Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Suasana di dalam Rumah Sakit Adisakti masih terasa sibuk dan riuh seperti biasa.
Beberapa perawat berlalu-lalang membawa tumpukan berkas rekam medis, suara bip-bip monitor medis terdengar bersahutan dari berbagai ruangan, bercampur dengan aroma obat-obatan yang khas dan sedikit menyesakkan hidung.
Namun, perhatian mereka yang sedang bekerja mendadak teralihkan ketika melihat sosok Denial masuk dengan langkah terburu-buru dan lebar, sambil menggendong tubuh seseorang dengan erat di pelukannya.
“Adera lagi?” bisik salah satu perawat pelan, matanya melirik ke arah pintu masuk.
“Tumben malam-malam gini. Biasanya kan siang atau sore.”
“Pasti nyari Dokter Ezra lagi, deh.” sahut yang lain sambil terkekeh kecil, sudah terlalu hafal dengan pola ini.
Beberapa orang bahkan tersenyum simpul. Selama dua tahun terakhir, Adera memang sudah jadi pemandangan umum di sini.
Gadis itu terkenal sering datang dengan berbagai alasan konyol mulai dari sakit kepala, maag, pusing, sampai pura-pura mau pingsan, semuanya dilakukan hanya demi satu tujuan yaitu bertemu Dokter Ezra Lukmana yang dingin itu.
Selama ini, tidak ada yang pernah menganggap serius kedatangannya. Semua mengira itu cuma drama manja cari perhatian biasa.
Sampai… wajah Adera terlihat jelas di bawah cahaya lampu neon rumah sakit yang terang benderang.
Senyum di wajah para perawat itu langsung lenyap seketika, berganti dengan keterkejutan yang luar biasa. Wajah gadis itu bukan cuma pucat, tapi putih kelabu seperti mayat hidup. Bibirnya tampak kebiruan, tubuhnya lemas tak berdaya di pelukan Denial, napasnya terdengar berat, tersengal, dan terdengar sangat menyakitkan. Matanya terpejam rapat, tak berdaya.
“Cepat panggil dokter! Tolong dia! Tolong adikku!” teriak Denial panik, suaranya bergetar hebat, penuh keputusasaan.
Nada bicara pria itu yang benar-benar cemas langsung membuat suasana berubah tegang seketika. Angan-angan bahwa ini cuma drama Adera pun runtuh seketika menjadi debu.
Beberapa perawat buru-buru mendorong brankar mendekat dengan cepat.
Begitu tubuh Adera dipindahkan ke atas kasur besi yang dingin itu, salah satu perawat langsung memegang dahinya dan matanya membelalak lebar, tangannya gemetar.
“Astaga… Panasnya tinggi banget! Nyala kayak bara api! Gak salah ini hampir empat puluh derajat!” seru Perawat dengan nada kaget dan takut.
Dokter jaga segera datang dan langsung melakukan pemeriksaan cepat. Suasana di IGD mendadak kacau balau dan mencekam.
Sementara itu di lantai atas, Ezra baru saja selesai melakukan prosedur operasi dan keluar dari ruang bedah. Ia sedang santai melepas sarung tangan medisnya satu per satu dengan wajah datar, tanpa beban, dan tanpa ekspresi.
Seorang dokter rekan kerjanya menghampiri, berniat memberi tahu.
“IGD lagi rame nih, Za. Tadi si Adera masuk lho,” ujar Dokter yang melihat kejadian itu.
Ezra bahkan tidak mengangkat wajahnya. Tidak ada keterkejutan, tidak ada rasa penasaran, sama sekali tidak ada.
“Lagi?” sahut Ezra datar, nada suaranya terdengar sangat muak, lelah, dan penuh rasa jengkel.
“Iya. Dibawa masuk sama Kakaknya tadi, kelihatannya panik sih,” jawab Dokter itu lagi.
Ezra menghela napas panjang, menghembuskan rasa kesal yang tertahan di dadanya.
Dalam pikirannya, Adera pasti kembali membuat drama cari perhatian seperti biasa. Mungkin alasan sakit lagi biar dilihatin, biar didekatin, dan biar mengganggu waktunya.
Jujur saja… Ezra sudah benar-benar muak dan lelah menghadapi tingkah kekanak-kanakan gadis itu yang terasa sangat mengganggu pekerjaannya dan membuatnya tidak nyaman.
“Biar dokter jaga aja yang tangani,” ucap Ezra dingin sambil mengambil jasnya dan memanggul tas kerjanya.
“Kamu gak mau lihat dulu sekilas? Kasihan lho katanya,” tanya Dokter itu lagi, sedikit iba.
Ezra menggelengkan kepalanya tegas, sama sekali tidak ada rasa khawatir sedikitpun di matanya. Hanya ada ketidakpedulian yang membeku.
“Enggak perlu. Adera gak akan kenapa-kenapa. Paling juga cuma demam biasa atau cari perhatian doang. Biasa aja kali,” ujarnya santai, seolah nyawa gadis itu bukanlah hal yang penting baginya.
Setelah mengatakan itu, pria itu langsung berjalan pergi meninggalkan rumah sakit dengan langkah santai, tenang, dan tanpa beban.
Tanpa dia sadari… untuk pertama kalinya dalam dua tahun ini… Adera benar-benar sakit parah. Dan dia baru saja dengan sengaja meninggalkan gadis itu di saat nyawa Adera sedang berada di ujung tanduk.
Kembali di IGD, suasana semakin tidak kondusif dan menegangkan.
“Tekanan darahnya turun drastis, Dok! Nadi makin lemah!” lapor Perawat dengan napas tersengal, tangannya bekerja cepat.
“Pasiennya lemas banget! Kesadaran menurun!” sahut Perawat lainnya panik, wajahnya pucat.
“Pasang infus sekarang! Cari vena yang besar! Siapkan obat penurun panas dan cairan infus! Cepat!” titah Dokter Jaga dengan suara lantang memimpin situasi yang kacau.
Denial berdiri mematung di samping brankar, wajahnya pucat pasi dan tangannya gemetar hebat melihat adiknya yang terbaring tak berdaya dengan selang-serat mulai menancap di tubuh mungilnya. Di sisi lain, Mama Adera sudah tidak kuat menahan tangis, bahunya terguncang isak tangis yang pilu dan menyayat hati.
“Adera… Sayangku… bangun sayang… Jangan bikin Mama takut…” isak Mama pelan, tangannya menggenggam erat tangan dingin putrinya, menempelkan ke pipinya sendiri.
Gadis itu sudah hampir tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang panas tinggi sejak pagi kian memburuk karena terlambat mendapatkan penanganan medis. Sistem tubuhnya seakan sedang menyerah, kehabisan tenaga melawan infeksi yang menggerogoti.
Dokter jaga akhirnya menatap keluarga Adera dengan wajah sangat serius dan penuh beban, napasnya terdengar berat.
“Kondisinya drop, Den. Sangat drop,” ucap Dokter Jaga tegas, kalimatnya seperti palu godam yang menghantam kepala Denial.
Jantung Denial serasa diremas sampai hancur mendengar kalimat itu.
“Drop gimana maksudnya, Dok? Jangan bercanda! Itu adikku! Dia cuma demam biasa kok!” desak Denial, suaranya parau, matanya sudah berkaca-kaca dan air mata mulai tak terbendung.
“Demamnya terlalu tinggi dan pasien terlambat ditangani. Organ tubuhnya bekerja terlalu keras sampai kehabisan tenaga. Infeksinya sudah menyebar cepat,” jelas Dokter Jaga dengan nada berat, setiap kata terasa menusuk hati.
Mama Adera langsung memegang dadanya, kakinya lemas rasanya ingin pingsan mendengarnya.
“Karena itu… kami sarankan pasien segera dipindahkan ke ruang ICU untuk pengawasan dan penanganan intensif,” ucap Dokter Jaga memberikan keputusan akhir yang menghancurkan.
Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening total. Hening yang mencekam, hening yang mematikan.
Kata ICU itu membuat tubuh Denial membeku sempurna. Kakinya terasa lemas seolah ditanam beton di lantai.
“ICU…?” ucap Denial tak percaya, suaranya bergetar hebat, air mata akhirnya jatuh membasahi pipi. “Adikku cuma demam biasa kok, Dok! Kenapa harus sampai ICU? Jangan kaya gini Dok… Aku mohon…”
Dokter Jaga itu mengangguk pelan dengan wajah sungguh-sungguh, tak ada main-main sedikitpun.
“Kalau kondisi ini terus menurun dan tidak ditangani secara khusus di sana, bisa masuk fase kritis, Den. Bahkan… bisa mengancam nyawanya.”
Jelas itu semakin membuat Denial hancur lebur. Dunianya seakan berhenti berputar.
Suara beep-beep-beep monitor di samping ranjang terdengar semakin cepat dan menegangkan, seolah ikut berteriak memberitahu bahwa nyawa gadis paling ceria itu sedang bertarung melawan maut.
Tidak ada yang menyangka…
Gadis yang dulu selalu berisik, selalu tertawa, dan selalu penuh semangat mengejar cinta…
Kini justru terbaring lemah, tak berdaya, dan nyawanya pun sedang dipertaruhkan.