SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 INGAT DENGAN USTADZ FURQON
Mas Anto pun masuk ke dalam rumah. Dan ia mendapati Bu Fitri sedang duduk santai sambil menonton televisi di ruang tamu.
"Dek, Gendis kemana?" tanya Mas Anto.
"Dia tadi ke kamarnya Mas." jawab Bu Fitri dengan santainya, tanpa menoleh ke arah kakak kandungnya itu.
Mas Anto pun kembali menggeleng pelan, sambil mengucap istighfar dalam hati.
Ada perasaan dalam hati Mas Anto untuk ke kamar Gendis saja, tapi...
Di saat yang bersamaan, hatinya seperti memerintahkan untuk bicara juga dengan adik kandungnya itu.
Akhirnya Mas Anto pun duduk di sebelah Bu Fitri. Sejenak, ia melihat juga siaran televisi. Lalu menoleh ke arah Bu Fitri.
"Dek..."
"Hmm? Kenapa Mas?"
"Kamu udah paham kan gimana sifat Mas dari dulu?"
"Hmm? Maksudnya? Kok tiba-tiba ngomong gitu Mas? Ada apa emangnya?" jawab Bu Fitri, kali ini ia teralihkan keseriusannya pada kakak kandungnya itu.
"Mas dari dulu, selalu jadi seorang kakak yang ngomong apa adanya kan Dek?"
"Iya Mas, terus?"
"Sekarang Mas mau ngomong sama kamu ya Dek."
"Mau ngomong apa sih Mas?"
"Tolong, jangan terusin lagi semua caramu ini Dek."
Bu Fitri pun menjadi sedikit bingung, sambil menatap wajah Mas Anto.
"Emm... Ma-maksudnya Mas?" tanya Bu Fitri.
Mas Anto pun menarik napas, dan mencoba memilih kata yang akan diucapkan selanjutnya.
"Jangan pura-pura gak ngerti gitu Dek." kata Mas Anto.
Dengan semakin bingung, Bu Fitri bertanya lagi, "Maksudnya apa Mas? Aku gak ngerti."
"Ya udah, kalo kamu gak ngerti, Mas sekarang tanya aja langsung sama kamu ya."
"Apa Mas?"
"Semalam, kamu habis dari mana sama suamimu?"
Mendengar pertanyaan kakak kandungnya itu, sontak membuat Bu Fitri pun bergelagat sama persis seperti suaminya.
"Eh, emm... Anu Mas... Emm..." jawab Bu Fitri kebingungan untuk menjawab.
"Dari mana?" desak Mas Anto.
"Emm... Anu... Aku sama suamiku, semalam... Emm..."
"Jawab jujur sama Mas Dek!" kembali desak Mas Anto.
"Emm... Anuuu... Habis dari rumah bos suamiku kok Mas..."
"Hah? Apa? Bos?" jawab Mas Anto yang justru menjadi bingung juga.
"Eh, bukan bos, tapi... Anuuu... Eh, iya deh, bos suamiku Mas."
Mas Anto menatap wajah adiknya itu dengan ekspresi bingung yang tak bisa dijelaskan.
"Apa sih maksudmu Dek? Bos apa?"
"Iya Mas, bos... Bos rumah makan..."
"Hah? Bos rumah makan?"
Semakin heran Mas Anto dengan jawaban-jawaban adik kandungnya itu yang semakin tak masuk akal sehatnya.
Namun...
Di sisi lain, dalam hati Mas Anto semakin kuat dugaan, bahwa memang benar apa yang sudah diketahui olehnya tentang semua kekayaan keluarga adiknya itu, memang bukan dari cara yang wajar!
Akhirnya, Mas Anto tanpa panjang kata lagi, ia meminta kepada Bu Fitri, sama persis seperti yang sudah diucap pada Pak Diki di halaman barusan.
"Tolong ya Dek, hentikan semua caramu mendapatkan kekayaan ini!"
Dan ekspresi wajah Bu Fitri pun sama persis seperti sang suami...
Heran... Bingung... Merasa sudah ketahuan...
Di saat Bu Fitri tak bisa menjawab apapun, Mas Anto pun meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Mas Anto segera beranjak ke kamar Gendis di lantai dua.
Ia ingin mencoba menenangkan hati, batin, dan juga pikirannya.
Ia ingin menghabiskan waktu, hanya dengan ditemani oleh Gendis.
Sekaligus...
Mas Anto ingin menawarkan sesuatu pada keponakannya itu...
Karena, Mas Anto, tanpa disengaja...
Dengan tiba-tiba teringat pada satu nama...
USTADZ FURQON.
😆😆 lanjut kak👍👍👍