Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Eh, gara-gara kamu ya..... Bang Rengga jadi berubah kayak gitu ke aku." Ucap Nissa sambil telunjuknya sedikit mendorong ke bahuku.
"Oya? Yakin... Gara-gara aku?" Jawab ku balik bertanya.
"Iya, kamu udah ngerusak hubungan aku sama Bang Rengga."
"Wait, kamu bilang aku ganggu hubungan kamu sama Bang Rengga. Emang kalian ada hubungan apa ya?"
"Aku calon istri Bang Rengga, gara-gara kamu datang, kami jadi putus."
"Oooo... Calon istrinya Bang Rengga? Benar begitu, Bang?" Tanyaku sambil sedikit mengangkat kepala agar aku bisa melihat langsung wajah Bang Rengga yang saat ini sudah berdiri tepat di belakang Nissa.
"Calon istrinya siapa?" Tanya Bang Rengga.
Nissa tampak salah tingkah dengan wajah yang seketika menjadi pucat. Dia tidak menyangka jika Bang Rengga sudah berdiri di belakang nya.
"Sejak kapan kita punya hubungan, Nissa?" Tanya Bang Rengga.
Nissa hanya diam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Bang Rengga.
"Gini ya, Nissa. Saya selama ini diam melihat sikap dan tingkah laku kamu yang saya rasa itu berlebihan pada saya, juga sikap kamu yang sok Bossy pada teman-teman kamu di butik ini. Jangan kamu pikir saya tidak tahu sifat asli kamu. Selama ini saya diam, karena saya menghargai Tante saya yang minta tolong biar kamu bisa masuk jadi karyawan di butik Mama saya. Karena kamu ikut jadi tulang punggung keluarga kamu. Membiayai sekolah adik kamu yang masih kecil-kecil. Jadi, tolong jaga sikap kamu ke depannya. Karena saya tidak akan sungkan-sungkan lagi. Paham!"
"Paham, Bang!"
"Oke, kali ini saya kasih kamu kesempatan. Sekarang kamu kembali kerja! Jangan makan gaji buta!" ucap Bang Rengga.
Nissa kemudian berbalik sambil menyeka air mata yang menetes dari ujung mata lentiknya.
"Abang jahat banget kalau ngomong, kayak mi setan level 10." ucapku pelan.
"Abang cuma lembut sama kamu, Dek."
"Manis banget ngomongnya, habis gula berapa kilo?" ucapku sambil terkekeh.
"Boleh minta peluk nggak?" tanya Bang Rengga.
"Nggak boleh, sabar ya Abang...!"
"Pelit banget sih!" ucap Bang Rengga sambil sedikit cemberut.
"Udah, jangan cemberut. Ntar gantengnya ilang lhoo!" ucapku sambil melemparkan senyuman.
"Ehm, Pak Rengga. Ini baju pesanannya ya," ucap Mbak Irma sambil mengulurkan dua paper bag.
"Makasih, Mbak Irma. Oh.. Iya. Kenalin, ini Rani."
"Masya Allah, cantik banget calon istrinya, Pak."
"Rani, mbak Irma. " ucapku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan wanita itu.
"Mbak Irma ini tangan kanan Mama, Yang. Jadi next time, kalau kesini pas aku nggak bisa antar, kamu langsung aja cari Mbak Irma ya."
"Iya, Bang."
"Ya sudah, Mbak Irma, kami pamit dulu ya."
"Iya, Pak Rengga. Hati-hati dijalan ya."
"Siap Mbak. Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam."
Sambil terus bergandengan kami keluar dari butik yang baru aku tahu kalau itu punya Mama Sofia.
Setelah duduk di atas motor kesayangan Bang Rengga, lelaki itu kembali bertanya.
"Yang, sekalian ke cafe nggak papa kan? Ada sedikit kerjaan yang harus Abang cek. Sama sekalian kita pilih menu makanan buat hari Minggu nanti. Kamu bisa kan nemenin Abang sebentar?"
"Cafe siapa?" tanya ku bingung karena kurang fokus. Pikiran ku masih tertinggal pada kejadian di butik beberapa waktu lalu.
"Cafe Abang, kamu juga harus tahu kan, kerjaan sampingan Abang apa aja. Siapa tahu kamu bisa bantuin Abang kan," ucap Bang Rengga.
"Boleh, bentar aja kan?" tanyaku.
"Iya, nggak bakal nginep. Siapa juga yang mau nginep di cafe. Adanya juga nginep di hotel terus enak-enak." jawab lelaki itu asal.
"Ooooo, jadi gitu. Selama ini berarti pernah nginep di hotel terus enak-enak gitu?" tanyaku sambil memasang wajah sedikit cemberut.
"Iyalah, emang kalau keluar kota mau tidur dimana kalau nggak di hotel? Di enak-enakin tidur sendiri. Emang kamu pikir enak-enak gimana? Diiih.... Pikiran kamu jelek terus ya sama Abang."
"Iih, nggak gitu juga kali Bang. Habis omongan Abang barusan itu ambigu banget!"
"Nanti enak-enak yang beneran sama kamu habis akad nikah." jawabnya sambil menyalakan mesin motor nya.
Beberapa puluh menit kemudian, kami sampai di sebuah cafe dengan suasana yang pas buat nongkrong anak muda, dengan beberapa spot yang pas buat sekedar foto-foto untuk di unggah di medsos.
"Wow, bagus banget cafe nya Bang."
"Ini cafe udah lama, mulai Abang kuliah. Awalnya Abang buat cuma iseng aja, buat nongkrong sama temen-temen satu geng."
"Iseng aja bisa kayak gini. Coba kalau serius." ucapku sambil terus mengamati sekelilingku. Lumayan ramai, tidak hanya anak muda, ada juga beberapa keluarga dengan membawa anak mereka karena ada spot ramah anak juga.
"Ikut ke ruangan Abang dulu ya, atau mau pesen apa gitu?"
"Nanti ajalah Bang, gampang. Baru makan juga kan," jawabku sambil terus mengikuti langkah kaki Bang Rengga karena lelaki itu masih menggenggam erat jemari tanganku.
Hingga sampai di satu ruangan yang aku yakin itu ruangan Bang Rengga. "Duduk dulu, Yang." ucapnya sambil duduk di sofa yang ada di ruangannya itu. Aku pun duduk di sebelahnya.
Bang Rengga tiba-tiba berdiri dan melangkah ke satu lemari pendingin mini yang ada di ruangannya. Kemudian kembali dengan membawa dua botol air mineral. Dia membuka salah satu segelnya dan menyerahkan padaku.
Aku menerima, karena memang rasanya tenggorokan aku sedikit kering.
"Mau aku pesenin apa di bawah? Camilan atau minuman hangat?" tanya nya sambil melangkah mengambil laptop kemudian terlihat serius dengan laptop yang ada di atas meja itu.
"Lemon tea hangat aja, Bang." ucapku.
"Iya, Abang kerja sebentar ya. Kamu kalau capek bisa masuk ke ruangan pribadi Abang di situ!" ucapnya sambil menunjukkan salah satu sudut yang terdapat pintu.
"Abang sering tidur di sini?" tanyaku.
"Dulu sih, sebelum Abang ada rumah sendiri." jawabnya. "Bentar ya, Abang telpon ke bawah dulu." imbuhnya kemudian menelpon karyawan nya di bawah agar mengantarkan beberapa camilan dan dua Lemon tea hangat.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu ruangan Bang Rengga yang di ketuk.
"Masuk," ucap Abang Rengga.
Seorang karyawan lelaki membawa satu nampan dengan dua gelas Lemon tea hangat, satu piring French fries, dan satu piring pisang geprek yang dia letakkan di atas meja yang ada di depan sofa tempat ku duduk.
"Silahkan, Kak. Bang, aku balik ke bawah dulu ya." pamit karyawan itu.
"Iya, Zal. Makasih ya." ucap Bang Rengga.
"Siap Bang, langsung telpon aja ke bawah kalau butuh apa-apa."
Bang Rengga hanya mengacungkan jempol tangannya kemudian kembali fokus pada laptop di depannya.
"Kak, saya permisi ke bawah dulu."
"Iya, terimakasih ya," jawabku sambil tersenyum.
"Sambil di makan, Yang. Abang nggak lama kok. Cuma ngecek laporan keuangan aja dikit. Kemarin belum selesai, puyeng kepala Abang mau lanjutin."
"Iya, Abang lanjut aja." jawabku sambil terus memperhatikan Bang Rengga yang tampak lebih tampan saat mode serius seperti ini.
"Biasa aja lihatin nya, awas bucin!" goda Bang Rengga.
"Emang nggak risih kalau aku nanti bucin sama Abang?"
"Malah seneng lah, Abang. Kalau kamu sampai bucin. Jadi nggak cuma Abang yang bucin sama kamu." jawabnya sambil tertawa.
Aku hanya menggelengkan kepala. Lalu menikmati Lemon tea hangat itu.
Tidak lama kemudian Bang Rengga terlihat bangun dari duduknya. Dia menggeliat dan sedikit terdengar bunyi gemeretak tubuhnya.
"Capek banget kayaknya," ucapku.
Dia tidak menjawab, tapi langsung duduk dan meletakkan kepalanya di atas pahaku. Aku yang kaget karena tidak mengira dia akan seberani itu. Aku seketika kaku dan tegang, karena tidak terbiasa seperti itu.
"Bentar aja, Yang. Pusing kepala Abang," ucapnya sambil memejamkan mata.
Ku beranikan diri mengusap rambut tebalnya, dengan sesekali memijat kening lelaki itu.
"Enak banget, Yang." ucapnya. "Coba kalau udah nikah, pasti lebih enak lagi. Bisa kelonan, capek-capek pasti langsung ilang."
Ku cubit ringan bibir lelaki itu, "Nih, bibir kalau ngomong kenapa frontal banget ya."
Bang Rengga terkekeh pelan. "Yang, mau menu apa buat acara Minggu besok?"
"Nggak usah repot-repot, Bang. Ntar biar aku pesen sendiri aja. Sama tetangga yang biasa ibu pesan catering pas ada acara hajatan. Nggak papa kan kalau cuma menu sederhana ala kampung aja?" tanyaku.
"Terserah kamu aja, Yang. Pakai uang dari kartu yang Abang kasih kemarin ya. Jangan pakai uang kamu apalagi uang Bapak sama Ibu."
"Tapi, Bang..."
"Nggak ada tapi-tapian... Oke!" ucap Bang Rengga.
"Bang, pulang yuk. Mau Maghrib nih... "
Lelaki itu melihat jam di pergelangan tangannya. "Nanggung, Yang. Habis Magrib aja sekalian ya. Kita sholat dulu di musholla cafe. Kamu kabarin orang rumah, bilang masih nemenin Abang cek Cafe."
Aku hanya menganggukkan kepala. Dalam hatiku, bertanya-tanya. Sekaya apa sebenarnya lelaki yang ada di depanku ini. Dia sama sekali tak terlihat seperti orang berada, justru terlihat sangat sederhana.
Semoga dia lelaki yang tepat, bisa jadi imam yang baik dalam sm rumah tangga kamu nantinya.