NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosok Asing di Ruang Tamu

Kayla berjalan setengah berlari menuju gerbang sekolah, mengabaikan teriakan Arka yang berulang kali memanggil namanya dari kejauhan. Begitu melihat sebuah taksi biru yang kebetulan sedang menurunkan penumpang di seberang jalan, Kayla langsung melambaikan tangannya cepat. Ia membuka pintu taksi, melompat ke kursi belakang, dan menyuruh sopir segera melaju sebelum motor Arka sempat mengejarnya.

Sepanjang perjalanan pulang, Kayla menyandarkan kepalanya di kaca jendela taksi. Jantungnya masih berdegup kencang karena emosi yang campur aduk. Di satu sisi ia merasa bersalah telah membentak Arka, sahabat terbaiknya. Namun di sisi lain, sesak di dadanya sudah telanjur penuh. Ia tidak butuh diceramahi hari ini.

Taksi akhirnya berhenti di depan pagar rumah bernuansa krem itu. Kayla membayar ongkos, lalu turun dengan langkah gontai. Namun, begitu kakinya menginjak halaman rumah, dahi Kayla berkerut. Pintu utama rumahnya terbuka lebar—sesuatu yang sangat jarang terjadi mengingat rumah ini biasanya selalu sepi seperti kuburan.

Saat melangkah lebih dekat ke arah teras, lamat-lamat Kayla mendapati suara tawa kecil seorang perempuan yang sedang mengobrol akrab dengan ayahnya. Suara itu terdengar asing, renyah, dan dipenuhi kehangatan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Kayla rasakan di dalam rumah ini.

Seketika, perasaan tidak enak mulai merayapi tengkuk Kayla.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Kayla mendorong pintu rumahnya yang setengah terbuka. Begitu pintu berderit, pemandangan di ruang tamu langsung menyapa matanya. Di sana, duduk seorang perempuan cantik, berwajah anggun dengan pakaian yang rapi dan elegan. Wanita itu duduk berseberangan dengan Pak Hendra di sofa ruang tamu, dengan dua cangkir teh hangat yang masih mengepul di atas meja kaca. Mereka berdua terlihat sangat dekat, seolah-olah sudah memiliki dunia sendiri.

Kedatangan Kayla yang tiba-tiba membuat obrolan di antara kedua orang dewasa itu terhenti. Pak Hendra langsung menoleh, wajahnya seketika cerah melihat anak gadisnya sudah pulang.

"Eh, Kayla, kamu udah pulang?" sapa Pak Hendra sambil berdiri dari sofa. Ia tersenyum lebar, lalu mengisyaratkan Kayla untuk mendekat dengan lambaian tangannya. "Sini, Nak. Ini ada tamu Papih. Sini kenalan dulu."

Kayla memaku langkahnya di ambang pintu. Ia menatap wanita asing itu dari atas ke bawah. Dadanya mendadak bergemuruh hebat, bergejolak oleh rasa tidak percaya dan amarah yang tiba-tiba naik ke ubun-ubun. Pertanyaan-pertanyaan besar langsung berputar di kepalanya.

Siapa wanita ini? Kenapa dia bisa duduk di sana seolah dia adalah nyonya rumah? Di mana rasa bersalah Papih pada Mommy sampai-sampai berani membawa perempuan lain ke rumah ini?

Melihat Kayla yang hanya diam membeku dengan tatapan mata menusuk, wanita anggun itu perlahan berdiri. Ia melemparkan senyuman yang sangat ramah, tipe senyuman tulus yang seharusnya menenangkan, namun di mata Kayla, senyuman itu justru terlihat seperti sebuah ancaman.

"Gak minat. Sorry," ucap Kayla ketus, ketajamannya memotong atmosfer hangat di ruangan itu.

Tanpa menghampiri Papihnya, tanpa menyalami wanita itu, dan tanpa memedulikan sopan santun lagi, Kayla langsung berbalik. Ia mengentakkan kakinya kasar, melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Suara pintu kamar yang dibanting keras dari atas terdengar menggema ke seluruh penjuru rumah, meninggalkan keheningan yang canggung di lantai bawah.

Di ruang tamu, Pak Hendra hanya bisa memejamkan mata sesaat, menahan rasa malu sekaligus sedih atas kelakuan putrinya. Ia menghela napas panjang yang terasa sangat berat, lalu kembali duduk di hadapan wanita itu dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Maaf ya, Dek. Kayla memang agak keras kepala. Sejak ibunya pergi, sikapnya jadi makin susah diatur," ucap Pak Hendra lirih, suaranya sarat akan beban batin yang dipendamnya sendiri selama tiga tahun ini. Ia takut kelakuan Kayla akan membuat wanita di hadapannya ini merasa tidak nyaman atau mengurungkan niat untuk masuk ke dalam hidup mereka.

Mendengar permintaan maaf yang tulus itu, wanita yang ternyata bernama Hesti itu tersenyum tipis. Sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa marah atau tersinggung. Ia justru mengangguk paham, menunjukkan kedewasaan dan ketenangan seorang wanita yang matang.

"Oh, iya, nggak apa-apa kok, Mas. Saya mengerti," jawab Hesti dengan suara tenang yang menyejukkan hati Pak Hendra. "Wajar kalau Kayla bersikap seperti itu. Dia pasti kaget, dan butuh waktu untuk bisa menerima kehadiran orang baru di rumah ini. Lagian dia masih remaja emosinya juga masih labil.Mas Hendra nggak usah merasa bersalah, ya."

Pak Hendra menatap Hesti dengan pandangan penuh rasa syukur. Di dalam hatinya, ia semakin yakin bahwa keputusannya untuk melangkah ke jenjang pernikahan bersama Hesti,menjadikanya pendamping hidup sekaligus ibu baru bagi Kayla adalah hal yang tepat, meskipun ia tahu, jalan menuju ke sana tidak akan pernah mudah.

"dek,Mas rasa Mas sudah yakin kalo kamu yang terbaik buat Mas"pak Hendra menghela nafas panjang menjeda kalimatnya.

"Mas..Mas mau serius sama kamu!kamu..kamu mau gak jadi istri Mas"ucap pak Hendra penuh harap menatap dalam ke arah manik mata Hesti yang cantik.

Hesti membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman manis,meskipun ia belum lama mengenal pak Hendra—tapi ia merasa yakin kalo pak Hendra adalah orang yang tepat untuknya yang sudah lama melajang.

"iya,Mas.saya mau"jawab hesti tanpa ragu.

pak Hendra yang mendengar jawaban Hesti tak bisa menahan rasa senangnya."makasih ya dek,"ucap pak Hendra dengan mata berbinar.

Sementara itu, di dalam kamarnya yang terkunci rapat, Kayla melemparkan tas ranselnya ke lantai hingga isinya berhamburan. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, menutupi wajahnya dengan bantal, dan mulai terisak pelan. Rasa rindu pada Mommy-nya yang melempoh sejak di sekolah tadi, kini bercampur aduk dengan rasa dikhianati oleh ayahnya sendiri.

Rumah ini benar-benar sudah bukan miliknya lagi.

Ting

sebuah notifikasi menampilkan sebuah pesan dari Arka.Kayla meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dengan jemari yang masih bergetar karena emosi,

Arka:Lo udah di rumah kay?gue ingetin sekali lagi jangan pernah berurusan sama Gavin"

Kayla mendengus kesal melihat pesan itu.tak berniat untuk membalas.sedetik kemudian ia membuka ruang obrolan dengan satu nama yang tadi siang sempat ia bentak.

Gavin.

Kayla mengetikkan satu pesan singkat dengan tekad bulat untuk memberontak:

“Gue ikut nanti malam. Jangan telat jemput gue.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!