Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Aroma Minyak Rambut
"Selama aku pergi, apa dia benar-benar baik-baik saja?"
Pertanyaan Ethan membuat senyum Meilan berhenti tipis.
Hanya sesaat.
Setelah itu, wajahnya kembali lembut seperti biasa. "Ethan, kamu terlalu khawatir. Keira memang pendiam sejak kecil. Dia bekerja, punya teman, hidupnya baik-baik saja."
Ethan menatapnya. "Dia terlihat tidak seperti orang yang baik-baik saja."
"Mungkin karena lelah kerja." Meilan mengambil scarf Kiara dari sofa. "Anak itu selalu begitu, susah diajak bicara. Kalau kamu terlalu perhatian, nanti dia salah paham."
Kalimat terakhir diucapkan pelan, tetapi cukup tajam.
Ethan mengerti maksudnya.
Jangan dekati Keira.
Ia tidak menjawab. Meilan pamit dengan senyum sosial, lalu keluar dari Rumah Kho. Di belakangnya, Ethan tetap berdiri di dekat meja bunga, memikirkan mata Keira di bawah lampu taman.
Malam itu, Keira tidak memberi tahu Rayhan banyak hal. Ia hanya mengirim pesan bahwa acara sudah selesai dan ia sudah tiba di Rumah Yanto. Rayhan membalas singkat, meminta ia tidur jika lelah.
Namun tidur tidak datang cepat.
Keesokan sorenya, hujan turun saat Keira menjemput Genki dari TK Internasional. Langit Jakarta berubah abu-abu, jalanan basah, dan Genki keluar dari kelas dengan jas hujan kuning kecil yang membuatnya terlihat seperti boneka serius.
"Kak Kei basah!" serunya.
"Sedikit."
"Nggak sedikit. Rambut Kak Kei tetes-tetes."
Keira tertawa sambil mengangkat tas untuk melindungi kepala. Payung yang dibawanya terlalu kecil untuk dua orang, jadi ia lebih banyak mencondongkan payung ke arah Genki.
Ketika mereka tiba di Vila Biru, ujung rambut Keira sudah lembap. Pengasuh segera membawa Genki mengganti baju. Keira hendak langsung pamit, tetapi Rayhan muncul dari arah ruang keluarga.
Tatapannya turun ke rambut Keira.
"Kamu kehujanan."
"Tidak parah. Aku bisa pulang."
Genki yang sedang dituntun pengasuh langsung menoleh. "Nggak boleh! Kak Kei sakit nanti."
"Aku tidak mudah sakit."
"Papa!" Genki mengadu cepat. "Kak Kei mau kabur basah-basah."
Rayhan menatap Keira. "Masuk dulu."
"Ray, aku..."
"Aku tidak menyuruhmu menginap. Aku menyuruhmu mengeringkan rambut."
Keira kalah oleh dua pasang mata: satu dingin tapi khawatir, satu bulat dan penuh tuduhan.
Akhirnya ia duduk di kamar tamu lantai bawah. Rayhan meminta staf menyiapkan handuk kecil dan pengering rambut. Keira kira staf rumah yang akan membantunya.
Ternyata Rayhan sendiri yang mengambil pengering itu.
"Kamu tidak perlu," kata Keira cepat.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa tetap..."
"Karena aku mau."
Kalimat itu membuat Keira kehabisan bantahan.
Rayhan berdiri di belakang kursinya. Ia tidak langsung menyentuh. "Boleh?"
Keira menatap pantulan mereka di cermin kecil meja rias. Wajahnya memanas, tetapi ia mengangguk.
Suara pengering rambut menyala rendah. Hangatnya menyentuh tengkuk Keira, pelan dan stabil. Rayhan bekerja dengan hati-hati, jari-jarinya tidak menarik rambut, hanya mengangkat helai demi helai agar cepat kering.
Keira duduk sangat diam.
"Kalau terlalu panas, bilang."
"Tidak."
"Kamu kaku sekali."
"Karena tidak biasa."
"Dikeringkan rambutnya?"
"Diperlakukan seperti ini."
Suara pengering berhenti.
Keira baru sadar ia mengatakannya terlalu jujur.
Di cermin, mata Rayhan menatapnya. Tidak ada kasihan yang membuatnya merasa kecil. Hanya sesuatu yang dalam dan tenang.
"Kalau begitu biasakan pelan-pelan."
Ia menyalakan pengering lagi.
Keira menunduk, menggenggam ujung rok. Hujan di luar mengetuk kaca jendela. Aroma lembut dari handuk bersih bercampur dengan wangi kayu dari kamar tamu. Untuk pertama kalinya, kegiatan sesederhana mengeringkan rambut terasa seperti tempat berlindung.
Setelah rambutnya hampir kering, Rayhan mengambil botol kecil dari meja.
"Apa itu?"
"Hair oil. Punya Mama. Dia meninggalkan beberapa di sini."
"Aku bisa pakai sendiri."
"Aku tahu."
Keira menatapnya melalui cermin. "Kamu suka sekali mengatakan itu."
"Karena kamu suka sekali menolak bantuan sebelum tahu bentuknya."
Ia meneteskan sedikit minyak rambut ke telapak tangan, menggosoknya, lalu mengusap ujung rambut Keira dengan gerakan ringan. Aroma floral yang tidak menyengat langsung menyebar.
Keira menahan napas.
Sentuhan itu tidak berlebihan. Tidak melewati batas. Tetapi justru karena begitu hati-hati, ia merasa lebih sulit bersikap biasa.
"Ray."
"Hm?"
"Semalam aku bertemu teman lama."
Gerakan Rayhan tetap tenang. "Ethan Kho?"
Keira menoleh cepat. "Kamu tahu?"
"Aku tahu keluarga Kho mengadakan acara. Aku tidak tahu kamu ingin membicarakannya atau tidak."
Keira menatapnya, lalu pelan-pelan bercerita. Tidak semua. Hanya bahwa Ethan adalah teman masa kecil, bahwa Kiara dan Meilan tampak tidak nyaman, bahwa suasana menjadi rumit.
Rayhan mendengarkan sampai selesai.
"Kamu merasa bersalah?" tanyanya.
"Sedikit. Padahal tidak ada apa-apa."
"Kalau tidak ada apa-apa, jangan menghukum diri."
"Kamu tidak marah?"
Rayhan menutup botol hair oil. "Aku cemburu sedikit."
Keira terdiam.
"Tapi cemburu bukan alasan untuk membuatmu merasa salah." Ia menatapnya dari cermin. "Aku pacarmu, bukan penjagamu."
Dada Keira terasa hangat sampai matanya hampir perih.
Pintu terbuka tiba-tiba.
Genki berdiri di sana dengan piyama rumah, rambut masih basah setengah kering.
"Papa curang!"
Keira tersentak. Rayhan menoleh. "Apa lagi?"
"Papa keringin rambut Kak Kei. Rambut Genki belum."
"Tadi pengasuh sudah keringkan."
"Belum wangi."
Genki berlari masuk, naik ke kursi kecil, lalu menunjuk kepalanya sendiri. "Genki juga mau minyak."
Keira tertawa.
Rayhan mengambil sisa hair oil di telapak tangannya, lalu menyentuh ujung rambut Genki sedikit. "Selesai."
Genki mengendus rambutnya sendiri dengan serius. "Kurang."
"Cukup."
"Kak Kei yang kasih."
Keira mengambil sedikit minyak, mengusap rambut Genki pelan. Anak itu langsung puas, lalu menyandarkan kepala ke lengan Keira.
"Kak Kei wangi. Genki juga wangi. Papa nggak."
Rayhan menatap putranya. "Bagus."
Genki mengambil buku cerita dari meja kecil, lalu menyerahkannya kepada Keira. "Baca ini."
"Sekarang?"
"Hujan. Kalau hujan harus baca buku."
"Siapa yang membuat aturan itu?"
"Genki."
Keira membuka halaman pertama. Ceritanya tentang anak kecil yang takut suara petir. Genki duduk di karpet, bersandar ke lutut Keira, sementara Rayhan berdiri di dekat meja rias dengan handuk masih di tangan.
Keira membaca pelan. Suaranya lembut, mengikuti ritme hujan di luar. Genki yang tadi cerewet mulai diam, jarinya memainkan ujung buntalan kecil yang entah sejak kapan ia bawa masuk.
Rayhan melihat pemandangan itu tanpa bergerak.
Tidak mewah. Tidak besar. Hanya perempuan dengan rambut wangi, anak kecil dengan buku cerita, dan hujan di kaca.
Tetapi justru itu yang membuat ruang itu terasa seperti rumah.
Ponsel Rayhan bergetar di meja.
Gio.
Staf lama klinik di Bogor sudah ditemukan, Pak. Dia bersedia bicara, tapi hanya langsung dengan orang yang bisa menjamin keselamatannya.
Rayhan membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi. Lalu ia menutup layar sebelum Keira sempat melihat.
Di depan cermin, Keira dan Genki masih tertawa kecil karena rambut mereka sama-sama wangi.
Rayhan menatap keduanya.
Untuk satu detik, kehangatan ruangan itu membuat kemarahan di dadanya terasa makin tajam.