Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Tanda Tangan Sebelum Kecelakaan
"Tanggal ini tidak boleh salah."
Wirawan menaruh draf akta di meja. Vincent, Vania, dan Bernard duduk mengelilinginya seperti orang yang sedang memilih warna peti.
"Tiga hari sebelum kecelakaan," kata Bernard.
"Benar. Di tanggal itu Reihan tidak ada agenda publik besar, tidak ada kamera, tidak ada notulen rapat panjang. Secara teknis, dia bisa saja menandatangani dokumen pribadi."
Vania membaca draf dengan alis berkerut. "Kenapa tidak tulis langsung semua saham ke Vincent?"
Wirawan menatapnya seperti guru menatap murid bodoh. "Karena orang akan tertawa sebelum takut."
Vincent mengetuk meja. "Jaga mulut."
"Saya menjaga kasus Anda," balas Wirawan. "Akta yang terlalu rakus mudah diserang. Kita tulis Reihan menunjuk Vincent sebagai penerus mandat keluarga, pengendali operasional, dan penerima hak melalui mekanisme yayasan. Setelah publik percaya, langkah administratif menyusul."
Bernard mengangguk. "Cukup."
"Tidak cukup untuk saya," kata Vincent.
Bernard menatapnya. "Kamu baru saja kehilangan kursi karena terlalu cepat menggigit. Belajar."
Vincent menahan marah.
Wirawan mengeluarkan selembar blanko bersegel. "Ini bukan kertas biasa. Ada nomor notaris, cap, dan saksi. Orang awam melihatnya lalu percaya."
Vania menyentuh ujung kertas. "Dan notarisnya?"
"Sudah pensiun. Sakit. Mudah diarahkan melalui keluarganya."
"Saksi?"
"Dua orang lama keluarga. Satu sudah bekerja di luar kota, satu butuh uang."
Bernard berkata datar, "Bayar."
Vania memeluk lengannya sendiri. "Kalau nanti terbukti palsu?"
Vincent menoleh. "Kamu takut?"
"Aku hamil, Vin. Aku tidak mau masuk penjara untuk kertas."
Bernard menatap perut Vania sekilas, dingin. "Kalau kamu ingin jadi bagian keluarga ini, belajar diam."
Wajah Vania memucat.
Wirawan menengahi. "Tidak ada yang masuk penjara jika semua orang disiplin. Kita tidak bicara pemalsuan di luar ruangan ini. Kita bicara dokumen yang ditemukan."
Vincent mengambil pena. "Kapan diumumkan?"
"The Grand Kencana, Jumat depan. Pak Bernard membaca. Anda berdiri di samping. Saya menjelaskan aspek hukum. Media hanya menerima poin utama."
"Undang Om Winata."
Bernard menatapnya. "Untuk apa?"
"Agar dia melihat siapa yang memegang kendali."
Wirawan berkata, "Risiko."
"Saya mau dia melihat."
Bernard akhirnya mengangguk. "Undang. Tetapi jangan biarkan dia bicara lama."
Di sudut ruangan, ponsel Vincent menyala. Pesan dari Bram:
Daftar undangan bisa saya bantu koordinasikan.
Vincent mengetik:
Masuk. Pastikan Nathania juga tahu.
Ia tersenyum. "Kita undang Nathania Lie."
Vania menoleh. "Kenapa?"
"Dia terlalu lama merasa nama Lie masih berarti. Aku ingin dia melihat karya ayahnya gagal, lalu melihat orang yang pernah membelinya sudah mati dan meninggalkan semuanya padaku."
Wirawan mengangkat alis. "Membelinya?"
"Bukan urusanmu."
Bernard menatap Vincent, tetapi tidak bertanya. Ia tahu terlalu banyak kotoran lama untuk terkejut pada kotoran baru.
Di luar kantor, Bram membaca balasan Vincent dan meneruskan semuanya ke Han.
Undangan untuk Nathania diminta langsung. Pengumuman Jumat depan. The Grand Kencana. Bernard membaca.
Han membalas setelah beberapa detik.
Siapkan jalur Bareskrim. Tapi belum bergerak.
Bram:
Nathania akan terluka melihat ini.
Han:
Aku tahu.
Bram:
Bos masih tidak akan bicara?
Tidak ada balasan hampir satu menit.
Akhirnya layar menyala.
Kalau aku bicara sekarang tanpa menutup Vincent, dia akan masuk ke tengah darah mereka lagi.
Bram membaca kalimat itu dua kali. Ia tidak sepenuhnya setuju. Tetapi ia tahu Han tidak sedang melindungi egonya. Ia sedang memilih luka yang menurutnya paling bisa ditanggung.
Di BSD, Han berdiri di area laundry kecil, menatap mesin cuci berputar. Nathania berada di kamar Meira, membacakan cerita dengan suara yang terlalu datar.
Ponsel di tangannya berisi draf akta palsu.
Nama Reihan Wijaya tercetak di sana seperti mayat yang dipaksa bangun untuk menandatangani pencurian.
Bik Inah masuk membawa keranjang baju. "Den Han, Non Nathania belum makan."
"Aku buatkan."
"Kalau Den Han yang antar, mungkin tidak diterima."
Han tersenyum pahit. "Aku tahu."
"Tapi tetap buatkan. Orang marah juga perlu makan."
Ia menatap Bik Inah. "Bik percaya aku?"
Bik Inah tidak langsung menjawab. "Saya percaya Den Han sayang Non dan Non Mei."
"Itu bukan jawaban penuh."
"Di rumah ini, jawaban penuh sedang mahal."
Han menunduk.
Malam itu ia memasak bubur ayam sederhana dan meletakkannya di depan pintu kamar. Nathania tidak membuka. Setelah lama, pintu terbuka sedikit. Hanya tangan Meira yang keluar mengambil mangkuk.
"Papa," bisik Meira dari balik pintu, "Mama bilang terima kasih tapi masih marah."
"Tidak apa-apa."
"Papa sedih?"
"Sedikit."
"Besok jangan diam lagi."
Pintu tertutup.
Han berdiri di lorong dengan tangan kosong.
Ponselnya kembali menyala. Foto draf akta wasiat palsu muncul, diakhiri jadwal The Grand Kencana.
Ia mengetik kepada Bram:
Kumpulkan notaris, saksi, dan aliran uang Wirawan.
Bram:
Siap.
Han menatap pintu kamar Nathania.
Beberapa menit kemudian, Denny mengirim pesan ke Nathania. Undangan resmi The Grand Kencana sudah masuk ke email Astera, memakai bahasa halus tentang klarifikasi keluarga dan pembacaan akta wasiat mendiang Reihan Wijaya.
Nathania membaca email itu di dalam kamar.
Meira duduk di sampingnya, memakan bubur dari Han dengan sendok kecil.
"Mama, mendiang itu apa?"
Nathania membeku. "Dari mana Mei baca?"
"Di layar Mama."
Ia cepat mematikan layar. "Artinya orang yang sudah tidak ada."
"Kayak Kakek Lie?"
"Iya."
"Reihan itu siapa?"
Sendok di tangan Meira berhenti. Nathania tidak langsung menjawab.
"Orang yang pernah menolong Mama."
"Kalau menolong, dia baik?"
Nathania melihat pintu kamar yang tertutup. Di luar sana Han pasti masih berdiri atau duduk, menunggu sesuatu yang tidak berani ia minta.
"Mama belum tahu sepenuhnya."
Meira menyuap bubur lagi. "Kalau belum tahu, tanya."
Anak kecil membuat segalanya terdengar mudah.
Nathania membuka kembali email itu dan menekan forward ke Denny.
Cari tahu siapa saja yang hadir. Aku datang.
Denny membalas:
Saya dampingi.
Di lorong, Han menerima pesan dari Bram pada waktu hampir bersamaan.
Undangan sudah sampai ke Astera. Bu Nathania kemungkinan hadir.
Han menutup mata sebentar.
Semua jalan menuju The Grand Kencana mulai terbuka.
Tidak satu pun jalan itu lembut.
Di kamar, Nathania membaca ulang kata mendiang. Ia seharusnya merasa lega jika Reihan benar-benar mati. Orang mati tidak bisa menagih penalti Rp 1 triliun. Orang mati tidak bisa datang meminta hidupnya kembali.
Tetapi ia tidak lega.
Karena jika Reihan mati, maka semua jawaban terkubur bersamanya.
Dan jika Reihan hidup, seseorang di rumah ini mungkin sedang berdiri terlalu dekat dengan kebenaran itu.
Meira menyentuh layar ponsel ibunya. "Mama mau datang?"
"Iya."
"Mei ikut?"
"Mei tunggu di tempat aman."
"Ada Papa?"
Nathania tidak langsung menjawab. "Kita lihat."
Di luar pintu, Han mendengar jawaban itu. Dua kata sederhana itu lebih menyakitkan daripada penolakan langsung, karena artinya posisinya di sisi Nathania tidak lagi pasti.
Mereka mengira Reihan sudah mati dan tidak bisa membantah.
Sayangnya, ia belum mati.