Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampan namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
baca ceritanya untuk lanjut🫶🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Jebakan Lembur
...Hari Jumat seharusnya menjadi hari pembebasan bagi setiap karyawan di ibu kota, tidak terkecuali di lantai tiga puluh gedung Arkananta Group. ...
...Sejak pukul empat sore, suasana di area bilik Karyawan sudah berubah drastis. ...
...Suara ketukan papan ketik tidak lagi sekeras pagi tadi, digantikan oleh bisik-bisik rencana akhir pekan dan derit kursi yang digeser karena para pemiliknya mulai merapikan barang bawaan....
...Di sudut biliknya, Rania mengembuskan napas panjang yang penuh akan rasa lega....
... Kedua lengannya yang pegal diregangkan ke atas hingga terdengar bunyi gemertak halus. ...
...Di samping mejanya, tiga kotak kardus besar berisi dokumen fisik dari gudang bawah tanah dua telah tersusun rapi, lengkap dengan sebuah (flashdisk) yang berisi seluruh salinan digital data lima tahun terakhir....
...Rania berhasil....
... Ia menantang kemustahilan yang diberikan Arkan dan menyelesaikannya tepat waktu sebelum pukul empat sore, seperti yang diperintahkan sang bos kejam itu kemarin....
..."Dua puluh menit lagi," bisik Rania pada dirinya sendiri sembari melirik jam digital di sudut kanan bawah layar monitornya....
... Pukul 16.40....
...Pikiran Rania sudah melayang jauh ke Cafe tempatnya bekerja, ke ruang ganti Dark Moon Maid Cafe. ...
...Malam ini adalah malam akhir pekan, malam tersibuk di mana kafe akan dipenuhi oleh para pelanggan kelas atas yang siap menghamburkan uang....
... Manajer Tedi sudah mewanti-wantinya sejak siang melalui pesan singkat agar ia tidak terlambat semenit pun, karena slot waktu reservasi untuk "Milky" sudah penuh dipesan sejak tiga hari yang lalu. ...
...Ia harus melakukan clock-in di kafe paling lambat pukul tujuh malam. ...
...Mengingat kemacetan Jakarta di hari Jumat malam yang terkenal seperti neraka jahanam, ia harus keluar dari gedung ini tepat pukul lima sore agar punya waktu untuk menembus kemacetan dan kembali berubah menjadi Milky....
...Rania mulai memasukkan dompet, ponsel, dan botol minumnya ke dalam tas kain lusuhnya. ...
...Senyum manisnya yang biasa ia simpan untuk malam hari hampir saja terukir di wajah siangnya yang pucat....
...Namun, dunia Rania mendadak runtuh ketika pintu kayu ek besar di ujung lorong terbuka....
...Ceklek...
...Langkah kaki dengan ritme yang lambat, berat, dan penuh wibawa itu menggema di koridor yang mulai sepi. ...
...Rania menahan napas....
... Jantungnya mencelos seketika saat melihat sosok tegap Arkananta Narendra berjalan mendekat ke arah biliknya. ...
...Pria itu sudah menanggalkan jas tiga potongnya, menyisakan kemeja putih premium yang lengannya digulung hingga sebatas siku, menampilkan jam tangan safir hitamnya yang berkilau mahal....
...Arkan berhenti tepat di depan meja Rania. ...
...Ia melirik tiga kardus besar di samping meja dengan pandangan datar, seolah-olah pencapaian luar biasa Rania menyelesaikan arsip lima tahun terakhir tidak lebih dari sekadar tugas membuang sampah....
...Pria itu kemudian meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam tebal di atas meja Rania dengan ketukan yang sengaja dikeraskan....
..."Laporan analisis pasar untuk proyek akuisisi lini kosmetik di daerah Jakarta Utara," ucap Arkan, suara baritonnya terdengar sangat dingin, tajam, dan mutlak tanpa bantahan....
...Rania memandang map itu, lalu mendongak menatap sepasang mata elang di balik kacamata Arkan dengan tatapan tidak percaya....
... "Maaf, Pak Arkan... tapi draf analisis pasar bukannya baru dijadwalkan untuk dibahas minggu depan oleh tim riset?"...
...Arkan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Rania dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang menusuk....
... "Jadwal berubah. Investor dari Singapura memajukan pertemuan menjadi besok Sabtu jam sembilan pagi. Saya butuh data proyeksi pertumbuhan, analisis kompetitor makro, dan kalkulasi risiko finansial dari dokumen di dalam map itu sudah dirangkum menjadi draf presentasi eksekutif."...
...Rania melirik jam dinding biliknya. ...
...Pukul 16.55. Lima menit sebelum bel pulang berbunyi....
..."Tapi Pak..." Suara Rania bergetar, rasa panik mulai merayap di dalam dadanya, mencengkeram ulu hatinya hingga ia merasa sulit bernapas....
... "Ini sudah hampir jam lima sore. Dokumen ini sangat tebal, setidaknya butuh waktu empat sampai lima jam untuk membedah datanya secara akurat. Saya... saya ada urusan keluarga yang sangat mendesak malam ini."...
..."Urusan keluarga?" Arkan menaikkan sebelah alisnya, seulas senyuman tipis yang sangat dingin dan sinis terukir di sudut bibirnya....
... "Rania Adisti, saya pikir saya sudah menjelaskan dengan sangat jelas kemarin tentang apa itu profesionalisme. Tugas arsip kemarin memang selesai, tapi itu adalah standar minimal. Jika Anda ingin bertahan di perusahaan ini, Anda harus membuktikan bahwa Anda mampu bekerja di bawah tekanan ekstrem, bukan mencari alasan untuk pulang cepat di saat perusahaan membutuhkan Anda."...
...Tatapan Arkan mengunci netra hitam Rania di balik kacamata bulat besarnya....
... Di dalam hati Arkan, ada sebuah dorongan aneh yang egois yang tidak bisa ia jelaskan sendiri....
... Sejak malam tadi, setelah ia menghabiskan waktu bersama "Milky" di kafe, pikiran sang CEO tidak bisa tenang....
... Sisi imut, ceria, dan penuh kehangatan dari pelayan gotik itu terus berputar di kepalanya, membuatnya merasa asing dengan keheningan rumah mewahnya yang sepi....
... Hari ini, melihat Rania yang tampak begitu terburu-buru ingin pulang, entah mengapa membuat suasana hati Arkan memburuk....
... Ada bagian dari dirinya yang sengaja ingin menguji ketahanan gadis magang ini, ingin melihat sampai di mana batas kesabaran dan ketangguhan dari satu-satunya sekretaris yang berani menatap matanya di kantor....
..."Selesaikan malam ini juga," perintah Arkan lagi, suaranya merendah namun penuh akan ancaman tak terlihat. ...
..."Saya akan menunggu di ruangan saya sampai draf itu selesai. Jika sebelum jam dua belas malam dokumen itu belum ada di meja saya dengan analisis yang sempurna, Anda tidak perlu repot-repot datang lagi hari Senin depan. Paham?"...
...Arkan berbalik tanpa menunggu jawaban dari Rania, melangkah kembali ke ruang kerjanya yang mewah dan menutup pintunya dengan bunyi klik yang terdengar seperti vonis hukuman mati bagi karier siang Rania....
...Di dalam biliknya, Rania jatuh terduduk kembali di atas kursi kerjanya dengan tubuh yang gemetar hebat. ...
...Panik yang luar biasa kini mengamuk di dalam kepalanya seperti badai tornado....
...Ia menatap map hitam tebal di hadapannya, lalu melirik ponselnya yang tiba-tiba bergetar menampilkan pesan dari Manajer Tedi....
...[Milky, pelanggan reservasi jam 19.30 sudah konfirmasi kedatangan. Jangan terlambat ya, ini pelanggan penting!]...
..."Mampus. Aku benar-benar mampus kali ini," bisik Rania dengan suara serak, air mata frustrasi nyaris saja tumpah membasahi pipinya....
...Emosi di dalam dirinya bergejolak hebat, meremas jantungnya hingga perih. ...
...Rasa tertekan, takut, dan marah bercampur menjadi satu ironis yang kejam....
... Dua dunia yang ia jalani dengan susah payah kini bertabrakan dengan liar di hari Jumat malam ini....
...Jika ia memilih bertahan di kantor untuk menyelesaikan laporan tiran ini, ia akan terlambat ke kafe....
... Konsekuensinya?...
... Ia akan mengecewakan Manajer Tedi, kehilangan reputasinya sebagai Milky si pelayan populer, dan yang paling parah, ia tidak akan bisa mengumpulkan sisa uang tip untuk biaya perawatan pasca-operasi ibunya minggu depan....
...Namun, jika ia nekat kabur dari kantor demi mengejar jam masuk di kafe, Arkan akan memecatnya detik ini juga....
... Surat rekomendasi kerja yang ia impikan selama kuliah akan hancur, status magangnya hangus dengan catatan buruk, dan ia akan kehilangan satu-satunya pekerjaan yang bisa menjamin masa depannya setelah lulus nanti....
...Kedua pilihan itu sama-sama menawarkan kehancuran....
...Rania meremas rambutnya dengan kedua tangan, menatap layar komputer yang kembali menyala menampilkan templat presentasi kosong. ...
...Napasnya naik-turun tidak teratur....
...Tidak. ...
...Aku tidak boleh menyerah di sini, sebuah suara tekad yang nekat dan gila mendadak muncul di sela-sela kepanikannya....
... Arkan ingin menguji ketahananku, kan? Dia ingin melihat apakah sekretaris magangnya ini akan hancur di bawah tekanannya? ...
...Baik. Akan aku tunjukkan padanya siapa Rania Adisti yang sebenarnya....
...Rania melirik pintu ruangan Arkan yang tertutup rapat, lalu menatap map hitam di mejanya dengan tatapan mata yang mendadak berubah tajam dan penuh perhitungan. ...
...Otaknya yang cerdas mulai berputar dengan kecepatan maksimal, menyusun sebuah rencana gila yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun di gedung ini. ...
...Sebuah rencana pembagian waktu ekstrem yang mempertaruhkan seluruh hidup dan penyamarannya....
...Ia membuka map hitam itu dengan kasar, jemarinya bergerak dengan kecepatan kilat memilah halaman data primer....
... Rania memutuskan untuk membawa pekerjaan kantor ini bersamanya ke dalam dunia malam. ...
...Ia akan membagi otaknya menjadi dua, separuh untuk membedah risiko makro finansial korporasi, dan separuh lagi untuk mengucapkan mantra Moe Moe Kyun yang imut....
...Dengan adrenalin yang berpacu liar di dalam nadinya, Rania mulai mengetikkan baris pertama analisisnya, bersiap menantang jebakan maut yang sengaja disiapkan oleh sang monster siang harinya....