Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03. Teror dimulai
Aruna mendengus, tidak mau kalah. "Terserah! Intinya, kita tidak pernah saling kenal!"
Tanpa menunggu balasan lagi, Aruna berbalik, menyambar kunci apartemen yang untungnya menggantung di dekat pintu, lalu membuka gerendel dengan tangan gemetar. Ia melesat keluar ke koridor apartemen seolah-olah sedang dikejar oleh hantu masa lalu.
Gubrak!
Pintu apartemen tertutup rapat. Aruna bersandar pada daun pintu yang dingin, dadanya naik turun mengatur napas yang memburu. Di dalam koridor yang sepi itu, ia merutuki kebodohannya habis-habisan.
Sementara itu, di dalam kamar, gavin masih berdiri di posisi yang sama. Ia menatap pintu yang baru saja ditutup dengan dentuman keras. Senyum miring kembali terbit di wajahnya. Jarinya bergerak mengambil ponsel di atas nakas, membuka ruang obrolan dengan evan
‘Van, sepupu lo yang namanya Aruna... ternyata aslinya lebih menggemaskan daripada yang sering lo ceritain.’
Gavin mengetik kalimat itu, namun tidak mengirimkannya. Ia menghapusnya kembali sambil tersenyum misterius. Menghadapi wanita matang yang penuh gengsi seperti Aruna ternyata jauh lebih menarik daripada membunuh para penyusup.
***
Lobi gedung pencakar langit mahesa grup itu dipadati oleh para pekerja korporat yang berjalan tergesa dengan segelas kopi di tangan. Di antara hiruk-pikuk itu, Aruna melangkah keluar dari lift dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
Penampilannya pagi ini adalah sebuah bencana nasional bagi seorang manajer pemasaran.
Rambutnya yang biasa tersanggul rapi kini hanya dicepol asal menggunakan jepitan badai milik resepsionis apartemen yang sempat ia pinjam secara sepihak. Blazer hitamnya kusut di bagian lengan, dan yang paling parah, ia terpaksa berjalan sedikit pincang karena tumit kaki kanannya lecet parah akibat dipaksa memakai sepatu hak tinggi tujuh sentimeter tanpa kaus kaki.
"Selamat pagi, Bu Aruna," sapa sekretarisnya, Tiara, yang langsung berdiri saat melihat bosnya lewat. Namun, langkah Tiara langsung tertahan. Matanya mengerjap beberapa kali, menatap Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan ekspresi horor yang tertahan. "Uh... Bu Aruna sehat?"
Aruna menghentikan langkahnya, menegakkan punggung, dan memasang wajah sedatar mungkin. "Saya sehat. Kenapa?"
"Itu... Bu..." Tiara menunjuk ragu-ragu ke arah leher Aruna.
"Kemeja Ibu... kancing bagian atasnya salah masuk lubang. Dan... ada sedikit noda kemerahan di dekat kerah."
Jantung Aruna serasa melompat ke tenggorokan. Sialan kamu, Gavin! Aruna membatin histeris. Ia buru-buru menarik kerah blazer-nya untuk menutupi leher, sementara tangan kirinya dengan cepat membetulkan posisi kancing kemejanya yang berantakan.
"Ah, ini... tadi di jalan saya buru-buru karena takut telat rapat koordinasi," alibi Aruna, suaranya diusahakan tetap tegas dan berwibawa meskipun wajahnya sudah terasa panas.
"Lalu soal noda merah... saya tidak sengaja kena tumpahan cipratan saus soto saat lewat di depan kantin basement. Ya, soto."Tiara mengangguk-angguk, walau matanya memancarkan keraguan yang sangat besar. Sejak kapan saus soto berbentuk mirip bekas gigitan? pikir Tiara, namun ia cukup tahu diri untuk tidak menanyakan hal itu pada bosnya yang terkenal galak.
"Bagus. Sekarang tolong buatkan saya Double Shot Iced Americano, tanpa gula. Antar ke ruangan saya dalam lima menit," perintah Aruna cepat, memotong semua kemungkinan Tiara untuk bertanya lebih lanjut.
"Baik, Bu."
Aruna langsung melesat masuk ke dalam ruang kerjanya yang berdinding kaca tebal, mengunci pintu dari dalam, dan langsung menyandarkan tubuhnya ke meja kerja. Ia menghela napas panjang seolah baru saja lolos dari kejaran singa.
Saat ia duduk di kursi kebesarannya dan membuka cermin kecil dari dalam laci, Aruna memekik pelan. Di pantulan cermin, noda kemerahan di lehernya terlihat sangat jelas. Bukan saus soto, melainkan jejak kepemilikan yang ditinggalkan oleh mahasiswa berumur sembilan belas tahun semalam. Aruna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Gila. Kamu benar-benar gila, Aruna. Bagaimana bisa kamu sekonyol ini hanya karena stres dikejar target nikah?!"
Di tengah kepanikannya merutuki diri sendiri, ponsel di atas meja tiba-tiba berdenting nyaring. Sebuah pesan chat masuk dari nomor yang tidak dikenal.
'Kak Aruna, ini Gavin. Jangan lupa pakai syal atau penutup leher di kantor ya. Maaf, semalam saya agak lepas kendali karena Kakak terlalu cantik. Semangat kerjanya! 😉’
Aruna hampir saja melempar ponselnya ke dinding. Bagaimana bocah itu bisa mendapatkan nomor telepon pribadinya? Detik itu juga, Aruna sadar, pelariannya pagi ini sama sekali belum berakhir. Gavin baru saja memulai permainannya. Tak lama pintunya di ketuk dengan tergesa, aruna segera membuka kunci pintu itu, muncul lah nares dan langsung mengunci ruangan, nares melihat keadaan aruna begitu mengbagongkan. Ia takjub dengan hasil karya lelaki yang meniduri sahabatnya itu
" Jangan bilang ini ulah gavin?" ucap nares
" oh shit!!! Runa lo ngeperkosa bocah ingusan?!!!' ucap nares antara antusias , terkejut dan senang
" Gila! Runa, sumpah demi apa pun, lo beneran dicicipin sama berondong?!" Nareswari histeris, untung saja ruangan itu kedap suara, jika tidak, seluruh karyawan lantai itu pasti sudah berkerumun di depan pintu.
" Res, gw juga gak tau, alkohol sialan emang! jantung gw kaya udah mau copot res, dia seumuran adek gw!!!! Baru lulus SMA!! Semalam gue mabuk berat, dia juga bilang keluarganya bebas nggak ada aturan. Mana gue tahu kalau dia seumuran sama Stella!"
Nares yang awalnya syok, kini malah tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. Ia duduk di sofa ruang kerja Aruna, menatap sahabatnya yang tampak sangat berantakan dengan leher penuh tanda kemerahan.
"Aduh, Runa... medusa Mahesa Grup yang terkenal paling kejam kalau nolak cowok, akhirnya tumbang di tangan anak kuliah tingkat awal. Ini kalau Ethan sama Evan tahu, mereka bakal tumpengan tujuh hari tujuh malam!" ledek Nares puas.
"Jangan sampai mereka tahu, Nares!" Aruna menegakkan tubuhnya, menatap Nares dengan pandangan almond-eyesnya yang sangat judes dan penuh ancaman.
"Kalau Ethan sama Evan tahu, abis gue diledekin seumur hidup. Belum lagi bokap nyokap gue. Bisa-bisa gue langsung diseret ke pelaminan sama bocah ingusan itu!"
***
Sementara Aruna sibuk merutuki nasibnya. Gavin justru melangkah santai keluar dari gedung apartemen. Ia hanya mengenakan kaus oblong hitam polos, celana jin belel, dan jaket denim longgar. Kontras dengan penampilannya yang kasual, tujuan Gavin pagi ini adalah tempat paling formal sekaligus paling berbahaya bagi orang awam, lantai teratas sebuah gedung pencakar langit milik kakaknya, Dominic Alexsei Sterling.
Bagi dunia luar, Dom adalah pengusaha properti sukses dengan nama besar Caspian sang ayah di belakang Dom. Bagi dunia bawah tanah, Dom dalah sosok mafia dingin yang mengendalikan jalur bisnis gelap benua ini.
"Pagi, Bos Kecil," sapa dua pria berbadan tegap dengan jas hitam dan earpiece yang berjaga di depan lift pribadi lantai paling atas. Mereka menunduk hormat saat Gavin lewat. Gavin hanya membalasnya dengan lambaian tangan malas.
Begitu pintu ruang kerja mewah berlapis marmer hitam itu terbuka, aroma cerutu mahal langsung menyengat indra penciuman Gavin. Di balik meja kayu jati besar, Dom sedang memeriksa beberapa dokumen tebal, didampingi tangan kanannya yang berwajah penuh luka parut.
"Tumben jam segini sudah mampir. daftar ilangmu sudah selesai?" suara Dom terdengar berat dan intimidatif, tipe suara yang bisa membuat nyali musuh-musuhnya menciut dalam sekali gertak.
Gavin tanpa permisi langsung menjatuhkan dirinya ke sofa kulit mewah di sudut ruangan, menyandarkan kepalanya, lalu tersenyum miring. Sisa-sisa kepuasan dari malam semalam bersama Aruna masih tercetak jelas di wajahnya. Pening akibat alkohol semalam bahkan kalah oleh rasa manis yang tertinggal di benaknya.
Dom yang merasa aneh menghentikan aktivitasnya, menatap adiknya dengan sebelah alis terangkat. Sebagai seorang kepala keluarga mafia, ia sangat peka terhadap perubahan insting orang-orang di sekitarnya.
"Kamu bau parfum wanita. Mahal. Bukan tipe wanita murahan yang biasa ada di kelab malam tempat kamu nongkrong dengan Evan dan Rey"
Gavin terkekeh pelan, sama sekali tidak gentar dengan tatapan tajam kakaknya.
"Kak, kalau aku bilang aku baru saja menemukan calon adik ipar untukmu, bagaimana?"
Tangan kanan anak buah Dom mendadak menyentuh senjata di pinggangnya, merasa ada ancaman atau mata-mata yang mendekati keluarga mereka, namun Dom mengangkat tangan, menginstruksikan anak buahnya untuk mundur.
"Siapa dia? Anak buah kelompok rival? Atau putri dari rekan bisnisku?" tanya Dom dingin, menginterogasi.
"Bukan kelompok rival, putri rekan bisnis mungkin. Dia wanita karier biasa. Mandiri, galak, penuh gengsi, dan... usianya enam tahun di atas usiaku," jawab Gavin santai sambil memutar-mutar ponselnya di tangan.
"Tadi pagi dia kabur ketakutan sampai salah memasang kancing kemejanya sendiri."
Dom mengembuskan asap cerutunya, menatap Gavin dengan pandangan menilai.
"Wanita berumur dua puluh lima tahun?"
" Gavin, kamu tahu kan keluarga kita tidak punya waktu untuk drama percintaan anak kuliahan? Jika wanita itu tahu siapa kita sebenarnya, dia bisa menjadi titik lemahmu. Atau lebih buruk, dia ketakutan dan melaporkanmu."
"Dia nggak akan tahu, Kak. Setidaknya belum saatnya," balas gavin, matanya yang biasa terlihat polos kini berkilat dengan ketegasan yang mirip dengan Dom, darah mafia yang mengalir di tubuh mereka tidak bisa berbohong.
"Lagi pula, dia akan bisa berima, dia sepupunya Evan dan Ethan. Bukankah keturunan erros berhubungan baik dengan kita?"
" Hanya Ethan dan Evan dari keturunan Erros yang tau siapa kita sebenarnya Lex. " Jelas Dom
" Ok, tenang saja ka. Aku yang akan maju duluan. Kalau dia butuh dilepaskan dari perjodohan orang tuanya, aku punya cara legal untuk membantunya."
Gavin bangkit dari sofa, berjalan menuju pintu keluar dengan gaya santai yang mematikan. Sebelum menutup pintu, ia menoleh ke arah Dom.
"Oh ya Kak, minta anak buahmu carikan info detail tentang Manajer Pemasaran di gedung seberang. Namanya Aruna. Aku butuh semua datanya sebelum makan siang."
***