Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalur yang tak seharusnya ada
Dua hari berlalu sejak malam ketika suara peluit kembali terdengar dari arah hutan. Selama dua hari itu tidak ada lagi bunyi peluit. Kampung Ciburial kembali tampak tenang, tetapi ketenangan itu terasa semu. Hampir setiap malam warga memilih menutup pintu rumah lebih awal. Tidak ada lagi yang berani melintas di dekat rawa setelah Magrib. Sementara itu, Pak Rahman mempersiapkan penelusuran dengan sangat hati-hati.
Pagi itu, matahari baru muncul di balik Gunung Ciremai ketika delapan orang berkumpul di balai kampung. Selain Arga, Pak Rahman, dan Mang Jaya, ikut pula Kang Ujang, Pak Darma, Kang Eman, Dedi, serta Asep yang memang terbiasa masuk hutan mencari kayu.
Masing-masing membawa parang, tali, senter, bekal makanan, serta air minum.
Pak Rahman berdiri di depan mereka.
"Ingat."
"Kita bukan berburu."
"Bukan juga mencari harta."
"Kita hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya ada di balik hutan sebelah utara rawa."
Semua mengangguk.
"Kalau keadaan mulai berbahaya..."
"...kita langsung kembali."
Tak seorang pun membantah.
Perjalanan dimulai setelah matahari cukup tinggi. Mereka melewati tepian rawa yang pagi itu tertutup kabut tipis. Airnya tetap tenang, nyaris tanpa riak. Arga sempat menoleh ke arah permukaan rawa.
Anehnya...
Bau busuk yang dulu begitu menyengat kini hampir tidak tercium.
"Rasanya berbeda," gumamnya.
Mang Jaya ikut mengangguk.
"Aku juga merasakannya."
Setelah melewati rawa, mereka mulai memasuki hutan di sisi utara. Baru beberapa meter berjalan, medan berubah drastis. Semak berduri menutup hampir seluruh jalan. Rotan liar melilit batang-batang pohon besar. Akar menjalar di mana-mana hingga setiap langkah harus benar-benar diperhatikan.
Parang yang mereka bawa tidak berhenti bekerja.
Craak...
Craak...
Suara tebasan bergema di antara pepohonan. Kang Ujang yang berada paling depan terus membuka jalan.
"Kita pelan saja."
"Hutannya terlalu rapat."
Keringat mulai membasahi wajah semua orang meski udara masih terasa dingin. Sesekali mereka harus merangkak melewati batang pohon tumbang. Beberapa kali pula mereka terpaksa memotong sulur rotan yang begitu tebal hingga hampir mustahil dilewati.
Sudah hampir dua jam mereka berjalan.
Namun hutan justru semakin lebat.
"Kalau begini terus..."
"...tidak mungkin pernah ada orang lewat sini," ujar Pak Darma sambil mengusap keringat.
Belum sempat ada yang menjawab, Kang Ujang tiba-tiba berhenti.
"Tunggu."
Semua ikut menghentikan langkah.
"Ada apa?"
Kang Ujang menyingkirkan beberapa semak di depannya.
Lalu ia terdiam.
"Ini..."
Arga segera mendekat.
Di balik semak yang baru dibuka...
Terlihat tanah memanjang selebar kurang lebih satu meter.
Tidak ditumbuhi semak.
Tidak dipenuhi akar.
Melainkan...
Sebuah jalan setapak.
Jalur itu membelah hutan lurus ke arah utara.
Semua orang saling berpandangan.
Pak Rahman berbisik pelan.
"Bagaimana mungkin..."
"Kita tidak pernah tahu ada jalan di sini."
Mang Jaya berjongkok menyentuh tanahnya.
Permukaannya lebih padat dibanding tanah di sekeliling.
Seolah...
Memang pernah sering dilewati.
"Padahal hutan ini sudah puluhan tahun tidak pernah dimasuki orang," katanya lirih.
Arga membuka salinan peta tua dari dalam tas. Tangannya sedikit bergetar ketika mencocokkan arah kompas.
Matanya membelalak.
"Pak..."
Pak Rahman menghampiri.
"Jalur ini..."
"...persis berada di garis putus-putus pada peta."
Suasana mendadak sunyi. Tak seorang pun mengucapkan sepatah kata. Mereka hanya memandang jalan sempit yang seakan muncul dari masa lalu.
Dengan penuh kewaspadaan mereka mengikuti jalur itu.
Anehnya...
Berjalan di atas jalan setapak terasa jauh lebih mudah. Pepohonan besar tumbuh rapi di kanan kiri. Cabang-cabang tidak saling menutup. Seolah memang sengaja memberi ruang bagi orang yang melintas. Padahal beberapa meter di luar jalur itu, hutan tetap rapat dan nyaris mustahil ditembus.
"Kalian sadar tidak?" bisik Dedi.
"Hutan ini seperti..."
"...membiarkan kita lewat."
Tak ada yang menjawab. Semua mulai merasakan keganjilan yang sama.
Sekitar lima belas menit kemudian...
Arga yang berjalan paling depan tiba-tiba mengangkat tangan.
"Berhenti."
Semua langsung diam.
Di tanah...
Terlihat sesuatu berwarna merah.
Arga berjongkok.
Ia mengambil benda itu perlahan.
Sebuah bungkus mi instan.
Kang Ujang ikut mendekat.
"Itu baru?"
Arga menggeleng pelan.
"Tunggu..."
Ia membalik bungkus tersebut.
Wajahnya berubah bingung.
"Pak..."
"Lihat ini."
Pak Rahman menerimanya.
Beberapa detik kemudian dahinya berkerut.
"Ini..."
"Bukan desain sekarang. Tanggal kadaluarsanya bahkan puluhan tahun lalu."
Mang Jaya ikut melihat.
Matanya langsung membesar.
"Aku ingat bungkus seperti ini."
"Waktu aku masih muda."
Semua saling berpandangan. Bungkus mi instan itu menggunakan logo lama yang sudah puluhan tahun tidak dipakai lagi. Warnanya memang sedikit berbeda. Tulisan mereknya pun menggunakan desain lawas.
Namun yang paling aneh...
Plastiknya sama sekali tidak kusam.
Warnanya masih cerah.
Tidak robek.
Tidak mengeras dimakan usia.
Seperti...
Baru dibuka beberapa saat yang lalu.
Arga menyentuh bagian dalam bungkus itu.
Masih bersih.
Tidak ada tanah.
Tidak ada lumut.
Tidak ada daun kering yang menempel.
Seolah baru saja seseorang selesai makan, lalu membuangnya di tempat itu.
"Ini tidak masuk akal," gumamnya.
Belum hilang rasa heran mereka, Asep berseru dari depan.
"Di sini juga ada!"
Semua segera menghampiri. Di pinggir jalan setapak terdapat beberapa bungkus biskuit.
Desainnya pun sama.
Model lama.
Merek yang masih ada hingga sekarang, tetapi menggunakan kemasan yang sudah puluhan tahun tidak diproduksi.
Arga memungut salah satunya.
Plastiknya masih mengilap.
Lipatan bekas sobeknya masih tajam.
Tidak ada setitik debu pun.
Pak Rahman merasakan tenggorokannya mengering.
"Kalau bungkus ini memang dari tiga puluh tahun lalu..."
"...seharusnya sudah hancur."
Mang Jaya mengangguk perlahan.
"Atau paling tidak..."
"...warnanya sudah pudar."
Arga menoleh ke kanan dan kiri.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada bekas api unggun.
Tidak ada jejak kaki.
Namun benda-benda itu terlihat seolah ditinggalkan hanya beberapa menit sebelumnya.
Udara mendadak terasa jauh lebih dingin.
Angin yang tadi hampir tidak berembus kini bergerak perlahan melewati pepohonan.
Daun-daun bergesekan pelan.
Srrr...
Srrr...
Kang Ujang menelan ludah.
"Pak..."
"Saya tidak enak."
Pak Rahman belum sempat menjawab. Tiba-tiba Arga menemukan sesuatu lagi.
Bukan bungkus makanan.
Melainkan...
Jejak sepatu.
Masih sangat jelas.
Membekas di tanah jalan setapak.
Namun anehnya...
Jejak itu hanya ada beberapa langkah.
Lalu...
Menghilang begitu saja.
Seakan pemiliknya lenyap di tengah jalan.
Tak seorang pun berani berbicara.
Di tengah kesunyian hutan itu, masing-masing mulai merasakan bahwa mereka bukan sekadar menemukan jalur lama.
Mereka sedang berjalan di sebuah tempat...
...yang seolah tidak mengikuti waktu.