NovelToon NovelToon
GALACTIC PARCEL SERVICE

GALACTIC PARCEL SERVICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Komedi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.

Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.

Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.

Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Tawa Kedap Suara, Monster Ilegal, dan Paket Cucu Durhaka

Tawa itu tidak berhenti. Sudah hampir lima menit berlalu sejak Arka bertransformasi, dan suara tawa di batas Hutan Umbraflora itu justru terdengar semakin menyiksa.

"Bwahahahahaha!... Ha... ha... ha... aduh... ha..."

Pipi kini sudah jatuh berlutut di atas rerumputan bercahaya, memegangi perut mungilnya yang kram. Di sebelahnya, Null bersandar pada sebatang pohon jamur raksasa. Entitas kosmik itu tampak sangat kewalahan. Pusaran materi gelap di wajahnya bergetar hebat, memancarkan suara statis yang putus-putus yang tersedak.

"Berhentilah tertawa, Cebol!" erang Null dengan suara parau yang bergetar. "Inti black hole-ku... ha... kzzzt... bisa meledak beneran nih kalau nggak berhenti! Haduuh... ha... xvst... ha... xgsh..."

"Ngapain kau nyalahin aku?!" balas Pipi terengah-engah, mengusap air mata di ujung matanya. "Aku kan nggak nyuruh kau ikut ketawa, Reng!!"

Arka berdiri tegak mematung di hadapan mereka. Tumpukan renda besi yang mekar di pinggang hingga lututnya benar-benar merusak seluruh wibawanya. Ia menatap dua anak buahnya dengan raut wajah paling pasrah.

"Mau sampai kapan kalian begitu?" keluh Arka lelah.

Dari dalam headset, suara YUI bergema.

《Ternyata ketawa itu beneran nular ya... dasar makhluk biologis menjijikkan.》

Urat di pelipis Arka berkedut. "Diam kau! Ini semua gara-gara kau!" omel Arka pada AI-nya sendiri.

Null menarik napas panjang, lalu mengembuskannya kuat-kuat untuk menstabilkan gravitasi di sekitarnya. "Huff... hmmm... huftt... Oke, oke. Baiklah," ucap Null sambil mengangkat kotak baja berisi paket VIP. "Ayo kita antar paket ini sekarang... sebelum renda-renda rokmu itu beterbangan ketiup angin."

Hening sejenak.

《Pffft...BWAHAHAHAHAHA! Itu... pfft... yang itu tadi bagus!》 YUI meledak dalam tawa mekanis di dalam kepala Arka.

"Ireng brengsek! Bwahahahaha!" Pipi kembali menjatuhkan dirinya bergulingan di atas rumput, pertahanannya runtuh lagi.

Arka hanya bisa memutar bola matanya ke atas dengan kesal. Ia membalikkan badan, membiarkan ujung rok besinya bergemerincing beradu, lalu melangkah gontai masuk ke dalam rimbunnya Hutan Umbraflora. Sambil masih menahan sisa-sisa tawa yang membuat bahu mereka bergetar, Null dan Pipi buru-buru mengekor di belakang sang kapten.

Setengah jam kemudian.

Mereka telah masuk cukup dalam ke wilayah Hutan Umbraflora. Cahaya matahari biologis mulai terhalang oleh payung-payung jamur kolosal dan kanopi dedaunan ungu yang sangat rapat. Suasana di sekitar mereka mendadak berubah. Suara kicauan burung alien atau dengungan serangga bersayap pendar yang sedari tadi menemani perjalanan mereka, perlahan lenyap. Hutan itu kini diselimuti kesunyian yang mencekam.

Pipi, yang kini berjalan di posisi paling depan sebagai vanguard, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia mengangkat satu tangan, memberikan kode tangan taktis agar rombongannya ikut berhenti.

Arka menyiagakan posturnya, renda besinya bergemerincing pelan. "YUI, apa ada hewan buas di sekitar kita?" bisiknya tegang.

Layar visor holografik di depan mata Arka menampilkan pindaian radar 360 derajat. Semuanya berwarna hijau, nol anomali.

《Radar tidak melihat apa pun, Kapten. Pipi lebay itu, sistemku aja nggak ngasih tanda ancaman apa-apa,》 lapor YUI dengan nada meremehkan.

Mendengar konfirmasi sistem, Arka sedikit rileks. "Pi, nggak ada apa-apa tuh kata YUI. Ngapain berhenti tiba-tiba? Bentar lagi kita nyampe ke titik koordinat rumahnya nih."

Pipi menoleh lewat bahunya, menempelkan jari telunjuk ke bibir. "Ssssst!"

Gadis Grovax itu memejamkan mata merah mudanya. Ia sama sekali tidak memercayai radar mesin. Di habitat liar seperti ini, insting bertahan hidup dan indra penciuman tempur ras Grovax jauh melampaui teknologi pendeteksi mana pun. Telinga Pipi berkedut pelan. Ia menangkap sebuah pergerakan udara yang tidak wajar dari arah atas.

Dalam sepersekian detik, Pipi membuka matanya. Ia melentingkan tubuhnya ke atas dengan daya ledak otot yang luar biasa, meluncur secepat peluru ke arah dahan pohon jamur raksasa di dekat mereka.

Tangan mungilnya menarik pukulan, lalu meninju udara kosong di sela-sela kanopi daun tebal.

WUUUSSSHHH! BAAAAM!

Pukulan itu menghasilkan gelombang kejut yang merobek udara.

GGRRRRAAAAAAAK!

Sebuah raungan kesakitan yang memekakkan telinga terdengar dari atas sana, disusul oleh suara ranting-ranting raksasa yang patah. Sesuatu yang berukuran luar biasa besar kehilangan pijakan dan jatuh meluncur ke bawah.

BOOOOOOM!

Makhluk seukuran rumah itu menghantam tanah basah hutan, menciptakan gempa lokal yang membuat Arka dan Null terhuyung mundur. Debu dan lumut beterbangan ke udara.

Saat kepulan debu itu perlahan tersapu angin, wujud makhluk penyerang itu akhirnya terlihat jelas. Fisiknya sangat ganjil; tubuh utamanya menyerupai anjing *bulldog* raksasa yang dipenuhi otot bertekstur kasar, namun ia memiliki empat tungkai panjang dengan telapak tangan dan kaki yang murni menyerupai gorila berbulu hitam legam.

Arka membelalakkan matanya dari balik visor. "Lah?! Itu kan... Barkalwuk?!"

Null, yang sejak makhluk itu jatuh langsung membuka mulut dimensional di perutnya dan menyedot kotak paket VIP ke dalam void demi menghindari lecet, ikut menimpali.

"Kok bisa ada Barkalwuk di sini?" pusaran Null beriak bingung. "Bahaya banget ini hutan."

​《Oh... pantesan saja radarku buta,》 gumam YUI dari dalam sistem, terdengar baru menyadari kesalahannya. 《Barkalwuk itu fauna luar galaksi. Spesies invasif ilegal. Wajar datanya tidak terdaftar di database ekosistem lokal.》

Pipi mendarat mulus di atas tanah dengan kedua kakinya, menepuk-nepuk debu dari telapak tangannya lalu berjalan santai mendekati monster yang sedang mengerang pusing tersebut.

"Tuh kan! Untung ngajak aku," sombong Pipi sambil berkacak pinggang. "Radar Yui nggak akan nangkep hewan ilegal yang nggak ada di database."

Arka memijat keningnya. "Iya, ini jelas bahaya banget. Siapa coba yang iseng mainan hewan ilegal gini di hutan lindung?"

"Yang punya paket kali ya?" tebak Null asal. "Kata petugas observasi pelabuhan tadi kan cuma ada satu rumah yang berdiri di zona ini."

Tiba-tiba, suara kepanikan menyela dari balik semak-semak lebat di sebelah kanan mereka.

"BLACKIEEEEE!!!"

Seorang wanita tua renta dari ras Zennor, muncul berlari tertatih-tatih dari arah dalam hutan. Ia mengabaikan eksosuit tempur Arka maupun wujud menakutkan Null, dan langsung menubrukkan tubuh rentanya ke kepala monster raksasa yang masih terkapar itu.

Nenek Zennor itu memeluk moncong sang monster sambil menangis histeris. "Apa yang kalian lakukan pada Blackie-ku yang lucuuuuu?!"

​Pipi menoleh ke arah monster beringas yang dipenuhi taring berliur itu, lalu beralih menatap si Nenek. Bahu gadis mungil itu mulai bergetar. Ia menahan napas sampai wajahnya memerah, nyaris meledak karena tak sanggup menahan tawa mendengar kata 'lucu' disematkan pada monster mimpi buruk tersebut.

Takut mendapat rating bintang satu dari pelanggan, Null bertindak cepat. Dengan sigap, Kepala Kargo itu mencubit segumpal materi gelap dari bahunya dan menjejalkannya langsung ke dalam mulut Pipi sebagai sumpal.

Suara tawa Pipi seketika tersedot ke dalam ruang hampa. Gadis mungil itu memegangi perutnya, tertawa lepas dengan ekspresi sangat heboh, namun tidak ada satu pun frekuensi suara yang keluar dari mulutnya.

"Hush," Null memberi isyarat mata ke arah Pipi yang masih bergulingan tanpa suara. Lalu Null beralih menatap Arka. "Kapten, peliharaannya dia tuh ternyata."

"Iya, iya," desah Arka.

Arka melangkah maju dengan hati-hati. "YUI, tu anjing belum mati, kan?"

《Belum, masih ada detak jantungnya kok. Biarpun tulangnya ada yang retak sedikit. Mau dibunuh sekalian kah, Kapten?》 tawar YUI dengan nada psikopat yang santai.

"Bukan!! Sembuhin yuk," panik Arka. "Kasihan tuh nenek-nenek nangis-nangis ngelihat anjingnya pingsan."

《Cih. Itu anjing ilegal lho, Kapten.》

"Udah, itu urusan nanti. Kita tanggung jawab dulu aja," putus Arka.

Arka berjalan mendekat, berjongkok di samping sang nenek dengan postur mecha-rendanya yang masih terdengar bergemerincing. "Permisi, Nek... biar saya sembuhkan hewan peliharaannya, ya."

Menggunakan modul medis darurat dari GPS Exosuit-nya, Arka memancarkan sinar bio-regenerasi ke arah kepala Barkalwuk tersebut. Dalam hitungan detik, luka memar dan keretakan di tengkoraknya merajut kembali. Anjing raksasa itu mengerjap, lalu dengan susah payah bangkit berdiri. Menyadari pemiliknya ada di sampingnya, makhluk mengerikan itu langsung menjulurkan lidah panjangnya yang berlendir dan menjilat tubuh si Nenek dengan manja.

​"Maaf kalau staf saya agak kasar, Nek," ucap Arka mencoba tersenyum ramah dari balik visor. "Tapi... Nenek tahu kan ini hewan ilegal? Spesies invasif begini nggak boleh dipelihara sembarangan, Nek. Nanti ekosistem hewan liar di hutan ini bisa habis dimakan dia."

Nenek Zennor itu berhenti mengelus peliharaannya. Ia menengadah, menatap Arka dengan pandangan tersinggung yang luar biasa tajam.

"Emangnya kalian ini siapa, hah?!" ketus si Nenek dengan suara melengking. "Sok-sokan ngurusin urusan pribadi saya!"

Urat sabar di dahi Arka langsung menonjol, namun sebagai pekerja lapangan, ia sudah sangat terlatih menghadapi customer model boomer seperti ini. Ia menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan mode senyum pelayanan pelanggan maksimalnya.

"Kami ini kurir dari GPS, Nek," jelas Arka tetap sopan. "Kebetulan kami sedang mengantar paket VIP. Apa mungkin ini paket milik Nenek?"

Arka menoleh ke arah Null dan memberikan kode lirikan mata. Mengerti kode tersebut, Null memuntahkan kembali kotak baja VIP itu dari perut dimensionalnya, lalu menyodorkannya ke hadapan si Nenek.

"Nih, Nek," ucap Null datar.

Nenek Zennor itu menyipitkan matanya, menatap kotak baja itu dengan penuh curiga. "Paket atas nama siapa itu?"

Arka mengecek data di visor-nya. "Atas nama... Gabriel, Nek."

Ekspresi waspada sang Nenek seketika berubah. Wajah keriputnya berubah dingin dan datar. Ia mengibaskan tangannya dengan gestur mengusir nyamuk.

"Oh. Bakar aja di sana."

Keheningan total menyelimuti Hutan Umbraflora. Barkalwuk yang sedang menjulurkan lidah pun ikut terdiam.

Arka mengerjap beberapa kali di balik kacamata holografiknya. "Loh? Kok dibakar sih, Nek? Ini paket VIP lho, isinya pasti barang mahal."

"Iya, bakar aja. Nggak sudi saya menerimanya," jawab si Nenek ketus, namun terselip nada kepahitan di suaranya. "Itu paket cucu saya. Tiap hari kerjaannya cuma mesen paket melulu, tapi nggak pernah sekalipun dia mau nyempatin waktu buat jenguk saya di sini. Rumah ini mah cuma dijadiin alamat transit paket gratisan aja sama dia!"

Mendengar curhatan dramatis tersebut, Pipi, yang baru saja berhasil mengeluarkan materi gelap dari mulutnya, Null, dan Arka hanya bisa berdiri mematung. Ketiganya saling melirik satu sama lain dalam kebingungan, kehabisan kata-kata menghadapi dilema drama keluarga antar-galaksi di tengah hutan lindung ini.

1
Feburizu
Mirip Guardian galaksi ya
helena (Hiatus 12/8/26- idk)
ilustrasinya remind me film the guardians of the galaxy 😍
Sarah
Lyra ini yang muncul di bab berapa yah Thor? Hehehe aku lupa. Soalnya tokoh cerita ini emang banyak banget. 😅😆
Maya: Bab 3 & 14, Lyra itu pilot yang tangannya ada 6 😁
total 1 replies
Sarah
Iyeyyyy lanjut!
Eka
wkwkkw🤣
Eka
pasti di suri nyari putri itu
Eka
apakah ini villain pertama?
MayAyunda
mampir kak
Eka
apa itu berarti bu Maya lebih kuat dari pipi? secara dia kan authornya 👀b🤣
Eka
wkwkkw
Eka
bagus sih ini
Eka
tapi kasian GK sih? nanti suaminya pasti kan berpulang duluan kalo kek gitu🥲
Eka
yak authornya nongol
Eka
maksa banget namanya Thor? 🤣
Eka
Hajar mbak zer!! 🤭
Eka
ini yui tuh robot kan ya? apa settingannya emang gitu?
Eka
Author sering sekali pake Kyaaaaa kenapa Thor ? 🤣
Eka
ternyata di masa depan kita tidak financial freedom ya 🤣
Eka
alasan pembully emang always klasik
Eka
pijat apa ne 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!