Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21 Setelah rapat
Keluar dari ruang rapat semua wajah anggota tim kreatif mendung. Dion benar-benar membuat semua berantakan.
Tidak ada kata apapun yang keluar dari mulut mereka karena masih kesal dan marah. Koridor kantor terasa sangat sunyi karena mereka bertiga berjalan terburu-buru dengan emosi yang tertahan di dada.
Rico tidak kembali ke ruangannya. Setelah mengantar orang W-corp dia mengikuti Fela karena ingin bicara. Mungkin karena ada Rico ketiga anggota tim berusaha tampak tenang.
Padahal gejolak panas dan membara menyerang otak mereka ingin mengamuk. Siska berkali-kali membuang napas kasar, sedangkan Bimo berjalan mendahului dengan langkah-langkah lebar yang menghentak lantai.
Setiba di ruang kubus milik Fela.
Fela langsung berjalan ke balik meja kerjanya tanpa meletakkan remote proyektor dengan benar. Rico menutup pintu kaca ruangan tersebut agar percakapan mereka tidak terdengar sampai ke luar ruangan.
"Itu tadi sungguh mengejutkan, Fela," ujar Rico memulai bincang.
Raut wajah Fela tidak banyak bereaksi. Tatapannya lurus ke depan, namun terlihat kosong dan datar. "Semua orang pasti marah denganku." Tanpa dihakimi, Fela langsung menghakimi dirinya sendiri.
"Aku paham," sahut Rico.
"Tapi ketiga tim ku enggak. Mungkin cuma Mirin yang paham. Karena dia tahu siapa Dion." Fela menundukkan kepalanya sedikit, meraba ujung meja kerjanya yang terasa dingin.
Rico diam sejenak sambil menatap Fela yang menatap ke arah meja kerjanya dengan pandangan kurang fokus. Rico bergeser sedikit, bersandar pada pinggiran meja besi di dekat lemari dokumen agar posisinya bisa lebih sejajar dengan pandangan Fela.
"Tadi itu memang keterlaluan. Pria itu kentara sekali ingin menjatuhkan mu. Aku yakin mereka semua paham. Bukan hanya merendahkan mu, kata-kata itu untuk semua tim juga. Makanya aku mengerti kalau kamu langsung menghapus draft iklan itu di depan pihak W-corp."
Sebagai atasan Fela, Rico cukup bijak. Dia tahu kapan harus menuntut profesionalitas dan kapan harus berdiri membela bawahannya yang sedang ditekan secara pribadi oleh klien.
"Siska, Bimo. Mereka tampak hancur tadi." Fela menyela pelan, mengingat bagaimana ekspresi kedua rekannya yang membeku saat file presentasi itu hilang dari layar dalam sekejap.
"Soal kamu hapus draft itu tidak perlu dipikirkan. Toh, draf itu memang sudah ditolak oleh Pak Dion. Walau kamu tidak menghapusnya, draft itu tidak berguna," kata Rico logis.
Rico menekankan poin itu dengan nada suara yang tegas. Berusaha meyakinkan Fela bahwa mempertahankan file yang sudah ditolak mentah-mentah oleh direktur baru tidak akan mengubah hasil akhir kerja sama mereka.
"Aku paham. Aku tahu makanya aku menghapus draft itu di depan Dion. Tapi sepertinya timku keberatan."
"Jika memikirkan perasaan mereka, ya, tapi jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin kamu juga akan melakukan hal yang sama meskipun bukan dengan W corp. Mungkin lebih lembut cara melakukannya karena lawanmu bukan pria menyebalkan seperti Pak Dion." Rico mengambil sudut pandang lain.
Rico tahu karakter Fela adalah tipe pemimpin yang tegas dan tidak suka membuang-buang waktu dalam perdebatan yang sudah tidak sehat, sehingga tindakan menghapus draf tersebut sebenarnya adalah respon alami Fela untuk menghentikan hinaan Dion yang semakin melebar ke mana-mana.
"Hhh ..." Fela membuang napas. Menggelengkan kepalanya pelan membuang rasa cemas berlebihan tadi. "Terima kasih sudah mengerti aku. Sebagai atasan biasanya kamu harusnya marah. Tapi kamu malah menenangkan aku."
"Aku begini karena mengerti," sahut Rico. "Sepertinya kamu sudah mereda marahnya. Sebaiknya aku pergi. Jangan keluar dulu, lebih baik tinggal dalam ruangan ini dulu untuk meredakan emosi tim mu. Sekarang lagi panas kan. Biar suasana nyaman."
Fela mendengus. "Kamu menyuruhku sembunyi?"
Rico tergelak. "Ideku konyol ya?"
"Sangat," sahut Fela kesal.
"Ya sudahlah. Aku kembali ke ruangan." Rico keluar membuat ruang kubus sunyi.
Rico melangkah pergi dan menutup pintu rapat-rapat. Kepergian pria itu langsung meninggalkan keheningan yang tebal di dalam ruangan persegi tersebut.
Fela duduk diam selama beberapa detik. Mendengarkan sayup-sayup suara dari luar kubus yang menandakan timnya masih berada di area kerja mereka dengan suasana hati yang buruk.
Bruk! Fela menjatuhkan tangannya di atas meja untuk menopang kepalanya. Dia mengusap usap wajahnya. Ia lelah. Batinnya juga lelah.
Kedua sikunya bertumpu di atas permukaan meja yang keras, sementara jemarinya meremas rambutnya sendiri dengan gusar.
Tekanan dari rapat tadi benar-benar menguras seluruh energinya. Rasa lelah fisik akibat begadang menyiapkan materi rapat kini bercampur aduk dengan rasa lelah mental karena harus menghadapi serangan ego dari masa lalunya.
Ini tidak akan mudah. Meskipun semua proyek tidak mudah, ditambah dengan keberadaan Dion makin sulit rasanya menjalani pekerjaan ini, batin Fela frustasi.
Fela memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih bekerja terlalu cepat. Dia tahu persis bahwa hari ini baru sebuah awal, dan Dion tidak akan berhenti mempersulit langkahnya di proyek-proyek berikutnya selama kerja sama dengan W-corp ini masih berjalan.
"Baiklah." Fela seperti sudah punya tekad untuk melakukan sesuatu. Dia bangkot dari duduknya dan menuju pintu. Membuka pintu dan berkata, "Kalian masuk ke ruangnku, semua!" Perintah Fela.
Suara Fela terdengar lantang dan tegas, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti area kubikel luar. Setelah memberikan perintah itu, Fela tidak menunggu jawaban mereka dan langsung berbalik badan masuk kembali ke dalam ruangannya, membiarkan pintu kaca tetap terbuka lebar.
Di area luar, suasana mendadak berubah tegang. Siska dan Bimo saling bertatapan.
"Ada apa nih?" tanya Siska penasaran dan tegang. "Bukan mau marahi kita, kan?" Siska mengecilkan volume suaranya, melirik ke arah pintu ruang Fela dengan cemas sambil merapikan kertas-kertas di mejanya yang berantakan.
"Enggak mungkin. Justru kita yang seharusnya marah kenapa draft itu buru-buru dihapus." Bimo sepertinya kesal. Bimo mendengus pelan, emosinya yang sempat tertahan di ruang rapat tadi kembali naik ke permukaan saat mengingat file kerja keras mereka lenyap begitu saja.
Mirin yang tadi sudah cemas dan ingin menenangkan, kini tambah cemas. Ia tahu ada masalah pribadi antara Fela dan Dion, dan ia takut ketidaktahuan Siska serta Bimo justru akan membuat situasi di dalam ruangan nanti menjadi semakin panas.
"Kita enggak akan tahu kalau enggak ke ruangannya," kata Mirin bijak. Mirin berusaha menengahi agar kedua rekannya tidak menebak-nebak dan memperkeruh suasana hati mereka sendiri.
"Ya. Ayo, cepat kesana." Siska langsung berdiri dengan tergesa. Bimo pun melakukan hal yang sama. Mereka bertiga segera menuju ke ruang Fela.
Mereka berjalan beriringan melewati pembatas kubikel. Langkah Bimo terdengar berat. Sementara Siska berjalan cepat di depannya. Mirin mengikuti di posisi paling belakang sambil bersiap-siap menghadapi apa pun keputusan atau penjelasan yang akan diberikan oleh manajer mereka.