Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Rahasia Sang Kakek dan Lahirnya Paviliun Naga
Akhir pekan tiba dengan udara musim gugur yang sejuk.
Di pinggiran Kota Donghai, terletak sebuah sanatorium elit yang dikelilingi oleh pepohonan pinus dan danau buatan yang tenang. Di sinilah Su Zhen, Kakek Su sekaligus pendiri Grup Kosmetik Su, dirawat karena penyakit jantung kronisnya.
Sebuah Mercedes-Benz hitam berhenti di depan lobi sanatorium. Lin Chen dan Su Ruoxue melangkah keluar. Hari ini, Su Ruoxue mengenakan gaun kasual berwarna putih tulang yang membuatnya tampak lebih lembut dan feminin, kehilangan sedikit aura 'Ratu Es'-nya saat berada di dekat Lin Chen.
"Kakek sangat keras kepala. Meskipun kondisi kesehatannya membaik, dia bersikeras tinggal di sini agar tidak membebani pikiran kami di rumah," jelas Su Ruoxue saat mereka berjalan menyusuri koridor VIP. Ia menatap Lin Chen sejenak. "Lin Chen, terima kasih sudah mau datang. Kakek adalah satu-satunya orang di Keluarga Su yang benar-benar peduli padaku... dan padamu."
Lin Chen tersenyum tipis. "Aku tahu. Kalau bukan karena Kakek Su, tubuh asliku mungkin sudah membeku di jalanan Donghai lima tahun lalu."
Mereka tiba di depan kamar VVIP nomor 01. Su Ruoxue mengetuk pelan lalu membuka pintu.
Di dalam, seorang pria tua berambut putih yang mengenakan piyama rumah sakit sedang duduk di kursi roda menghadap jendela, menatap pemandangan danau. Meskipun wajahnya keriput dan pucat, matanya masih memancarkan ketajaman seorang pengusaha veteran.
"Kakek," panggil Su Ruoxue lembut.
Su Zhen menoleh. Wajahnya langsung dihiasi senyum hangat. "Ruoxue, cucuku tersayang. Kemarilah."
Namun, pandangan Su Zhen segera beralih dan terkunci pada sosok pemuda tinggi tegap yang berdiri di belakang Su Ruoxue. Mata tua itu sedikit melebar, lalu menghela napas panjang yang sarat akan makna.
"Ruoxue, tinggalkan kakek berdua dengan Lin Chen sebentar. Ada urusan antar pria yang harus kami bicarakan," pinta Kakek Su.
Su Ruoxue tampak sedikit ragu, namun ia mengangguk patuh. "Baik, Kek. Aku akan berbicara dengan dokter jaga mengenai perkembangan resep obat kakek."
Setelah pintu tertutup dan hanya tersisa mereka berdua di ruangan itu, keheningan sejenak menyelimuti.
Lin Chen melangkah maju, menarik kursi, dan duduk berhadapan dengan Kakek Su. Ia memancarkan ketenangan yang membuat Su Zhen semakin kagum.
"Berita tentang kehancuran Keluarga Zhao... dan kebangkitan Grup Su... aku mendengarnya dari kepala perawat pagi ini," Su Zhen memulai pembicaraan, suaranya sedikit bergetar. "Ruoxue mungkin berpikir itu murni keberuntungan atau bantuan dari Keluarga Tang, tapi mataku yang tua ini tidak buta, Nak Lin. Kau... kau akhirnya terbangun."
Lin Chen menatap lurus ke arah pria tua itu. "Kakek Su, aku punya satu pertanyaan. Lima tahun lalu, saat meridianku dihancurkan oleh Keluarga Lin di Ibukota dan aku dibuang kemari, tidak ada satu pun keluarga di Donghai yang berani menampungku karena takut pada kemarahan Keluarga Lin. Mengapa Kakek berani mengambil risiko itu, bahkan memaksa Ruoxue menikahiku?"
Su Zhen tersenyum getir. Ia memutar kursi rodanya, lalu membuka sebuah laci rahasia di bawah sandaran tangannya. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana kecil yang sudah terlihat sangat usang.
"Banyak orang mengira aku menerima pernikahan itu demi investasi awal yang dijanjikan ayahmu. Itu bohong. Ayahmu bahkan tidak memberikan sepeser pun saat membuangmu," ucap Su Zhen pelan. "Aku mengambilmu, karena dua puluh lima tahun yang lalu, ibumu menyelamatkan nyawaku."
Mata Lin Chen sedikit menyipit. Ibu?
Dalam ingatan tubuh ini, ibu kandung Lin Chen, Shen Yan, adalah seorang wanita cantik yang lembut namun meninggal karena penyakit misterius saat Lin Chen masih berusia sepuluh tahun. Setelah kematiannya, ayahnya menikahi ibu tiri yang kejam, yang berujung pada kehancuran Lin Chen.
"Ibumu, Nyonya Shen Yan, bukanlah orang biasa," lanjut Kakek Su, matanya menerawang ke masa lalu. "Saat itu, Keluarga Su sedang dihancurkan oleh saingan bisnis dari dunia bawah tanah. Ibumulah yang datang entah dari mana, mengalahkan puluhan petarung bayaran seorang diri hanya dengan lambaian tangannya, dan menyelamatkan nyawaku. Sebelum dia kembali ke Ibukota untuk menikahi ayahmu, dia menitipkan kotak ini padaku."
Kakek Su menyodorkan kotak kayu cendana itu kepada Lin Chen.
"Dia berkata, jika suatu hari nanti putranya menemui jalan buntu dan kehilangan segalanya, aku harus memberikan kotak ini kepadanya. Jika kau tidak pernah bangkit, aku akan menyembunyikan kotak ini sampai mati agar kau bisa hidup tenang sebagai orang biasa. Tapi karena Sang Naga telah membuka matanya... ini adalah milikmu."
Lin Chen mengambil kotak itu. Saat jarinya menyentuh permukaan kayu, ia bisa merasakan energi spiritual kuno yang sangat murni berdenyut samar dari dalam.
Ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya, tergeletak sebuah potongan batu giok hitam yang ujungnya patah, diikat dengan tali merah sederhana.
[Ding!]
[Mendeteksi Artefak Spiritual Kuno: Pecahan Giok Penelan Surga!]
[Fungsi: Dapat menyerap energi (Qi) alam sekitar secara otomatis dan mengalirkannya ke Dantian Host. Meningkatkan kecepatan pemulihan Qi sebesar 500% dan memperluas kapasitas Dantian.]
[Catatan: Ini hanya satu dari empat pecahan. Jika dikumpulkan semua, dapat membuka warisan alam rahasia.]
Napas Lin Chen tertahan sesaat. Giok Penelan Surga!
Ini adalah solusi sempurna untuk masalah kapasitas Qi-nya! Dengan benda ini, kelemahan Dantian-nya yang kecil akibat baru mulai berkultivasi akan tertutupi. Bahkan dalam pertarungan panjang, giok ini akan terus memompa Qi ke dalam tubuhnya, menjadikannya mesin tempur tanpa lelah.
"Ibumu pasti memiliki latar belakang dari Dunia Seni Bela Diri Kuno..." gumam Lin Chen dalam hati. Penemuan ini mengubah seluruh perspektifnya tentang kematian ibunya. Kematian ibunya bukanlah karena penyakit biasa, pasti ada konspirasi besar yang melibatkannya!
Lin Chen menggenggam giok itu, lalu menatap Su Zhen dengan penuh rasa hormat. Ia meletakkan tangannya di atas tangan keriput pria tua itu dan diam-diam mengalirkan sedikit Qi murni untuk memperkuat jantung Su Zhen.
"Terima kasih, Kakek. Kotak ini adalah harta yang sangat berharga," ucap Lin Chen. "Kakek beristirahatlah dengan tenang. Mengenai Keluarga Su dan Ruoxue, selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun eksistensi di dunia ini yang bisa menyentuh mereka."
Su Zhen merasakan aliran hangat di dadanya yang membuat pernapasannya seketika menjadi lega dan nyaman. Ia tertawa bahagia. "Hahaha... bagus, bagus! Cepat beri kakek ini seorang cicit, itu sudah cukup untuk membalas budiku!"
Lin Chen hanya bisa tersenyum canggung mendengar permintaan itu.
Setelah meninggalkan sanatorium, Lin Chen berpisah dengan Su Ruoxue yang harus kembali ke kantor untuk mengurus pesanan Embun Surgawi.
Sementara itu, Lin Chen mengarahkan taksinya menuju sebuah kawasan pabrik terbengkalai di pelabuhan timur Donghai.
Tempat ini dulunya adalah gudang penyelundupan milik Keluarga Zhao, namun kini telah kosong. Di dalam gudang yang sangat luas itu, Paman Bai sedang menunggu bersama sekelompok pria.
Begitu Lin Chen melangkah masuk, Paman Bai segera berlutut dengan satu kaki.
"Tuan Muda! Sesuai perintah Anda, hamba telah mengumpulkan orang-orang ini," lapor Paman Bai.
Lin Chen mengalihkan pandangannya. Di belakang Paman Bai, berdiri delapan belas pemuda. Rata-rata berusia dua puluhan, dengan tubuh penuh bekas luka, tatapan liar bak serigala lapar, dan pakaian yang kumal. Mereka adalah yatim piatu, petarung jalanan, dan korban ketidakadilan penguasa lokal yang dipungut oleh Paman Bai dari daerah kumuh.
Meskipun mereka bukan seniman bela diri, mereka memiliki fondasi fisik dari pertarungan jalanan yang brutal dan, yang paling penting, mereka tidak memiliki ikatan dengan siapa pun.
"Apakah mereka tahu untuk apa mereka dikumpulkan di sini?" tanya Lin Chen tenang, berjalan memutari mereka.
"Pria tua ini bilang kau bisa memberi kami kekuatan dan uang," sahut seorang pemuda di barisan depan dengan rambut gondrong dan mata tajam yang menyeramkan. Tubuhnya dipenuhi otot liat, dan ada bekas luka sayatan pedang di lehernya. Namanya adalah Ah Fei, mantan petarung arena bawah tanah independen yang sangat membenci Keluarga Zhao.
"Tapi," lanjut Ah Fei dengan nada meremehkan, "kau terlihat seperti Tuan Muda kaya raya yang belum pernah membunuh ayam. Bagaimana kau bisa memimpin kami?"
BUM!
Sebelum Ah Fei bisa berkedip, Lin Chen sudah berdiri di hadapannya. Jari telunjuk Lin Chen menekan lembut di tengah dahi Ah Fei.
Ah Fei mencoba memberontak, namun ia merasa seolah ada sebuah gunung seberat puluhan ton yang menekan tubuhnya. Tulang-tulangnya berderak, dan ia terpaksa jatuh berlutut hingga lantai beton di bawah lututnya retak. Keringat dingin bercucuran di wajahnya.
Ketujuh belas pemuda lainnya tersentak mundur, teror tergambar jelas di wajah mereka.
"Kekuatan bukanlah seberapa keras kau menggonggong, tapi seberapa cepat kau bisa mencabut nyawa musuhmu," bisik Lin Chen di telinga Ah Fei.
Lin Chen melepaskan tekanannya. Ia kemudian merogoh sakunya dan menggunakan [Token Pengendali Pikiran] yang ia dapatkan dari sistem. Sebuah cahaya keemasan redup yang hanya bisa dilihat oleh Lin Chen melesat masuk ke dahi Ah Fei.
[Ding!]
[Token Pengendali Pikiran berhasil ditanamkan pada target: Ah Fei.]
[Loyalitas target kepada Host telah dikunci pada 100% (Absolute Loyalty). Target akan mematuhi semua perintah Host hingga mati.]
Seketika, tatapan buas Ah Fei mereda. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyentuhkan dahinya ke sepatu Lin Chen. "Ah Fei bersedia menjadi pedang di tangan Tuan. Perintahkan, dan hamba akan memotong siapa pun untuk Anda!"
Perubahan drastis petarung paling buas di antara mereka membuat tujuh belas pemuda lainnya seketika kehilangan nyali. Mereka semua langsung ikut berlutut serempak.
"Kami bersedia mengabdi!"
Lin Chen tersenyum puas. Ia menatap delapan belas pemuda di depannya, lalu menatap Paman Bai.
"Mulai hari ini, kekosongan di dunia bawah tanah Donghai akan kita isi. Nama organisasi ini adalah Paviliun Naga (Dragon Pavilion)," deklarasi Lin Chen, suaranya menggema di dinding gudang.
Lin Chen melemparkan sebuah buku manual bersampul biru ke pelukan Paman Bai.
"Paman Bai, kau adalah Kepala Paviliun. Di dalam buku itu terdapat Teknik Tinju Harimau Besi (teknik yang dibeli Lin Chen dari sistem). Latih kedelapan belas anak ini. Mereka akan menjadi 18 Pengawal Naga Hitam. Dalam waktu satu bulan, aku ingin mereka semua menembus Kelas Fana. Obat-obatan dan ramuan penguat tulang akan kusiapkan."
Mata Paman Bai berbinar penuh semangat. Ia mendekap buku manual itu seperti harta karun. "Hamba tidak akan mengecewakan Tuan Muda! Kami akan menjadi bayangan yang menyapu semua musuh Anda!"
Paviliun Naga, faksi legendaris yang kelak akan membuat seluruh dunia bawah tanah Tiongkok gemetar, resmi lahir di gudang berdebu pelabuhan Donghai pada hari ini.
Namun, di saat Lin Chen sedang membangun fondasi kekuatannya, sebuah ancaman gelap baru saja menginjakkan kaki di perbatasan Kota Donghai.
Di atas atap sebuah gedung pencakar langit tertinggi di Donghai, angin malam bertiup sangat kencang.
Tiga sosok berjubah hitam legam berdiri di tepi atap, menatap kelap-kelip lampu kota di bawah mereka layaknya sekawanan burung pemakan bangkai yang menemukan mangsa. Ujung jubah mereka disulam dengan benang perak berbentuk tengkorak—lambang Utusan Bayangan dari Sekte Gunung Hitam.
Pria di tengah, yang memiliki sepasang mata seputih salju tanpa pupil (buta), mengangkat sebuah kompas kuno yang terbuat dari tulang manusia. Jarum kompas itu berputar liar sebelum akhirnya berhenti, menunjuk tajam ke arah dua lokasi berbeda di kota tersebut.
"Hee hee hee..." pria buta itu tertawa dengan suara yang sangat melengking dan tidak nyaman didengar. "Aroma pembunuh Tetua Gu... dan sisa energi aura Gunung Hitam masih tertinggal. Jarum ini menunjuk ke arah pelabuhan timur... dan satu lagi mengarah ke kawasan perumahan elit Keluarga Su."
Utusan Bayangan di sebelah kirinya yang berbadan sangat besar dan membawa kapak raksasa di punggungnya, mendengus kasar. "Apa perintahnya, Kakak Buta? Apakah kita langsung memenggal kepala pembunuh itu?"
"Tidakkk, tidakkk..." sang kakak buta menggeleng perlahan, menyeringai hingga memperlihatkan giginya yang runcing. "Guru Sekte memerintahkan kita untuk tidak gegabah. Jika pembunuh itu kuat, kita harus mematahkan mentalnya terlebih dahulu."
Utusan di sebelah kanannya, seorang wanita dengan kuku-kuku hitam beracun, menjilat bibirnya. "Kalau begitu, mari kita culik keluarganya. Kudengar, Grup Su dipimpin oleh seorang wanita yang sangat cantik. Menjeritnya pasti terdengar sangat merdu saat kita mengulitinya hidup-hidup."
Ketiga Utusan Bayangan itu tertawa serempak.