NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: NILAI PTS..

​Rutinitas baru di SMA Negeri Garuda resmi dimulai. Setiap kali bel istirahat berbunyi, markas klub langsung berubah fungsi jadi ruang belajar darurat. Kisi-kisi mata pelajaran bertebaran di atas meja, dikelilingi empat orang dengan motivasi yang bertolak belakang.

​Di antara mereka, Dimas adalah sosok yang paling mencolok. Tingkat kemalasannya sudah mencapai stadium akhir. Tapi mau bagaimana lagi? Taruhan gengsi tempo hari memaksa otaknya bekerja ekstra keras. Dia tidak boleh kalah, atau harga dirinya sebagai laki-laki akan hancur lebur.

​"Duh, mending gue disuruh lari keliling lapangan sepuluh putaran daripada harus ngafal rumus Kimia ini..." keluh Dimas sambil merebahkan wajahnya ke atas meja kayu yang dingin.

​Raka yang duduk di sebelahnya cuma bisa mengelus dada, enek melihat tingkah temannya yang hobi menyerah setiap lima menit sekali. Namun di balik rengekan Dimas, Raka harus mengakui satu hal: masa SMA-nya terasa jauh lebih berwarna dibanding jenjang sebelumnya.

​Seminggu penuh badai PTS akhirnya berlalu.

​Sesuai nomor absensi, mereka tersebar di sudut ruangan yang berbeda. Alya di nomor 1 dengan raut wajah tenang seperti biasa, Aira di nomor 3 yang tampak antusias, Raka di nomor 17, dan Dimas di nomor 29 dengan wajah pucat menahan panik.

​Dua minggu pasca ujian dan proses koreksi selesai, momen penentuan itu pun tiba. Kertas hasil nilai PTS siap dibagikan, menciptakan atmosfer tegang yang mencekam di dalam kelas.

​"Duh, kok perut gue mendadak mulas ya, Rak?" bisik Dimas sambil memegangi perutnya.

​"Santai saja," sahut Raka tenang. Jemarinya dengan santai memasukkan sepotong wafer renyah ke dalam mulut. Kriuk.

​"Santai mulu! Emangnya lu gak panik apa liat nilainya nanti?"

​"Hmm... Gak sih," Raka mengunyah pelan. "Soalnya gue pernah peringkat 3 pas SMP dulu."

​Dimas melotot. "Serius lu?!"

​"Iyalah. Kalau gak percaya, tanya saja ke sekolah SMP gue," balas Raka datar, lalu mengibaskan tangannya pelan. "Tapi ya... paling mereka juga udah lupa sama gue. I don't know."

​Pak guru mulai berjalan mengelilingi barisan, membagikan lembar hasil PTS kepada siswa-siswi satu per satu.

​Ekspresi yang terpancar di dalam kelas mendadak beragam. Ada yang tersenyum lega karena nilainya aman, ada yang mukanya lempeng biasa saja, dan ada pula Yang meratapi nasib karena nilainya anjlok.

​Hingga akhirnya, lembaran kertas itu mendarat tepat di atas meja Raka. Raka perlahan menunduk, menatap angka-angka yang tertera di sana.

​"Lah, kok turun jadi peringkat empat? Tapi ya... gak apa-apa lah," gumam Raka pelan sambil menggelengkan kepala.

​Di saat Raka sibuk meratapi nasib peringkat empatnya, Alya di sudut lain tampak menatap kertas nilainya dengan raut polos. Namanya masih kokoh bertengger di posisi paling atas: peringkat satu. Sementara itu, Aira tersenyum puas mendapati namanya berada di peringkat tiga.

​Lalu, bagaimana dengan Dimas?

​Pria itu duduk mematung menatap angka '32' di lembarannya. Peringkat paling buncit di kelas.

​"Aduh... kalah taruhan deh gue. Padahal gue sendiri yang bikin taruhannya, bikin malu aja..." bisik Dimas meratapi nasib.

​Aira yang menyadari gerak-gerik panik Dimas langsung tergerak untuk bangun dari tempat duduknya dan mendekat.

​"Wah, kenapa tuh disembunyiin kertasnya?" goda Aira sambil menyipitkan mata.

​"Eh—Aira! Gak ada apa-apa, kok!" sahut Dimas cepat-cepat menutup lembar nilainya.

​"Peringkat berapa lu?"

​"Hmm... pokoknya bagus! Bagus banget!"

​"Tapi kenapa jidat lu bercucuran keringat dingin gitu?" Aira mulai menyunggingkan senyum mencurigakan. "Hee... jangan-jangan peringkat lu—"

​Sebelum Aira menyelesaikan kalimatnya, Alya melangkah mendekat dari belakang. "Teman-teman, ada apa ini?"

​"Oh, Alya! Ini nih, si Dimas aneh banget," tunjuk Aira.

​"Dimas? Kamu kenapa?" tanya Alya polos.

​Dimas menghela napas panjang, pundaknya terkulai lemas. "Haa... ya udah deh, gue akui... gue kalah."

​"Wah, akhirnya nyerah juga!" Aira bertolak pinggang. "Oke, sebelum lu traktir kita bertiga, kasih tahu dulu dong peringkat berapa?"

​"Peringkat tiga puluh dua..." bisik Dimas amat pelan.

​"Hah? Ngomong yang keras dong! Gak kedengeran!" seru Aira sengaja.

​"PERINGKAT TIGA PULUH DUA! PUAS LU?!" teriak Dimas frustrasi.

​"Wih, slow, Man, chill," kekeh Aira puas.

​"Ada apa sih ini ribut-ribut? Bikin gak fokus gambar aja," sahut Raka yang akhirnya ikut berjalan menghampiri meja Dimas.

​"Ehh, Raka! Ini si Dimas peringkat tiga puluh dua! Hahaha!" cerocos Aira girang.

​"Iya, gue udah tahu," balas Raka santai. "Gue ke sini cuma mau nagih janji traktiran aja, sih."

​Dimas menatap Raka dengan mata berkaca-kaca, pupilnya melebar memohon iba. "Sialan lu, Rak... Traktirnya yang murah-murah aja ya, please?"

​"Ya, tenang aja. Gue cuma mau minuman dingin kok."

​"Nah, gitu dong! Itu baru temen!" Dimas langsung merangkul leher Raka erat-erat.

​"Ya udah, yuk ke kantin!" seru Aira semangat.

​Dimas mengerutkan dahi. "Lah, Pak Guru kan masih di depan?"

​"Lu gak lihat, Mas? Siswa-siswi lain udah pada ngacir ke kantin dari tadi," balas Raka datar.

​Dimas mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas dan baru sadar ruangan sudah hampir kosong. "Lah... iya. Gue gak sadar..."

​"Hehe."

​"Ya udah yuk... ke kantin..." pasrah Dimas dengan mata lesu dan langkah kaki gontai.

​"LETSGO!" sorak Aira bersemangat.

​Mereka berempat mulai berjalan menyusuri koridor menuju kantin.

​"Huhu... rasanya pengin pindah alam aja gue, Rak," keluh Dimas di sepanjang jalan.

​"Yang sabar aja, Mas. Pfft..." Raka buru-buru menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa yang hampir meledak.

​Dimas mendadak menghentikan langkah dan menoleh curiga. "Ets, lu ketawa ya tadi?"

​"Hah? Enggak. Perasaan lu aja kali, Mas." Raka mengedarkan pandangan dari kanan ke kiri seolah tidak ada apa-apa.

​"Yang bener... Bukan lu?" Dimas menatap Raka tajam sambil menaikkan alis kirinya.

​"Emmm..." Dimas menyipitkan mata, masih menatap Raka curiga.

​"Udah-udah, jangan pada ribut. Udah sampai nih," sela Aira menepuk bahu mereka berdua.

​"Ayo, Dimas, traktir!" seru Aira bersemangat begitu melihat jajaran stan makanan di depan mata.

​"Aduh..." ringis Dimas pelan.

​Tangannya perlahan merogoh saku celana abu-abunya. Dengan berat hati, ia meratapi nasib lembaran uang saku yang sebentar lagi akan melayang demi membayar kekalahannya sendiri.

​"Oke... kalian tunggu aja di sini," pasrah Dimas.

​Dengan langkah layu, Dimas berjalan mendekati stan kantin dan mulai memesan apa yang diminta teman-temannya. Tidak butuh waktu lama, ia kembali ke meja dengan nampan berisi beberapa jajanan dan minuman dingin.

​"Nih," ujar Dimas sambil meletakkan pesanan mereka satu per satu ke atas meja.

​"Mantap! Makasih, Dimas!" seru Aira girang sambil mengacungkan dua jempolnya.

​Dimas menghempaskan tubuhnya ke kursi, lalu menghela napas panjang melihat sisa dompetnya yang mendadak tipis. "Haa... Lain kali gue gak mau bikin taruhan lagi, ah. Bikin uang saku gue hangus aja."

​"Ya lagian, lu sendiri yang bikin taruhannya, lu juga yang apes! Gimana sih, hahaha!" tawa Aira meledak sambil menyesap minumannya.

​"Ya... tadinya kan cuma buat seru-seruan aja..." gumam Dimas pelan sambil menopang dagu, meratapi nasibnya yang selalu berujung buntung.

Dimas cuma bisa meratapi nasibnya yang selalu berujung buntung, sementara tiga temannya terkekeh menikmati traktiran gratis siang itu. Di balik gelak tawa dan riuhnya suasana kantin, Raka menyeruput minumannya pelan. Meski nilainya sedikit turun dan dompet Dimas harus jadi korban, Raka sadar satu hal—dinamika konyol seperti inilah yang membuat masa SMA-nya jauh lebih bernyawa dari yang pernah ia bayangkan.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!