NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Upaya Pengambil alihan Diam-diam

Di ruang kerja yang sunyi, layar komputer Aldo menampilkan grafik pergerakan saham Grup Pratama selama tiga bulan terakhir. Garis yang menunjukkan akumulasi kepemilikan saham oleh pihak asing terus menanjak perlahan namun pasti—sekarang sudah mencapai 18% dari total saham yang beredar. Angka ini belum cukup untuk menguasai perusahaan, namun sudah cukup untuk menimbulkan kekhawatiran.

Naura berdiri di sampingnya, menatap data yang sama dengan pandangan waspada. "Mereka melakukannya dengan sangat hati-hati, membeli dalam jumlah kecil secara bertahap agar tidak terdeteksi. Jika terus berlanjut, dalam waktu enam bulan ke depan mereka bisa mencapai 25% bahkan lebih."

Aldo mengangguk, rahangnya mengeras. "Tim hukum dan keuangan sudah melacak sumber dana dan identitas di balik perusahaan cangkang yang digunakan untuk membeli saham itu. Selama ini mereka menyembunyikan diri di balik nama-nama perusahaan yang tidak jelas asal-usulnya, tapi kita akan temukan siapa sebenarnya yang memegang kendali."

Beberapa jam kemudian, kepala tim investigasi datang membawa laporan lengkap. "Tuan Aldo, setelah menelusuri aliran dana dan dokumen pendirian perusahaan, kami menemukan bahwa semuanya terhubung ke satu nama: Victor Hartono. Ia adalah keponakan kedua dari almarhum Hartono, yang selama ini tinggal di luar negeri dan tidak pernah terlibat langsung dalam urusan di sini."

"Victor?" gumam Aldo, matanya melebar. "Jadi ini masih ada hubungannya dengan keluarga Hartono? Mereka belum puas meski semua orang yang terlibat sudah diadili dan dipenjara?"

"Sepertinya begitu, Tuan. Informasi yang kami dapatkan menunjukkan bahwa Victor telah mengumpulkan modal dari berbagai sumber selama bertahun-tahun, dengan tujuan utama mengambil alih Grup Pratama. Ia merasa perusahaan ini adalah milik keluarganya, meski Hartono telah dihukum dan haknya dicabut secara hukum," jelas kepala tim investigasi.

Naura menarik napas panjang. "Dendam dan keserakahan ini seolah tidak ada habisnya. Mereka tidak mau menerima kenyataan bahwa keadilan telah ditegakkan dan perusahaan ini milik orang-orang yang membangunnya dengan kejujuran."

"Kita tidak bisa membiarkan mereka terus bergerak bebas," tegas Aldo. "Siapkan langkah-langkah pencegahan. Kita akan mengumumkan rencana pengembangan baru yang meningkatkan nilai perusahaan, sehingga pemegang saham lain tidak akan mudah menjual sahamnya. Selain itu, kita akan mengumpulkan mayoritas saham inti agar posisi kita tetap kuat."

Mereka segera menyusun strategi. Tim keuangan merancang skema penawaran terbatas untuk pemegang saham lama, memberikan hak prioritas untuk membeli saham tambahan dengan harga yang menguntungkan. Sementara itu, tim humas menyebarkan informasi tentang rencana investasi jangka panjang yang akan meningkatkan keuntungan perusahaan secara signifikan.

Namun, Victor tidak tinggal diam. Ia segera mengirimkan perwakilannya untuk bertemu dengan Aldo, mencoba bernegosiasi secara terbuka. Beberapa hari kemudian, seorang pengacara berpakaian rapi datang ke kantor pusat, membawa surat pernyataan resmi dari Victor.

"Tuan Aldo, saya mewakili Tuan Victor Hartono. Ia menyatakan bahwa ia memiliki hak atas sebagian perusahaan ini, dan ia ingin bekerja sama dengan Anda secara damai. Jika Anda bersedia memberikannya posisi dalam manajemen dan bagian keuntungan yang layak, ia akan menghentikan pembelian sahamnya dan bekerja sama membangun perusahaan," ujar pengacara itu dengan nada sopan namun tegas.

Aldo menatapnya dengan dingin, tanpa ekspresi. "Hak? Keluarga Hartono telah kehilangan hak apa pun atas perusahaan ini sejak terbukti terlibat dalam kejahatan dua puluh tahun yang lalu. Semua keputusan telah ditetapkan oleh pengadilan dan tidak bisa diganggu gugat. Tuan Victor tidak memiliki hak apa pun di sini."

"Namun ia telah memiliki hampir 20% saham, dan ia bertekad untuk membeli lebih banyak lagi. Jika Anda menolak kerja sama, ia akan terus berusaha hingga bisa mengendalikan perusahaan ini," ancam pengacara itu.

"Silakan saja coba," jawab Aldo tegas. "Tapi ketahuilah, kami memiliki lebih dari 60% saham yang dipegang oleh keluarga dan pemegang saham inti yang setia. Tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mengambil alih perusahaan ini secara paksa selama kami bersatu."

Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan. Victor semakin bertekad, dan ia mulai menggunakan cara lain untuk memengaruhi situasi. Ia menyebarkan berita negatif tentang Grup Pratama di pasar modal, mencoba menurunkan harga saham agar bisa membeli lebih banyak dengan harga murah. Ia juga mendekati beberapa pemegang saham kecil, menawarkan harga yang jauh lebih tinggi dari harga pasar untuk membeli saham mereka.

Namun, strategi itu tidak berjalan sesuai rencana. Sebagian besar pemegang saham kecil justru semakin percaya pada Grup Pratama setelah melihat komitmen Aldo dan Naura. Mereka melihat bagaimana perusahaan ini berkembang dengan baik, memberikan dividen yang stabil, dan menjalankan bisnis dengan transparan. Banyak yang menolak tawaran Victor, meski harganya terlihat menggiurkan.

"Kita tidak bisa hanya bertahan," kata Naura saat membahas situasi ini. "Kita harus menunjukkan kepada publik dan semua pemegang saham bahwa perusahaan ini kuat dan memiliki masa depan yang cerah. Mari kita adakan rapat umum pemegang saham secara luar biasa, sampaikan rencana-rencana kita secara terbuka, dan tunjukkan bukti bahwa Victor tidak memiliki hak apa pun."

Aldo setuju dengan usulan itu. Segera diumumkan bahwa rapat umum akan diadakan dalam dua minggu ke depan. Selama persiapan berlangsung, mereka juga menemukan bukti bahwa sebagian dana yang digunakan Victor untuk membeli saham berasal dari sumber yang tidak jelas, bahkan ada indikasi pencucian uang.

"Jika ini benar, kita bisa melaporkannya ke otoritas yang berwenang. Ini akan menjadi pukulan telak bagi rencananya," ujar kepala tim hukum.

Hari rapat umum pun tiba. Ruang pertemuan besar dipenuhi oleh ratusan pemegang saham, wartawan, dan pengamat pasar modal. Victor juga hadir, duduk di barisan depan dengan wajah percaya diri, didampingi oleh tim pengacaranya.

Saat sesi pembukaan selesai, Aldo naik ke panggung dan menyampaikan laporan kinerja perusahaan selama ini secara rinci. Ia menampilkan data keuangan yang sehat, proyek-proyek yang sedang berjalan, dan rencana pengembangan ke depan yang menjanjikan.

"Grup Pratama didirikan atas dasar kejujuran dan kerja sama. Selama ini kami telah berusaha memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pemegang saham, karyawan, dan masyarakat. Kami tidak akan pernah menyerahkan kendali perusahaan ini kepada pihak yang memiliki niat buruk dan tidak memiliki hak yang sah," tegas Aldo di hadapan hadirin.

Setelah itu, Victor meminta izin untuk berbicara. Ia mencoba memutarbalikkan fakta, mengklaim bahwa keluarganya memiliki andil besar dalam pendirian perusahaan dan ia berhak mendapatkan bagiannya. Namun, saat ia selesai berbicara, Aldo mempersilakan kepala tim hukum untuk menunjukkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan.

Di layar besar terlihat salinan keputusan pengadilan yang menyatakan pencabutan hak Hartono dan keluarganya, serta bukti bahwa dana yang digunakan Victor berasal dari sumber yang tidak terdaftar dan dicurigai sebagai hasil kejahatan.

"Kami telah menyerahkan bukti ini kepada otoritas pengawas pasar modal dan kepolisian. Jika terbukti benar, tindakan hukum akan diambil terhadap Tuan Victor Hartono atas pelanggaran peraturan dan pencucian uang," jelas kepala tim hukum.

Hadirin yang hadir tertegun melihat bukti yang jelas dan kuat. Suasana yang tadinya ragu-ragu kini berubah menjadi dukungan penuh terhadap manajemen perusahaan. Saat dilakukan pemungutan suara, hampir 90% pemegang saham menyatakan kepercayaannya kepada Aldo dan tim manajemen.

Victor yang melihat rencananya hancur total hanya bisa duduk diam dengan wajah pucat. Ia menyadari bahwa usahanya untuk mengambil alih perusahaan ini tidak akan berhasil, dan bahkan ia bisa terjerat masalah hukum yang lebih besar.

Beberapa hari kemudian, otoritas yang berwenang memblokir rekening dan aset yang dimiliki Victor untuk penyelidikan lebih lanjut. Ia terpaksa berhenti dari usahanya dan kembali ke luar negeri, tidak berani lagi menimbulkan masalah.

"Kita berhasil melewatinya lagi," ujar Naura sambil tersenyum lega setelah semuanya selesai. Mereka sedang duduk di ruang tamu, melihat Arka yang sudah mulai bisa berjalan dengan langkah-langkah kecilnya.

Aldo memeluk istrinya dari samping. "Ya. Tapi ini mengajarkan kita bahwa selama kita berpegang teguh pada kebenaran dan bersatu, tidak ada yang bisa mengalahkan kita. Semua rencana jahat pada akhirnya akan terungkap dan gagal."

Namun, ketenangan mereka kembali diuji dengan kabar yang datang dari arah yang tidak terduga. Sebuah yayasan penelitian internasional mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam proyek besar yang bertujuan mengembangkan teknologi ramah lingkungan untuk industri. Proyek ini memiliki dampak yang sangat luas, namun juga membutuhkan komitmen sumber daya dan waktu yang sangat besar. Keputusan yang akan mereka ambil kali ini akan membuka babak baru dalam perjalanan mereka—bukan lagi sekadar mempertahankan apa yang dimiliki, melainkan membangun sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang di seluruh dunia.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!