Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanggar batas
Tangan Yunkai yang besar dan hangat mendarat di pinggang Sera, menuntunnya dengan tekanan yang tegas namun protektif melintasi lantai marmer lobby private penthouse. Pintu kaca besar di depan mereka terbuka secara otomatis melalui pemindai biometrik. Begitu melangkah masuk, atmosfer kemewahan yang sunyi langsung menyambut.
Penthouse ini mencerminkan selera Yunkai yang tinggi: langit-langit yang menjulang tinggi, dinding beton ekspos dikombinasikan dengan panel kayu gelap, serta furniture berdesain minimalis namun bernilai fantastis. Tidak ada pelayan, tidak ada pengawal yang berdiri berjejer hanya tiga pelayan pribadi yang akan datang menghampiri jika dipanggil. Tempat ini benar-benar steril dari hiruk-pikuk luar, sebuah tempat persembunyian yang sempurna bagi seorang putra mahkota.
Yunkai menuntun Sera menuju sebuah sofa beludru berukuran besar yang menghadap langsung ke dinding kaca masif. Dari titik itu, pemandangan kota di bawah sana terlihat begitu megah—hamparan lampu kota yang berkelap-kelip seperti lautan berlian yang terhampar di bawah langit malam yang pekat.
"Duduklah di sini," ucap Yunkai rendah.
Sera menuruti kata-kata itu. Tubuhnya tenggelam di dalam kehangatan sofa yang nyaman. Rasa lelah yang sejak beberapa hari lalu ia tahan, kini mendadak menumpuk di pundaknya. Ia memperhatikan Yunkai yang berjalan menuju sebuah ruangan lain, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan sebuah kotak obat.
Pangeran itu mengambil tempat duduk di samping Sera—terlalu dekat, hingga lutut mereka saling bersentuhan.
Tanpa berkata apa-apa, Yunkai meraih tangan kanan Sera yang masih terbalut sapu tangan sutra miliknya. Dengan sangat hati-hati, seolah menghadapi barang pecah belah yang paling berharga, Yunkai membuka ikatan sapu tangan itu.
Sera sedikit meringis saat kain sutra itu bergesekan dengan luka lecet di jari-jarinya yang mulai mengering. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Yunkai. Pangeran itu menghentikan gerakannya sesaat, menatap Sera dengan sepasang mata gelapnya.
"Sakit?" tanya Yunkai, suaranya melembut, kontras dengan nada ketus yang ia gunakan di area panahan tadi.
"Hanya sedikit. Aku terbiasa dengan yang lebih parah," jawab Sera, mencoba bersikap acuh tak acuh.
Mendengar jawaban itu, rahang Yunkai kembali mengeras samar. Ia tahu persis apa yang dimaksud Sera. Hidup di bawah bayang-bayang tuntutan tanpa akhir dari keluarga Kane, dipaksa menjadi sempurna untuk menjaga nama baik yang bukan miliknya, pasti telah meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar lecet di jemari.
Yunkai mengambil sebotol cairan antiseptik dan kapas. "Kau pandai berbohong pada dunia, Seraphine, tapi jangan denganku. Di ruangan ini, kau tidak perlu berpura-pura kuat."
Yunkai mulai membersihkan luka di jemari Sera. Sentuhannya sangat lembut, berbanding terbalik dengan auranya yang biasanya mendominasi dan tak tersentuh. Setiap kali kapas itu menyentuh bagian yang terluka, Yunkai akan meniupnya pelan, memberikan rasa sejuk yang menenangkan di atas kulit Sera yang perih.
Sera terdiam, matanya terpaku pada wajah Yunkai yang berjarak begitu dekat dengannya. Dari jarak ini, ia bisa melihat gurat ketampanan yang tegas, bulu mata pria itu yang lebat, dan fokus mutlak yang ditunjukkannya hanya untuk mengobati luka kecil di tangannya. Ada debaran asing yang perlahan merayap di dada Sera—sebuah perasaan ketergantungan yang sejak malam pesta dansa mulai menancapkan akarnya.
"Kenapa kau melakukan ini?" bisik Sera, memecah keheningan yang intim di antara mereka.
Yunkai mengoleskan salep antibiotik dengan ujung jarinya, memijat lembut sekitar luka Sera agar obatnya meresap. "Melakukan apa?"
"Bross ini? Kau sengaja ingin memata-matai ku? Dan sekarang membawaku keluar dari Veridion, menantang Alaric. Kau tahu ini semua akan memperumit posisimu di hadapan dewan kerajaan jika Alaric memutuskan untuk menarik investasinya dari proyek kotamadya barat."
Yunkai beranjak berdiri meletakkan kotak obatnya didalam lemari.
"Kau selalu mengalkulasi segala hal berdasarkan keuntungan politik dan bisnis, Sera. Apakah sesulit itu bagi otak jeniusmu untuk memahami bahwa aku melakukan ini hanya karena aku tidak suka milikku disentuh atau diatur oleh orang lain—termasuk kakakmu?"
"Aku bukan milikmu, Yunkai. Kita hanya terikat kontrak," sanggah Sera.
"Kontrak hanyalah selembar kertas yang kubuat untuk memberimu alasan agar kau mau berdiri di sisiku," balas Yunkai dengan senyuman tipis yang berbahaya namun teramat menawan. Pria itu mengunci tubuh Sera diantara kedua lengannya, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga Sera bisa merasakan kehangatan napas Yunkai yang beraroma mint di wajahnya.
"Kau ingat apa yang kukatakan di balkon malam itu? Aku tidak akan menggunakan kontrak untuk memaksamu menyerah. Aku akan membuatmu datang padaku dengan sukarela, karena kau sadar bahwa di dunia yang penuh intrik ini, hanya aku yang bisa memberikan apa yang paling kau inginkan."
"Dan apa yang paling kuinginkan?" tanya Sera dengan jantung yang berdegup kencang, terhipnotis oleh manik mata gelap Sang Pangeran.
"Kebebasan. Dan tempat di mana kau tidak perlu menjadi bayang-bayang siapa pun," bisik Yunkai parau.
“Kebebasan?” Sera tersenyum sinis. “Dengan memata-mataiku melalui bros ini?”
Yunkai tidak terlihat bersalah. Ia justru terkekeh rendah, memundurkan tubuhnya lalu merebahkan diri di atas sofa tepat di sisi Sera, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Sera jenaka. “Jadi kau masih kesal karena masalah itu?”
“Aku sudah terbiasa,” sahut Sera dingin, membuang muka. “Bukan hanya kau dan keluarga Kane. Bahkan sebelum mereka tiada, orang tuaku juga melakukan hal yang sama.”
“Dan mereka semua memiliki satu alasan yang sama, Sera. Khawatir padamu.”
Sera menoleh kembali, menatap sang Pangeran dengan lekat. Pria itu—entah sejak kapan—selalu tahu kata-kata apa yang bisa menghanyutkan benteng pertahanannya. Sera harus tetap logis.
“Kau khawatir aku akan melepas tanggung jawabku? Tenang saja,” ucap Sera, mencoba mengembalikan pembicaraan ke ranah bisnis. “Tuan besar Kane menyukaimu. Setidaknya sampai saat ini, dia akan tetap memberikan dukungannya untukmu.”
“Lalu bagaimana denganmu?” Yunkai tiba-tiba bangkit dari posisi berbaringnya. Ia menggeser meja kecil di antara mereka, lalu duduk maju tepat di hadapan Sera, memangkas jarak hingga lutut mereka nyaris bersentuhan.
“Aku—?” Sera tertegun sejenak oleh pergerakan intens pria itu, namun ia cepat menguasai diri. “Kau membutuhkan ku sampai di akhir tahun ini, tepat saat peresmian gelarmu. Dan aku? Aku hanya butuh kau sampai waktu kelulusanku tahun depan. Setelah itu, kerja sama kita berakhir.”
Yunkai menyatukan kedua alisnya. Guratan kecewa tercetak jelas di wajah tampannya. Gadis di hadapannya ini masih saja menganggap hubungan mereka tak lebih dari sekadar hitam di atas putih.
“Bagaimana jika aku meminta waktumu lebih lama?” tanya Yunkai lembut, suaranya mengalun rendah. “Bukan hanya sampai kenaikan gelarku. Tapi seterusnya.”
Sera terdiam cukup lama. Keheningan merayap di antara mereka, hanya menyisakan tatapan mata yang saling mengunci. “Lalu apa yang kudapatkan?”
“Semua yang kau inginkan, Sera. Apa pun,” janji Yunkai tanpa ragu. “Dan kali ini—aku memintamu melakukannya dengan hati dan perasaanmu yang sesungguhnya.”
Sera justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan rasa perih di dadanya. “Kenapa? Apa sekarang kau sudah memainkan peranmu dengan perasaan, Pangeran?”
“Apa kau benar-benar tidak bisa merasakannya?” Yunkai berbisik, memajukan wajahnya hingga Sera bisa merasakan kehangatan napas pria itu.
Sera memundurkan wajahnya setitik, memancarkan tatapan sedingin es. “Kau ingin ini semua berantakan? Kesepakatan kita sebelumnya jelas: tidak boleh ada perasaan di dalamnya. Jangan melanggar batas, Yunkai.”
Yunkai menurunkan pandangannya pada bibir Sera yang mengatup rapat. Wanita di hadapannya sungguh kejam. Berkali-kali mengabaikan ketulusannya, berkali-kali pula membangun dinding setelah ia mencoba mendekat.
Keinginan untuk merengkuh dan mengklaim gadis itu begitu kuat di dadanya, menuntut dilepaskan setelah berhari-hari diabaikan.
Namun, Yunkai adalah seorang pemburu yang sabar. Ia tahu, memaksakan ciuman sekarang hanya akan membuat Sera berlari lebih jauh dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Alih-alih mencium bibirnya, Yunkai memiringkan kepala, mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Sera. Ia menghirup aroma manis yang khas dari tubuh gadis itu, lalu mendaratkan kecupan lembut yang lama di rahang bawah Sera.
Sera tersentak, tubuhnya sedikit bergetar di bawah kuasa dominasi Yunkai yang tak terbantahkan.
“Tidak ada kata berakhir, Sera. Aku akan bersabar untukmu,” bisik Yunkai, bibirnya bergesekan dengan kulit leher Sera saat berbicara.
Sebelum Sera sempat protes, Yunkai bergerak ke dekat telinganya. "Malam ini, tidurlah di sini," gumamnya dengan suara berat, penuh kepemilikan mutlak yang membuat bulu kuduk Sera meremang. "Kamar utama sudah kusiapkan. Jangan memikirkan apa yang akan terjadi besok pagi. Di sini, kau aman.”