NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Mendengar pertanyaan itu, senyum Samantha seketika memudar sedikit. Ini adalah pertanyaan yang paling sering ia hindari sejak kembali ke tanah air. “Ayah, jangan tanya hal itu lagi dong. Aku baru saja pulang, ingin beradaptasi dulu dan menikmati waktu bersama kalian. Mengapa harus terburu-buru?” jawabnya sambil mengalihkan pandangan.

Aslan ikut menyambung sambil tersenyum menggoda, “Memang kapan lagi kita tanya? Selama kamu di luar negeri, kamu juga tidak pernah cerita punya kekasih atau sedang dekat dengan siapa pun. Padahal dulu saat masih sekolah, kamu itu primadona. Banyak sekali laki-laki yang mengantre ingin mendekat, tapi tidak ada satu pun yang bisa menarik hatimu. Ayah sampai kadang bercanda takut kamu punya keistimewaan tersendiri atau ada kelainan hati sehingga tidak tertarik pada lawan jenis.”

Begitu mendengar kata “kelainan” keluar dari mulut ayahnya meskipun disertai tawa, wajah Samantha langsung berubah sedikit kesal. Ia menatap keduanya dengan bibir mengerucut.

“Ayah! Kakak! Itu perkataan apa sih? Aku ini normal-normal saja, tahu!” bantahnya dengan nada sedikit meninggi namun tidak sampai marah besar. “Jangan menghubungkan ketidakinginan ku terburu-buru menikah dengan hal yang tidak-tidak seperti itu. Aku hanya belum menemukan orang yang tepat saja.”

Damian tertawa melihat ekspresi putrinya yang meradang itu, lalu mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Ya sudah, ya sudah. Ayah hanya bercanda kok, Nak. Jangan dimasukkan ke hati. Ayah tahu kamu gadis yang baik dan normal, cuma saja Ayah ingin melihatmu memiliki pendamping hidup yang bisa menjagamu kelak.”

Samantha menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia tahu ayahnya hanya bercanda, tapi kalimat itu tetap membuatnya sedikit tidak nyaman. Yang tidak diketahui oleh ayah dan kakaknya, jauh di dalam hatinya sebenarnya sudah ada satu nama yang tersimpan rapat selama bertahun-tahun: Samuel Nugroho.

Sejak masa sekolah dulu, diam-diam ia menyimpan rasa kagum dan suka pada pria itu. Namun, Samuel yang dikenal sangat pendiam, dingin, dan tertutup membuat Samantha tidak pernah berani menunjukkan perasaannya.

Ditambah lagi, ia pernah mendengar kabar bahwa Samuel sudah dijodohkan dan menikah dengan wanita lain, sehingga ia memilih mengubur rasa itu dalam-dalam dan pergi melanjutkan hidupnya ke luar negeri.

Sekarang, tanpa disadarinya, jalan mereka justru mulai bertemu kembali, namun sifat dingin Samuel membuatnya tetap ragu untuk membuka sedikit pun rahasia hatinya itu.

Sambil memainkan jari-jarinya di atas pangkuan, Samantha bergumam dalam hati: “Memang belum ada yang bisa aku sukai selain dia… tapi dengan sifatnya yang sedingin es itu, bagaimana mungkin aku bisa mendekat? Dia bahkan tidak mengenali aku sama sekali.”

Di luar dugaan keluarganya, di balik penampilan anggun dan sederhana itu, hati Samantha sebenarnya sudah lama terikat pada satu orang yang selama ini terasa mustahil untuk dijangkau.

Selama bercerita dan mengobrol dengan ayah serta kakaknya, satu hal yang tidak dikatakan Samantha adalah pengenalannya sendiri.

Sebenarnya, sejak pertama kali bertabrakan di kafe tadi, ia sudah langsung mengenali wajah dan sosok pria dingin itu. Itu adalah Samuel Nugroho pria yang selama ini diam-diam ia kagumi. Bahkan asistennya, Gio, juga tidak asing lagi baginya; ia sering melihat keduanya bersama saat masih sekolah dulu.

Namun, karena masih mengingat sifat Samuel yang tertutup dan dingin, serta merasa dirinya telah berubah penampilan dan menggunakan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajah, Samantha memutuskan untuk berpura-pura tidak mengenalinya.

Itulah sebabnya saat kejadian itu terjadi, ia selalu menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat jelas, sekaligus menghindari percakapan lebih lanjut yang mungkin terasa canggung.

Setelah percakapan selesai dan suasana kembali santai, Samantha berdiri dari tempat duduknya sambil tersenyum lembut.

“Ayah, Kak Aslan, aku pamit pulang dulu ya. Sudah agak sore juga, dan besok aku akan datang lagi untuk membahas beberapa rencana,” ucapnya sopan.

Damian dan Aslan mengantarnya sampai ke depan pintu ruangan. “Baiklah, hati-hati di jalan, Nak. Jangan lupa istirahat yang cukup,” pesan Damian.

“Iya, Ayah. Sampai ketemu lagi,” jawab Samantha, lalu melangkah keluar menuju tempat parkir.

Ia masuk ke dalam mobilnya dan melaju perlahan meninggalkan area perkantoran. Jalanan sore itu masih cukup ramai, tapi suasana terasa tenang. Saat melewati sebuah jalan kecil di pinggir kota yang tidak terlalu padat kendaraan, pandangan matanya tertuju pada pemandangan yang membuatnya langsung mengerem mobil.

Di bawah pohon rindang di pinggir jalan, terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 12–13 tahun sedang dikelilingi oleh tiga orang anak lain yang lebih besar. Mereka mendorong tubuh anak itu, melempar tasnya ke tanah, dan melontarkan kata-kata kasar.

Samantha mengerutkan dahinya dengan perasaan kesal. Tanpa ragu, ia segera mematikan mesin dan turun dari mobilnya, lalu berjalan cepat menghampiri mereka.

“Cukup! Hentikan itu sekarang juga!” seru Samantha dengan nada tegas namun tetap lembut, membuat ketiga anak itu langsung terkejut dan berhenti melakukan aksinya.

Ia segera mendekati anak yang menjadi korban, memungut tasnya yang tergeletak, lalu berdiri menghadap ketiga anak itu dengan tatapan menegur.

“Kalian ini kenapa? Apa ada masalah sehingga harus menyakiti dan mengganggu teman sendiri? Itu bukan hal yang baik untuk dilakukan, apalagi memukul dan menghina orang lain,” kata Samantha perlahan namun tegas, berusaha menasihati mereka dengan sabar.

Yang tidak diketahui Samantha, anak yang menjadi salah satu pelaku perundungan itu adalah Bima Nugroho anak kandung Samuel yang sejak ditinggal ibunya memang sering melampiaskan kekesalannya dengan bersikap keras dan berani.

Mendengar teguran Samantha, bukannya merasa bersalah, Bima malah menatap wanita itu dengan tatapan marah dan memusuhi. Ia melangkah maju sedikit, mengangkat dagunya dengan sikap sombong.

“Siapa kamu? Urus saja urusanmu sendiri! Ini bukan masalah yang perlu dicampuri orang asing sepertimu!” bentak Bima dengan nada tinggi dan kasar.

Matanya melotot tajam, tidak ada rasa takut sedikit pun menghadapi Samantha. Bahkan ia melontarkan kata-kata makian kasar yang terdengar kasar dari mulut seorang anak seusianya.

“Dasar sok tahu! Siapa suruh kamu ikut campur? Pergilah dari sini sebelum aku dan teman-temanku marah padamu juga!” teriaknya lagi.

Samantha tertegun sejenak, sedikit terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut anak itu. Ia hanya bisa menggeleng pelan, merasa sedih sekaligus bingung melihat sikap anak yang begitu keras hati.

Sebelum sempat Samantha menjawab lagi, Bima sudah menarik tangan kedua temannya. “Ayo kita pergi saja! Tidak perlu meladeni dia!”

Dengan langkah tergesa namun tetap menunjukkan sikap angkuh, ketiga anak itu segera berlari menuju sepeda motor yang terparkir di dekat situ. Salah satu temannya langsung menyalakan mesin, lalu mereka melaju pergi meninggalkan tempat itu dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, meninggalkan Samantha dan anak yang sempat menjadi korban sendirian di tempat itu.

Samantha hanya menatap punggung mereka yang menjauh, sambil menghela napas panjang.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!