Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Buat Apa Aku Menikahimu
"Itu urusan Rayhan," kata Damar kepada Vania. "Dan kalau kamu terus membuat masalah, pekerjaanmu di rumah sakit juga bisa hilang."
Vania langsung diam. Damar meninggalkan Rumah Besar tanpa mengabulkan tuntutannya.
Ketika tiba di Bintang Residence, musik terdengar dari ruang latihan. Senja sedang mengajari Bintang gerakan tari sederhana. Kaos longgarnya mengikuti putaran tubuh, wajahnya bersih tanpa riasan, dan tawanya memenuhi ruangan.
Damar berdiri di ambang pintu. Ia tidak menyangka perempuan yang selalu tampak kecil dalam seragam perawat dapat bergerak begitu ringan.
Bintang melihatnya. "Papa, ikut!"
Damar tersadar. Ia teringat tuduhan Vania tentang Rayhan dan kembali memasang wajah dingin.
"Senja, ke ruang kerja."
Beberapa menit kemudian, ia meletakkan ponsel di meja. "Berapa uang yang diberikan Rayhan?"
Senja membuka catatan. "Total Rp 6,7 juta. Sebagian untuk makanan. Sisanya mau saya kembalikan."
"Kamu mencatat semuanya?"
"Iya."
Ia menyerahkan ponsel, memperlihatkan struk dan rekening terpisah. Tangan Senja gemetar saat membuka kode QR untuk mengembalikan uang.
"Kalau Mas mau, saya transfer lewat Mas."
Damar menatap layar, lalu wajahnya. "Buang-buang waktu."
"Saya enggak mau uang itu jadi masalah."
"Kalau kamu suka Rayhan, langsung saja bersamanya. Buat apa aku menikahimu?"
Senja memucat. "Saya enggak suka dia."
"Kamu sangat butuh uang, tetapi menolak Rp 30 juta dariku. Kamu menerima uang laki-laki lain, tetapi menolak menjalankan kewajiban sebagai istriku. Apa aku harus menyimpulkan apa?"
"Saya menerima karena membelikan makanan. Itu pekerjaan."
"Dan tidur denganku bukan?"
Senja mundur. "Tubuh saya bukan pekerjaan."
Jawaban itu membuat ruangan senyap.
"Saya memang butuh uang," lanjutnya. "Saya butuh pekerjaan stabil. Saya enggak mau dibayar untuk sesuatu yang membuat saya kehilangan hak berkata tidak."
Damar mengepalkan tangan. Ia tidak pernah berniat memaksa, tetapi kalimat Senja membuat tawaran lamanya terdengar kotor.
"Lakukan tugasmu di rumah ini. Jangan cari masalah. Kalau tidak bisa, keluar."
Senja mengangguk dan pergi.
Keesokan pagi, ia datang ke rumah sakit membawa tas lebih besar dari biasanya. Pakaian ganti, dokumen magang, dan salinan evaluasi disimpan di dalamnya. Jika HR memanggil, setidaknya ia tidak perlu kembali ke ruang loker dengan tatapan semua orang mengikutinya.
Kepala perawat menyodorkan daftar pasien. "Kenapa bengong? Cepat serah terima."
"Saya masih bekerja, Bu?"
"Namamu ada di jadwal. Memangnya mau libur?"
Senja menerima kertas itu dengan kedua tangan. Bahunya turun sebelum sempat ia tahan. Tidak ada surat pemecatan, tidak ada panggilan direktur. Hanya tekanan darah, jadwal obat, dan pasien yang harus ia tangani seperti biasa.
Di lantai atas, Damar sudah berada di ruang direktur. Seusai pertemuan keluarga, ia meminta laporan tentang botol obat yang disebut Vania. Rekaman memperlihatkan keponakannya menyenggol botol dengan sengaja, sementara Senja justru menjauhkan pasien dari pecahan kaca.
"Siapa yang membayar kerugian?" tanya Damar.
"Vania. Peringatan tertulis juga sudah dibuat."
"Pertahankan. Nama keluarga tidak menghapus prosedur."
Direktur membuka evaluasi magang Senja. Catatan para pembimbing hampir semuanya baik: teliti, sabar, tidak pernah meninggalkan pasien, tetapi terlalu sering mengambil shift tambahan sebelum jadwalnya diubah.
"Ada alasan memecatnya?"
"Tidak ada, Pak."
"Kalau begitu jangan buat staf menunggu hukuman yang tidak pernah diputuskan."
Direktur ragu sebelum membuka berkas lain. "Ada keluhan mengenai jadwal Senja. Beberapa peserta magang merasa dia mendapat perlakuan khusus."
Damar membaca pembagian jam. Beban Senja memang dipadatkan, tetapi jumlah pasien dan target kompetensinya sama. Masalahnya bukan ketidakadilan, melainkan perubahan mendadak tanpa penjelasan yang membuat rekan-rekannya menebak-nebak.
"Sampaikan bahwa penyesuaian dilakukan karena kebutuhan operasional," katanya. "Jangan sebut namaku. Pastikan aturan serupa tersedia bagi pegawai yang punya tanggung jawab pengasuhan atau alasan medis."
Direktur menatapnya sejenak. Perintah yang semula dibuat khusus untuk satu perempuan kini harus diubah menjadi kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan bagi semua orang.
"Baik, Pak."
Damar menutup berkas. Ia masih mengatur hidup Senja tanpa bertanya, tetapi setidaknya kali ini perlindungannya tidak akan menjadikan perempuan itu sasaran baru.
Dari jendela, Damar melihat Senja membantu pasien lansia menemukan laboratorium. Tas besar perempuan itu diletakkan di bawah meja perawat. Baru saat itu ia memahami Senja benar-benar datang siap kehilangan pekerjaan.
Vania tiba terlambat. Begitu melihat Senja masih mengenakan seragam, langkahnya melambat.
"Kamu pasti mengadu ke Om Damar," bisiknya ketika mereka berpapasan.
Senja menunjukkan percakapan terakhir di WhatsApp. Tidak ada pengaduan, hanya pesan yang belum sempat dijelaskan.
"Saya bahkan tidak pernah menyebut namamu."
"Om cuma belum sempat memecatmu."
"Kalau begitu tunggu tanpa mengganggu pasien."
Kepala perawat memanggil Vania untuk menerima salinan peringatan. Di depan rekan-rekan kerja, nama Hartono tidak memberinya jalan keluar. Ia menandatangani kertas, merampas salinannya, lalu pergi dengan wajah merah.
Beberapa menit kemudian, Vania sengaja meletakkan baki obat di meja Senja tanpa serah terima. Senja tidak langsung menyentuhnya. Ia memanggil kepala perawat, mencocokkan nama pasien, jumlah ampul, dan waktu pemberian di depan saksi.
"Takut aku jebak lagi?" sindir Vania.
"Saya menjaga pasien dan diri saya. Keduanya memang tugas saya."
Kepala perawat meminta Vania mengulang serah terima sesuai prosedur. Tidak ada pertengkaran besar, tetapi Senja tidak lagi membiarkan ejekan mendorongnya mengambil risiko. Setelah semua cocok, barulah ia membawa obat ke kamar pasien.
Di dalam kamar, seorang nenek mengeluh tangan Senja dingin. Senja tersenyum dan menggosok kedua telapak sebelum memeriksa infus.
"Habis dimarahi atasan, ya?" tanya pasien itu.
"Enggak, Bu. Cuma kurang tidur."
"Kalau capek, duduk sebentar. Orang sakit juga bisa menunggu satu menit."
Senja menahan senyum. Di rumah ia dianggap pekerja yang bisa diganti, tetapi pasien asing justru mengingatkannya bahwa dirinya juga manusia.
Senja tidak merasa menang. Ia hanya merasa dapat bernapas lagi.
Saat istirahat, ponselnya bergetar. Pesan Damar masuk singkat: `Kerjakan tugasmu. Tidak ada yang memecatmu.`
Senja membaca kalimat itu dua kali. Ucapan kasar di ruang kerja semalam belum hilang, tetapi Damar ternyata memisahkan kemarahan pribadi dari pekerjaannya. Keadilan kecil tersebut terasa lebih jujur daripada permintaan maaf yang belum mampu ia ucapkan.
Ia membalas: `Terima kasih, Mas.`
Damar membaca balasan itu di dalam lift. Kata yang sama kembali menghentikan jarinya. Kali ini bukan karena panggilan tersebut terdengar intim, melainkan karena Senja masih menggunakannya setelah ia merendahkan perempuan itu.
Sebelum pintu lift menutup, Damar melihat Senja memasukkan kembali pakaian dari tas besar ke loker. Ia tidak memanggil. Ia hanya berdiri sampai pintu menutupi pemandangan tersebut, membawa satu pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman daripada kecemburuan: berapa kali lagi Senja harus membuktikan dirinya sebelum ia berhenti menuduh?