NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Para Murid Baru

Koridor Sekolah Esper membentang megah. Pilar-pilar batu tinggi berpadu dengan kaca modern, menciptakan suasana yang terasa seperti perpaduan benteng kuno dan bangunan masa depan.

Ryan, Rahman, dan Agil berjalan menyusuri lorong menuju ruang kelas yang telah diinstruksikan melalui pesan email: Kelas 1-A.

Rahman sengaja berjalan paling depan. Ia sama sekali tidak berani menyerahkan urusan navigasi kepada Ryan. Jika Ryan yang memimpin, mereka mungkin akan terjerumus ke dalam masalah yang jauh lebih merepotkan.

Sesampainya di depan pintu Kelas yang terbuka lebar, Rahman dan Agil mendadak gugup. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Ryan. Tanpa ragu, ia melangkah masuk lebih dulu, membuat Rahman dan Agil hanya bisa saling pandang sambil tersenyum masam.

Waduh, batin Rahman.

Ruang kelas yang semula ramai oleh obrolan seketika senyap setelah menyadari orang asing yang tiba-tiba masuk. Seluruh tatapan di dalam kelas seolah memuat pertanyaan yang sama.

Murid baru?

Mengabaikan tatapan di sekitarnya, Ryan menatap sekeliling dengan santai. Ia melihat sebuah kursi kosong di barisan paling depan. Tanpa ragu, ia menghampirinya lalu duduk begitu saja.

Sebelum seorang pun sempat menegur Ryan, seorang pria berwajah tegas dengan seragam instruktur yang rapi melangkah masuk ke dalam kelas. Rahman dan Agil segera menyusul di belakangnya dengan langkah canggung.

Melihat kehadiran sang instruktur, para murid lama segera membubarkan kerumunan mereka dan duduk tegak di tempat masing-masing.

"Perkenalkan, kita kedatangan murid baru di kelas ini. Ini Faturahman, dan yang di sebelahnya adalah Agil Sudarno.”

Setelah mengalihkan pandangan, sang instruktur baru menyadari seorang murid lain sudah duduk santai di barisan paling depan.

"...Dan yang duduk di sana itu adalah Ryan Lee," lanjut instruktur tersebut dengan wajah yang agak masam. "Mereka bertiga akan belajar bersama kita mulai sekarang."

Instruktur itu mengembuskan napas berat, lalu menunjuk ke arah deretan meja di tengah ruangan. "Nah, kalian berdua, duduklah di dua bangku kosong di barisan ketiga itu."

Rahman dan Agil segera mengangguk patuh, secepat mungkin duduk di bangku masing-masing. Lalu sang instruktur memperkenalkan dirinya.

"Nama saya Tatang Sutarman," ujarnya datar. “Untuk murid baru, dengarkan baik-baik. Sekolah menyediakan rekening pribadi. Akun, aplikasi, dan detail lainnya sudah dikirimkan ke email masing-masing.”

Lalu Pak Tatang memberikan penekanan pada poin berikutnya. “Bagi penerima beasiswa, biaya sekolah sepenuhnya gratis. Selain itu, setiap murid baru akan menerima saldo awal sebesar satu juta rupiah.”

Rahman tersentak kaget, angka itu cukup besar untuk uang saku seorang pelajar. Apalagi ia bahkan tidak pernah memegang uang jajan sebanyak itu.

Setelah berhenti sejenak, Pak Tatang melanjutkan, “Saldo tersebut juga dapat digunakan di luar kampus. Gunakan itu untuk membeli senjata ataupun kebutuhan sehari-hari.”

Sambil menunjuk lembar kertas yang tertempel di samping papan tulis, Pak Tatang menjelaskan, "Terakhir mengenai jadwal dan kegiatan, semuanya sudah tercantum jelas di mading kelas. Salinannya juga telah ditempel di dalam kamar asrama kalian masing-masing, tepat di dekat pintu. Sekian penjelasannya."

Sebelum berniat keluar, ia teringat sesuatu dan kembali menjelaskan. "Satu hal lagi. Setiap hari Senin, kita akan melakukan evaluasi aura. Segera ke gedung olahraga setelah mengganti baju seragam kalian."

Gedung olahraga Sekolah Esper sangatlah luas. Di dalamnya terlihat ratusan siswa tingkat satu dari seluruh kelas telah berbaris rapi sesuai kelompok mereka.

Di barisan depan setiap baris kelas, para instruktur berdiri dengan tatapan tajam, memegang tablet digital guna melakukan evaluasi berkala terhadap tingkat energi spiritual para siswa.

Klasifikasi dilakukan berdasarkan warna aura, semakin gelap auranya maka dinilai semakin kuat sang Esper. Namun untuk kapasitas energi seseorang, sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa mengukurnya.

Setelah berganti pakaian olahraga khusus yang dirancang untuk menahan fluktuasi energi spiritual tanpa mudah rusak, Ryan, Rahman, dan Agil berdiri di tengah barisan Kelas 1-A. Di sekeliling mereka, pendaran cahaya mulai bermunculan satu per satu saat para murid diminta membangkitkan aura mereka secara bergantian.

Kebanyakan murid memancarkan aura biru jernih yang tenang, menandakan level mereka yang masih berada di Class E. Namun, ada beberapa siswa yang memiliki aura yang sedikit lebih gelap, menandakan mereka berada di Class D.

Saat pengukuran tiba, Rahman dan juga Agil tercatat secara resmi memiliki intensitas aura di tingkat Class E.

"Cih, cuma segini?" bisik Agil pelan, matanya menatap tajam ke arah siswa dari kelas lain yang baru saja memamerkan aura lebih gelap darinya.

Bagi seisi ruangan, Ryan tampak tak berbeda dari siswa biasa lainnya. Hanya Rahman yang tahu aura istimewa milik Ryan. Satu per satu barisan maju perlahan, hingga akhirnya tiba giliran Ryan untuk melangkah ke titik pengujian.

“Segera tunjukkan auramu.” Perintah instruktur yang mengujinya.

Tatapan sinis para siswa Kelas 1-A tertuju pada Ryan. Mereka menantikan apa yang sebenarnya membuatnya sombong sehingga bertingkah seperti itu.

Rahman yang sedikit mendengar obrolan teman sekelasnya yang lain hanya bisa tersenyum getir dan membatin. Dia sebenarnya bukan sombong… hanya saja kemampuan sosialnya memanglah buruk.

Tidak seperti siswa lain yang mengeluarkan auranya hingga menyelimuti seluruh tubuh atau membiarkannya berkobar di kepalan tangan. Ryan justru mengeluarkan aura hanya di ujung jarinya.

Sebuah aura khas Class D menyala kecil di sana.

Melihat pemandangan itu, reaksi di dalam gedung olahraga terbelah. Para siswa dari Kelas 1-A mendengus remeh, menganggap aura kecil di ujung jari Ryan adalah bukti bahwa kemampuannya biasa-biasa saja. Namun, berbanding terbalik dengan cibiran para murid, mata para instruktur justru membelalak.

“Kamu... tipe apa?”

“Entahlah,” jawab Ryan datar.

Instruktur hanya bisa menghela napas “…Anggap saja kamu tipe Manifest.”

Berdasarkan apa yang ia saksikan, aura kecil yang dibuat Ryan adalah bukti dirinya ahli dalam pengendalian energi spiritualnya. Ia beranggapan bahwa anak di depannya jelas merupakan seorang Esper tipe Manifest yang berfokus pada pembentukan energi. Namun, tepat setelah ia mengetikkan klasifikasi tersebut, sang instruktur menyadari hal lain yang mengejutkan.

Bahkan untuk standar seorang Manifest Class D, bukankah dia terlalu ahli dalam mengendalikan energinya?

 “Selanjutnya.”

Enggan memperpanjang spekulasi yang bisa merusak jalannya evaluasi, sang instruktur tidak ingin ambil pusing. Ia segera melanjutkan pengujian ke siswa berikutnya, namun jemarinya dengan cepat menambahkan sebaris catatan khusus pada data milik Ryan Lee: Sangat ahli dalam mengendalikan energinya.

Setelah seluruh rangkaian pengujian selesai, para siswa mulai membubarkan diri dari barisan. Namun, salah satu kelompok siswa dari Kelas 1-A sengaja memotong jalur mereka, mengepung Ryan. Yang memimpin kelompok itu adalah Alexander Rianto.

Di antara anak-anak tingkat satu, ia bukan hanya terkenal karena potensinya yang kuat, melainkan juga karena ia lahir dari keluarga kaya. Bagi orang seperti Alex, hierarki adalah segalanya. Melihat seorang anak baru seperti Ryan bertingkah terkesan sombong sejak menginjakkan kaki di kelas, membuat egonya terbakar hebat.

Alex berhenti dua langkah di depan Ryan, menatapnya dengan pandangan merendahkan.

"Hei, bocah sombong," desis Alex, "Kemampuanmu ternyata nggak jauh-jauh amat dariku. Cuma segitu doang sudah sombong banget di kelas."

"Saya?" tanya Ryan pelan, "Maaf, saya tidak berniat begitu. Mohon maaf jika menyinggungmu."

Kalimat itu diucapkan Ryan dengan nada yang luar biasa datar. Bagi Alex, respons yang hambar itu justru jauh lebih menghina daripada makian kasar. Ryan seolah sedang menganggap Alex seperti debu yang beterbangan.

"Cih! Lihat saja nanti," Alex menunjuk ke wajah Ryan dengan jari gemetar akibat amarah yang tertahan. "Aku akan mengajukan duel resmi denganmu. Jangan harap bisa lari!"

Alex segera pergi dengan langkah kasar, diikuti oleh kelompoknya yang melemparkan pandangan sarat permusuhan.

Ryan memandangi punggung Alex yang menjauh selama beberapa detik, lalu dengan santai mengalihkan kepalanya ke samping, melirik ke arah Agil.

"Hei, Gil,"

Apa?" jawab Agil ketus.

"Orang tadi mirip denganmu, ya," ucap Ryan santai.

Secara penampilan dan latar belakang, Alex memang sangat berbeda dari Agil. Namun, bagi Ryan, keduanya memiliki sifat yang sama: sama-sama mudah terpancing emosi dan gemar menantang orang lain.

Mendengar kalimat itu, Agil langsung menangkapnya sebagai sebuah sindiran tajam yang sengaja dilemparkan untuk mengolok-olok harga dirinya. Ia berusaha menahan diri agar tidak meninju wajah Ryan.

Menyadari situasi yang hampir meledak untuk kedua kalinya, Rahman hanya bisa mengusap wajahnya, lalu melempar pandangan pasrah ke langit-langit gedung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!