Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 ~ Makan Malam Bersama
Di ruang direktur utama yang luas dan mewah, Tuan Arthur duduk bersandar di kursi kerjanya, matanya tak lepas menatap layar laptop di hadapannya. Jari-jarinya bergerak perlahan menggeser dokumen demi dokumen, memeriksa rincian proyek pengembangan di pulau yang baru saja ia dengar kabarnya.
Sudah lama ia mengincar kesempatan ini. Nilai investasinya sangat besar, keuntungannya berlipat ganda, dan yang paling penting.. jika berhasil terlibat, posisi perusahaannya akan melonjak pesat dan disejajarkan dengan kalangan pebisnis teratas. Semua itu bisa terwujud hanya dengan satu dukungan nama dan kekuasaan Garra Xaverius Kingston.
Ia tersenyum puas, merasa langkahnya sudah tepat. Dengan status Hezlin sebagai istri Garra, mustahil pria itu akan menolak permintaannya. Baginya, ini hanya soal waktu dan cara berbicara yang pas.
Namun senyum itu belum sempat hilang sepenuhnya, ketika suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" serunya tegas.
Seorang staf bagian hubungan perusahaan melangkah masuk dengan raut wajah yang kurang enak, lalu berdiri tegak di depan meja kerja.
"Maaf mengganggu, Tuan."
"Ada apa? Katakan saja," jawab Tuan Arthur tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Staf itu menelan ludah sejenak, lalu menyampaikan laporannya dengan hati-hati.
"Begini, Tuan... Proyek kerja sama di pulau yang Tuan minta untuk diusulkan ke Grup Kingston... baru saja kami dapat balasan resminya. Proyek itu ditolak oleh Tuan Garra."
"APA?!"
Suara Tuan Arthur meledak tinggi, membuat gelas minum di atas meja seolah bergetar kaget. Ia langsung berdiri tegak, matanya melotot tajam menatap staf di hadapannya. Wajahnya yang tadinya tenang kini berubah memerah menahan amarah dan keterkejutan.
"Kau bilang ditolak? Bagaimana bisa?! Apa alasannya?!" bentaknya keras.
Staf itu menunduk gugup, lalu menjawab secepat mungkin.
"Surat balasannya hanya tertulis singkat, Tuan. Dikatakan bahwa proyek itu tidak sesuai dengan arah pengembangan perusahaan mereka saat ini, dan belum ada ruang untuk mengikutsertakan pihak lain. Tidak ada penjelasan lebih lanjut."
Tuan Arthur mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Dadanya terasa sesak, seolah baru saja dipukul benda berat.
Ditolak? Garra menolak kerja sama ini? Padahal ini kesempatan emas! Apa maksudnya semua ini?
Dalam benaknya, berbagai dugaan mulai bermunculan. Apakah Garra sudah mendengar rencananya? Atau... apakah ini ada hubungannya dengan keputusan Hezlin tadi siang?
Raut wajahnya berubah menjadi lebih gelap dan penuh perhitungan. Ia menepuk meja dengan keras sekali lagi.
"Baiklah, kau boleh keluar!" perintahnya ketus.
Setelah staf itu pergi dan pintu tertutup kembali, Tuan Arthur duduk kembali dengan kasar. Matanya menatap kosong ke depan, lalu tersenyum miring — senyum yang dingin dan penuh rencana jahat.
"Jadi begini permainannya, Garra... Kalau kau ingin main keras, aku pun tidak akan tinggal diam. Dan kau, Hezlin... lihat saja apa akibat dari sikap keras kepalamu itu," gumamnya pelan, penuh ancaman.
Ia segera meraih ponselnya, menekan nomor seseorang dengan cepat. Rencananya harus segera diubah, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalannya.. bahkan anak kandungnya sendiri sekalipun.
••
••
"Garra... dia sekarang sedang bersama Felicia. Foto ini baru saja diunggah. Terlihat jelas mereka berdua sedang makan malam bersama di restoran mewah, terlihat sangat akrab."
Rachel menatap layar ponsel sekali lagi, jemarinya sedikit gemetar saat memutar layar menghadap ke arah Hezlin.
"Lihat sendiri..."
Di layar itu terlihat foto yang diambil malam ini, Garra sedang duduk di meja makan dalam restoran mewah, dan di sampingnya ada Felicia. Wanita itu tersenyum lebar, tangannya bahkan menyentuh lengan Garra dengan sangat akrab, seolah tidak ada jarak di antara mereka. Keterangan di bawahnya menyebutkan bahwa keduanya terlihat menghabiskan waktu bersama malam ini.
Jari-jari Hezlin mengepal di atas pangkuan, dadanya terasa sesak seolah tak ada udara yang bisa masuk. Matanya menatap layar ponsel itu, melihat Garra duduk bersebelahan dengan Felicia. Wanita itu tersenyum lebar, tangannya bahkan menyentuh lengan Garra dengan begitu akrab.
Wajah Hezlin memucat, namun ia segera menarik napas panjang dan memaksakan senyum tipis di bibirnya. Ia mendorong ponsel itu perlahan menjauh, berusaha terlihat tenang meski hatinya terasa hancur berkeping-keping.
"Lihat..." ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha mantap. "Itu membuktikan bahwa keputusanku sudah benar. Dia memang sudah memiliki tempatnya sendiri."
Rachel menatapnya khawatir. "Hezlin..."
"Tidak apa-apa," potong Hezlin cepat, menyeka sudut matanya yang tiba-tiba terasa lembab dengan punggung tangan. "Ini justru membuatku semakin yakin. Aku tidak akan menyesal. Semakin cepat kita berpisah, semakin baik untuk kita semua."
Ia menarik bahunya, mencoba terlihat tegar. "Lagipula, bukankah ini yang diinginkan semua orang? Dia kembali pada wanita yang seharusnya bersamanya sejak awal, dan aku... aku akhirnya bebas dari peran istri yang hanya menjadi formalitas semata."
Meskipun setiap kata yang keluar terasa menyayat hatinya sendiri, Hezlin memegang teguh keputusannya. Foto itu seolah menjadi penguat terakhir untuk tidak mundur selangkah pun.
Rachel menghela napas panjang, memahami meski hatinya ikut merasa perih melihat sahabatnya berusaha berpura-pura kuat. Ia meremas lembut tangan Hezlin di atas meja.
"Kalau itu yang kau yakini, aku akan selalu mendukungmu. Apa pun yang kau butuhkan, aku ada di sini," ucapnya tulus.
Hezlin tersenyum lebih lebar, meski matanya masih menyimpan kesedihan yang dalam. Ia mengangguk pelan.
"Terima kasih, Chel. Kehadiranmu saja sudah cukup bagiku."
Setelah menghabiskan minumannya, Hezlin memutuskan untuk pamit. "Aku harus pulang. Ada banyak hal yang harus aku persiapkan."
"Baiklah. Hati-hati di jalan, ya."
Hezlin berdiri, melambaikan tangan, lalu berjalan keluar dari kafe. Begitu ia masuk ke dalam mobilnya dan pintu tertutup rapat, topeng ketegarannya pun luruh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir membasahi pipinya.
Ia menekan setir mobil dengan erat, bahunya bergetar. Ini memang yang terbaik, batinnya berulang kali meyakinkan diri sendiri. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya, dan aku akan membangun hidupku sendiri.
Dengan napas yang sudah sedikit lebih teratur, ia menyeka air matanya, menyalakan mesin, dan melajukan mobilnya menuju rumah yang sebentar lagi mungkin tidak akan lagi menjadi tempat tinggalnya.
••
••
Di vila mewah di pulau itu...
Garra baru saja selesai membaca laporan dari Ervan. Matanya berhenti pada satu bagian yang menyebutkan bahwa Tuan Arthur sudah mendesak untuk kerja sama, dan juga kabar samar bahwa Hezlin sudah menyampaikan keinginan bercerai pada ayahnya.
"Jadi.. Ini yang benar-benar kamu inginkan, Hezlin?" gumamnya pelan, suaranya dingin namun menyembunyikan rasa sesak yang mulai terasa di dadanya.
"Ervan?!"
"Iya Tuan."
"Hubungi pengacara. Siapkan draf surat perceraian seperti yang dia minta..." ucapnya, lalu berhenti sejenak, rahangnya mengeras. "Tapi pastikan belum ada tanda tangan dariku. Dan awasi setiap langkah yang dia ambil. Jangan sampai dia berpikir bahwa dia bisa lepas dari genggamanku sesederhana itu."
Ervan mengangguk paham, meski sedikit bingung dengan perintah tuannya yang seolah setuju namun juga menahan.
"Baik, Tuan."
Garra berjalan menuju jendela besar, menatap hamparan laut yang luas.
"Kau pikir dengan pergi, masalah selesai? Kita lihat saja, Hezlin. Siapa yang akan menyerah duluan dalam permainan ini."
•
•
•
❤️