"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Angin siang di atap SMA Bina Bangsa berhembus kencang, menyapu rambut Almeera yang berantakan. Namun, gadis itu sama sekali tidak merasakan dingin. Berada di dalam kukungan lengan Akram, dengan wajah bersandar di dada bidang cowok itu, Almeera merasa seolah ia sedang berlindung di dalam benteng paling kokoh di dunia.
Di sudut rooftop, Heera tertatih-tatih bangkit berdiri. Wajah primadona itu hancur oleh air mata dan maskara yang luntur. Ia memungut sisa-sisa ponselnya yang sudah tak berbentuk dengan tangan gemetar, lalu menatap Akram dengan sisa-sisa harga diri yang telah rata dengan tanah.
"Gue... gue benci sama lo, Kram," isak Heera pilu. "Dan lo bakal nyesel karena milih cewek kayak dia."
Akram tidak menoleh sedikit pun. Matanya tetap terpejam, dagunya bersandar di puncak kepala Almeera.
"Pintu keluarnya di sebelah kiri. Jangan sampai gue panggil satpam buat nyeret lo dari sini," balas Akram dengan nada datar yang teramat dingin.
Mendengar itu, Heera tidak berani berlama-lama lagi. Ia berbalik dan berlari sambil menangis, membuka pintu besi rooftop, lalu menghilang di balik tangga, membawa serta seluruh niat jahatnya yang telah dipatahkan tanpa ampun.
Bunyi bantingan pintu besi yang tertutup menjadi tanda bahwa krisis itu telah benar-benar berakhir.
Akram menghela napas panjang, merenggangkan pelukannya perlahan. Ia menunduk, menatap wajah Almeera yang memerah dan sembab oleh air mata. Tangan besar Akram terangkat, ibu jarinya mengusap jejak air mata di pipi gadis itu dengan gerakan yang begitu lembut, sangat kontras dengan tangan yang baru saja membanting ponsel Heera.
"Lo itu bener-bener bodoh atau gimana sih, Al?" suara Akram terdengar serak. Tidak ada nada marah di sana, hanya ada kelegaan yang bercampur dengan frustrasi tertahan. "Lo rela minta cerai dari gue cuma demi ngelindungin id card OSIS sialan ini?"
Almeera mendengus, memukul pelan dada Akram dengan kepalan tangannya. "Bukan cuma id card, tiang listrik! Kalau foto itu kesebar, masa depan lo, reputasi keluarga lo, semuanya bakal hancur! Dan itu semua salah gue karena teledor narik resleting baju! Gue nggak mau jadi beban buat lo!"
"Dan lo pikir ngelepasin lo nggak bakal bikin gue hancur?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Akram, pelan namun menghantam ulu hati Almeera dengan telak.
Almeera terdiam. Matanya yang masih basah menatap lurus ke dalam manik mata Akram yang segelap malam. Di sana, ia melihat bayangannya sendiri, diukir dengan intensitas emosi yang membuat perutnya dipenuhi ribuan kupu-kupu yang beterbangan liar.
"Dengerin gue," Akram mencondongkan wajahnya, mengunci pandangan Almeera. "Tugas lo cuma main drum, ngerjain soal Fisika, dan berantem sama gue tiap pagi. Urusan ngelindungin lo, ngelindungin rahasia kita... itu tugas gue. Karena gue suami lo. Paham?"
Kata suami yang diucapkan dengan nada posesif dan penuh tanggung jawab itu sukses meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahanan di hati Almeera. Egonya yang biasa setinggi langit kini meleleh tak bersisa.
Almeera mengangguk pelan, menggigit bibir bawahnya menahan senyum dan tangis yang bercampur aduk. "I-iya. Paham. Paham banget."
Akram tersenyum tipis. Ia mengacak puncak kepala Almeera dengan gemas. "Sekarang, hapus air mata lo. Jelek banget muka lo kalau lagi nangis, kayak panda kurang tidur."
"AKRAM!" Almeera langsung tersulut, mengusap kasar pipinya. Suasana melankolis itu langsung menguap seketika. "Udah dibelain juga masih aja ngatain! Lo tuh emang nggak bisa romantis lima menit aja ya?!"
Akram tertawa lepas, tawa baritonnya mengalahkan suara angin di atap. "Kalau gue romantis terus, nanti lo jantungan."
Almeera memutar bola matanya malas, meski hatinya bersorak kegirangan melihat Akram kembali menjadi dirinya yang biasa. Tiba-tiba, Almeera teringat sesuatu. Ia melongokkan kepalanya ke arah sudut atap tempat kamera CCTV bertengger.
"Eh, Kram. Emangnya CCTV di rooftop ini nyala? Bukannya Bang Yanto satpam sekolah pernah bilang kalau kamera di sini udah rusak dari tahun lalu kena petir?" tanya Almeera polos.
Langkah Akram terhenti di ambang pintu besi. Ia menoleh, menatap Almeera dengan senyum miring yang luar biasa licik.
"Emang rusak. Mati total," jawab Akram santai, memasukkan tangannya ke saku celana.
Mata Almeera membelalak sempurna. Rahangnya nyaris jatuh. "H-hah?! Terus tadi lo ngancem Heera pakai rekaman CCTV?!"
"Namanya juga bluffing, Al. Gertakan," Akram mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Heera lagi kalut, otaknya nggak bakal jalan buat mikir ngecek itu CCTV nyala beneran atau nggak. Ditambah acting gue yang kelewat meyakinkan, dia langsung percaya."
"GILA LO, KRAM!" Almeera setengah berteriak, tidak percaya dengan betapa manipulatif dan cerdasnya cowok di depannya ini. "Gimana kalau dia sadar dan tahu lo bohong?!"
"Nggak bakal," Akram tersenyum penuh kemenangan. "Ponselnya udah hancur duluan sebelum dia bisa mikir jernih. Bukti foto lo udah lenyap, dan mentalnya udah gue bantai duluan. Catur itu main strategi, Al. Siapa yang paling tenang, dia yang menang."
Almeera hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. Dalam hati, ia bersyukur setengah mati karena Akram berada di pihaknya. Jika cowok ini menjadi musuh sejati, Almeera yakin ia tidak akan bertahan hidup lebih dari sehari di sekolah ini.
"Udah, ayo turun. Cuci muka lo di toilet bawah. Ingat, sore ini kita ada kencan," Akram mengulurkan tangannya ke arah Almeera.
Kali ini, tanpa ragu sedikit pun, Almeera menyambut uluran tangan itu. Jari-jari mereka kembali bertaut, erat dan hangat, berjalan menuruni tangga rooftop meninggalkan segala krisis di belakang mereka.
Pukul 16.30 WIB. Kopi & Senja Cafe, Kemang.
Janji adalah janji. Dan Akram Pradana adalah tipe cowok yang selalu menepati janjinya.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Akram tidak membawa Almeera pulang ke apartemen untuk mengerjakan soal matematika. Alih-alih, ia melajukan motor sport hitamnya membelah kemacetan sore Jakarta, membawa Almeera ke sebuah kafe live music yang sangat cozy di kawasan Kemang.
Kafe itu bernuansa kayu rustic dengan lampu-lampu warm white yang menggantung manis. Aroma biji kopi yang baru digiling bercampur dengan wangi pastry panggang. Di sudut kafe, sebuah panggung akustik kecil sedang diisi oleh penyanyi yang menyenandungkan lagu-lagu indie menenangkan.
Almeera duduk di sofa empuk dekat jendela, menatap ke luar melihat rintik hujan yang mulai membasahi jalanan Jakarta. Di depannya, tersaji sepotong Strawberry Shortcake yang sangat menggugah selera dan segelas Lychee Tea dingin.
"Makan," titah Akram yang duduk di seberangnya. Cowok itu hanya memesan segelas Americano es. Kemeja seragamnya sudah ia ganti dengan kaos oblong hitam yang ia bawa di ransel, membuatnya terlihat sangat santai dan boyfriend material.
Almeera menyendok kue itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis dan segar stroberi langsung meledak di lidahnya. Matanya berbinar-binar.
"Enak banget!" seru Almeera tanpa sadar, melupakan sisa-sisa gengsinya.
Akram menopang dagunya, menatap wajah berbinar Almeera dengan senyum tertahan. "Enak kuenya, atau enak kencannya?"
Tegukan Lychee Tea di tenggorokan Almeera nyaris tersedak. Ia menaruh gelasnya, mendelik ke arah Akram. "Kuenya lah! Kencannya mah biasa aja. Kurang menantang. Kalau kencan beneran itu main bungee jumping atau roller coaster!"
"Oh, nantangin? Boleh. Kencan minggu depan kita ke Dufan. Gue mau lihat apa lo masih berani ngoceh pas lagi di atas Tornado," balas Akram santai, menyesap kopinya.
Almeera terdiam. Kencan minggu depan? Kalimat itu menyiratkan bahwa ini bukanlah kencan pertama dan terakhir mereka.
Almeera mengaduk-aduk Lychee Tea-nya menggunakan sedotan, mendadak salah tingkah. "Lo... kenapa tiba-tiba ngajak gue ke sini? Jangan bilang ini reward beneran karena gue bisa ngerjain soal Fisika semalam?"
"Itu salah satu alasannya," Akram meletakkan gelas kopinya. Matanya menatap lurus ke arah Almeera, menyingkirkan nada bercanda dari suaranya. "Alasan lainnya... karena tempat ini kafe yang sama yang mau dipakai Reyhan buat ngajak lo jalan malam itu."
Pergerakan sedotan di tangan Almeera terhenti seketika. Ia mendongak.
"Gue inget nama kafenya pas dia ngomong di ruang band," jelas Akram, wajahnya kembali menampakkan kilat posesif yang halus. "Gue sengaja bawa lo ke sini. Biar memori lo soal tempat ini bukan tentang dia, tapi tentang gue. Karena kencan pertama lo di tempat ini, sama gue. Cowok lo yang sebenarnya."
Ledakan di dada Almeera rasanya sudah tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata lagi. Wajahnya seketika merona sehebat-hebatnya. Cowok di depannya ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin ia bisa menjadi begitu arogan, posesif, namun teramat romantis dalam waktu yang bersamaan?!
"D-dasar tukang cemburu!" cicit Almeera, berusaha menyembunyikan senyumnya di balik gelas minuman.
"Gue nggak cemburu. Gue cuma nandain wilayah," ralat Akram tanpa beban. Ia mengulurkan tangannya menyeberangi meja kayu itu, lalu menyentil dahi Almeera dengan pelan. "Dan sebagai peringatan, jangan pernah lo coba-coba balas chat musisi jalanan itu lagi."
"Sakit!" Almeera mengusap dahinya, meski ia sama sekali tidak marah. "Iya, iya, Tuan Diktator! Lagian siapa juga yang mau bales chat dia. Gue udah cukup sibuk ngadepin makhluk nyebelin kayak lo tiap hari."
Akram terkekeh. Ia tidak menarik tangannya kembali. Alih-alih, ia memutar tangannya ke atas, menengadah di depan Almeera.
"Sini," pinta Akram singkat.
Almeera mengerutkan kening bingung. "Sini apa? Lo mau minta kue gue? Beli sendiri sana!"
"Tangan lo, Almeera Azzahra," Akram memutar bola matanya malas, namun bibirnya tersenyum. "Kasih tangan lo."
Dengan ragu dan pipi yang makin memanas, Almeera meletakkan tangan kirinya di atas telapak tangan Akram. Jari-jari Akram langsung menutup, menggenggam tangan Almeera dengan hangat tepat di atas meja kafe.
Bagi orang-orang yang melihat, mereka tidak lebih dari sepasang anak SMA yang sedang dimabuk cinta sepulang sekolah. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, Almeera tidak ingin menyangkalnya. Ia membiarkan tangannya digenggam, membiarkan dirinya jatuh ke dalam pesona sang Ketua OSIS.
"Mulai sekarang," bisik Akram pelan, mengusap punggung tangan Almeera dengan ibu jarinya, "Lo beneran pacar gue di sekolah, dan istri gue di rumah. Nggak ada protes."
"Kalau gue protes?" tantang Almeera dengan sisa-sisa keberaniannya.
"Gue cium lo di depan barista itu sekarang juga," balas Akram dengan tatapan mata yang sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.
Almeera langsung bungkam, menutup mulutnya dengan tangan kanannya yang bebas. "G-gila lo!"
Tawa Akram kembali pecah. Tawa yang sangat renyah, hangat, dan membebaskan. Sore itu, diiringi alunan musik akustik dan rintik hujan Kemang, Almeera menyadari satu hal yang pasti.
Menikah rahasia dengan Akram Pradana mungkin adalah kecelakaan terbesar dalam hidupnya. Tapi jatuh cinta pada cowok menyebalkan itu... adalah takdir terbaik yang tak pernah ia rencanakan. Dan dengan UTS yang sudah menanti di depan mata, Almeera tahu, petualangan barunya bersama sang Ketua OSIS baru saja beranjak ke babak yang paling mendebarkan.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔