NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang berhenti

Tak seorang pun bergerak. Delapan pasang mata terpaku pada jejak sepatu yang berhenti begitu saja di tengah jalan setapak.

Arga berjongkok perlahan.

Ia mengeluarkan penggaris kecil dari saku tas lapangnya dan mengukur panjang bekas telapak itu.

"Ukurannya sekitar empat puluh dua," gumamnya.

Bekas tapaknya terlihat sangat jelas. Pola solnya masih tajam, seolah baru tercetak beberapa saat yang lalu.

Namun hanya ada enam jejak.

Enam langkah.

Lalu...

Kosong.

Tidak ada jejak lanjutan.

Tidak ada bekas orang berbalik arah.

Tidak ada bekas melompat ke samping.

Seolah seseorang sedang berjalan, lalu menghilang begitu saja.

Pak Rahman ikut berjongkok.

"Mustahil."

Mang Jaya mengambil sebatang ranting lalu menusuk tanah di sekitar jejak.

Tanahnya padat.

Tidak ada lubang.

Tidak ada semak yang terinjak.

Tidak ada batu besar yang bisa menjadi pijakan untuk meloncat. Kang Ujang mencoba mencari bekas langkah ke kanan.

Tidak ada.

Ke kiri.

Tetap tidak ada.

Dedi bahkan masuk beberapa meter ke dalam semak.

Ia kembali dengan napas sedikit terengah.

"Di sana rapat sekali."

"Kalau ada orang lewat pasti ranting-rantingnya patah."

"Tapi semuanya masih utuh."

Arga menatap lurus ke depan.

"Berarti..."

"...orang itu tetap berjalan."

Pak Darma mengernyit.

"Tapi jejaknya hilang."

"Itulah yang membuatku bingung."

Suasana kembali hening.

Hanya suara dedaunan yang bergoyang tertiup angin.

Mereka memutuskan melanjutkan perjalanan. Kini langkah setiap orang jauh lebih pelan. Tidak ada lagi yang berbicara keras. Bahkan suara parang yang membabat ranting mulai berkurang karena jalan setapak itu masih terus membentang di depan. Semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak benda-benda asing yang ditemukan.

Sebuah botol minum aluminium.

Modelnya sangat tua.

Cat hijaunya mulai memudar.

Namun ketika Arga mengangkatnya...

Botol itu masih terasa berat.

Ia membuka tutupnya perlahan.

Semua orang menahan napas.

"Clek..."

Tutup botol terbuka.

Di dalamnya...

Masih ada air.

Arga mencium aromanya.

Tidak berbau.

Tidak keruh.

Airnya terlihat bening.

Pak Rahman langsung menahan tangannya.

"Jangan diminum."

Arga mengangguk.

"Tentu saja tidak."

Mang Jaya memandang botol itu dengan wajah pucat.

"Kalau botol ini sudah puluhan tahun berada di sini..."

"...airnya seharusnya sudah habis menguap."

Tidak ada yang mampu menjawab. Botol itu dimasukkan ke dalam tas sebagai barang bukti.

Beberapa meter kemudian...

Asep kembali memanggil.

"Pak!"

Mereka bergegas menghampiri.

Di bawah batang pohon besar terdapat sebuah tas ransel tua.

Warnanya cokelat kusam.

Resletingnya sudah berkarat.

Namun kainnya belum lapuk.

Seolah baru beberapa minggu dipakai. Arga mengenakan sarung tangan tipis sebelum membukanya. Resleting berbunyi pelan.

Kreeek...

Bagian dalam tas masih utuh.

Ada jas hujan.

Kompas.

Senter.

Kotak P3K.

Sebuah buku catatan kecil.

Dan...

Sebungkus roti.

Arga memegang roti itu.

Tanggal kedaluwarsanya sudah tidak terbaca karena tinta memudar.

Namun plastiknya masih menggembung.

Belum mengempis.

Belum rusak.

"Ini benar-benar aneh," bisiknya.

Pak Rahman memperhatikan kompas yang ada di dalam tas. Jarumnya terus berputar. Tidak pernah berhenti menunjuk utara. Padahal di tempat terbuka tadi kompas mereka masih bekerja dengan normal. Mang Jaya mengambil kompas miliknya sendiri.

Jarumnya ikut berputar.

Tak lama kemudian...

Kompas milik Kang Ujang.

Lalu milik Pak Darma.

Semuanya sama.

Jarum-jarum itu berputar tanpa arah.

Arga menoleh ke sekitar.

"Kita jangan berpencar."

"Mulai sekarang semua tetap berdekatan."

Semua langsung mengangguk.

Matahari sebenarnya masih tinggi. Namun cahaya yang masuk ke hutan terasa semakin redup. Pepohonan di atas mereka semakin rapat. Kabut tipis mulai turun perlahan.

Arga merasa bulu kuduknya berdiri.

Entah mengapa...

Ia seperti merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka.

Ia menoleh ke belakang.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya teman-temannya yang berjalan beberapa meter di belakang.

Mereka kembali melanjutkan langkah.

Baru sekitar lima menit berjalan...

Mang Jaya mendadak berhenti.

"Diam."

Semua langsung mematung.

"Ada apa?"

Mang Jaya mengangkat telunjuk ke bibir.

"Lihat."

Ia menunjuk tanah yang sedikit basah di sisi jalan. Terlihat jejak kaki lain.

Namun bukan jejak sepatu.

Melainkan...

Jejak telapak kaki tanpa alas.

Ukurannya seperti kaki orang dewasa.

Bekasnya masih sangat jelas.

Seolah baru saja dibuat.

Jejak itu berjalan sejajar dengan jalan setapak.

Namun berada di dalam semak-semak yang sangat rapat. Tak mungkin seseorang dapat berjalan di sana tanpa menebas ranting.

Yang lebih mengherankan...

Daun-daun di sekitar jejak sama sekali tidak rusak.

Tidak ada ranting patah.

Tidak ada rumput yang rebah.

Seakan pemilik jejak itu melangkah tanpa benar-benar menyentuh apa pun selain tanah. Pak Darma merasakan tengannya mulai dingin.

"Siapa yang berjalan tanpa sandal di hutan seperti ini?"

Tidak ada jawaban.

Arga memotret jejak tersebut.

Saat ia hendak berdiri...

Telinganya menangkap sesuatu.

Sangat pelan.

Hampir seperti embusan angin.

Suara langkah.

Krek...

Krek...

Krek...

Berasal dari arah depan. Semua langsung menoleh. Suara itu berhenti.

Sunyi.

Arga mengangkat tangan memberi isyarat agar tidak ada yang bergerak.

Beberapa detik berlalu.

Lalu...

"Krek..."

Kini terdengar dari arah belakang. Semua berbalik serentak. Tetap tidak ada siapa-siapa. Yang terlihat hanya deretan batang pohon yang berdiri diam. Pak Rahman menggenggam goloknya semakin erat.

"Dari tadi..."

"...sepertinya kita tidak sendirian."

Belum sempat siapa pun menjawab...

Angin tiba-tiba berembus lebih kencang. Daun-daun berguguran.

Dan dari kejauhan...

Sangat jauh di ujung jalan setapak...

Terlihat sesosok siluet berdiri membelakangi mereka.

Diam.

Tidak bergerak.

Mengenakan ransel lusuh.

Seolah sedang memandangi sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh rombongan.

Arga spontan memanggil.

"Hei!"

Sosok itu tidak menjawab.

Tidak menoleh.

Tetap berdiri membisu di tengah jalur.

Namun ketika rombongan mulai melangkah mendekat...

Kabut turun semakin tebal.

Dan dalam hitungan detik...

Sosok itu lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Kabut semakin tebal. Sesaat setelah sosok misterius itu menghilang, rombongan bergegas menghampiri tempat ia berdiri.

Namun hasilnya nihil.

Tidak ada jejak kaki.

Tidak ada ranting yang patah.

Tidak ada bekas seseorang pernah berada di sana. Hanya jalan setapak yang terus membentang di antara pepohonan. Mereka tetap melanjutkan perjalanan hampir satu jam lagi. Sesekali Arga memeriksa peta tua yang tersimpan di dalam tasnya.

Namun jalur yang mereka lalui seolah tidak pernah berakhir.

Tidak ada bangunan.

Tidak ada sungai.

Tidak ada tebing.

Tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia.

Yang mereka temukan hanyalah hutan.

Pepohonan yang semakin tinggi.

Semak yang semakin rapat di luar jalan setapak.

Dan kesunyian yang terasa semakin menekan.

Tidak ada lagi bungkus makanan.

Tidak ada lagi jejak kaki.

Tidak ada lagi barang-barang aneh.

Seakan semua yang mereka temukan sebelumnya hanyalah sebuah pertanda agar mereka terus masuk lebih dalam.

Pak Rahman melihat posisi matahari yang mulai condong ke barat.

"Kita pulang."

Tak seorang pun membantah.

"Hari mulai sore."

"Aku tidak mau kita masih berada di sini saat Magrib."

Ucapan itu langsung disambut anggukan semua orang. Mereka berbalik mengikuti jalan yang sama. Perjalanan pulang berlangsung lebih cepat. Namun tidak ada satu pun yang benar-benar merasa tenang. Semua masih memikirkan benda-benda yang mereka temukan. Terutama tas ransel tua yang kini berada di punggung Arga.

Sekitar setengah perjalanan menuju tepian rawa, Arga tiba-tiba menghentikan langkah.

"Tunggu."

Rombongan ikut berhenti.

Pak Rahman menoleh.

"Ada apa?"

Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada tas ransel tua yang dibawanya sejak tadi. Lalu perlahan ia melepaskan tas itu dari pundaknya.

Semua memperhatikan dengan bingung. Arga berjalan kembali beberapa meter ke arah sebuah pohon besar. Tempat mereka menemukan tas itu. Ia meletakkan ransel tersebut tepat di posisi semula. Lalu mengeluarkan botol minum aluminium yang sebelumnya ia simpan di tasnya sendiri. Botol itu pun ia letakkan kembali di samping ransel.

Setelah itu kompas.

Kotak P3K.

Jas hujan.

Buku catatan kecil.

Satu demi satu semuanya dikembalikan.

Hanya satu yang tidak.

Bungkus mi instan.

Bungkus biskuit.

Dan sampah-sampah plastik yang mereka temukan tetap ia masukkan ke dalam tas miliknya sendiri.

Kang Ujang mengerutkan dahi.

"Lho?"

"Kenapa dikembalikan?"

Pak Darma ikut bertanya.

"Tadi susah-susah dibawa."

"Kenapa sekarang ditaruh lagi?"

Mang Jaya hanya memandang Arga tanpa berkata apa-apa. Seolah menunggu penjelasan.

Arga menghela napas panjang.

"Saya baru kepikiran sesuatu."

"Apa?"

Arga memandang satu per satu wajah mereka.

"Mungkin ini terdengar mustahil."

"Tapi..."

"...semua yang kita lihat hari ini memang sudah mustahil."

Tak ada yang menyela.

Arga melanjutkan.

"Kita menemukan bungkus makanan yang usianya mungkin puluhan tahun."

"Tapi terlihat baru dibuka."

"Kita menemukan air yang masih bening."

"Roti yang belum rusak."

"Jejak kaki yang tiba-tiba menghilang."

"Kompas yang tidak bekerja."

Ia berhenti sejenak.

"Lalu saya berpikir..."

"Bagaimana kalau..."

"...barang-barang itu memang belum pernah ditinggalkan?"

Pak Rahman mengernyit.

"Maksudmu?"

Arga menatap jalan setapak yang memanjang ke dalam hutan.

"Bagaimana kalau bagi pemilik tas ini..."

"...mereka baru saja meletakkannya?"

Semua terdiam.

"Tiga puluh tahun yang lalu bagi kita..."

"...belum tentu tiga puluh tahun bagi mereka."

Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka terasa semakin dingin.

Pak Darma menggeleng pelan.

"Itu tidak mungkin."

Arga tersenyum tipis.

"Saya juga berharap begitu."

"Tapi apa yang kita lihat hari ini juga tidak mungkin."

Ia menunjuk bungkus mi instan yang berada di tasnya.

"Kalau tas ini benar-benar ditinggalkan tiga puluh tahun lalu..."

"...semua isinya seharusnya sudah rusak."

"Nyatanya tidak."

Mang Jaya perlahan mulai memahami arah pikiran Arga.

"Kamu mengira..."

"...hutan ini menyimpan mereka?"

Arga mengangguk pelan.

"Mungkin."

"Mungkin mereka belum mati."

"Bukan karena mereka berhasil bertahan hidup."

"Tetapi..."

"...karena waktu bagi mereka berjalan berbeda."

Tak seorang pun mengeluarkan suara.

Arga kembali menatap ransel tua itu.

"Kalau dugaan saya salah..."

"...tidak akan terjadi apa-apa."

"Tapi kalau dugaan saya benar..."

"...mungkin pemilik tas ini suatu saat akan kembali."

Ia membuka botol minum aluminium itu. Air bening di dalamnya tinggal setengah. Arga mengambil botol minum miliknya sendiri. Perlahan ia menambahkan air hingga penuh.

Tak berhenti di situ.

Ia membuka tasnya.

Mengambil dua bungkus biskuit.

Sebungkus mi instan.

Serta beberapa makanan ringan yang menjadi bekal rombongan. Semuanya dimasukkan ke dalam ransel cokelat tua itu.

Kang Ujang membelalakkan mata.

"Itu bekal kita."

"Iya."

"Kamu malah memberikannya?"

Arga tersenyum kecil.

"Kalau benar tidak ada siapa-siapa..."

"...bekal itu memang tidak akan pernah dimakan."

"Tapi kalau suatu hari ada seseorang yang membuka tas ini..."

"...mungkin makanan itu bisa menyelamatkan nyawanya."

Pak Rahman memandang Arga cukup lama. Beliau tidak berkata apa-apa. Namun sorot matanya menunjukkan bahwa ucapan pemuda itu mulai memengaruhi pikirannya.

Mang Jaya perlahan mengangguk.

"Dulu..."

"...orang-orang tua di kampung sering bilang."

"Hutan sebelah utara tidak mengambil manusia."

"Hutan hanya..."

"...menyimpan."

Arga menoleh.

"Itu sebabnya tidak pernah ditemukan jasad mereka."

Mang Jaya menarik napas panjang.

"Barangkali."

"Karena mereka memang tidak pernah berada di waktu yang sama dengan kita."

Tidak ada lagi yang berbicara. Sebelum meninggalkan tempat itu, Arga memandang sekali lagi ke arah ransel cokelat tua tersebut.

Dalam hati ia berharap dugaannya keliru.

Karena jika benar...

Berarti ada seseorang yang mungkin masih berjalan di hutan ini. Masih mencari jalan pulang. Masih mengira keluarganya sedang menunggu di rumah.

Padahal...

Di dunia luar...

Tiga puluh tahun telah berlalu.

Dengan perasaan yang jauh lebih berat daripada saat berangkat, rombongan akhirnya meninggalkan jalan setapak itu.

Tak seorang pun menyadari...

Beberapa saat setelah mereka benar-benar menghilang di balik pepohonan...

Ransel cokelat tua yang mereka tinggalkan tampak bergoyang pelan.

Seolah...

Ada seseorang yang baru saja menyentuhnya dari balik kabut.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!