Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trial Of Columba: The Flood's End #1
Hujan deras terus menghantam dinding jurang. Air mengalir di sela-sela batu, membentuk aliran kecil yang jatuh ke bawah seperti tirai bening.
Luc masih duduk bersandar di dinding ceruk batu dengan kedua lutut tertekuk di depan dada. Rambut hitamnya menempel di wajah, sementara kelopak matanya terasa semakin berat.
Tubuhnya memang sudah tidak dibebani oleh Astral Energi seperti sebelumnya. Namun kelelahan mental yang menumpuk sejak beberapa hari terakhir akhirnya mulai mengejarnya.
Mulai dari kebingungan setelah bangkit dari kematian. Pertarungan demi pertarungan. Latihan pedang tanpa henti. Menanggung luka milik Lea. Menjelajahi goa. Mempertahankan dua skill konstelasi sekaligus. Sampai terjebak di tengah hujan seperti sekarang.
"Rasanya capek banget..." gumam Luc pelan.
"Tuan, Anda sebaiknya tetap sadar," ujar Chiron dengan nada formal seperti biasa. "Kalau Anda tertidur dalam keadaan seperti ini—"
"Iya... iya..." potong Luc lemah sambil melambaikan tangan. "Aku tahu..."
Namun suaranya semakin mengecil. Pandangannya mulai kabur. Suara hujan yang sebelumnya terdengar begitu jelas perlahan menjauh.
Tubuhnya terasa ringan. Kelopak matanya menutup perlahan. Dan untuk sesaat... Semuanya menjadi gelap.
Suara deburan air terdengar pelan.
Luc membuka matanya perlahan. "Hah?"
Ia berkedip beberapa kali.
Hujan sudah menghilang. Ceruk batu tempatnya bersandar juga tidak terlihat. Yang menyambut pandangannya hanyalah hamparan air luas yang membentang tanpa ujung.
Permukaannya tenang seperti cermin. Langit di atas tampak gelap, tetapi dipenuhi ribuan bintang yang bersinar terang.
Luc mengerutkan dahinya. Ia menunduk dan mendapati dirinya sedang duduk di atas sebuah perahu kayu kecil yang mengapung perlahan di atas lautan itu.
"Apa yang terjadi?" gumamnya pelan sembari berdiri dengan hati-hati.
Perahu itu bergoyang kecil mengikuti gerakannya.
Luc menatap ke sekeliling. Ia tidak menemukan apapun selain hamparan air yang tak berujung.
"Apa aku mati?" tanyanya sambil menggaruk pipi.
Lalu ia terdiam sejenak.
"Nggak... kayaknya bukan."
Sebuah perasaan yang familiar muncul dalam dirinya. Perasaan yang sama ketika ia pertama kali bertemu Crux.
Saat menjalani ujian konstelasi. Seolah dunia di sekitarnya bukanlah kenyataan. Melainkan ruang yang diciptakan oleh para bintang.
Pada saat itulah sebuah suara terdengar. Suara itu terdengar begitu lembut dan tenang, namun entah kenapa terasa sedikit sedih.
"Jika dunia melukaimu..." suara itu bergema di antara langit dan lautan, "apakah kau masih mampu memilih untuk tidak membencinya?"
Luc membeku lalu ia mengangkat kepalanya perlahan.
"Ujian di situasi seperti ini?" gumamnya.
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Luc menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.
"Serius deh..." keluhnya pelan. "Apa para konstelasi nggak bisa ngasih surat undangan dulu sebelum mengadakan ujian?"
Perahu kecil itu terus bergerak perlahan.
Luc kembali mengingat kata-kata yang baru saja didengarnya.
Jika dunia melukaimu... apakah kau masih mampu memilih untuk tidak membencinya? Ia mengulang pertanyaan itu dalam hati.
Dunia melukaiku...? Bukankah itu memang benar? Aku dibuang oleh keluargaku sendiri. Dikhianati oleh orang-orang yang seharusnya melindungiku. Dilempar ke jurang untuk mati.
Kalau dipikir-pikir... Aku punya banyak alasan untuk membenci dunia.
Luc tertawa kecil, namun tawa itu terdengar pahit.
"Pertanyaan macam apa itu..." gumamnya sambil menatap permukaan air di bawah perahu.
Ia mengangkat kepalanya lagi. Matanya menyapu langit yang dipenuhi bintang. Dan akhirnya... Ia menemukannya. Sebuah konstelasi kecil bersinar lembut di antara ribuan bintang lainnya.
Bentuknya menyerupai seekor burung merpati yang sedang mengepakkan sayap.
Luc menatapnya beberapa detik. Lalu matanya sedikit membelalak.
"Columba," ucapnya akhirnya.
Konstelasi Sang Merpati.
Burung pembawa harapan dan utusan yang dipercaya membawa ranting zaitun setelah banjir besar berakhir.
Luc menelan ludah. Perlahan, ia mulai memahami. "Jadi..." gumamnya pelan sambil menatap Columba yang bersinar lembut di atas sana. "Ini ujian darimu?"
Perahu kecil itu terus mengapung di atas lautan yang tenang.
Sementara di bawah langit penuh bintang, Luc menyadari bahwa kali ini ujian yang menunggunya mungkin tidak akan menguji kekuatannya.
.
.
.
Tak lama kemudian... Permukaan laut yang tenang di sekitar perahu mulai beriak perlahan.
Luc yang sejak tadi berdiri sambil menatap konstelasi Columba langsung mengernyit. Ia sudah cukup sering mengalami hal-hal aneh sejak bertemu para konstelasi, tetapi tetap saja sulit untuk benar-benar terbiasa.
Ia menunduk dan melihat permukaan air yang bening seperti cermin. Lalu bayangan mulai muncul di sana.
Seorang anak laki-laki berdiri di tengah lapangan latihan istana sambil menggenggam pedang kayu dengan kedua tangan.
Luc mengenali anak itu dalam sekejap.
"Itu... aku...?" gumamnya.
Suara benturan kayu terdengar di lapangan yang luas itu.
Anak itu mengangkat pedang kayunya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya ke depan. Gerakannya kaku, langkah kakinya berantakan, ayunannya juga jauh dari kata bagus.
Namun setelah satu ayunan selesai, ia mengangkat pedangnya lagi. Lalu mengulanginya berkali-kali. Keringat mulai membasahi dahinya, tetapi ia tidak berhenti.
Dari pinggir lapangan, beberapa anak seusianya memperhatikan dengan tatapan aneh.
"Itu Pangeran Ash, kan?"
"Iya."
"Katanya dia nggak bisa sihir."
"Serius? Bukannya semua keluarga kerajaan bisa sihir?"
Tawa kecil mulai terdengar.
"Lihat ayunannya."
"Jelek banget."
"Kalau nggak bisa sihir, harusnya minimal jago pedang."
"Tapi dia biasa aja."
Luc mengepalkan tangannya. Ia ingat semua itu. Dulu, saat pertama kali diketahui bahwa dirinya tidak memiliki bakat sihir, pandangan orang-orang mulai berubah.
Awalnya mereka hanya merasa heran. Lalu kecewa. Kemudian perlahan berubah menjadi ejekan. Namun anak kecil dalam bayangan itu tetap mengangkat pedangnya. Ia terus berlatih sendirian.
Pemandangan berubah perlahan.
Kali ini Ash yang sedikit lebih besar berdiri di depan seorang guru pedang kerajaan. Keringat membasahi pakaian latihannya. Guru itu menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menghela napas.
"Yang Mulia," ujar sang guru dengan nada hati-hati, "Anda tidak memiliki bakat dalam ilmu pedang."
Ash menundukkan kepalanya sesaat. "Lalu?" tanyanya pelan.
Sang guru tampak bingung. "Lalu... mungkin ada hal lain yang lebih cocok untuk Anda."
Ash memandangi pedang kayu di tangannya. "Aku nggak bisa sihir."
"Itu..."
"Aku juga nggak punya bakat pedang."
Guru itu terdiam.
Anak itu menggenggam pedang kayunya lebih erat. "Kalau aku berhenti latihan..." katanya pelan sambil mengangkat wajahnya, "terus aku harus ngapain?"
Luc yang melihatnya dari atas perahu tidak bisa berkata apa-apa. Ia masih ingat perasaan itu. Perasaan terjebak.
Saat semua orang seusianya mulai belajar sihir. Saat kakak-kakaknya menunjukkan bakat luar biasa. Saat dirinya tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.
Ia hanya memiliki pedang kayu itu. Meskipun tidak berbakat. Ia tetap datang ke lapangan latihan setiap hari.
Pemandangan di permukaan laut berubah lagi.
Ash yang lebih dewasa sedang berlatih sendirian. Tangannya sudah dipenuhi lecet. Napasnya terengah-engah. Namun pedang kayunya masih terus bergerak.
Suara ejekan terdengar dari kejauhan.
"Lihat tuh."
"Pangeran gagal."
"Latihan terus juga percuma."
"Kalau nggak punya bakat, ya nggak punya bakat."
"Kasihan juga sih."
"Tapi lucu."
Tawa mereka menggema di lapangan.
Pedang kayu di tangan Ash sempat berhenti bergerak.
Ia menunduk.
Untuk sesaat, Luc melihat bahu anak itu sedikit bergetar. Seolah-olah ia sedang berusaha keras untuk tidak menangis.
Namun beberapa detik kemudian, Ash menarik napas panjang. Lalu kembali mengangkat pedangnya.
Luc menundukkan kepalanya. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan masa lalunya seperti ini. Dulu ia hanya merasa semuanya adalah hal yang wajar. Bahwa dirinya memang harus terus mencoba dan berusaha lebih keras.
Namun sekarang, melihat semua itu dari sudut pandang orang lain, ada sesuatu yang terasa menyakitkan.
Anak itu masih kecil.
Ia seharusnya tidak perlu berjuang sekeras itu hanya untuk mendapatkan pengakuan yang tidak pernah datang.
"Kenapa aku masih latihan?" gumam Ash kecil sambil terduduk di lapangan yang sudah kosong.
Pedang kayu tergeletak di sampingnya.
"Aku nggak bisa sihir. Aku juga nggak punya bakat ilmu pedang. Semua orang bilang aku nggak berguna."
Ia memeluk kedua lututnya.
"Kalau gitu... kenapa aku masih nyoba?"
Luc memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak. Ia ingat malam itu. Malam ketika untuk pertama kalinya ia mulai meragukan dirinya sendiri.
Ia bertanya-tanya apakah semua orang benar.
Apakah dirinya memang tidak berguna.
Apakah semua usahanya sia-sia.
Suara Columba kembali terdengar lembut di atas lautan. "Jika dunia melukaimu... apakah kau masih mampu memilih untuk tidak membencinya?"
Luc mengangkat kepalanya perlahan.
Ia memandang anak kecil yang sedang duduk sendirian di lapangan latihan itu. Lalu menatap langit berbintang di atasnya.
"Aku marah," jawab Luc pelan.
Suaranya tidak lagi terdengar bingung seperti sebelumnya.
"Aku benci waktu mereka ngeremehin aku."
Ia tertawa kecil, meskipun tawanya terdengar pahit.
"Aku juga benci waktu mereka bilang semua usahaku nggak ada gunanya."
Luc memandangi tangannya sendiri.
"Tapi..."
Ia kembali melihat anak kecil itu. Anak yang tetap bangun pagi untuk latihan. Anak yang tetap datang ke lapangan meskipun ditertawakan. Anak yang tidak punya bakat apa pun, tetapi tetap mencoba.
Luc tersenyum kecil. "Dia ternyata keras kepala banget."
Senyum itu perlahan berubah menjadi lebih hangat. "Kalau dipikir-pikir, dia juga lumayan hebat."
Ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Dia nggak pernah nyerah."
Meskipun berkali-kali gagal.
Meskipun berkali-kali dipandang rendah.
Meskipun tidak ada yang benar-benar percaya padanya.
Anak itu tetap berdiri dan terus mengayunkan pedangnya.
Suara Columba kembali bergema di antara langit dan lautan. "Apakah kau membenci dirimu sendiri?"
Luc terdiam cukup lama.
Ia menatap bayangan Ash kecil yang kembali mengangkat pedang kayunya dengan tangan gemetar.
Kemudian ia menggeleng pelan. "Nggak." Jawabannya keluar tanpa keraguan. "Aku nggak benci dia."
Luc tersenyum tipis. "Aku cuma sedih karena nggak ada orang yang bilang kalau dia udah berusaha sebaik mungkin."
Ia memandang langit malam yang dipenuhi bintang. "Tapi sekarang aku tahu."
"Aku bangga sama dia," ujar Luc pelan.
Lautan di sekeliling perahu kembali tenang.
Cahaya Columba bersinar lebih terang daripada sebelumnya. Tidak menyilaukan melainkan memberikan kesan hangat dan menenangkan, seperti pelukan lembut yang selama ini tidak pernah diterima oleh Ash kecil.
Ia melihat anak kecil yang terus mengayunkan pedang kayunya itu dengan penuh penghargaan.
Anak itu memang bukan seorang jenius.
Ia bukan penyihir hebat.
Bukan pendekar berbakat.
Namun meskipun seluruh dunia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa, anak itu tetap memilih untuk berdiri dan melangkah maju.
Dan mungkin, justru karena itulah ia masih bisa bertahan sampai sekarang.