Vayala seorang gadis berusia 29 tahun yang gagal menikah dengan mantan kekasihnya yang toxic dan memutuskan menikah dengan pria yang baru dikenalnya selama satu bulan.
impiannya membangun rumah tangga yang bahagia nyatanya hanya membangun rumah duka,pria yang terlihat baik,royal dan perhatian itu berubah menjadi kasar,perhitungan dan silent treatment sehingga membuatnya merasa kesepian dan sedih .
bagaimana Vayala menghadapi kehidupan rumah tangga yang membuatnya menderita itu...
apakah ia bisa bahagia dengan laki laki pilihan yang baru dikenalnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyta Yulaeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Rumah Baru
Siang ini kami sudah bersiap siap menunggu mobil yang akan membawa barang barang yang sudah kami kemas menuju rumah baru kami yang sudah selesai dibangun.
"sudah dimana bang?"tanya mas Bram menghubungi seseorang.
"kami sudah didepan gang mas!" sahut sebuah suara yang ada di telepon itu.
Terlihat sebuah mobil bak berada di tepi jalan depan gang rumah kami,dengan segera mas Bram mengarahkan mobil itu agar masuk sampai depan rumah kami.
Semua perabotan dan barang barang kami sedikit demi sedikit di angkut menggunakan mobil bak itu,setelah itu aku dan mas Bram mengikutinya dari belakang menuju rumah baru kami yang berada tidak jauh dari jalan besar.
"alhamdulilah akhirnya rumah baru kita sudah jadi,semoga ini yang terakhir kami pindah "gumamku dalam hati memandang rumah kami dengan nuansa ungu yang siap dihuni.
Terlihat disekeliling perumahan kami hanya ada dua rumah yang sudah dihuni termasuk rumahku,lainnya sedang dalam tahap proses pembangunan ,dibelakang dan sekeliling rumah masih banyak pohon bambu yang tinggi tinggi dan terlihat sepi.
Aku mulai menata barang barang ,memasukkan pakaian kedalam lemari kami masing masing dan menyiapkan makan malam.
Fara dan anaknya Galih datang dengan melihat rumah baru kami yang baru saja ditempati.
"Rumah kakak lebar ya,kalau rumahku bentuknya memanjang"ucap Fara melihat seluruh ruangan.
"mungkin karna beda tanahnya sebenarnya ukurannya sama saja!"sahut Mas Bram Yang sedang memasang antena televisi kami.
"Far ayo ikut makan,aku baru selesai masak nih!"seruku membawa nasi dan lauk yang baru saja selesai ku masak .
Kami pun berkumpul untuk makan malam,suasana terasa hangat,semoga rumah baru ini menjadi rumah yang nyaman dan berkah untuk ku dan mas bram dan secepatnya mendapatkan momongan.
Beberapa hari setelah kami pindah,Fara pun ikut pindah dari kontrakannya mengisi dirumah baru,cat Yang serba hijau membuatnya tampak sejuk di pandang mata.
Ayah mertua kami pun memberikan sejumlah uang untuk membuat syukuran kecil kecilan untuk rumah ku dan rumah Fara dengan mengundang keluarga besarku,paman ,bibi dan lainnya untuk datang mendoakan.
Kulihat ayah mertuaku memberikan uang kepada mas Bram dengan sembunyi sembunyi saat acara telah selesai.
Aku segera menghampirinya dan bertanya pada mas Bram."Mas tadi ayah kasih uang ya sama kamu?"tanyaku penasaran.
"iya,aku minta buat modal usaha...aku mau jualan pulsa aja drumah buat nambah pemasukan kita"sahutnya.
"owh..memang dikasih berapa sama ayah?"tanyaku lagi.
"satu juta...tapi aku mau pake sedikit buat service motor dan ganti oli ".
Aku hanya mengangguk mempercayakan semua pada mas Bram,mungkin dengan buka usaha counter pulsa disini bisa untuk menambah penghasilan kami yang tidak seberapa dari hasil mengojek..karena semakin lama uang dari sisa gaji mas Bram semakin sedikit untuk pengeluaran kami sehari hari.
keesokannya Mas Bram mencetak banner untuk usaha pulsa kami dan memasangnya didepan rumah karena di perumahan baru kami belum ada yang jualan dan tetangga mulai menempati rumah mereka yang baru jadi .
Fara membuka usaha warung dirumahnya dengan dimodali dari ayah mertuaku karena ia yang tidak bekerja dan harus menghidupi anaknya yang masih kecil.
"assalamualaikum ..mbak ada token listriknya ?"tanya seorang pria kepadaku .
Melihat pelanggan pertamaku aku merasa senang,melayaninya dengan ramah,karena aku dan mas Bram belum tau agen pulsa yang murah untuk counter kami maka aku meminta dikirimkan pulsa dari adikku yang juga berjualan dirumahnya.
Dengan untung seribu dua ribu aku menyisihkannya di dalam lemari agar tidak tercampur dengan uang lainnya.
Pak Muhsin yang mengetahui ku menjual pulsa meminta aku mengisi token deretan rumah yang ia bangun dan suka memberikan lebihan dari harga yang ku jual.
Beliau orang yang baik,terkadang jika hari Jumat kulihat dia membagikan uang kepada anak anak kampung sebelah perumahan kami secara rutin.
"sayang...aku pake dulu duit pulsa...uangku habis,kemarin aku enggak dapet uang pas narik!"seru mas Bram menghampiriku yang baru saya selesai melayani orang beli .
"duh mas kalau dipake gimana kita mau dapat untung,uang modal dari ayah kamu sudah tinggal sedikit gimana mau usaha kalau kaya gini"ucapku mengambil uang modal yang sudah dipisahkan dalam lemari dan menunjukkan pada mas Bram.
"gampang itu..nanti aku minta lagi sama ayah!"sahutnya bergegas pergi setelah mengambil uang dariku.
Aku hanya menarik nafas berharap mas Bram cepat mendapatkan kerja formal lagi agar ekonomi kami membaik.
Semakin lama usaha pulsa kami semakin banyak yang membeli,dan setiap kali pelanggan kami beli aku meminta tolong adikku untuk mengisinya dan nantinya tinggal ku setor.
Tapi bukannya untung,modal kami lama lama habis terpakai untuk sehari hari,mas Bram yang hanya santai menanggapi itu membuatku menggelengkan kepala.
"ini gimana mas...kalau ada yang beli terus modal kita sudah habis,enggak mungkin aku minta sama adikku terus kalau uang setorannya aja berkurang??"tanyaku.
"yasudah copot saja bannernya,bilang aja sama orang udah enggak jualan lagi,mau gimana aku juga kan enggak kerja tiap hari kita butuh makan dan keperluan!"sahutnya.
Baru saja aku mulai usaha sudah mulai tutup,sebenarnya kami berencana sebelum punya rumah disini untuk berjualan sembako tapi kami tidak tahu kalau Fara sudah duluan yang berjualan dan kami pun mengalah akhirnya,tapi usaha pulsa saja kami sudah kehabisan modal.
Hari Minggu aku dan Mas Bram pergi berkunjung kerumah mertuaku,disana mereka sedang duduk santai diruangan sambil menonton televisi,rumah mertuaku yang baru saja dibeli dan di huni disebuah perumahan lumayan mewah dekat tempat tinggal Fadil.
"assalamualaikum..!"ucap kami memberi salam kepada mereka sambil membawa buah tangan untuk mertuaku.
"waalaikumussalam..masuk masuk!"seru ayah mertuaku.
kami mencium punggung tangan mereka dan duduk disebelahnya.
"kata Fara kamu udah enggak jualan pulsa lagi kenapa?"tanya ibuku sambil memberikan air minum kepada kami.
"iya Bu..modalnya habis terpakai untuk kebutuhan kami sehari hari"sahut mas Bram menjelaskan.
"memangnya kamu enggak dapet duit dari ngojek?"tanya ibu mertuaku lagi.
"ngojek enggak bisa diharepin Bu.."
"Makanya kamu kalau kerja tuh yang betah,dari dulu keluar masuk terus..dulu ayah mah masukin kamu PNS kamunya enggak mau katanya gajinya kecil kamu lebih suka kerja diluar,biar kecil kan manjang sampai tua ada pensiunnya!"seru ibuku lagi.
Mas Bram hanya diam mendengar ucapan ibu mertuaku yang selalu mengomentarinya,aku pun hanya diam khawatir salah bicara.
"kamu tuh sudah besar Bram...harusnya sudah mandiri,ini anak bergantung sama orangtua..lihat tuh Fadil adik kamu sudah sukses dia punya mobil,usahanya lancar ,dari kami kerja kamu punya apa memangnya???rumah saja dari kami..!!"seru ibu mertuaku dengan nada keras.
"ya habis gimana Bu...aku sudah berusaha!"sahut Bram dengan wajah muram.
Mendengar kata kata ibu mertuaku tiba tiba membuatku merasa sedih,memang ucapannya benar tapi rasanya seperti aku yang sedang di marahinya,aku tau mas Bram sudah berusaha mencari cari pekerjaan kesana kemari tapi memang belum rejekinya.
Aku hanya diam tidak mau ikut campur jika mertuaku mengomentari atau memarahi anaknya walau hatiku terasa sakit karena bagaimanapun mas Bram itu suamiku.
"sudah.. sudah...malu didengar orang!!,kalian sudah makan?"seru ayah mertuaku yang sedaritadi hanya diam.
"belum yah...ibu masak apa emangnya?"sahut mas Bram.
"ibu cuma masak nasi beli saja sana di luar ..ini uangnya!"ucap ibu mertuaku memberikan selembar uang kepada nya.
Suami segera mengambil uang itu dan pergi dengan motor maticnya untuk membeli lauk.
Ibu mertuaku beranjak ke dapur menyiapkan nasi untuk kami makan nanti,aku berinisiatif untuk membantunya.
"sudah kamu disana saja Vay...dapurnya becek nanti kaos kaki basah!"seru ibu mertuaku.
"enggak apa apa Bu,sini aku bantuin bawain nasinya!"ucapku .
Tiga piring nasi putih ku letakkan di atas meja,beberapa menit mas Bram pulang dengan membawa lauk yang ia beli dari warung Padang dan kami pun menyantapnya bersama sama.
Setelah makan dan beristirahat sebentar kami pun segera memutuskan untuk pulang kerumah.
"Mas kenapa ya aku kalau habis dari rumah orangtua kamu kepala aku rasanya sakit,ibu selalu ngomel ngomel sama kamu,memangnya kamu pernah punya salah apa sama mereka sampai kamu digituin banget?"ucapku Yang sedaritadi menahan sakit kepalaku.
"enggak tau aku juga!"sahutnya pelan tanpa berkomentar,kuperhatikan sedaritadi wajah mas Bram terlihat murung,mungkin dia memikirkan perkataan ibunya.
"kasihan sekali mas Bram,suka dibanding bandingkan dengan adiknya yang sukses!"gumamku dalam hati.
...****************...