Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 22 Menjemput Purwasaga
"Hae Hae!"
Drap drap drap...!
Azhmar terus menggebah kudanya yang lebih kecil dari ukuran badan kuda dewasa pada umumnya di Negeri Elindra. Namun, justru kuda model milik Azhmar ini yang harganya dua kali lipat di pasaran dari yang besar. Itu karena meski dia lebih kecil, tetapi ketangkasan dan kekuatannya tidak kalah.
Gadis cantik berambut kuning pirang itu tampak begitu gagah dalam menunggang dan mengendalikan kuda. Rambut keritingnya yang dibiarkan terurai sesekali berkibar tertinggal di belakang.
Dia tidak sendiri, tetapi ada dua lelaki berbadan besar lagi kekar yang mengejar kudanya.
Sebenarnya kedua lelaki berkuda besar itu tidak mengejar, tetapi mengikuti sebagai dua orang pengawal pribadi Azhmar. Mereka adalah Dhodor dan Cukur, dua lelaki berpakaian hitam-hitam dengan gaya cepak model rambut ungu terangnya.
Mereka bertiga kini berkuda di luar Kota Bariah.
Pada suatu tempat di jalan yang sepi, Azhmar tiba-tiba membelokkan kudanya masuk ke area berpohon-pohon besar. Kedua pengawalnya juga ikut di belakang. Jadi, selain mereka bertiga, tidak ada orang lain yang tahu bahwa mereka menyimpang dari jalan.
Setelah melewati jalan di antara pepohonan besar, Azhmar akhirnya menghentikan lari kudanya. Ia menghentikan kudanya tepat di depan kuda lain yang lebih besar dan di punggungnya ada si cantik Lintha.
Lintha sepertinya telah menunggu dan dia seorang diri.
“Ketua,” ucap Lintha sambil menganggukkan wajahnya sekali.
Dengan wajah dinginnya, Azhmar membalas hanya dengan anggukan.
“Prajurit penjaga Makam Pasukan Penghancur Samudera menyaksikan langsung tugu pengaman pertama segel makam telah turun tenggelam,” ujar Lintha yang merujuk kepada kejadian di kolam depan pintu gerbang makam terlarang.
“Rencana kita berhasil untuk memancing suamimu mengambil telur emas. Dia telah termakan oleh ceritamu. Dalam satu hari ini Istana akan mencari tahu penyebab terbukanya pengaman pertama segel makam. Tugasmu adalah menyembunyikan Purwasaga sampai Gerbang Buana terbuka,” kata Azhmar yang ternyata otak di balik rencana Lintha terhadap Purwasaga.
“Lalu bagaimana dengan Pangeran Bebalon dan Zonk?” tanya Lintha.
“Meski Pangeran Bebalon sudah menyuap Zonk tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Purwasaga, tetapi dia tetap tidak tahu tentang perkara telur emas yang terhubung dengan segel Makam Pasukan Penghancur,” jelas Azhmar.
“Aku akan membawa suamiku ke Pulau Hekhek,” ujar Lintha.
“Yang terpenting dia aman dari penciuman Pasukan Zirah Ungu dan Pasukan Penguasa Ombak,” kata Azhmar.
“Baik.”
“Kita berangkat ke Bukit Seratus Lubang!” kata Azhmar dengan nada lebih tinggi. “Hae hae!”
Azhmar lebih dulu yang menggebah kudanya untuk berlari.
“Hae hae!” seru Lintha juga.
“Hae hae!” kedua pengawal pun ikut menggebah dan mengawal kedua wanita cantik tersebut.
Mereka berempat pergi dengan tujuan Bukit Seratus Lubang.
Singkat cerita.
Mereka akhirnya tiba di tempat mereka berkemah pada dua malam yang lalu.
“Kalian berdua bantu Noni Lintha mencari Purwasaga, tetapi jangan menunjukkan diri kepada manusia itu!” perintah Azhmar kepada kedua pengawal pribadinya.
“Baik!” jawab keduanya.
“Hae hae!”
Maka Dhodor dan Cukur segera menggebah kudanya untuk menyusul Lintha yang terus melaju memasuki jalan utama yang diapit oleh dua bukit.
Sementara itu, Azhmar memilih ditinggal seorang diri. Entah apa yang akan dia lakukan?
Di dalam kawasan Bukit Seratus Lubang yang memiliki puluhan bukit, Lintha serta Dhodor dan Cukur berpencar bersama kudanya masing-masing. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menemukan Purwasaga.
Meski mereka bertiga merupakan warga lokal, tetapi bukan berarti mereka lebih tahu yang mana Bukit Telur Lolot dibandingkan dengan Purwasaga. Jadi, mereka juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukan Purwasaga.
Lintha sesekali memilih naik ke puncak bukit untuk mendapatkan jangkauan pandangan yang lebih luas, yang memberi peluang lebih banyak untuk melihat keberadaan suaminya.
Dengan kesaktiannya, Lintha tidak begitu memiliki kesulitan dalam menaiki bukit. Jika Pangeran Bebalon bisa berkelakuan seperti tokek dalam memanjat tebing, maka Lintha bisa berlari dengan posisi tubuh lurus horisontal. Jadi, tebing lurus seperti bumi datar baginya. Entah bagaimana penjelasan ilmu fisikanya?
Uniknya, pernah satu ketika dia melompat dari puncak bukit, tetapi kedua kakinya tidak mendarat di tanah datar, melainkan mendarat di dinding tebing lurus dalam posisi berjongkok, seperti superhero berjaring. Itulah Lintha.
Setelah berulang kali Lintha naik ke puncak bukit tapi tidak kunjung menemukan sang pujaan hati, tiba-tiba….
Ctasss!
Tiba-tiba di langit, tepatnya di udara tinggi pada satu koordinat, muncul sinar ungu yang meroket lalu meledak di angkasa biru menebarkan percikan sinar ungu kecil-kecil tapi berekor panjang ke segala arah.
“Hae hae!”
Lintha segera menaiki kudanya dan menggebahnya.
Drap drap drap…!
Salah satu dari pengawal Azhmar telah memberikan tanda bahwa ia telah menemukan Purwasaga. Karena itulah Lintha segera pergi menuju ke titik tempat tanda dilepaskan.
Saat itu, Purwasaga sedang berjuang keras. Dia sedang berjalan tertatih dengan bahu kiri memikul telur lolot emas dan tangan kanan menarik tali yang ujungnya mengikat telur lolot warna merah terang. Telur lolot warna merah diseret di tanah menggunakan tali.
Jadi seperti ini ceritanya.
Setelah berhasil mendapatkan empat telur lolot berwarna merah, biru dan hijau, ditambah satu telur emas, Purwasaga jadi kebingungan cara membawa keempat telur tersebut. Yang lebih buruknya lagi, di saat denyut-denyut menyakitkan masih belum pergi dari kerabat terdekat Purwasaga, sengatan semut seramah-ramah jumbo memberi bengkak di tumitnya. Bengkaknya bukan bengkak biasa, tetapi bengkak spesial pakai telur alias seperti tumit yang bertelur.
Bengkak di tumit tersebut membuat Purwasaga kesakitan saat tumit kirinya menjejak. Terpaksa dia berjalan dengan kaki kiri yang jinjit. Akan semakin jadi masalah jika cara jalan jinjit itu berlangsung lama.
Purwasaga sudah kehilangan kuda. Bukan kuda yang pergi meninggalkan Purwasaga, tetapi anak manusia itulah yang meninggalkan kuda meski tidak bermaksud meninggalkannya. Niat hati ingin menemukan kuda kembali, tetapi apa daya dia sudah tidak ingat jalan pulang, kendati ia masih bisa membaca arah perjalanan matahari.
Ide cemerlang Purwasaga untuk bisa membawa semua telur keluar dari kawasan tersebut adalah membawa dua-dua telur tersebut dan meletakkannya pada satu tempat tertentu. Satu dia pikul, satu dia seret. Ia terpaksa melakukan dua kali bolak-balik demi membawa keempatnya.
Untuk membuat pengikat, Purwasaga menggunakan sebagian bajunya yang ia robek-robek lalu menyambungnya demi membuat tali panjang.
Penampilan Purwasaga kini jauh dari kata tampan, tetapi lebih seperti gelandangan dengan kondisi tampang atas dan bawah yang bengkak, badan berdebu, pakaian compang-camping dan menyeret telur lolot.
Namun, dia tidak mengasihani dirinya. Ia menyanjung semangatnya sebagai pendekar yang berdedikasi dan pantang menyerah karena putus asa.
Ctasss!
Ketika Purwasaga mendengar suara ledakan energi di langit Bukit Seratus Lubang, dia pun terkejut dan setengah panik. Pengiriman energi sinar ke langit menunjukkan adanya orang lain selain dirinya di kawasan tersebut.
“Telur emas ini harus cepat aku sembunyikan,” kata Purwasaga di dalam hati. Dia setengah panik.
Ia memandang ke sekitar sejenak. Tidak butuh waktu lama. Ia melihat ada sebongkah batu besar yang di salah satu sisinya memiliki ruang untuk bersembunyi.
Purwasaga melepaskan tali penyeret telurnya dan segera membawa telur emasnya ke balik batu.
“Aman-amanlah di sini, telur emasku,” ucap Purwasaga sambil menepak-nepak halus cangkang telur emas yang sudah ia letakkan.
Purwasaga tidak tahu bahwa saat itu dia sedang diintai oleh Cukur, pengawal Azhmar. Cukurlah orang yang mengirim tanda ke langit. (RH)
hahhhh