NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Akar Spiritual Surgawi

Suasana di alun-alun telah jauh lebih tenang.

Semua mata mengikuti langkah Bai Hu yang berjalan menuju Batu Pengukur Roh.

Tubuhnya memang lebih gemuk dibanding peserta lain. Pipinya masih tembam, langkahnya juga tidak terlihat gagah seperti para pendekar muda dari keluarga-keluarga besar.

Beberapa peserta mulai berbisik.

Seorang pemuda berpakaian hijau melirik Bai Hu dari ujung kepala hingga kaki sebelum berbisik kepada temannya.

"Apa kau yakin anak itu datang untuk mengikuti seleksi? Melihat tubuhnya, aku lebih percaya kalau dia datang mencari warung makan."

Temannya ikut tersenyum kecil.

"Mungkin dia salah tempat. Tempat festival makanan ada di pasar timur."

Beberapa orang di sekitar mereka ikut terkekeh.

Suara mereka memang tidak keras.

Namun Bai Hu tetap mendengarnya.

Ia berhenti melangkah.

Lalu menoleh ke arah mereka.

Semua mengira Bai Hu akan marah.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Ia tersenyum ramah, lalu berkata dengan nada santai.

"Kalau nanti di dalam sekte memang ada festival makanan, jangan lupa beritahu aku. Aku juga penasaran apakah masakan sekte lebih enak daripada masakan ibuku."

Ucapan itu membuat beberapa peserta terdiam.

Mereka tidak menyangka Bai Hu justru menanggapi ejekan itu dengan santai.

Tie Niu yang berdiri di antara peserta hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil.

"Dasar Bai Hu. Bahkan saat diejek pun dia tetap memikirkan makanan."

Bai Hu kembali melangkah.

Begitu tiba di depan panggung batu, ia berhenti beberapa langkah dari Tetua Xu Canghai.

Dengan sikap yang sopan, ia membungkukkan badan.

"Salam kepada para Tetua."

Xu Canghai mengangguk pelan.

Tatapannya mengamati Bai Hu beberapa saat.

Pakaiannya sederhana.

Tubuhnya gemuk.

Tidak ada aura yang mencolok.

Namun sorot mata anak itu berbeda dengan peserta lain.

Tidak terlihat gugup.

Tidak pula terlalu percaya diri.

Tatapannya justru dipenuhi rasa ingin tahu.

Xu Canghai bertanya dengan tenang.

"Siapa namamu?"

Bai Hu menjawab tanpa ragu.

"junior ini bernama Feng Bai Hu, berasal dari Kota Qinghe."

Mendengar nama kota itu...

Ekspresi beberapa tetua berubah.

Mereka tentu mengetahui tragedi yang belum lama terjadi.

Xu Canghai mengangguk perlahan.

"Kota Qinghe telah mengalami musibah besar. Tidak mudah bagimu untuk tetap datang mengikuti seleksi setelah mengalami semua itu."

Bai Hu menundukkan kepala sesaat.

Wajah ayahnya.

Senyum Ling Yue.

Rumah mereka yang telah berubah menjadi lautan api.

Semua kenangan itu kembali muncul.

Namun ia segera mengangkat kepalanya.

Tatapannya jauh lebih mantap.

"Tetua, justru karena mengalami semua itu, junior semakin mengerti bahwa tanpa kekuatan seseorang tidak mampu melindungi apa pun. junior datang ke sini bukan untuk mencari nama atau kehormatan. junior datang karena ingin menjadi lebih kuat."

Suasana di atas panggung mendadak sunyi.

Xu Canghai menatap Bai Hu cukup lama.

Kemudian ia mengangguk pelan.

"Jawabanmu lebih dewasa dibanding usiamu."

Bai Hu tersenyum tipis.

"Keadaan memaksa junior untuk lebih dewasa."

Kalimat sederhana itu membuat beberapa tetua saling berpandangan.

Tidak ada yang berbicara.

Namun mereka memahami maksud anak itu.

Tragedi sering kali membuat seseorang tumbuh jauh lebih cepat daripada seharusnya.

Xu Canghai menggeser tubuhnya memberi jalan menuju Batu Pengukur Roh.

"Silakan mulai pengujianmu."

Bai Hu mengangguk hormat.

Ia melangkah mendekati batu kristal raksasa itu.

Permukaannya bening seperti kaca.

Di dalamnya mengalir cahaya lembut yang terus berubah warna.

sesaat...

Bai Hu teringat Batu Pengukur Roh di Kota Qinghe.

Batu itu hancur ketika ia mengujinya.

Ia menggaruk pipinya pelan.

Lalu menoleh kepada Xu Canghai dengan wajah sedikit canggung.

"Tetua... sebelum junior mulai, bolehkah junior bertanya satu hal?"

Beberapa peserta langsung mengernyit.

Xu Canghai sendiri tampak sedikit heran.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

Bai Hu mengusap belakang kepalanya sambil tersenyum kikuk.

"Kalau... seandainya batu ini rusak, apakah junior harus mengganti?"

Begitu kalimat itu keluar...

Seluruh lapangan mendadak sunyi.

Beberapa peserta bahkan mengira mereka salah dengar.

Xu Canghai berkedip beberapa kali.

Untuk pertama kalinya sejak seleksi dimulai...

Wajah tetua yang selalu tenang itu menunjukkan ekspresi heran.

Di belakang, Tie Niu langsung menepuk dahinya.

Ia bergumam pelan.

"Dia benar-benar menanyakan itu..."

Beberapa murid sekte saling berpandangan.

Lalu salah seorang tidak mampu menahan tawanya.

Bahkan salah satu tetua tua di belakang Xu Canghai sampai mengelus janggutnya sambil tersenyum tipis.

Xu Canghai akhirnya bertanya,

"Kenapa kau tiba-tiba memikirkan hal seperti itu?"

Bai Hu menjawab dengan wajah sangat serius.

"Karena sebelumnya di Kota Qinghe dulu, Batu Pengukur Roh yang kugunakan Hancur. Jadi sebelum menyentuh batu milik sekte... junior merasa lebih baik bertanya terlebih dahulu."

Kalimat itu membuat senyum di wajah para tetua perlahan menghilang.

Xu Canghai menatap Bai Hu dengan lebih serius.

"Apa yang baru saja kau katakan?"

Bai Hu terlihat sedikit bingung.

"Junior hanya bertanya soal ganti rugi..."

Xu Canghai menggeleng.

"Bukan itu."

Tatapannya menjadi tajam.

"Kau mengatakan Batu Pengukur Roh di Kota Qinghe... Hancur?"

Bai Hu mengangguk polos.

"Benar, Tetua."

Saat itulah...

Beberapa tetua yang sejak tadi duduk tenang akhirnya berdiri dari kursi mereka.

Suasana yang semula santai...

Berubah drastis.

Suasana di seluruh alun-alun berubah hening.

Ribuan peserta memandang Bai Hu dengan tatapan bingung.

Mereka tidak mengerti mengapa hanya sebuah kalimat sederhana mampu membuat para tetua yang sejak tadi duduk tenang tiba-tiba berdiri.

Xu Canghai menatap Bai Hu tanpa berkedip.

Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini jauh lebih serius.

"Feng Bai Hu, ulangi sekali lagi apa yang baru saja kau katakan. Jangan terburu-buru, ceritakan semuanya dengan jelas."

Bai Hu mengangguk hormat.

Ia sama sekali tidak merasa sedang mengatakan

sesuatu yang aneh.

"Saat pengujian akar spiritual di Kota Qinghe beberapa waktu yang lalu, junior diminta meletakkan tangan di atas Batu Pengukur Roh seperti peserta lainnya. Awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun beberapa tarikan napas kemudian cahaya di dalam batu menjadi semakin terang. Setelah itu... batu tersebut retak dan akhirnya Hancur."

Xu Canghai mengerutkan kening.

"Apakah kau melihat sendiri batu itu pecah?"

Bai Hu mengangguk mantap.

"Ya, Tetua. junior berdiri sangat dekat. Bahkan serpihan batunya hampir mengenai wajah junior."

Salah seorang tetua berjubah abu-abu melangkah maju.

Usianya lebih tua dibanding Xu Canghai. Rambutnya telah memutih seluruhnya, sementara sorot matanya sangat tajam.

Ia memandang Bai Hu dengan penuh perhatian.

"Anak muda, apakah kau melebih-lebihkan cerita ini? Batu Pengukur Roh bukan benda biasa. Batu itu dibuat khusus untuk mengukur bakat para calon kultivator. Selama puluhan tahun aku memimpin seleksi, aku belum pernah mendengar ada Batu Pengukur Roh yang hancur hanya karena disentuh seorang anak."

Bai Hu segera menggeleng.

Ekspresinya tetap tenang.

"Murid tidak berani berbohong di hadapan para tetua. Lagi pula, banyak orang di Kota Qinghe yang menyaksikan kejadian itu secara langsung. Tetua Agung Feng Jianhong juga berada di sana."

Nama Feng Jianhong membuat beberapa tetua saling berpandangan.

Xu Canghai menoleh ke arah seorang tetua perempuan yang berdiri tidak jauh darinya.

Tetua itu menganggukkan kepala perlahan.

Dengan suara pelan ia berkata,

"Beberapa hari setelah Kota Qinghe jatuh, aku memang menerima laporan mengenai seorang anak dari Keluarga Feng yang memiliki bakat luar biasa. Namun laporan itu sangat singkat karena pengirimnya gugur sebelum sempat memberikan penjelasan lebih rinci."

Xu Canghai kembali menatap Bai Hu.

Tatapannya kali ini jauh lebih lembut.

"Kalau begitu, tidak perlu memikirkan soal ganti rugi. Batu Pengukur Roh Sekte Awan Langit jauh lebih kuat daripada yang digunakan keluarga-keluarga diluar sana. Kau cukup melakukan pengujian seperti peserta lainnya."

Mendengar jawaban itu, Bai Hu mengembuskan napas lega.

Ia tersenyum canggung.

"Syukurlah. Junior sempat khawatir kalau harus mengganti, karena junior benar-benar tidak memiliki batu roh sebanyak itu."

Beberapa murid sekte yang mendengar ucapan itu kembali menahan tawa.

Xu Canghai sendiri ikut tersenyum tipis.

Anak di hadapannya benar-benar berbeda.

Di saat orang lain memikirkan hasil ujian...

Anak ini justru lebih dahulu memikirkan biaya ganti rugi.

 

Bai Hu melangkah hingga berdiri tepat di depan Batu Pengukur Roh.

Permukaannya memantulkan bayangan tubuhnya yang gemuk.

Ia mengangkat tangan kanannya perlahan.

Namun sebelum telapak tangannya menyentuh batu itu...

Xu Canghai kembali mengingatkan.

"Tenangkan pikiranmu. Jangan memaksakan aliran Qi. Biarkan energi spiritual di dalam tubuhmu bergerak secara alami mengikuti respons Batu Pengukur Roh."

Bai Hu mengangguk hormat.

"Terima kasih atas petunjuk Tetua."

Ia menarik napas panjang.

Perlahan...

Telapak tangannya menempel pada permukaan batu kristal.

Sesaat...

Tidak terjadi apa-apa.

Seluruh lapangan tetap sunyi.

Beberapa peserta mulai berbisik.

"Apa dia hanya membual?"

"Mungkin batu di Kota Qinghe memang sudah rusak sejak awal."

"Kurasa begitu."

Namun Xu Canghai tidak mengatakan apa pun.

Tatapannya tidak pernah lepas dari Batu Pengukur Roh.

Beberapa tarikan napas kemudian...

Cahaya putih lembut mulai muncul dari bagian dasar batu.

Cahaya itu perlahan naik.

Lapisan pertama.

Lapisan kedua.

Lapisan ketiga.

Kecepatannya jauh lebih tinggi dibanding peserta-peserta sebelumnya.

Xu Canghai sedikit mengangkat alisnya.

"Menarik..."

Cahaya itu terus naik.

Lapisan keempat.

Kelima.

Keenam.

Kini seluruh Batu Pengukur Roh mulai memancarkan sinar keemasan yang lembut.

Para murid sekte mulai menunjukkan ekspresi terkejut.

Salah seorang di antara mereka berbisik,

"Belum pernah ada peserta yang membuat cahaya naik secepat ini."

Tetua perempuan yang berdiri di belakang Xu Canghai mengepalkan tangannya perlahan.

Tatapannya tidak lagi tenang.

Ia terus mengamati perubahan pada Batu Pengukur Roh.

Sementara itu...

Bai Hu hanya berdiri diam.

Ia merasakan aliran energi hangat mengalir dari telapak tangannya menuju seluruh tubuh.

Perasaan itu sangat nyaman.

Seolah-olah Batu Pengukur Roh sedang memeriksa setiap bagian tubuhnya.

Tiba-tiba...

Seluruh cahaya di dalam batu berubah menjadi emas terang.

Sinar keemasan itu memenuhi seluruh permukaan kristal.

Udara di sekitar panggung mulai bergetar.

Xu Canghai langsung berseru dengan suara rendah namun tegas.

"Semua murid mundur! Jangan ada yang mendekati Batu Pengukur Roh!"

Perintah itu membuat seluruh murid sekte bergerak serempak.

Mereka segera menjauh beberapa puluh langkah.

Sementara ribuan peserta hanya bisa menatap dengan napas tertahan.

Tidak seorang pun berani bersuara.

Seluruh lapangan seolah membeku.

Tidak ada lagi suara bisik-bisik.

Tidak ada lagi tawa mengejek.

Semua mata tertuju pada Batu Pengukur Roh yang kini memancarkan cahaya emas semakin terang.

Bai Hu sendiri tidak menyadari perubahan itu.

Ia hanya merasakan aliran energi spiritual yang hangat mengalir dari telapak tangannya menuju seluruh tubuh.

Perasaan itu sangat nyaman.

Seolah seluruh meridian di dalam tubuhnya sedang dibersihkan sedikit demi sedikit.

Namun...

Para tetua tidak merasakan kenyamanan sama sekali.

Xu Canghai menatap Batu Pengukur Roh tanpa berkedip.

Ia dapat melihat retakan-retakan energi mulai muncul di dalam inti kristal.

Retakan itu bukan terjadi pada permukaan batu.

Melainkan jauh di dalam inti pembentuknya.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

"Mustahil.. Batu Pengukur Roh Sakte tidak mungkin mencapai batasnya hanya karena mengukur seorang anak..."

Tetua perempuan di sampingnya juga menyadarinya.

Ia berkata dengan suara pelan, tetapi terdengar jelas oleh para tetua.

"Tetua Xu, inti kristalnya mulai kehilangan kestabilan."

Xu Canghai menganggukkan kepala perlahan.

Wajahnya berubah semakin serius.

"Aku melihatnya."

Ia tidak berani memutus pengujian.

Karena jika dilakukan secara paksa ketika Batu Pengukur Roh sedang membaca akar spiritual seseorang, energi spiritual di dalam tubuh peserta dapat berbalik arah dan melukai meridiannya.

Sekarang...

Mereka hanya bisa menunggu.

Di tengah kerumunan peserta...

Tie Niu tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya.

Tatapannya tidak pernah lepas dari Bai Hu.

Ia mengenal sahabatnya sejak kecil.

Namun hari ini...

Untuk pertama kalinya ia merasa Bai Hu benar-benar berbeda dari orang lain.

Seorang peserta yang berdiri di sampingnya menelan ludah.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Temannya menggeleng.

"Aku juga tidak tahu. Tapi lihat wajah para tetua. Mereka jelas sedang terkejut."

Tidak jauh dari sana...

Seorang pemuda dari keluarga bangsawan yang tadi sempat mengejek Bai Hu mulai mengernyit.

Senyum sinis di wajahnya telah menghilang.

Ia memang sombong.

Tetapi bukan orang bodoh.

Ia tahu...

Kalau sampai para tetua menunjukkan ekspresi seperti itu...

Berarti anak gemuk yang tadi ia remehkan benar-benar memiliki sesuatu yang luar biasa.

Tiba-tiba...

KRAKK...

Suara retakan kecil terdengar dari dalam Batu Pengukur Roh.

Suaranya memang pelan.

Namun di tengah suasana yang sunyi...

Semua orang dapat mendengarnya dengan jelas.

Xu Canghai langsung mengangkat kepalanya.

Tetua perempuan di sampingnya menarik napas tajam.

Beberapa murid sekte bahkan tanpa sadar mundur selangkah.

Retakan kedua segera menyusul.

KRAAK...

Cahaya emas di dalam batu berubah semakin terang.

Kini seluruh lapangan diterangi sinar keemasan yang menyilaukan.

Angin mulai berputar mengelilingi panggung.

Energi spiritual di sekitar alun-alun bergerak semakin liar.

Xu Canghai akhirnya tidak dapat lagi menyembunyikan keterkejutannya.

Dengan suara rendah ia berkata,

"Akar Spiritual Surgawi..."

Tetua lain langsung menoleh.

"Tetua Xu, apakah Anda yakin?"

Xu Canghai mengangguk perlahan.

Tatapannya masih tertuju pada Bai Hu.

"Aku pernah membaca catatan kuno sekte. Ribuan tahun yang lalu pernah muncul seorang kultivator dengan Akar Spiritual Surgawi. Saat diuji, Batu Pengukur Roh juga menunjukkan tanda yang sama."

Semua tetua langsung terdiam.

Kalau dugaan Xu Canghai benar...

Maka anak yang sedang berdiri di depan mereka bukan sekadar jenius.

Melainkan seseorang yang mungkin hanya muncul sekali dalam ribuan tahun.

Di saat semua orang menahan napas...

Bai Hu justru membuka matanya perlahan.

Ia memandang cahaya emas yang memenuhi Batu Pengukur Roh dengan wajah bingung.

Kemudian ia menoleh kepada Xu Canghai.

Dengan nada yang benar-benar polos ia bertanya,

"Tetua... apakah sekarang sudah selesai?"

Belum sempat Xu Canghai menjawab...

DUAAARRR!!

Ledakan keras mengguncang seluruh alun-alun.

Batu Pengukur Roh meledak menjadi ribuan serpihan kristal.

Gelombang energi spiritual menyapu ke segala arah.

Para murid sekte segera melindungi peserta yang berada di barisan depan.

Debu putih memenuhi udara.

Beberapa peserta bahkan terdorong mundur beberapa langkah.

Namun...

Bai Hu tetap berdiri di tempatnya.

Ia memandang pecahan batu yang berserakan di sekelilingnya.

Kemudian perlahan mengangkat kepalanya.

Tatapannya bertemu dengan Xu Canghai.

Dengan wajah yang benar-benar merasa bersalah, ia menggaruk belakang kepalanya.

"Tetua... sepertinya... benar-benar pecah."

Seluruh lapangan menjadi sunyi.

Tidak ada satu pun peserta yang berani mengeluarkan suara.

Beberapa bahkan masih membuka mulut karena terlalu terkejut.

Sementara itu...

Xu Canghai memandang pecahan Batu Pengukur Roh di bawah kakinya.

Lalu memandang Bai Hu.

Beberapa saat kemudian...

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun menjadi tetua, ia tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.

"Sekarang aku akhirnya mengerti kenapa pertanyaan pertama yang kau ajukan adalah soal ganti rugi."

Bai Hu tersenyum canggung.

Ia mengusap hidungnya sebelum berkata dengan suara pelan,

"Tetua... Junior benar-benar tidak mampu mengganti batu sebesar ini."

Ucapan itu membuat beberapa tetua yang sejak tadi tegang akhirnya tertawa.

Suasana yang dipenuhi keterkejutan perlahan mencair.

Namun di balik senyum mereka...

Ada kebanggaan karna hari ini,

Sekte Awan Langit baru saja menemukan seorang jenius yang dapat mengubah masa depan sekte.

Bersambung..

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!