NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Action / Fantasi
Popularitas:38.1k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

🏆GOLD NOVEL🏆
...

"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."

Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.

Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.

"Aku adalah..."

GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 002: Mengusir Para Pengacau

Kegelapan malam masih memeluk seluruh penjuru sekte ketika Qin Xiang duduk bersila di tengah gubuknya.

Sunyi.

Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi oleh sesuatu—aliran-aliran tipis yang merayap di udara, di dinding lapuk, di sela-sela lantai tanah yang lembap. Energi langit dan bumi yang selama ini tak pernah ia perhatikan.

Kini ia bisa melihat semuanya.

Tatapannya bukan lagi tatapan remaja yang terbiasa menunduk. Ada kedalaman di sana—kedalaman yang lahir bukan dari usia tubuh ini, melainkan dari ribuan tahun yang pernah dilaluinya di kehidupan lain. Tenang. Berat. Seperti danau yang tidak beriak di permukaannya, namun menyimpan arus bawah yang bisa menelan apa saja.

Ia habiskan berjam-jam menelusuri setiap inci meridiannya.

Dan akhirnya—ia sampai pada sebuah kesimpulan.

"Tubuh ini... cacat. Namun tidak sepenuhnya tak berguna."

Suaranya pelan, lebih seperti gumaman seseorang yang berbicara dengan dirinya sendiri setelah merenungkan sesuatu yang panjang.

Meridian dalam tubuh ini rapuh dan tipis seperti benang sutra yang sudah lapuk—satu tekanan berlebih bisa membuatnya retak. Itu yang selama bertahun-tahun membuat Qin Xiang terjebak di Pemurnian Qi tahap satu, tidak mampu berkembang meski telah berusaha keras.

Namun Dantian-nya—pusat penyimpanan energi di pusar bawahnya—adalah hal yang sama sekali berbeda.

Ukurannya dua kali lipat manusia normal.

Paradoks yang kejam sekaligus menarik. Seperti saluran air kecil yang hampir buntu yang dipaksa mengisi danau raksasa—bisa dilakukan, tapi membutuhkan waktu yang tidak masuk akal panjangnya.

Senyum pahit muncul di sudut bibirnya.

"Jika mengikuti metode biasa dunia ini, setidaknya butuh setahun lagi hanya untuk menembus Pemurnian Qi tahap kedua."

Namun ia bukan kultivator biasa.

Senyum pahit itu perlahan bergeser—dingin, tipis, dan mengandung sesuatu yang terasa jauh lebih tua dari wajah muda ini.

Qin Xiang memejamkan matanya.

Napasnya mulai berubah—bukan ritme orang yang bermeditasi biasa, melainkan pola kuno yang sudah tidak dikenal dunia ini sejak ribuan tahun lalu. Setiap tarikan napas terasa seperti suara alam semesta yang menarik dirinya sendiri ke dalam satu titik.

"Teknik Pernapasan Langit dan Bumi."

Tidak ada suara ledakan. Tidak ada cahaya yang menyilaukan.

Yang terjadi justru sebaliknya—keheningan yang makin dalam, dan kemudian, tekanan.

Seluruh udara di dalam gubuk itu seolah bergerak serentak ke arahnya. Pori-pori di kulitnya terbuka seperti pintu-pintu kecil yang selama ini terkunci, dan energi yang melayang-layang di atmosfer sekitar mulai mengalir masuk—tidak menetes, tidak mengalir, melainkan tersedot dengan kekuatan yang tidak proporsional dengan ukuran tubuh ini.

Dipaksa masuk. Dikompresi. Dimurnikan berkali-kali lipat.

Lalu dialirkan ke dalam Dantian yang luas itu seperti air bah yang menemukan muaranya.

Jerami-jerami di lantai bergetar pelan. Retakan-retakan di dinding kayu mendadak mengeluarkan desiran angin meski di luar sana tidak ada angin yang bertiup. Dan di dalam keheningan itu, di balik kelopak mata yang tertutup rapat—kilatan emas berpendar samar di kedalaman pupil yang tidak bisa dilihat siapa pun.

Malam berlalu.

Semburat keemasan pertama matahari baru saja menembus celah-celah atap yang bocor ketika Qin Xiang membuka matanya.

Tidak ada kelelahan.

Ia bangkit berdiri, melangkah keluar dari gubuk, dan menghirup udara pagi yang dingin dan berbau tanah. Lalu, dalam kesunyian halaman belakang yang masih diselimuti kabut tipis, ia mulai bergerak—bukan meditasi, bukan teknik pedang, melainkan gerakan-gerakan fisik yang lambat dan penuh kendali, membangun kembali koneksi antara jiwa kuno yang baru saja terbangun ini dan tubuh muda yang belum sepenuhnya siap menampungnya.

Tubuh ini harus ditempa.

Sebelum bisa memikul kembali beban langit, ia harus bisa berdiri tegak di atas bumi dulu.

"SAMPAH! KE SINI KAU!"

Teriakan itu membelah ketenangan pagi seperti batu yang dilempar ke kolam.

Qin Xiang berhenti bergerak.

Ia tidak terkejut. Ia tidak menoleh dengan terburu-buru. Hanya membalikkan badan dengan perlahan—sangat perlahan, seperti orang yang punya waktu tak terbatas di dunia ini.

Xiao Jing berdiri di ujung halaman dengan wajah merah padam, menggenggam pedang kayunya dengan kepalan yang terlalu erat. Di belakangnya, dua pengikut setia berdiri seperti biasa. Namun kali ini bukan hanya mereka—puluhan murid sekte luar berkerumun di belakang, berbisik-bisik dengan wajah yang antusias.

Rupanya kabar ini sudah tersebar.

Qin Xiang akan dihajar untuk kesekian kalinya.

Tontonan gratis. Tentu saja mereka tidak ingin melewatkannya.

"Xiao Jing."

Suara Qin Xiang keluar datar, tidak tinggi, tidak gemetar. Namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat bisik-bisik di kerumunan belakang mendadak terhenti sejenak.

"Apa, sampah?"

Xiao Jing terkekeh. Suaranya mengandung kepuasan yang tidak disembunyikan—kepuasan seorang penindas yang merasa kedudukannya tidak tergoyahkan.

"Hoh? Kau menjadi berani sekarang?" Ia melangkah maju dengan angkuh, matanya menjelajahi sosok Qin Xiang dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang tidak menyembunyikan penghinaannya. "Apa karena pelukan Senior Hu Xia kemarin telah menumbuhkan nyali di tubuh sampahmu?"

Tawa antek-anteknya pecah di belakang.

"Sayang sekali," lanjut Xiao Jing, senyumnya semakin melebar dengan cara yang menjijikkan, "dewi pelindungmu itu sedang pergi menjalankan misi sekte yang sangat jauh. Kali ini, tidak ada yang akan menyelamatkanmu."

Ia berhenti melangkah, jarak mereka kini hanya beberapa meter.

"Tikus kecil."

Di tempat lain dan di waktu lain—mungkin dua kata itu sudah cukup untuk membuat lutut Qin Xiang gemetar.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Sebuah senyum muncul di sudut bibir Qin Xiang.

Bukan senyum gugup. Bukan senyum yang dipaksakan untuk menyembunyikan rasa takut. Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang lucu di tengah situasi yang seharusnya serius—senyum kaisar yang sedang menonton badut mencoba tampil di istananya.

Xiao Jing menyipitkan matanya.

Ada sesuatu yang berbeda.

Naluri yang sudah sering ia abaikan mendadak berteriak pelan di sudut pikirannya. Namun kesombongannya, seperti biasa, lebih keras dari suara naluri itu.

"Auramu..." Xiao Jing mengerutkan kening, mencoba membaca energi yang dipancarkan tubuh Qin Xiang. "Pemurnian Qi tingkat kedua? Hah." Tawanya terdengar seperti ejekan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari. "Jadi setelah bertahun-tahun menjadi limbah, kau akhirnya berhasil merangkak naik satu tingkat? Tidak heran kau begitu sombong pagi ini."

Ia meludah ke tanah di depan kakinya sendiri.

"Satu tingkat di atasku adalah gunung yang tidak bisa kau panjat. Kau tetaplah semut di bawah kakiku, Qin Xiang. Itu tidak akan pernah berubah hanya karena kau tidur semalam."

"Apa kau ingin mencobanya?"

Kalimat itu keluar pelan. Sangat pelan. Namun menggantung di udara dengan berat yang tidak wajar, seperti langit mendung yang menahan hujan besar.

Xiao Jing membeku selama satu detik.

Lalu amarahnya menyapu semua sisanya.

"Mati kau!"

Ia menerjang maju dengan raung yang beringas, kepalan tangannya diselimuti energi Qi kehijauan yang berpendar redup—kekuatan seorang kultivator Qi Fondasi tahap dua yang tidak main-main jika menghantam tubuh biasa.

Qin Xiang tidak bergerak mundur.

Tidak satu langkah pun.

Ia tidak mengeluarkan teknik. Tidak membacakan mantra. Tidak mengambil kuda-kuda yang rumit. Ia hanya memusatkan seluruh energi yang diserap sepanjang malam ke dalam satu kepalan tangan kanannya—memadatkannya, menekannya, sampai udara di sekitar kepalan itu mendadak terasa lebih berat dari seharusnya.

Saat Xiao Jing memasuki jarak serang—

Qin Xiang melangkah satu langkah ke depan dan melepaskan tinjunya.

BAMMM!!

Dentuman itu menggema di seluruh halaman seperti batu besar yang dijatuhkan dari langit.

Xiao Jing tidak sempat menyadari apa yang terjadi. Tinju itu mendarat tepat di tengah wajahnya dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk tubuh sekecil Qin Xiang—tidak ada trik, tidak ada siasat, hanya kekuatan mentah yang telah dimurnikan semalaman penuh, dipadatkan dalam satu serangan tunggal.

Tubuh Xiao Jing terangkat dari tanah.

Terpelanting ke belakang.

Meluncur bermeter-meter di atas tanah yang keras sebelum akhirnya menghantam kerumunan penonton yang tidak sempat menghindar, menjatuhkan dua orang sekaligus sebelum tubuhnya berhenti bergerak.

Sunyi.

Keheningan yang sempurna menyelimuti seluruh halaman itu seperti selimut berat yang dijatuhkan sekaligus. Puluhan pasang mata menatap tubuh Xiao Jing yang tergeletak tidak bergerak, lalu secara bersamaan mengalihkan pandangan ke sosok yang berdiri tenang di tempat yang sama—kepalan tangan yang perlahan dibuka, tatapan yang tidak mencerminkan kepuasan berlebihan maupun kemarahan yang membara.

Hanya dingin.

Seperti orang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang tidak terlalu menarik perhatiannya.

"Bos—!"

Kedua pengikut Xiao Jing berlari mendekati tubuh bos mereka dengan wajah pucat. Namun saat mereka membalikkan tubuhnya—nyali mereka runtuh seketika. Xiao Jing yang selama ini bertingkah seperti predator tak tertandingi kini pingsan dengan hidung yang remuk dan separuh wajahnya sudah membiru. Pukulan itu begitu berat hingga menghancurkan kesadaran seorang kultivator Qi Fondasi dalam satu serangan saja.

"Ba-bagaimana mungkin..." bisik salah seorang penonton dengan suara yang bergetar hampir tidak terdengar. "Dia hanya sampah Pemurnian Qi—"

"Apa kalian berdua juga ingin merasakan hal yang sama?"

Suara Qin Xiang memecah keheningan itu seperti pisau.

Ia melangkah maju—satu langkah, dua langkah—dengan tenang. Tidak terburu-buru, tidak menunjukkan amarah. Namun di setiap langkahnya, ada sesuatu yang tidak kasat mata namun bisa dirasakan oleh kulit dan tulang siapa pun yang berdiri di sana.

Tekanan.

Bukan tekanan Qi yang besar—Qin Xiang belum memiliki kekuatan sebesar itu di tubuh ini. Melainkan tekanan yang lahir dari sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar energi kultivasi. Tekanan dari tatapan seseorang yang pernah berdiri di puncak langit dan menatap ke bawah, yang sudah melihat terlalu banyak pertempuran dan terlalu banyak kematian untuk takut pada ancaman kecil seperti ini.

Glup.

Kedua pengikut Xiao Jing menelan ludah secara bersamaan.

Pikiran mereka hanya menyisakan satu kata.

Lari.

"L-Lari! Bawa Bos dari sini—!"

Mereka merangkul tubuh pingsan Xiao Jing dengan terburu-buru, nyaris tersandung satu sama lain dalam kepanikan untuk menjauh secepatnya. Salah satu dari mereka mencoba menoleh dan berteriak, "Qin Xiang! Kau akan menyesal! Kami tidak akan melupakan penghinaan ini!"

Namun teriakan itu terdengar seperti gonggongan anjing yang berlari dari kucing—keras di mulut, namun kosong dari kekuatan.

Qin Xiang tidak menggubrisnya.

Ia berpaling ke arah kerumunan yang masih berdiri mematung.

Puluhan murid sekte luar menatapnya dengan berbagai campuran ekspresi—keterkejutan, kebingungan, ketakutan, dan sedikit rasa ingin tahu yang belum berani menunjukkan dirinya secara terang-terangan.

Qin Xiang menjelajahi mereka satu per satu dengan tatapan yang tidak tergesa.

Lalu, dengan sangat tenang, ia bertanya:

"Apa kalian semua juga menunggu giliran?"

Wush—!

Dalam hitungan detik, halaman itu bersih. Mereka berlarian ke segala arah seperti burung yang diusir dari pohon, saling sikut dan saling dorong dalam kepanikan yang sama sekali tidak anggun.

Qin Xiang menatap kepergian mereka.

Tidak tertawa. Tidak merasa puas secara berlebihan.

Hanya berdiri dengan tenang di tengah halaman yang kini sunyi, membiarkan angin pagi yang dingin menyapu debu yang beterbangan.

...

Beberapa saat kemudian, berita itu menyebar seperti bara yang ditiup angin—dalam hitungan jam, seluruh asrama murid sekte luar sudah membicarakannya. Di kedai teh, di paviliun latihan, di lorong-lorong asrama yang sempit. Sebagian memuji, tetapi lebih banyak yang meragukan.

Xiao Jing pasti sedang sakit.

Qin Xiang pasti menggunakan racun terlarang.

Tidak mungkin dia menang dengan cara yang jujur.

Bisik-bisik itu mengambang di udara dan akhirnya menghilang, karena tidak ada satu pun yang berani mengucapkannya langsung di hadapan orang yang bersangkutan.

Qin Xiang kini berdiri di depan gubuknya.

Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang masih menyimpan getaran energi yang meluap dari Dantian yang belum terbiasa dengan aliran sebesar ini.

Tangan yang lemah.

Tangan yang cacat.

Jika ia sedikit memaksa lagi, niscaya tangannya akan remuk saat memukul Xiao Jing barusan.

"Ini baru langkah pertama," gumamnya pelan—bukan kepada siapa pun, bukan untuk didengar siapa pun. Hanya pernyataan yang ia buat untuk dirinya sendiri, untuk jiwa tua yang baru saja memulai perjalanan panjang di dalam tubuh yang terlalu muda dan terlalu lemah ini.

Langkah yang sangat kecil.

Menuju jalan yang sangat panjang.

Ia tahu, dengan Hu Xia pergi menjalankan misi sekte, musuh-musuh yang lebih berbahaya dari Xiao Jing akan segera mendeteksi kekosongan itu dan datang mencari gara-gara. Namun kali ini, ia tidak akan menunduk. Tidak akan mundur. Tidak akan menunggu diselamatkan.

Qin Xiang mengangkat wajahnya, menatap langit pagi yang membentang luas di atas sana.

Langit yang sama yang pernah tunduk di bawah telapak tangannya.

Langit yang akan ia raih kembali—tidak peduli berapa lama, tidak peduli berapa jauh.

Sang Kaisar Agung telah kembali.

Dan kali ini, tidak akan ada pengkhianat yang dibiarkan hidup untuk menikamnya dari belakang.

...

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
tetap satu mawar 🌹
Qin Xiang🏆: makasih bro💪
total 1 replies
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹
Qin Xiang🏆
Maaf, kuota author habis jdi baru up/Sweat//Cry/
Agus Rose
Yang Agung mengaku sang Kaisar yg pernah hidup ribuan tahun tapi di bikin bodoh hanya karena perempuan.
alur yang begini yg bikin eneg ,MC di buat oon.
Qin Xiang🏆: Udah author revisi dikit buat jaga martabat Qin Xiang, paling 30 menit lagi baru lulus revisi.

Makasih sarannya bro🗿
total 2 replies
yos helmi
the end... ng usah nunggu up.. dah tamat🤣🤣🤣🤣👍
Qin Xiang🏆: Sabarlah bro, kuota gw habis😭😭😭🤣
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣🤣😍😍😍👍👍
yos helmi
😍😍😍🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
up hanya satu bab = menjauhkan pembaca dari cerita ini 👍👍
Qin Xiang🏆: Sabar bang, kata editor sy fokus naikin retensi dulu😭

Editor novel emang nyaranin untuk lambatin dulu sebelum memasuki bab 80. Nanti kalau 80 bab (semuanya) sudah lulus retensi baru sy berani crazy up🙏🏻
total 1 replies
Risah1112
mantap
budiman_tulungagung
gass satu mawar 🌹
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹 lagi
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹
Jade Meamoure
bukan main malah d ambilkan tubuh kebo 🤣🤣🤣
New Account
Like dan vote
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹 dan satu vote
Ress
mantap💪💪👍👍👍
Ress
/Joyful//Determined//Determined//Determined//Determined/
Ress
Hajar💪👍
Sefa Silves
gass👍👍👍
yos helmi
😍😍😍💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!