NovelToon NovelToon
My Ice CEO Is A Tante

My Ice CEO Is A Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miko J

Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan Suami Sang CEO

Gedung pencakar langit Chen Corp di Distrik Xinyi pagi itu tampak sewibawa biasanya. Dinding-dinding kaca yang menjulang tinggi memantulkan cahaya matahari Taipei, menciptakan kesan mewah sekaligus dingin yang menjadi ciri khas perusahaan raksasa tersebut. Para karyawan yang mengenakan pakaian kerja rapi hilir mudik di lobi utama sambil membawa map, tablet, atau secangkir kopi hangat. Di sudut ruangan, suara langkah sepatu beradu dengan lantai marmer mengiringi alunan musik instrumental yang diputar pelan melalui pengeras suara.

Namun, atmosfer tenang itu mendadak berubah ketika pintu kaca otomatis terbuka.

Semua mata secara refleks tertuju ke arah pintu masuk.

Tiffany Chen melangkah masuk dengan setelan blazer hitam yang dipadukan dengan rok pensil selutut. Rambut panjangnya diikat rapi, sementara kacamata kerja berbingkai tipis bertengger anggun di hidungnya, semakin menegaskan aura CEO muda yang dingin dan berwibawa.

Di sampingnya berjalan Gavin Wijaya.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan kemeja putih bersih tanpa dasi. Langkahnya santai, tetapi penuh keyakinan. Senyum tipis yang menghiasi wajahnya membuat penampilannya terlihat hangat dan mudah didekati. Aura mantan sultan Jakarta yang sempat meredup selama bekerja di pabrik Taoyuan kini seolah kembali memancar sepenuhnya.

Perpaduan keduanya menciptakan pemandangan yang sulit diabaikan.

Begitu mereka melewati meja resepsionis menuju lift khusus manajemen, suara bisik-bisik langsung bermunculan dari berbagai sudut ruangan.

Beberapa pegawai pria yang sedang memeriksa dokumen saling menyenggol siku rekannya.

"Eh... bukannya rumor bilang CEO Chen baru menikah?" bisik salah seorang pegawai dengan suara sangat pelan.

"Jangan-jangan pria di sebelahnya itu suaminya?" sahut rekannya sambil melotot tak percaya.

"Serius? Kukira cuma gosip."

"Kalau dilihat dari cara mereka berjalan bareng begini... kayaknya benar."

Tak jauh dari sana, dua orang karyawati yang sedang berdiri di dekat mesin fotokopi bahkan menghentikan aktivitas mereka. Tumpukan berkas di tangan mereka nyaris terlepas karena perhatian mereka sepenuhnya tertuju kepada Gavin.

"Ya ampun... pria yang bersama CEO Chen tampan sekali," bisik salah satunya sambil menangkupkan kedua tangan di pipinya.

"Dan senyumnya itu, ya ampun... manis banget!"

Temannya mengangguk berkali-kali.

"Aku dengar dia pengusaha dari luar negeri."

"Pantas saja CEO Chen yang terkenal dingin akhirnya menikah."

"Kalau dipikir-pikir, mereka cocok juga, ya."

Meski mereka berusaha mengecilkan suara, telinga Gavin yang cukup peka tetap menangkap sebagian percakapan tersebut.

Indra narsismenya langsung aktif.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

Alih-alih terus mengikuti Tiffany, Gavin justru menghentikan langkah tepat di depan kedua karyawati itu.

Kedua wanita tersebut langsung menegang.

Gavin memiringkan kepala sedikit, lalu menampilkan senyum ramah yang mampu membuat suasana menjadi jauh lebih hangat.

"Oh ya, perkenalkan," ucapnya sopan. "Saya Gavin Wijaya... suami dari Tiffany Chen."

Nada suaranya tenang, rendah, dan terdengar begitu bersahabat.

Kedua karyawati itu seketika membeku.

Mata mereka membulat.

Mulut mereka sedikit terbuka.

Wajah keduanya berubah merah padam seperti kepiting rebus karena tertangkap basah sedang bergosip, lalu malah disapa langsung oleh orang yang mereka bicarakan.

"Se-selamat pagi, Tuan Wijaya!" ucap salah satunya dengan gugup sambil buru-buru membungkukkan badan.

"Iya... selamat pagi!" timpal rekannya, nyaris tersedak ludah sendiri.

Gavin hanya terkekeh pelan.

"Tenang saja. Jangan terlalu formal. Anggap saja kita sedang berkenalan."

Ucapan sederhana itu justru membuat kedua wanita tersebut semakin salah tingkah.

Sementara itu, Tiffany yang sudah berjalan beberapa langkah lebih dulu akhirnya menyadari langkah kaki di belakangnya menghilang.

Dia berhenti.

Alisnya berkerut.

Perlahan ia menoleh ke belakang.

Begitu melihat Gavin sedang tersenyum manis kepada dua staf wanitanya, alarm kewaspadaan di dalam kepala Tiffany langsung berbunyi nyaring.

Bahaya.

Pria ini mulai lagi.

Dengan langkah cepat, Tiffany berbalik.

Tatapan dinginnya langsung menusuk Gavin.

"Suamiku. Ayo cepat sudah banyak pekerjaan menunggu."

Nada suaranya memang rendah, tetapi cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa turun beberapa derajat.

Tatapan matanya bahkan seolah mengirimkan ancaman tanpa perlu mengucapkan kata-kata.

Gavin langsung mengerucutkan bibir.

"Aku kan cuma—"

"Ayoo cepat..."

"..."

"Ikut."

Dengan wajah cengengesan tanpa rasa bersalah sedikit pun, Gavin akhirnya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Baik, Sayang."

Sebelum pergi, dia masih sempat membungkukkan badan sopan kepada kedua karyawati tersebut.

"Senang berkenalan."

Kedua wanita itu hanya mampu mengangguk kaku.

Tanpa membuang waktu lagi, Tiffany meraih lengan jas Gavin dengan cukup kuat.

"Eh... eh... pelan-pelan Sayang."

Namun Tiffany sama sekali tidak menghiraukannya.

Dia setengah menyeret Gavin menuju lift VIP yang pintunya baru saja terbuka.

Beberapa manajer yang kebetulan melintas hanya bisa berpura-pura sibuk membaca dokumen, padahal mata mereka diam-diam mengikuti pasangan itu hingga pintu lift tertutup rapat.

Ding.

Pintu lift VIP menutup perlahan.

Begitu bayangan bos mereka menghilang, suasana lobi yang sempat membeku langsung meledak menjadi bisik-bisik baru.

Kedua karyawati di dekat mesin fotokopi mengembuskan napas panjang bersamaan.

"Ya Tuhan..." gumam salah satunya sambil memegangi dada.

"Jantungku benar-benar mau copot."

Temannya mengangguk kuat.

"Senyumnya itu bahaya."

"Iya! Aku hampir lupa kalau dia suami CEO."

"Kalau bukan suami CEO, mungkin seluruh divisi perempuan sudah antre minta nomor teleponnya."

Mereka berdua langsung tertawa pelan.

Namun beberapa detik kemudian, senyum itu menghilang.

Karyawati kedua buru-buru menyenggol lengan rekannya.

"Eh, jangan ngomong sembarangan."

"Kenapa?"

"Kalau sampai CEO Chen dengar, habislah kita."

Karyawati pertama langsung menelan ludah.

Bayangan wajah dingin Tiffany ketika sedang rapat seketika muncul di kepalanya.

"Iya juga..."

"Tadi saja tatapan CEO ke arah kita sudah bikin bulu kudukku berdiri."

Meski begitu, pipinya kembali memerah saat mengingat senyum Gavin barusan.

Sambil memegangi kedua pipinya yang masih terasa panas, ia berbisik lirih,

"Tapi... benar-benar manis sekali."

Temannya hanya menggeleng sambil tertawa kecil.

"Kamu sudah tidak tertolong."

Sementara itu...

Lift VIP terus bergerak naik dengan mulus.

Suasana di dalamnya jauh lebih sunyi.

Hanya terdengar dengungan mesin lift dan angka digital yang terus bertambah.

Begitu pintu benar-benar tertutup rapat, Tiffany langsung melepaskan cengkeramannya dari lengan Gavin.

Dia mengembuskan napas panjang, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Tatapannya tetap lurus ke depan.

Ia membetulkan posisi kacamatanya sebelum kembali berbicara.

"Ingat, Gavin," ucap Tiffany datar. "Tidak perlu menebar senyum dan menggoda ke semua staf wanitaku. Cukup perkenalkan diri seperlunya."

Gavin mengangkat bahu santai. "Aku cuma bersikap ramah, aku tidak menggoda mereka."

"Ramah boleh, tapi jangan sampai mereka salah mengartikan sikapmu."

"Bukankah semakin banyak orang percaya aku suamimu, semakin bagus untuk sandiwara kita?"

Tiffany terdiam sejenak sebelum mengangguk tipis.

"Itu memang tujuannya," jawabnya. "Tapi jangan sampai aktingmu berlebihan hingga malah menimbulkan gosip baru."

Gavin tersenyum lebar.

"Tenang saja, Tante. Aku tahu batasnya."

Tiffany mendengus pelan. "Semoga saja."

Kadang-kadang ia benar-benar tidak tahu harus menghadapi pria di depannya dengan cara seperti apa.

Melihat ekspresi kesal itu, Gavin terkekeh pelan, lalu bersandar santai pada dinding lift yang dilapisi cermin mewah. Ia merapikan ujung lengan jasnya yang sedikit kusut akibat ditarik Tiffany tadi.

"Aduh, Tante... galak sekali pagi-pagi."

Tiffany hanya melirik tajam tanpa menjawab.

Gavin menyunggingkan senyum tipis. "Aku kira aktingku tadi cukup meyakinkan."

"Terlalu meyakinkan," balas Tiffany singkat.

"Itu pujian?"

"Jangan besar kepala."

Tiffany terdiam beberapa detik.

Logikanya memang ada benarnya.

Namun entah kenapa, yang paling mengganggunya justru bukan ucapan Gavin.

Melainkan cara beberapa staf wanita memandang pria itu tadi.

Tatapan penuh kekaguman.

Dan senyum lebar Gavin yang dibalas dengan begitu hangat.

Entah mengapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa sedikit tidak nyaman.

Perasaan itu muncul begitu cepat hingga bahkan Tiffany sendiri tidak sempat memahami artinya.

Melihat Tiffany mendadak diam, Gavin memiringkan kepala.

"Tante?"

"Hm?"

"Jangan bilang..."

"Apa?"

"Tante cemburu?"

Kalimat itu membuat Tiffany langsung menoleh dengan mata membelalak.

"Cemburu? Mimpi saja!"

Gavin tertawa puas.

"Nah, itu baru Tante yang kukenal."

Tiffany mendengus kesal sambil memalingkan wajah.

Dasar pria menyebalkan.

Namun tanpa ia sadari, sudut bibirnya sempat bergerak tipis sebelum kembali memasang ekspresi dingin khasnya tepat ketika lift berhenti di lantai paling atas.

Ding.

Pintu lift perlahan terbuka.

Hari pertama Gavin sebagai "suami CEO" di kantor pusat Chen Corp akhirnya benar-benar dimulai.

1
helena
ada batas teritorial nya🤣
helena
tante🤣
helena
kursi panas/Doge/
helena
jari jemari tim kevin /Proud/
Zed Analytical Number Nine
ngga bener nih, si Gavin
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Lasa Hardianti
WKWKWK Gavin langsung semangat banget pas dengar kartu kredit tanpa limit🤣 Lanjut baca dulu ah, penasaran rumah tangga kontraknya bakal seseru apa🤣😍
white star ⭐: "Terima kasih kak, dah mampir 😆"
total 1 replies
Lasa Hardianti
Premisnya unik Kak. dari awal udah bikin penasaran gimana Gavin bisa berubah jadi TKI di Taiwan. Semangat update😁
Cilia
Lanjutin terus kak! Kepo sama kelanjutan cerita Gavinnn
white star ⭐: trimakasih kak, jadi semakin semangat buat nulis kelanjutan cerita ini
total 1 replies
helena
lanjut thorr💪
helena
😇
yugi chan 👧
lanjuuttt ....
white star ⭐: siap kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!