Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melangkah Kembali ke Pesantren
Udara sejuk khas pegunungan menyapa wajah Shanum begitu pintu SUV Al-Maktoum Group terbuka di halaman Pesantren Al-Ikhlas. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang menenangkan. Setelah berminggu-minggu dihantam ketegangan tender Senayan dan teror fisik yang menguras energi, berada di tempat ini terasa seperti menemukan Oase di tengah padang pasir.
Namun, kedamaian itu mendadak terganggu oleh suara langkah kaki tegap yang berderak di atas kerikil.
Aran melangkah keluar dari pintu depan mobil. Pria itu mengenakan kemeja koko hitam polos yang rapi dan celana bahan gelap, namun postur tubuhnya tetap tegak lurus seperti tiang bendera. Matanya bergerak cepat memindai atap-atap gedung pesantren, area pohon rindang, hingga pergerakan para santri yang sedang lalu lalang. Tangan kanannya bertengger siaga di dekat pinggang, siap merespons ancaman dalam hitungan milidetik.
Shanum yang sedang merapikan pasmina hijaunya menghembuskan napas panjang. Rasa jengkel yang sudah ditahannya sepanjang perjalanan akhirnya meluap.
"Aran," panggil Shanum dengan nada ketus, menatap pengawalnya seraya menyilangkan tangan di dada.
Aran berbalik cepat, mengambil posisi dua meter di samping Shanum. "Ya, Mbak Shanum? Ada indikasi bahaya?"
"Indikasi bahaya kepalamu!" sembur Shanum kaku, melangkah mendekati Aran tanpa memedulikan jarak dua meter. "Kita ke sini untuk apa, Aran?"
Aran mengedipkan matanya pelan, sedikit bingung. "Untuk kegiatan relaksasi pasca-proyek, Mbak. Namun saya harus memastikan perimeter tempat ini aman."
"Nah, itu tahu! Kata kuncinya adalah relaksasi!" Shanum berkacak pinggang, menunjuk raut wajah Aran yang tegang. "Tapi lihat dirimu! Dari tadi lehermu kaku seperti patung semen, matamu berputar-putar seperti kamera CCTV, dan cara berdirimu seperti orang yang mau perang lima menit lagi! Kita ini di pesantren, Aran, bukan di area konflik militer!"
Aran merapikan kerah kokonya, berusaha mempertahankan nada bicaranya yang teratur. "Mbak Shanum, protokol keamanan tidak mengenal istilah hari libur. Tempat terbuka seperti ini memiliki banyak sudut mati yang memudahkan—"
"Cukup dengan istilah taktis itu!" potong Shanum gemas. "Saya pusing mendengarnya! Coba tolong hari ini saja, nikmati napasmu, turunkan bahumu yang kaku itu, dan rileks kan fikiranmu! Kamu baru saja sembuh dari luka tembak dan sabetan pisau, tapi otakmu masih saja bekerja seperti mesin giling!"
"Saya hanya menjalankan kewajiban saya, Mbak Shanum," sahut Aran datar, meski tatapan matanya menunjukkan sedikit rasa canggung akibat omelan Shanum yang bertubi-tubi.
"Kewajibanmu hari ini adalah membuat hatimu tenang!" tegas Shanum lagi. "Kalau kamu terus-terusan mengawasi para santri cilik yang sedang membawa kitab itu seolah-olah mereka pembunuh bayaran bersenjata, saya sendiri yang akan menyita kacamata hitam dan ponselmu!"
Aran menghela napas pendek. Pria bertubuh kekar itu akhirnya sedikit menurunkan ketegangan di bahunya, menatap Shanum dengan pandangan pasrah. "Baik, Mbak Shanum. Kurva kewaspadaan akan saya turunkan sepuluh persen."
"Lima puluh persen, Ardebaran!" gertak Shanum seraya melotot jahil, yang justru membuat Aran tidak bisa membalas lagi selain mengangguk pelan.
"Paham, Mbak."
Shanum menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menahan senyum. Meski ia meluapkan kejengkelannya, Shanum tahu betul bahwa sikap kaku Aran adalah bentuk kepedulian yang teramat dalam. Hanya saja, Shanum ingin pria itu mulai belajar menikmati hidup sebagai manusia biasa, bukan sekadar alat pelindung.
"Sertakan senyuman sedikit di wajah kakumu itu," tambah Shanum seraya melangkah mendahului Aran. "Muka kaku begitu tidak cocok bersanding dengan baju koko yang sudah saya belikan."
Aran yang berjalan di belakangnya hanya bisa berdehem canggung, membetulkan posisi baju kokonya seraya menyunggingkan senyum aneh di bibirnya sebuah usaha keras untuk tersenyum yang justru terlihat lucu di mata Shanum.
Langkah mereka membawa keduanya ke pendopo utama pesantren. Suasana di sana begitu sejuk. Di selasar pendopo, Kyai Syahuri duduk lesehan di atas tikar pandan, menyeduh teh hangat dalam cangkir tanah liat.
Melihat kedatangan Shanum dan Aran, senyum sepuh yang penuh kehangatan merekah dari wajah Kyai Syahuri.
"Assalamu’alaikum, Kyai," panggil Shanum santun, menundukkan kepalanya seraya menyapa dari jarak yang sopan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Mari, Nak Shanum, Nak Aran... duduklah," sambut Kyai Syahuri ramah, mengisyaratkan mereka untuk bergabung di atas tikar.
Shanum duduk dengan anggun, sementara Aran duduk bersila di sampingnya. Meski sudah berjanji menurunkan tingkat kewaspadaannya, posisi duduk Aran tetap tegap sempurna khas prajurit yang siap melompat kapan saja.
Kyai Syahuri memperhatikan postur tubuh Aran, lalu terkekeh pelan. "Aran... lukamu di dada dan lengan sudah semakin pulih?"
"Sudah jauh membaik, Kyai. Terima kasih atas perhatian dan doa dari pesantren," jawab Aran sopan.
"Membaik apanya, Tambah banyak iya!" potong sanum dengan ketus, menimpali jawaban Aran yang tak sama dengan kenyataannya.
Sang Kyai hanya geleng kepala dengan tingkah mereka berdua.
Kyai Syahuri lalu menuangkan teh hangat ke dalam dua cangkir kecil, menyodorkannya kepada Shanum dan Aran. Sang Kyai lalu menatap Aran dengan pandangan matanya yang teduh, seolah bisa membaca gejolak tersembunyi di balik raut wajah dingin pria itu.
"Mata Nak Aran masih menyimpan kelelahan yang berat," tutur Kyai Syahuri lembut. "Bukan lelah fisik dari luka-luka itu, melainkan lelah jiwa yang terus-menerus merasa harus bersiap menghadapi bahaya."
Aran tertegun. Kata-kata Kyai Syahuri meresap tepat di hatinya. Pria itu menundukkan pandangannya menatap cangkir teh di depannya. "Saya... sudah terbiasa hidup dalam kewaspadaan, Kyai. Di dunia saya yang dulu, berhenti waspada berarti menyerahkan nyawa."
"Itu di dunia yang lama, Nak," potong Kyai Syahuri dengan nada mendidik yang teramat sejuk. "Namun sekarang, Allah sudah membawa langkahmu ke tempat yang baru. Tempat di mana tugasmu bukan lagi untuk membunuh atau bertahan hidup dari kejaran musuh, melainkan untuk menjaga kedamaian dan menemukan jalan pulang."
Kyai Syahuri menyeruput tehnya pelan, lalu melanjutkan nasihatnya. "Ketenangan jiwa itu tidak akan pernah bisa dibeli dengan senjata api atau barikade yang kokoh, Nak Aran. Ketenangan jiwa itu hadir saat hati kita berhenti merasa paling kuat, dan mulai bersandar sepenuhnya pada Sang Maha Pelindung."
Aran mendengarkan setiap bait kata itu dalam keheningan yang dalam. Shanum di sampingnya melirik Aran dengan pandangan yang melembut, membiarkan nasihat spiritual itu menyerap ke dalam batin pengawalnya.
"Belajarlah merelakan apa yang sudah berlalu," tambah Kyai Syahuri lagi, menepuk pelan lutut Aran. "Allah tidak melihat seberapa kelam masa lalumu. Yang Allah lihat adalah kesungguhan hatimu untuk mengenalnya hari ini. Setiap kali Nak Aran merasa cemas atau tegang, ingatlah bahwa ada Zat yang memegang seluruh kendali atas hidup dan matimu. Pasrahkan hatimu pada-Nya."
Aran menghembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya, rasa hangat yang begitu melapangkan dada menyeruak di dalam jiwanya. Tembok ketegangan mental yang selama bertahun-tahun membelenggunya terasa agak mengendur. Aran mengangguk tulus.
"Terima kasih atas nasihatnya, Kyai," bisik Aran, suaranya terdengar begitu jujur dan rendah hati. "Saya akan berusaha belajar menata hati saya."
"Alhamdulillah," senyum Kyai Syahuri mengembang lebar.
Namun, ketenangan momen pencerahan di pendopo itu mendadak terpecah oleh deru suara mesin mobil dari arah gerbang utama pesantren.
Dua unit mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap tampak perlahan memasuki pelataran luas pesantren. Debu tipis membumbung saat ban mobil-mobil tersebut berhenti tepat di dekat pendopo. Para santri yang sedang menyapu di halaman mendadak menghentikan aktivitas mereka, menatap penasaran ke arah rombongan tamu yang baru saja tiba.
Pintu mobil terbuka, memperlihatkan beberapa pria paruh baya bersetelan rapi dan bernuansa formal melangkah keluar dengan senyum sopan.
Naluri Aran secara refleks langsung berdenyut, matanya memicing meneliti pergerakan rombongan tamu dari luar tersebut. Namun kali ini, ingatannya pada nasihat Kyai Syahuri dan teguran Shanum tadi membuat Aran tidak langsung bertindak kaku. Ia menoleh melirik Shanum yang juga sedang menatap rombongan tersebut dengan dahi berkerut penasaran.
Mereka bertanya-tanya, siapakah rombongan tamu asing yang mendadak datang ke Pesantren Al-Ikhlas di tengah hari yang damai ini?
saling support sabi kali thor🤭