Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Arka menghela napas panjang setelah panggilannya dengan Clara selesai.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi, menatap layar ponselnya.
Kekehan kecil keluar dari mulutnya saat mengingat betapa dominannya puteri tunggal keluarga Hartawan itu.
Namun, lamunannya terpecah saat ia teringat sesuatu yang sangat penting, sebuah notifikasi hadiah yang sempat lewat saat ia memproses misi darurat tadi.
"Oh ya, tadi aku mendapatkan hadiah robot," gumam Arka teringat sesuatu. Matanya berbinar penasaran.
"Sistem, tunjukkan robotnya," pinta Arka tegas.
Ting!
[Pemberitahuan Sistem]
[ Silakan sentuh layar hologram Anda untuk mengeluarkan robot dari sistem]
Sebuah panel transparan bercahaya kebiruan mengapung di udara, tepat di hadapan Arka.
Tanpa ragu, Arka mengulurkan tangannya dan menyentuh bagian tengah panel tersebut.
Wuuush!
Cahaya putih keperakan melingkupi sudut ruangan di dekat meja kerja, membias tajam hingga Arka harus memicingkan mata.
Begitu pendaran cahaya perlahan hilang, empat figur telah berdiri berjejer dengan sangat presisi.
Bentuk robot tersebut hampir menyerupai manusia, tapi tidak sesempurna manusia asli.
Kulit synthetic mereka berwarna putih platinum dengan sambungan antar-sendi berlapis logam hitam matte yang halus.
Di dada sebelah kiri mereka, terdapat simbol Palang Merah berdesain futuristik.
Keempatnya secara bersamaan membungkukkan badan sembilan puluh derajat di hadapan Arka.
"Selamat datang, Tuan Arka," kata empat buah robot itu memberi salam kepada Arka.
Suara mereka terdengar bernada hangat, jernih, dan sangat terstruktur, sama sekali tidak terdengar seperti mesin biasa.
Arka sempat terpana sejenak. Ia melangkah mendekat, mengamati detail proporsi tubuh mereka yang begitu canggih dan rapi.
"Ah iya, terima kasih banyak. Selamat bergabung dengan klinik ini, dan mohon kerja samanya ya," kata Arka penuh antusias, mengulurkan tangannya pada robot yang berdiri paling depan.
Robot di barisan depan menerima uluran tangan Arka dengan sentuhan yang lembut.
[Baik, Tuan] jawab mereka serempak.
Arka melipat kedua tangannya di dada, memiringkan kepala sembari menatap keempat asisten barunya dari atas sampai bawah.
"Aku penasaran, bagaimana kalian bisa membantuku jika ada pasien? Apakah kalian bisa melakukan tindakan medis mandiri, atau hanya sebatas staf administrasi?"
Robot yang berdiri paling kanan melangkah satu tindak ke depan, matanya berkedip dengan cahaya LED biru.
[Anda tenang saja, Tuan. Kami sudah terprogram secara otomatis dengan sistem medis tingkat lanjut. Semua peralatan, obat-obatan, dan barang yang ada di klinik ini sudah kami ketahui fungsinya hingga taraf molekuler, karena kami memiliki sensor internal yang terhubung langsung dengan seluruh fasilitas medis di bangunan ini] ujar robot itu.
"Sensor internal?" Arka menaikkan sebelah alisnya, semakin tertarik.
[Benar, Tuan. Kami dapat mengukur tanda-tanda vital pasien hanya dalam waktu tiga detik setelah kontak visual. Kami juga bisa memilah obat di apotek otomatis, menyterilkan alat bedah, hingga membantu Anda sebagai asisten operasi dalam kondisi darurat] sambung robot di sebelahnya.
Robot ketiga menambahkan. [Selain itu, kami dibekali protokol komunikasi ramah manusia. Kami bisa menangani pendaftaran pasien di lantai dasar, mengatur rekam medis digital, dan menjaga kebersihan klinik dua puluh empat jam penuh tanpa perlu beristirahat]
Arka membelalakkan mata, decak kagum tak sanggup ia tahan lagi.
Ini bukan sekadar robot biasa, melainkan tim medis profesional yang bekerja tanpa rasa lelah!
"Oh begitu ya... Kalian benar-benar luar biasa. Sangat cocok disebut sebagai asisten impian!" puji Arka tak henti-hentinya.
[Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Arka. Pujian Anda telah disimpan dalam memori utama sebagai indikator motivasi] balas robot utama dengan anggukan sopan.
[Apakah Anda ingin memberikan nama atau membagi tugas khusus untuk kami berempat sekarang?]
Arka tersenyum lebar, mengusap dagunya sembari menatap keempat robotnya.
"Tentu saja. Mari kita bagi tugasnya sekarang juga, sebelum klinik ini ramai diserbu pasien besok pagi!"