Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Kael menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Entah mengapa, rentetan pesan dari Aurora terus mengusik pikirannya. Ia dikenal dingin dan tak pernah membiarkan emosi memengaruhi keputusan, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Bayangan malam ketika mereka bersama kembali muncul di benaknya. Ia tahu persis bahwa malam itu adalah pengalaman pertama Aurora. Kesadaran itu membuat dadanya dipenuhi kegelisahan yang sulit ia jelaskan.
"Kenapa aku justru memikirkan gadis itu?" gumamnya lirih, kesal pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan baru masuk. Aurora mengirimkan alamat tempat yang akan ia datangi keesokan pagi.
Kael segera membuka lokasi tersebut. Sorot matanya berubah tajam ketika mengenali nama rumah sakit itu.
"Itu... rumah sakit bersalin Kasih Bunda?" desisnya pelan.
Rumah sakit khusus ibu dan anak tersebut bukanlah tempat yang asing baginya. Secara resmi, fasilitas itu merupakan salah satu mitra bisnis yang bekerja sama dengan perusahaan Raventhorne Group dalam penyediaan alat kesehatan dan berbagai kebutuhan medis. Namun, di balik kerja sama itu, Kael juga mengetahui bahwa rumah sakit tersebut terkadang menjadi tempat penampungan bayi-bayi terlantar yang kemudian disalurkan melalui jalur adopsi resmi.
Meski memiliki banyak koneksi dengan rumah sakit itu, Kael tidak pernah terlibat ataupun mengetahui adanya praktik medis yang melanggar hukum. Karena itulah, pesan Aurora membuatnya merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia langsung mengangkat kepala menatap pria kepercayaannya.
"Cassian."
"Ya, Tuan."
"Selidiki rumah sakit itu sekarang juga. Aku ingin laporan lengkap sebelum pagi."
Cassian mengangguk hormat.
"Baik, Tuan."
Kael melanjutkan dengan nada yang lebih tegas.
"Jika ada pelanggaran serius, manipulasi data, atau praktik yang membahayakan pasien, hentikan seluruh kerja sama kita dengan mereka. Cabut seluruh pasokan alat kesehatan dari Raventhorne Group, batalkan seluruh kontrak yang masih berjalan, dan pastikan tim hukum menindaklanjutinya sesuai prosedur."
Cassian memahami maksud atasannya. Keputusan itu bukan sekadar ancaman bisnis, melainkan langkah untuk memastikan tidak ada pihak yang memanfaatkan nama .perusahaan mereka demi menjalankan kegiatan yang melanggar hukum.
"Saya mengerti. Saya akan mengirim tim investigasi malam ini juga."
Kael kembali menatap layar ponselnya. Alamat yang dikirim Aurora masih terpampang jelas.
Untuk pertama kalinya sejak gadis itu muncul dalam hidupnya, ia mulai mempertanyakan satu hal yang selama ini selalu ia yakini.
Bagaimana jika... Aurora selama ini benar-benar mengatakan yang sebenarnya?
Kael mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, ia merasa telah mengambil keputusan tanpa menyelidiki semuanya terlebih dahulu. Jika memang rumah sakit yang selama ini menjadi rekan bisnisnya menyembunyikan sesuatu, maka ia telah kecolongan sebagai pemimpin.
Rasa kesal itu bukan hanya ditujukan kepada pihak lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
"Aku seharusnya memeriksa semuanya lebih awal." gumamnya pelan.
Malam perayaan akhirnya usai. Satu per satu para tamu dan karyawan meninggalkan ballroom hotel yang sebelumnya dipenuhi kemewahan.
Adrian pun berpamitan untuk pulang. Selama lebih dari lima belas tahun, pria itu telah mengabdi kepada Kael dengan kesetiaan yang tak pernah diragukan. Ia mengenal atasannya lebih baik daripada kebanyakan orang.
Di mata banyak orang, Kael adalah sosok yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Namun Adrian mengetahui satu hal yang jarang disadari orang lain. Selama tidak ada pengkhianatan atau ancaman yang membahayakan organisasinya, Kael tidak pernah menyakiti orang tanpa alasan. Ia memang keras dalam mengambil keputusan, tetapi tidak pernah menikmati penderitaan orang lain sebagaimana rumor yang beredar.
Setelah semua orang pergi, rumah besar itu kembali sunyi.
Kael berdiri lama di depan jendela kamar kerjanya. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di kejauhan, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang.
Ia mencoba memejamkan mata, berharap rasa lelah akan membawanya tertidur. Namun setiap kali kelopak matanya menutup, wajah Aurora justru kembali memenuhi benaknya.
Tatapan gadis itu.
Air mata yang berusaha disembunyikannya.
Dan pesan-pesan yang terus memenuhi layar ponselnya.
Jam terus bergerak melewati tengah malam. Hingga menjelang dini hari, Kael masih belum berhasil memejamkan mata.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap langit yang mulai memucat dari balik jendela.
"Bagaimana jika selama ini aku keliru?" bisiknya lirih kepada dirinya sendiri.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Sesaat kemudian, Kael menundukkan kepala. Sebuah pertanyaan yang sejak tadi berusaha ia singkirkan akhirnya muncul tanpa bisa dibendung.
"Bagaimana jika... bayi yang dikandung Aurora benar-benar anakku?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, meninggalkan kegelisahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu yakin pada setiap keputusannya mulai meragukan penilaiannya sendiri.
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menepis pikiran itu, tetapi semakin diabaikan, pertanyaan tersebut justru semakin mengganggu.
"Bahkan di ladang yang hampir gagal panen, masih mungkin ada satu bulir yang tumbuh sempurna. Mungkinkah... keajaiban itu benar-benar terjadi padaku?"
Sebagai seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia farmasi dan medis, Kael memahami diagnosis yang pernah diterimanya. Secara logika, kemungkinan itu nyaris mustahil.
Tetapi anehnya, ia justru terus memikirkan kata-kata Aurora.
Dengan gerakan pelan, Kael mengambil ponsel yang tadi diserahkan Cassian. Ia membuka kembali seluruh percakapan mereka, lalu menggulir layar dari awal hingga akhir. Setiap pesan dibacanya berulang kali, seolah mencari sesuatu yang mungkin terlewat.
Kael mengembuskan napas pelan sambil menggeleng.
"Gadis itu benar-benar berhasil mengacaukan pikiranku," gumamnya lirih. "Kenapa sejak bertemu dengannya, aku terus memikirkannya?"
Belum sempat ia menaruh ponselnya—
Tring...
Tring...
Nada dering memecah kesunyian kamar.
Nama Aurora muncul di layar.
Kael menatapnya beberapa detik tanpa berkedip. Entah didorong rasa penasaran atau kegelisahan yang sejak tadi menguasainya, ibu jarinya akhirnya bergerak perlahan.
Panggilan itu pun ia angkat.
Kael mengangkat panggilan itu tanpa banyak ekspresi. Wajahnya tetap tenang, tetapi pandangannya terpaku pada layar yang menampilkan sosok Aurora. Gadis itu tampak pucat, namun sorot matanya masih menyimpan tekad yang sulit ditebak.
"Ada perlu apa?" tanyanya singkat dengan nada datar.
Di ujung sana, Aurora mengembuskan napas pelan sebelum tersenyum tipis.
"Sepertinya calon bayi ini mulai merindukan ayahnya. Aku juga tidak bisa memejamkan mata semalaman. Jadi... kapan Om akan menepati tanggung jawabmu dan menikahiku? Setidaknya, biarkan anak ini tumbuh bersama ayah kandungnya."
Kael mendecakkan lidah pelan.
"Kau benar-benar keras kepala. Bukankah sebelumnya kau bilang akan mencari pria lain untuk menjadi ayah bagi anak itu? Sekarang mana buktinya? Yang kulihat justru kau mengancam akan mengakhiri kehamilanmu."
Aurora terdiam beberapa saat. Jemarinya mencengkeram ponsel lebih erat sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang lebih pelan, tetapi sarat ketegasan.
"Aku sudah memikirkannya berulang kali. Rasanya tidak adil jika aku menyerahkan tanggung jawab ini kepada orang yang tidak ada hubungannya dengan anakku. Jika ayah kandungnya menolak mengakui keberadaannya, lalu untuk apa aku memaksa orang lain menanggung semuanya?"
Ia menarik napas panjang.
"Itulah sebabnya aku mengurungkan niat mencari pria lain. Kalau Om tetap menolak bertanggung jawab... mungkin lebih baik semuanya berakhir di sini."
Aurora sengaja mengucapkannya dengan wajah serius. Di balik kata-katanya, masih terselip harapan agar Kael menghentikannya sebelum keputusan itu benar-benar terjadi.
Namun, pria itu tetap mempertahankan raut dinginnya.
"Kalau itu memang keputusanmu, lakukan saja."
Kalimat tersebut keluar terdengar tenang, tetapi entah mengapa dada Kael terasa sesak setelah mengucapkannya. Ada rasa tidak nyaman yang perlahan menjalar, sesuatu yang bahkan sulit ia jelaskan pada dirinya sendiri.
Di seberang telepon, Aurora tersenyum pahit.
"Baiklah. Semoga nanti Om tidak menyesali pilihan Om sendiri."
Tanpa memberi kesempatan Kael menjawab, sambungan telepon langsung terputus.
Nada panggilan berganti menjadi sunyi.
Kael masih memegang ponselnya beberapa saat, menatap layar yang kini gelap. Tanpa sadar telapak tangannya berpindah ke dada, merasakan detak jantungnya yang terasa lebih berat dari biasanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keraguan mulai mengusik ketenangan seorang Kael Raventhorne.
"Ada apa denganku? Apa jantungku bermasalah?"
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe