Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — Jarak yang Mulai Retak
Malam di kamar Jifan tidak pernah benar-benar sunyi.
Bukan karena ada suara, tetapi karena keheningan di antara dua orang yang berbagi satu ruang terasa terlalu nyata untuk diabaikan.
Lampu kamar sudah diredupkan sejak beberapa menit lalu. Hanya cahaya kecil dari lampu tidur yang memantul lembut di dinding berwarna netral itu.
Diara berbaring di sisi ranjang paling kiri.
Menjaga jarak.
Seperti biasa.
Tangannya masih memegang ujung selimut, pikirannya belum benar-benar bisa tenang.
Di sisi lain, Jifan juga belum tidur.
Tangannya terlipat di atas perut, matanya menatap langit-langit tanpa benar-benar fokus.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada suara.
Tapi keduanya sadar—malam ini berbeda.
Karena mereka tidak lagi terpisah ruang.
Beberapa menit berlalu dalam diam yang panjang.
Sampai akhirnya Jifan berbicara.
Suaranya pelan.
“Diara.”
Diara menoleh sedikit.
“Iya?”
Jifan tetap menatap langit-langit.
“Apakah kamu sering bertemu Arshaka Aradhana?”
Pertanyaan itu jatuh begitu saja.
Tanpa pengantar.
Tanpa emosi yang jelas.
Namun cukup untuk membuat Diara sedikit terdiam.
Shaka.
Ia mengingat pertemuan di Moon Cafe.
“Shaka?” ulangnya pelan.
Jifan tidak menjawab ulang.
Hanya diam.
Diara menarik napas kecil.
“Dia klien,” jawabnya singkat. “Kami hanya membahas proyek desain.”
Hening.
Tidak ada respons langsung dari Jifan.
Namun rahangnya sedikit mengencang, hampir tidak terlihat.
Diara menoleh sedikit ke arah Jifan.
“Ada masalah?” tanyanya pelan.
Jifan langsung menjawab.
“Tidak.”
Singkat.
Cepat.
Terlalu cepat.
Diara menatapnya lebih lama.
Bukan karena jawaban itu.
Tapi karena cara jawabnya.
Dan ia menyadari sesuatu.
Jawaban itu tidak jujur.
Diara kembali menatap langit-langit.
“Dia hanya klienku,” ucapnya lagi, lebih tenang. “Tidak lebih.”
Jifan diam.
Namun suasana di kamar itu berubah sedikit.
Lebih berat.
Lebih padat.
Beberapa detik kemudian, Diara bertanya balik.
“Mas terganggu?”
Pertanyaan itu membuat Jifan langsung menoleh.
Sekilas.
Namun cukup tajam.
“Tidak,” jawabnya cepat.
Terlalu cepat lagi.
Diara tidak langsung bereaksi.
Tapi ia menangkapnya.
Kontradiksi itu.
Di dalam dirinya, Diara mulai berpikir.
Pria ini selalu dingin.
Selalu terkontrol.
Selalu seperti tidak peduli pada apa pun yang melibatkan dirinya secara emosional.
Tapi malam ini…
jawabannya tidak konsisten.
Dan itu membuat Diara semakin yakin bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Hening kembali.
Namun kali ini tidak nyaman.
Bukan karena jarak.
Tapi karena sesuatu yang tidak diucapkan.
Diara menatap langit-langit, pikirannya bergerak pelan.
Dalam hatinya, ia sebenarnya ingin sesuatu yang sederhana.
Bukan kemewahan.
Bukan status.
Hanya hubungan yang normal.
Rumah tangga yang berjalan seperti seharusnya.
Saling tahu.
Saling hadir.
Saling memahami.
Bukan dua orang asing yang hanya tinggal dalam satu atap tanpa benar-benar hidup bersama.
Ia menelan napas pelan.
Namun ia tidak yakin…
apakah Jifan menginginkan hal yang sama.
Beberapa menit kemudian, Diara berbicara lagi.
Suaranya pelan.
“Ya sudah…”
Jifan menoleh sedikit.
“Besok kalau aku bertemu klien, aku akan kabari Mas.”
Kalimat itu sederhana.
Namun ada perubahan kecil di dalamnya.
Panggilan.
“Mas.”
Jifan terdiam.
Untuk sepersekian detik.
Dan Diara bisa melihatnya.
Reaksi itu.
Walaupun kecil.
“Mas?”
Jifan mengulang pelan, seperti memastikan ia tidak salah dengar.
Diara sedikit menoleh.
“Kenapa?”
Jifan tidak langsung menjawab.
Namun di dalam dirinya, sesuatu bergerak cepat.
Nama panggilan itu…
terasa berbeda.
Lebih dekat.
Lebih personal.
Lebih… hangat.
Dan tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit bergerak.
Hampir tidak terlihat.
“Terserah kamu,” jawabnya akhirnya.
Singkat.
Namun nadanya sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
Diara kembali menatap langit-langit.
Dan untuk pertama kalinya malam ini, ia merasa:
jarak di antara mereka tidak sejauh tadi.
Beberapa saat kemudian, Jifan berbicara lagi.
“Kenapa kamu masih pakai jilbab saat tidur?”
Diara sedikit menoleh.
“Biasanya memang begitu,” jawabnya pelan.
Jifan terdiam sejenak.
Lalu berkata dengan nada lebih datar namun tidak dingin seperti biasanya.
“Lepas saja. Tidak nyaman kalau tidur.”
Diara ragu.
Tangannya bergerak sedikit ke jilbabnya.
Ia tidak terbiasa melepasnya di depan orang lain, meskipun itu suaminya sendiri.
Keraguan itu terlihat jelas.
Jifan tidak memaksa.
Namun suaranya tetap tenang.
“Tidak apa. Ini kamar kita.”
Kata “kita” itu jatuh sederhana.
Tapi entah kenapa, Diara merasakannya berbeda.
Pelan-pelan, Diara akhirnya duduk sedikit.
Tangannya mulai membuka ujung jilbabnya.
Gerakannya ragu.
Tidak terburu-buru.
Dan saat kain itu perlahan dilepas…
rambut coklat sebahunya jatuh lembut di bahunya.
Malam itu terasa lebih hening dari sebelumnya.
Jifan menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, ekspresinya benar-benar berubah.
Bukan dingin.
Bukan datar.
Tapi… terpaku.
Matanya sedikit melebar, meski cepat kembali terkontrol.
Namun satu hal sudah terlanjur terjadi.
Ia mengucapkannya tanpa sadar.
“…cantik.”
Suaranya sangat pelan.
Hampir seperti gumaman yang tidak sengaja keluar.
Diara langsung menoleh.
Mata mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada yang langsung mengalihkan pandangan.
Hanya diam.
Dan detak jantung Diara terasa sedikit berubah ritmenya.
Bukan karena takut.
Bukan karena canggung.
Tapi karena kalimat itu…
terlalu manusiawi dari Jifan yang selama ini ia kenal.
Jifan menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
Ia langsung memalingkan wajah.
Wajahnya kembali tenang.
“Tidur,” katanya singkat, seolah menutup kejadian itu.
Namun di dalam dirinya…
sesuatu tidak kembali seperti semula.
Diara kembali berbaring.
Namun kali ini, tidak langsung menutup mata.
Tangannya sedikit menggenggam selimut.
Pikirannya tidak tenang.
Bukan karena canggung.
Tapi karena satu kata itu masih tertinggal di kepalanya.
“Cantik.”
Di sisi lain, Jifan juga tidak bergerak.
Matanya kembali menatap langit-langit.
Namun pikirannya tidak lagi kosong.
Ada sesuatu yang baru.
Sesuatu yang tidak ia rencanakan.
Dan malam itu, di satu kamar yang sama…
dua orang yang sebelumnya hanya terikat kesepakatan, mulai merasakan sesuatu yang perlahan menggeser jarak di antara mereka.