan mulai memasukkan kemulutnya menggigit dan mengunyah, tapi matanya tetap beradu pandang dengan Jody.
Jody terlihat menggambar lengkungan di bibirnya, menandakan jika ia senang karena Jovanka mengikuti apa yang ia suruh. Hingga lengkungan itu hilang ketika benda pipih milik Jovanka bergetar.
Jovanka terkejut dan Jody terus memandangi nama siapa yang muncul di layar ponsel yang membuatnya merasa tidak senang.
"Halo, dia tidak akan keluar karena dia akan berangkat bersamaku," Jody menjawab panggilan itu kemudian langsung mengakhirinya.
Jovanka yang tidak senang melotot ke arah Jody, ia langsung membanting sandwich yang ada di tangannya ke atas piring, berdiri dan menyambar tasnya tanpa memperdulikan benda pipih miliknya.
Jody yang terkejut dengan sikap Jovanka pun mengejarnya. Baru saja akan memutar gagang pintu, Jody sudah terlebih dulu menahan pintu agar tidak terbuka dengan satu tangannya.
..._...
..._...
..._...
..._...
...Buat semua pembaca, mohon bantuan Like dan komentnya ya, meski h6anya koment up, itu sangat berarti buat saja....
...Terimakasih 🙏🙏...