[NIKAH KONTRAK]❗
[OBSESI] ❗
[DARK ROMANCE] ❗
start proses : Juni 2026-Ongoing
by Leni Utami
"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 4
Tak terasa sudah tiga tahun Layla menjalani kehidupan di negri asing ini, dan beruntung kontrak kerjanya di perpanjang selama dua tahun kedepan. Selama tiga tahun itu Layla tidak pernah lagi bertemu dengan pemuda yang di tolongnya itu. Namun akhir-akhir ini saat pulang kerja Layla sering menjumpai seorang pemuda tampan, karismatik dan gagah duduk di bangku halte bus, dulu tempat itu pernah menjadi tempat berbincang Layla dengan pemuda yang di tolongnya. Pemuda itu hanya duduk tenang, di saat yang lain masuk bus dia hanya duduk tenang mengamati, setelah bus pergi dia juga pergi , seolah-olah pemuda itu datang hanya untuk memastikan sesuatu hal yang tidak di inginkannya. Tingkah laku pemuda itu membuat Layla merasa aneh dan dia menganggap pemuda itu orang yang konyol. Tanpa sepengetahuan Layla pemuda itu selalu mengikuti bus yang di tumpangi Layla dengan mobil mewahnya. Setelah bus sampai ke pemberhentian selanjutnya dan menurunkan penumpang termasuk Layla, mobil itu melesat jauh meninggalkan bus di belakangnya. Suatu malam di lain hari yang dingin Layla pulang kerja larut malam karena dia dan temannya harus menyelesaikan pesanan bunga yang membeludak untuk hari Valentine. Kebetulan bis terakhir sudah lewat terpaksa Layla jalan kaki untuk sampai di dorm, namun Layla berhenti istirahat sebentar di halte bus yang biasanya, dan pemuda itu ada di sana.
"Maaf permisi, boleh saya duduk di sini, Tuan?" Layla merasa canggung, ia merasa sedikit takut kepada pemuda itu karena jalanan agak sepi di waktu itu, semua orang sedang menikmati malam valentine di pusat kota.
"Silahkan, jangan merasa takut aku tidak akan menyakiti mu. Aku di sini hanya ingin memastikan seseorang aman pulang dengan selamat," kata pemuda misterius itu.
"Ohh begitu rupanya, anda orang yang baik. Apa seseorang itu pacar anda?" tanya Layla basa basi, lalu pemuda itu menatap Layla dengan tatapan karismatik. Layla di buat salah tingkah olehnya.
"Ohh.... Maaf saya hanya bertanya..." belum sempat Layla menyelesaikan kalimat yang akan di ucapkannya tapi sudah di potong oleh pemuda itu.
"Bukan, dia bukan pacar saya. Saya hanya ingin membalas nya dengan benar," kata pemuda itu sambil tersenyum manis pada Layla, Layla merasa canggung di buatnya.
"Kenapa anda tidak pergi berkencan? Orang seperti anda pasti menjadi incaran banyak wanita cantik." Layla bertanya basa-basi agar suasana tidak terlalu canggung.
"Bolehkah aku menganggap ini sebagai kencan?" tanya pemuda itu.
Pertanyaan itu membuat Layla merasa bingung dan aneh. Dalam pikirnya daripada percakapan itu semakin tidak jelas, Layla pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang.
"Maaf saya permisi, saya duluan ya," Layla berpamitan kepada pemuda itu, namun belum selesai melangkah meninggalkan tempat itu, Layla di cegah oleh pemuda itu untuk pergi.
"Tunggu!" kata pemuda itu sambil memegang tangan Layla dari belakang. Layla sontak kaget dengan apa yang di lakukanya.
"Apa kau tidak mengenalku? Kau tidak ingat aku? Kau sendiri yang menyuruhku untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dari segi fisik dan mental," ucap pemuda itu.
Layla merasa bingung, dia tidak mengerti apa yang di ucapkannya. Layla merasa bahwa itu pertama kali dia bertemu dan berbincang dengan pemuda itu. Layla diam seribu bahasa, dia tidak tau harus menjawab apa. Kemudian pemuda itu melanjutkan kalimat yang ingin di ucapkan nya.
"Apa kau ingat pemuda berbadan gemuk yang kau tolong dari para pembully waktu itu? Itu aku. Sekarang inilah aku. Kau ingat aku?" ucap pemuda itu dengan antusias.
"Woow, kau terlihat sangat berbeda. Aku sama sekali tidak mengenalimu. Maaf, bisakah kau melepaskan tanganmu dariku?" pinta Layla pada pemuda itu. Layla di buat terkejut dengan perubahan yang di alami pemuda itu sekarang.
"Ohh maaf, aku hanya takut kau pergi begitu saja tanpa aku mendapatkan kepastian bahwa kau kenal aku. Namaku Zhao Lee" akhirnya sang pemuda misterius itu mengenalkan diri.
"Baiklah terimakasih karena telah melepaskannya, namaku Layla. Senang bisa bertemu kembali dengan mu dalam keadaan yang lebih baik," kata Layla sambil menjabat tangan Zhao Lee, kemudian Layla duduk kembali dengan tenang dan melanjutkan perbincangan mereka.
"Apa aku benar-benar terlihat sangat berbeda? Apa kau suka Layla?" tanya pemuda itu.
"Yah.. Sepertinya begitu.. Hhe," Layla tertawa canggung.
"Layla menikah lah dengan ku," pinta pemuda itu sambil menyodorkan cincin berlian yang cantik.
Layla tertawa, karena menganggap itu sebagai lelucon belaka, dia pikir malam itu Zhao Lee habis melamar seorang gadis namun di tolak atau dia sedang latihan untuk melamar seseorang.
"Kamu sedang latihan ya? Lucu sekali. Apa segugup itu melamar seorang gadis? Ayolah kawan..., percaya diri lah. Kau pasti berhasil,'' Layla menyemangati Zhao Lee dengan sedikit bercanda.
Melihat respon Layla yang menganggap lamaran ini sebagai lelucon, raut wajah Zhao Lee berubah menjadi serius agar meyakinkan Layla bahwa dirinya benar-benar menginginkan Layla sebagai pasangan hidupnya "Aku melamar mu Layla," tegas Zhao Lee.
Melihat perubahan mimik wajah Zhao Lee, Layla juga menanggapinya dengan serius. Ia menolak Zhao tanpa berbelit-belit "Kalau begitu jawaban ku tidak. Niat ku datang kesini itu murni bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Tidak ada yang lain," tegas Layla.
Melihat penolakan itu Zhao menerima dengan hati yang lapang, namun ia tipe orang yang tidak mudah menyerah dengan takdir, ia sekarang suka menentukan takdirnya sendiri dan mengejarnya hingga dia mendapatkan hasil yang puas "Tidak apa kau menolakku hari ini, mungkin suatu hari kau akan menerimanya" ia memasang senyum manis di depan Layla. Namun otaknya sedang menyusun rencana demi rencana, karena dia tak suka kalah. Ia jatuh cinta pada Layla saat pandangan pertama, Layla adalah cinta pertamanya. Apakah Zhao Lee berhasil memenangkan takdir cintanya?
"Hph konyol" timpal Layla dengan nada yang mengejek.
"Ngomong-ngomong ada banyak bekas luka di tangan mu terutama yang itu," Zhao Lee penasaran sebenarnya apa yang pernah terjadi dalam hidup seorang Layla.
Entah mengapa Layla merasa, pria di sampingnya memberi rasa aman yang sulit dijelaskan. Mungkin karena tiga tahun lalu dialah anak muda yang pernah ia tolong, atau mungkin karena setelah malam ini mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Tidak ada salahnya menceritakan sedikit tentang masa lalunya kepada orang asing yang mungkin tak akan ia jumpai lagi, pikir Layla,
"Bekas kecelakaan mobil. Suamiku meninggal saat melindungiku. Aku juga kehilangan calon anak kami. Setelah itu, hidup harus terus berjalan. Aku tidak boleh menyerah begitu saja," Layla menceritakan masa lalunya dengan singkat.
"Kau tidak pernah berubah, apa kau tidak pernah merasa lelah bekerja di dua tempat?" tanya Zhao Lee pada Layla karena menurut Zhao dia wanita yang hebat dan cantik. Meskipun banyak bekas luka di tangan Layla tapi Zhao menganggap itu sebagai karya seni Tuhan yang indah untuk Layla.
"Ya begitulah, aku tidak punya pilihan lain selain bekerja keras. Ada apa dengan tangan mu? Apa kau terluka?" tanya Layla penasaran.
"Yah sedikit," jawab Zhao.
Kemudian Layla mengambil sapu tangan yang ada di tasnya lalu membalut luka di tangan Zhao Lee.
"Terimakasih, kau selalu seperti ini padaku," Zhao mengucapkan terimakasih dengan sopan dan memasang senyum manis kepada Layla.
"Malam sudah sangat larut, aku harus pulang," Layla benar-benar harus berpamitan pada Zhao karena besok dia harus pergi bekerja di pabrik.
"Aku antar. Apa masih jauh dari sini?" tanya Zhao.
"Tidak, hanya 30 menit dari sini," jawab Layla.
"Ok kita jalan sama-sama," kata Zhao Lee. Ia merasa senang bisa berduaan dengan Layla, ini kesempatannya mengenal lebih jauh Layla. Merekapun setuju untuk jalan seirama, selama dalam perjalanan mereka berbincang hal random, seperti apa yang sedang tren saat ini atau kafe mana yang camilan nya enak. Setelah sampai tujuan mereka berpisah dengan mengucapkan selamat malam. Itu ucapan perpisahan hangat pertama mereka.
...****************...