NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Mencari celah untuk bertemu

“Sudah bisa mencari informasi tentang Nadine yang datang ke Rumah Sakit Sembuh Sehat?” tanya Fregy.

Gerry menundukkan kepalanya sebentar sebelum kembali menatap Adinata dan Fregy yang duduk bersebelahan. “Sedang saya usahakan, Tuan.”

Adinata memberi tatapan menyelidik ke arah Gerry. “Tempat Xavier bekerja?”

“Iya, Tuan. Saya sudah meminta bantuan dengan Tuan Xavier.”

“Dia akan membantu?”

“Pertanyaan bodoh. Xavier akan membantu. Tidak mungkin dia tidak akan membantu.” Fregy membalas ucapan Adinata. “Beberapa hari ini dia sedang disibukkan dengan pasien baru dari beberapa kota. Entah kenapa tiba-tiba banyak perempuan hamil memeriksakan kehamilannya dengan Xavier.”

“Xavier idola ibu-ibu. Kalau kamu lupa, Freg,” balas Adinata.

Diantara mereka berempat, Xavier yang lebih menonjol di mata ibu-ibu dan setelahnya baru Adinata yang ikut menonjolkan pesonanya.

“Jangan terlalu menunggu Xavier. Siapa pemilik rumah sakitnya?”

“Tuan Reksanio,” jawab Gerry.

Fregy memberi tatapan tanya. “Sepertinya akan sedikit sulit kalau menunggu Xavier.”

“Siapa dia?”

“Calon kakak ipar Xavier,” balas Fregy. “Entah ipar beneran atau tidak jadi.”

“Dia saudara Mevola?”

Fregy menganggukkan kepalanya. “Kakak kandung laki-laki Mevola.”

Mevola—pacar Xavier. Semua sahabat Xavier mengetahui kisah cinta tanpa restu yang sedang dijalani Xavier dan Mevola.

Adinata menghela napas. Sepertinya dia tidak bisa berharap lebih dengan Xavier. “Aku akan membuat janji untuk bertemu dengan Reksanio.”

“Kamu bisa mengaturnya, Ger,” lanjut Adinata.

Gerry menganggukkan kepalanya. “Janji pertemuan untuk apa, Tuan? Biar saya buatkan janji atas nama Anda.”

Fregy menatap Adinata. “Kamu tidak mungkin langsung berbicara terus terangnya, Ad. Itu namanya tidak profesional. Apalagi dengan jabatanmu sekarang.”

Jabatan yang masih mengambang karena warisan keluarga belum benar-benar diputuskan secara sah.

“Lalu?”

“Kamu bisa membuat jadwal temu di ketidaksengajaan,” balas Fregy.

Adinata tertawa. “Tidak. Aku tidak ada waktu. Kamu kira aku sesabar itu untuk menunggu?”

Fregy menghela napas. “Kamu mau pergi sekarang? Tidak lihat dokumen di depanmu yang perlu kamu palsukan tanda tangannya?”

Adinata menatap dokumen yang Fregy maksud.

“Jika tidak segera kamu tanda tangani dan aku sembunyikan, besar kemungkinan kalau kamu akan jatuh miskin, Ad,” ejek Fregy. Setelahnya dia menghembuskan napasnya. “Jangan memperlambat semuanya. Ambil dulu bagian milikmu sebelum membawa Nadine pulang. Percayakan saja Nadine kepada Gerry dan orang suruhanmu.”

Adinata menganggukkan kepalanya. “Ya.”

“Lindungi Nadine dari kejauhan. Berikan apapun yang Nadine butuhkan tanpa dia tahu kalau itu dariku.” Adinata menarik napasnya dengan berat. “Kamu bisa kembali bekerja, Ger.”

“Baik, Tuan. Saya permisi.”

Tinggallah Adinata dan Fregy yang berada di dalam ruang kerja Adinata.

“Kamu yakin akan melakukan ini?”

“Untuk Nadine, akan aku lakukan apapun.”

Fregy menghela napas. “Baiklah. Lakukan sesukamu.”

Adinata tertawa kecil. “Kamu tidak mungkin akan diam saja ketika aku terjerat pidana, Freg.”

Fregy menganggukkan kepalanya. “Kurang setia kawan apalagi aku denganmu, Ad?”

“Terima kasih atas bantuanmu,” ucap Adinata. Ucapannya mengandung ketulusan untuk sang sahabat yang dia paling harapkan.

“Bantuan tutup mulut,” balas Fregy dengan nada jenaka. “Pekerjaan yang kamu berikan kepadaku cukup mudah untuk aku lakukan, kecuali tutup mulutnya yang sangat-sangat membuat diriku merasa bersalah, Ad.”

“Hanya kamu yang merasa bersalah, sedangkan aku tidak.” Adinata menggelengkan kepalanya sambil mencatat poin-poin baru yang memberinya banyak keuntungan.

Fregy menatap Adinata yang masih mencatat. “Buat poin yang kamu tulis terdengar masuk akal, Ad. Jangan kamu tambahkan semua hal yang menguntungkan untukmu. Orang lain bisa curiga kalau kamu memang benar memalsukan dokumen milik mendiang eyangmu.”

“Kamu kira para orang tua dan sepupuku tidak melakukan hal yang sama denganku, Freg? Mereka bahkan lebih parah.” Adinata mendecakkan bibirnya. “Yang ‘ku lakukan saat ini adalah hasil dari aku melihat yang sedang dilakukan eyangku di masa lalu.”

Fregy tertawa kecil. “Bagaimana dengan stempel keasliannya, Ad?”

“Aku bisa langsung membakarnya ketika selesai dengan tujuanku karena stempel tersebut hanya ada 1 dan itu ada di tanganku.”

“Kamu benar-benar tidak takut dosa dengan orang tuamu?”

“Mereka lebih berdosa,” balas Adinata dengan nada teramat santai tanpa ada ketakutan. “Sudahlah, Freg. Tindakan ilegal di keluargaku sudah dilakukan turun-temurun. Aku hanya berdoa semoga cukup sampai di diriku saja. Tidak perlu sampai ke keturunanku dan seterusnya.”

“Bagaimana kalau di masa depan anakmu mencontoh yang kamu lakukan?”

Adinata tertawa kecil. “Anakku tidak akan mencontoh tindakanku karena aku melakukannya sebelum dia ada di dunia ini.”

Fregy menggelengkan kepalanya. Dia menatap Adinata dengan tatapan kagum karena kelicikan di pikiran Adinata yang tidak ada habisnya. “Kenapa tidak segera membuat keponakan untukku disaat kamu masih bersama dengan Nadine?”

Adinata menatap Fregy. “Belum ada waktu.”

“Waktu? Kurang banyak waktu tidur berdua dengan Nadine di banyak tempat yang kamu singgahi, Ad?!”

Adinata menghembuskan napasnya. “Mungkin anakku belum ingin hadir karena sang ayah masih penuh aura keburukan.”

Fregy tertawa. “Mana mungkin.”

“Sudahlah, aku akan membuat kopi di luar. Kamu mau titip atau tidak?”

“Boleh,” balas Adinata.

Fregy melangkahkan kakinya membuka pintu ruangan Adinata dan melangkahkan kakinya ke tujuan pertamanya setelah keluar dari ruang kerja Adinata di perusahaan.

“Ger,” panggil Fregy.

“Iya, Tuan.”

“Laporkan kepadaku terlebih dahulu tentang orang suruhanmu yang mengawasi Nadine sebelum kamu berbicara dengan Adinata.”

Fregy merasa ada yang tidak beres dengan yang sedang Xavier lakukan.

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!