Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Baru Ulumatu
Deru halus mesin jet milik keluarga Adrian menjadi satu-satunya suara yang menemani perjalanan mereka membelah langit saat fajar menyingsing. Di dalam kabin kelas satu yang mewah dan kedap suara, Alena bersandar pada kursi kulit yang disetel senyaman mungkin untuknya. Di luar jendela bulat jet terlihat gumpalan awan putih perlahan berubah menjadi warna emas dimana matahari akan terbit.
Di sampingnya, Adrian masih terjaga dengan komputer jinjing yang menyala di pangkuannya. Garis rahangnya yang tegas tampak lebih relaks dibandingkan malam menegangkan di Menteng kemarin. Sebelah tangannya tidak pernah lepas menggenggam jemari Alena, seolah menyalurkan kekuatan konstan yang membuat wanita itu tidak lagi merasa terombang-ambing oleh ketakutan.
Tepat pukul delapan pagi waktu setempat, roda pedawat jet menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Proses imigrasi dan keluar bandara berlangsung sangat senyap melalui jalur evakuasi privat yang sudah diatur oleh Baskara. Sebuah mobil SUV hitam dengan kaca antipeluru dan sopir privat dari agensi hukum independen sudah menunggu di depan hanggar eksklusif.
"Perjalanan ke Uluwatu akan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit, Nyonya. Jika merasa pusing atau mual, kantung medis dan air jahe hangat sudah tersedia di kompartemen samping," ujar sang sopir dengan nada sangat profesional.
Alena melempar senyum tipis, lalu menoleh ke arah Adrian yang baru saja menutup ponsel satelitnya. "Bagaimana situasi di Jakarta, Adrian? Apakah... berita tentang Siska sudah keluar?".
Adrian membalikkan tubuhnya, menatap Alena dengan sorot mata yang teduh namun menyiratkan kepuasan yang dingin. "Siska resmi ditahan di rutan Polda Metro Jaya sejak pukul enam pagi tadi. Media massa menjadikannya berita utama dengan tajuk skandal pemerasan terbesar tahun ini. Saham Star Media terjun bebas ke titik terendah hingga perdagangan mereka dibekukan sementara oleh otoritas bursa."
Adrian mengusap punggung tangan Alena lembut. "Dia tidak akan bisa mengusikmu lagi, Alena. Fokusmu sekarang hanya satu: menghirup udara bersih sebanyak banyaknya dan hidup nyaman di tempat ini dan membiarkan anak kita tumbuh dengan sehat."
Mobil SUV itu bergerak menanjak, menyusuri jalanan berliku di kawasan perbukitan batu kapur Uluwatu yang gersang namun eksotis. Begitu melewati sebuah gerbang besi kokoh dengan penjagaan berlapis dari personel keamanan privat, sebuah mahakarya arsitektur langsung terbentang di depan mata Alena.
Vila itu berdiri megah di atas bibir tebing curam yang menghadap langsung ke Samudra Hindia yang biru pekat. Desainnya memadukan unsur minimalis modern dengan sentuhan batu alam lokal.
Suara deburan ombak yang menghantam dinding tebing di bawah sana bergaung menciptakan harmoni alam yang menenangkan. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada bising klakson ibu kota, dan yang paling penting: tidak ada satu pun kamera jurnalis yang mengintai setiap gerak gerik yang dia lakukan, dia merasa aman disini.
Dokter Saras bersama dua orang perawat privat berpakaian kasual sudah berdiri menyambut mereka di lobi depan vila.
"Selamat datang di Uluwatu, nyonya Alena,dan Tuan Adrian," sapa Dokter Saras dengan senyum keibuan yang menenangkan bagi yg melihat.
"Tempat ini memiliki kadar oksigen dan ketenangan terbaik. Kami sudah menyiapkan ruang pemeriksaan privat di lantai bawah yang terhubung langsung dengan rumah sakit internasional di Denpasar jika terjadi kondisi darurat."
"Terima kasih banyak, Dokter. Saya menitipkan Alena dalam pengawasan Anda selama saya harus menyelesaikan beberapa urusan bisnis di luar," sahut Adrian seraya merangkul pinggang Alena secara posesif.
Sore harinya, setelah melewati serangkaian pemeriksaan medis yang menyatakan kondisi janin dalam keadaan stabil, Alena berdiri di balkon kamar utama.
Angin laut yang kencang menerbangkan rambut panjangnya, membawa aroma garam yang segar. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Alena bisa menarik napas dalam-dalam tanpa ada rasa sesak di dadanya.
Adrian melangkah mendekat dari belakang, menyelimuti bahu Alena dengan sebuah syal rajut tebal, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang wanita itu dari belakang. Ia menumpukan dagunya di bahu Alena, membiarkan tubuh mereka menyatu di bawah sapuan angin sore.
"Apakah kamu menyukai tempat ini?" bisik Adrian tepat di telinga Alena.
"Sangat suka, Adrian. Di sini... aku merasa seperti manusia biasa, bukan Alena Putri yang harus selalu tampil sempurna di depan publik," jawab Alena jujur, menyandarkan punggungnya sepenuhnya pada dada bidang suaminya.
Adrian menurunkan salah satu tangannya, menyentuh lembut permukaan perut Alena yang dilapisi kain syal. *swett banget author iri ini wkwk*.
"Di tempat ini, kita akan memulai lembaran baru kita. Sembilan bulan ke depan mungkin tidak akan mudah karena ayahku pasti akan terus memantau dari jauh. Tapi di atas tebing Uluwatu ini, aku pastikan tidak ada satu pun badai Jakarta yang bisa menembus masuk."
Alena memegang tangan Adrian yang berada di atas perutnya, mengunci jemari pria itu dengan jemarinya sendiri. Gerbang baru di Uluwatu telah resmi terbuka. Ini bukan lagi sekadar pelarian dari sebuah skandal kesalahan satu malam, melainkan awal dari fondasi nyata sebuah keluarga yang siap bertahan menghadapi apa pun demi sebuah kehidupan baru yang suci.
Dan pastinya semua itu yang diinginkan sebuah keluarga lainnya, hidup damai tanpa di ganggu dengan orang orang yang tidak tau kehidupan kita tapi ingin tau supaya dia mendapatkan yang dia inginkan dari cerita kita yang dia bagikan.