NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Tiga hari telah berlalu sejak badai emosi dan keajaiban takdir itu mendatangi rumah Arumi. Suasana di sekitar gang sempit hari ini tampak jauh lebih riuh dan sibuk dari biasanya. Sejak pukul tujuh pagi, Kang Jaya bersama belasan pria paruh baya dan pemuda tanggung dari kampung tersebut sudah berkumpul di halaman rumah Arumi. Mereka mengenakan pakaian kerja lapangan, lengkap dengan palu besar, linggis, dan berbagai alat pertukangan lainnya.

​Hari ini adalah hari yang bersejarah. Rumah tua peninggalan almarhum Pak Praga yang penuh dengan memori suka dan duka itu akan resmi dirubuhkan total dari atap hingga ke pondasinya. Bukan karena hancur oleh kemiskinan, melainkan untuk dilahirkan kembali sebagai sebuah istana megah berlantai tiga yang akan menjadi simbol kemandirian seorang Arumi.

​Arumi sendiri berdiri agak jauh di dekat teras rumah Bu Ida, memandangi rumahnya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa haru yang menyelip di dadanya, namun rasa optimisme jauh lebih mendominasi. Bintang dan Langit berdiri di sisi kanan dan kirinya, memegangi jemari sang ibu sambil menyaksikan dengan mata bulat mereka yang berbinar penuh rasa penasaran.

​"Ayo, teman-teman! Kita mulai dari bagian genting depan dulu! Hati-hati dengan kabel di atas, ya!" seru Kang Jaya memberikan komando dengan suara lantangnya yang menggelegar.

​Prakkk! Gedubrakkk!

​Satu per satu genting tua diturunkan, diikuti oleh hantaman palu besar yang mulai meruntuhkan dinding-dinding batako yang sudah mulai rapuh. Debu-debu tanah beterbangan ke udara, namun tak sedikit pun menyurutkan semangat para warga yang bekerja. Mereka bekerja dengan penuh suka rela dan sukacita, mengingat kebaikan Arumi yang tiga hari lalu membagikan rezeki dua ratus ribu rupiah per KK ke seluruh desa. Bagi mereka, merubuhkan rumah ini adalah bentuk gotong royong untuk mengantarkan sang "Ratu Kampung" menuju gerbang kemakmuran.

​Namun, di tengah keriuhan jerih payah warga dan gemuruh runtuhnya dinding rumah, sebuah kesialan atau mungkin lebih tepatnya takdir komedi yang menggelitik tiba-tiba melintas di ujung gang.

​Siang itu, sebuah sepeda motor matic yang dikendarai oleh seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan perhiasan emas palsu yang mencolok di leher dan lengannya perlahan memasuki gang. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Ibu Pras, mantan ibu mertua Arumi yang kikir dan berhati busuk. Di boncengan belakangnya, duduk adik kandung Pras, seorang gadis muda bernama Rika yang terkenal sama culas dan bermulut tajam seperti ibunya.

​Kebetulan hari ini mereka sedang ada urusan melewati desa tempat tinggal Arumi untuk menuju ke rumah salah satu kerabat jauh mereka. Ibu Pras sengaja memilih jalan pintas melewati gang rumah Arumi hanya untuk satu tujuan, ingin memuaskan ego busuknya, melihat apakah mantan menantunya itu sudah mulai terlihat kurus kering dan mengemis di pinggir jalan pasca-pendaftaran gugatan cerai tempo hari.

​Begitu motor mereka mendekati area rumah Arumi, mata Ibu Pras langsung tertumpu pada kerumunan warga, debu yang mengepul, dan pemandangan dinding depan rumah Arumi yang sudah hancur lebur dihantam linggis.

​Seketika itu juga, senyuman lebar yang sangat sinis dan penuh kemenangan langsung terukir di wajah keriput Ibu Pras. Otaknya yang sudah telanjur dipenuhi oleh rasa benci dan kesombongan langsung menyimpulkan sebuah kesimpulan yang salah kaprah. Ia mengira, rumah tua itu sedang digusur paksa oleh petugas atau pihak bank!

​"Ya ampun, Rika! Lihat itu! Lihat ke depan!" seru Ibu Pras sambil mengerem motornya mendadak di tepi gang, tidak jauh dari kerumunan warga. Wajahnya tampak luar biasa bahagia, matanya berbinar-binar seolah baru saja memenangkan lotre miliaran rupiah. "Hahaha! Benar-benar kena batunya itu si Arumi! Rasain kamu, Rum!"

​Rika yang duduk di boncengan belakang langsung melongo, sebelum akhirnya ikut tertawa terbahak-bahak dengan nada yang sangat melengking. "Wah, Ibu! Itu rumah si Arumi digusur, Bu?! Hahaha! Mampus! Baru juga beberapa hari cerai dari Mas Pras, rumah gubuknya langsung dirubuhkan rata dengan tanah!"

​"Pasti karena dia banyak utang, Rika! Kemarin bergaya sok suci mau gugat cerai anak Ibu yang mapan, sekarang lihat sendiri akibatnya kalau jadi istri durhaka! Kena gusur, diusir, sebentar lagi jadi gelandangan kurus di kolong jembatan!" cerocos Ibu Pras dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan, berharap agar Arumi atau tetangga di sekitar mendengarnya.

​Ibu Pras menepuk bahu adiknya Pras itu dengan gemas. "Rika! Cepat keluarkan HP kamu! Video itu gubuk yang lagi dihancurkan! Rekam yang jelas, rekam dari ujung atap sampai tanah! Ini bukti paling sahih yang harus kita perlihatkan ke Mas Pras nanti malam di rumah. Biar Mas Pras makin yakin kalau keputusan membuang wanita pembawa sial itu adalah hal paling tepat dalam hidupnya! Biar Mas Pras tertawa puas melihat mantan istrinya jadi gila karena kehilangan tempat tinggal!"

​"Siap, Bu! Ini Rika rekam pakai kualitas paling bagus! Biar kelihatan jelas debu-debunya," sahut Rika dengan penuh semangat, langsung mengacungkan ponsel pintarnya ke arah rumah Arumi yang sedang dirubuhkan, mengambil video dengan sudut pandang sinematik versinya sendiri sambil terus berkomat-kamit menghina.

​Arumi yang berdiri di dekat teras Bu Ida tentu saja melihat dan mendengar semua kehebohan dua manusia parasit itu. Namun, Arumi sama sekali tidak berniat maju untuk melabrak atau meluruskan kesalahpahaman tersebut. Ia justru bersedekap dada, menampilkan senyuman tipis yang sangat tenang namun penuh misteri di sudut bibirnya.

​Bu Ida, Bu RT dan beberapa warga yang berada di dekat Ibu Pras mendengar dengan sangat jelas kalimat-kalimat makian dan tawa ejekan dari mantan mertua Arumi tersebut. Bukannya marah atau membalas dengan emosi, Bu RT dan Bu Ida justru saling berpandangan sejenak. Kilatan kecerdikan langsung muncul di bola mata kedua wanita paruh baya yang sudah khatam dengan tabiat buruk Ibu Pras itu.

​Belajar dari taktik bermain cantik, Bu RT memberikan isyarat mata kepada Bu Ida dan beberapa ibu-ibu tetangga di sekitar mereka. Mereka memutuskan untuk memanfaatkan situasi ini. Mereka akan berakting, menyuapi kesalahpahaman Ibu Pras agar wanita tua bangka itu pulang membawa informasi palsu yang akan membuat kejatuhan keluarganya nanti terasa jauh lebih menyakitkan dan mematikan.

​Bu Ida langsung memasang wajah yang dibuat-buat sedih, lesu, dan penuh kecemasan. Ia berjalan mendekati motor Ibu Pras sambil menghela napas pendek yang sangat dramatis.

​"Oalah, Bu Pras... Rika... kalian sedang lewat sini toh?" sapa Bu Ida dengan nada suara yang sengaja dilemaskan, seolah-olah sedang meratapi sebuah musibah besar.

​Ibu Pras menatap Bu Ida dengan dagu yang terangkat tinggi, wajahnya penuh keangkuhan. "Eh, Bu Ida! Iya nih, kebetulan lewat. Waduh, Bu Ida... itu rumah si mantan menantu saya yang sombong kenapa dirubuhkan begitu? Kena gusur ya? Atau disita bank karena utangnya menumpuk di mana-mana?" tanya Ibu Pras memancing dengan nada mengejek yang sangat kentara.

​Bu RT langsung ikut nimbrung, memasang wajah melas sambil memegangi pipinya. "Aduh, Bu Pras... jangan keras-keras suaranya, tidak enak sama Arumi. Tapi ya bagaimana lagi, namanya juga rahasia umum sekarang. Semenjak lepas dari jatah uang dari Pras, si Arumi itu ternyata diam-diam punya banyak utang piutang di luar sana untuk makan sehari-hari. Makanya hari ini... ya begitulah, rumahnya terpaksa dirubuhkan total sampai rata dengan tanah!" ujar Bu RT berbohong demi melancarkan akting mereka.

​Mendengar konfirmasi yang sesuai dengan imajinasi liarnya, Ibu Pras langsung tertawa terpingkal-pingkal tanpa tahu malu, sampai-sampai tubuh gempalnya bergoyang hebat di atas motor.

​"Hahaha! Tuh, kan! Apa Ibu bilang, Rika! Tebakan Ibu tidak pernah meleset!" seru Ibu Pras puas, menatap ke arah Arumi yang masih berdiri diam di kejauhan dengan tatapan merendahkan yang sangat tajam. "Makanya, jadi perempuan itu jangan sok jual mahal! Sudah miskin, punya anak dua, belagu mau ceraikan anak saya yang kerja kantoran bagus. Rasakan itu akibatnya! Utang menumpuk, gubuk reotnya dihancurkan warga, sebentar lagi anak-anaknya mau dikasih makan batu?!"

​Rika yang masih sibuk merekam video ikut menimpali dengan sinis, "Makanya, Bu, hukum kualat itu nyata! Kemarin dia berani mengusir Ibu dari teras ini, sekarang dia sendiri yang terusir dari tanahnya sendiri. Kasihan sekali ya, tinggal tunggu waktu saja jadi pengemis."

​"Sudah, Rika! Videonya sudah cukup panjang dan jelas, kan? Ayo kita jalan lagi, tidak sudi Ibu lama-lama bernapas di dekat debu rumah perempuan pembawa sial itu. Biarkan saja dia menangis darah di sana!" perintah Ibu Pras dengan angkuh.

​Ibu Pras kemudian menancap gas motor matic-nya dengan kasar, meninggalkan area gang dengan tawa yang masih terdengar menggema puas. Di dalam benaknya, ia sudah tidak sabar untuk sampai di rumah, memperlihatkan video kehancuran Arumi kepada Pras, dan merayakan kemenangan palsu mereka malam ini.

​Begitu motor Ibu Pras menghilang sepenuhnya dari pandangan, suasana di sekitar area pembongkaran rumah seketika berubah drastis. Akting sedih dan melas dari Bu RT, Bu Ida, dan para tetangga langsung lenyap, digantikan oleh ledakan tawa yang sangat riuh dan membahana di sepanjang gang.

​"Hahaha! Ya Allah, Bu RT... akting sampeyan tadi benar-benar juara nomor satu! Saya sampai hampir kelepasan tertawa!" seru Kang Jaya dari atas dinding, sambil memegang palu besarnya dan tertawa terbahak-bahak.

​"Benar, Kang! Biarkan saja nenek sihir dan anaknya yang culas itu bahagia di atas angin palsu untuk sementara waktu," timpal Bu Ida sambil mengusap air mata akibat terlalu banyak tertawa. Ia menatap Arumi dengan senyuman penuh arti. "Biar mereka tertawa puas malam ini, Rum. Kita lihat saja bagaimana ekspresi wajah mereka beberapa bulan lagi, saat mereka kembali ke sini dan melihat sebuah istana megah berlantai tiga sudah berdiri tegak di atas tanah yang mereka kira kena gusur ini! Pasti mereka akan langsung stroke di tempat!"

​Arumi ikut tertawa kecil, memeluk Bintang yang mendongak menatapnya. Rasa puas yang teramat sangat menjalar di dalam dadanya. Kesalahpahaman mantan mertuanya hari ini adalah bumbu terbaik dalam rencana pembalasan dendamnya. Tanpa perlu mengotori tangannya sendiri, keangkuhan keluarga Pras akan segera dihancurkan oleh kenyataan yang paling pahit yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Pembangunan istana barunya kini resmi berjalan di bawah restu dan tawa bahagia seluruh warga desa yang menyayanginya.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!