Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??
Benarkah itu??
Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??
Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.
Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??
Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.
Penasaran dengan perjuangannya??
Langsung baca aja yak...
Jangan lupa like, vote, rate ya...
Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21
"Ahahaha... Gaby Debbara Fernando. Seorang gadis yang berusaha menyingkirkan Shany Shanzoora?" Ucap Shany dengan tawa jahatnya.
"Sudah kuduga." Batin Gaby yang sedari tadi menduga bahwa Shany-lah yang ada dibalik penculikannya.
"Oh? Jadi kau tidak masuk kelas hanya ingin menculikku?" Tanya Gaby dengan senyum sinisnya.
"Tentu saja, tapi ternyata kau tidak tidur ya?" Jawab Shany masih dengan amarah yang ia pendam kemarin.
"Sungguh gadis yang cukup pintar. Tapi sayang sekali, tidur atau tidak yang jelas kau akan mati terbakar api!!" Lanjut Shany dan diikuti dengan tawaannya.
"Apapun halangannya, aku akan tetap membunuhmu!!" Ucap Shany disela-sela tawaannya.
"Sebegitu dendamnya kah kau padaku?" Tanya Gaby memotong tawaan Shany.
"Jika kau sudah tau, kenapa kau bertanya?" Jawab Shany dengan tegas.
Shany mendekati Gaby lalu memegang dagu Gaby dan mengangkatnya dengan kasar.
"Kau tidaklah lebih cantik dariku. Kau hanya gadis biasa, tapi tekadmu itu... aku harus menghancurkannya!!" Ucap Shany dengan menghempaskan wajah Gaby.
"Bakar gubuk tua ini, jangan biarkan dia lolos!!" Lanjut Shany memberi perintah pada suruhannya.
"Siap nona, serahkan saja pada kami." Jawab para pria yang menangkap Gaby dengan penuh kebencian.
"Si*l bagaimana pun caranya aku harus keluar dari gubuk ini. Sepertinya Shany memilih gubuk tua ini agar mudah terbakar." Batin Gaby dengan tatapan menyelidik.
Ketiga pria suruhan Shany mengambil botol berisi minyak bensin, mereka menumpahkan minyak tersebut keseluruh penjuru gubuk. Setelah selesai, salah satu pria menyalakan api dan melemparkannya kedalam gubuk tua itu lalu mereka pergi meninggalkan Gaby.
Gaby gemetar ketakutan melihat api yang semakin membesar. Rasa traumanya akan api kini terasa, kepulan asap menyerbu Gaby. Gaby tak dapat bernafas lagi.
"Dadaku sakiiit...," rintih Gaby dengan suara lirih.
Shany tertawa puas saat api mulai melahap gubuk kecil tersebut bersama dengan Gaby didalamnya.
"Kali ini kau pasti mati!!" Ucapnya dengan nada tinggi.
Shany pergi bersama dengan orang suruhannya, mereka tertawa bersama dengan riang seakan-akan inilah kemenangan yang seharusnya mereka dapat.
Sementara keadaan Gaby semakin memburuk, api hampir membakar seluruh gubuk dan asap yang tebal menyulitkannya untuk bernafas apalagi melihat. Ia hanya dapat berdoa agar seseorang menyelamatkannya, Gaby berdoa sambil mencoba melepas ikatan tali yang mengikat kedua lengan dan kakinya. Namun, usahanya sia-sia Gaby tak mempunyai banyak tenaga. Bahkan ia hampir tidak bernafas sama sekali saking banyaknya asap.
"Siapapun... tolong...," ucap Gaby lirih.
"Ibu... hah... hah... hah," lanjut Gaby dengan terengah-engah.
"Tolong aku, TUAN ARDIIAAAZZ!!" Teriak Gaby dengan sisa-sisa tenaganya.
BRRAAAKK...
Ardiaz menendang pintu gubuk dengan kasar sehingga sebuah kayu yang terbakar jatuh kehadapannya, namun dengan sigap Ardiaz menghindar dan kayu tersebut tak mengenai dirinya.
"Gaby, dimana kamu!?" Teriak Ardiaz ditengah kabut asap.
Ardiaz berjalan mencari Gaby yang terhalang oleh kabut asap.
"Tu... tuan...," ucap Gaby dengan suara pelan, ia terlalu banyak menghirup asap hitam sehingga dadanya terasa sesak.
Ardiaz melihat Gaby yang terduduk dengan lemas, dengan secepat kilat ia mendekati Gaby dan membuka tali yang mengikat tubuh Gaby.
"Si*l, kenapa harus diikat segala sih!!" Ucap Ardiaz kesal dengan orang yang mengikat Gaby.
Ardiaz mengambil sebuah pisau lipat dari saku jasnya lalu memotong tali yang mengikat tangan dan kaki Gaby dengan cepat. Api merambat semakin cepat, pengawal yang bertugas membantu Ardiaz berusaha memadamkan api yang membakar seisi gubuk tua tersebut.
"Bertahanlah...," ucap Ardiaz dengan lembut.
Ardiaz membuka jasnya yang basah, ia sengaja membasahi jasnya agar tak terasa panas dari api. Ardiaz memasangkan jasnya kebadan Gaby lalu menggendongnya dan membawanya keluar dari gubuk.
"Pegangalah yang erat!!" Ucap Ardiaz kepada Gaby yang telah ia gendong.
"Uhuk... uhuk...," Gaby terbatuk-batuk karena sesak.
Ardiaz dan Gaby berhasil keluar dari gubuk dengan kondisi selamat, sementara api berhasil dipadamkan.
"Tikus kecil ternyata sangat berani ya, mencuri keju manis dariku lalu membakarnya begitu saja!!" Ucap Ardiaz dengan senyum dingin yang ditakuti banyak orang.
"Kangjian!!" Teriak Ardiaz memanggil Kangjian.
"Siap tuan!!" Sigap Kangjian menjawab panggilan.
"Cari informasi mengenai keluarga Shanzoora. Aku ingin tahu apakah mereka berhubungan dengan keluarga Sunjaya atau tidak!!" Ucap Ardiaz dengan tegas.
"Baik tuan!!" Jawab Kangjian menyanggupi perintah Ardiaz.
"Gadis ini... semakin hari semakin membuatku tertarik," batin Ardiaz menatap lembut Gaby yang tengah pingsan.
Ardiaz membawa Gaby kerumah sakit.
"Dia baik-baik saja," ucap dokter setelah memeriksa kondisi Gaby.
"Baguslah, kenapa dia pingsan?" Tanya Ardiaz setelah lega mendengar Gaby baik-baik saja.
"Bodoh, tentu saja karena dia terlalu banyak menghirup asap!!" Ucap dokter sambil bertolak pinggang.
"Siapa yang kau panggil bodoh, dasar bodoh!!" Ardiaz marah dengan sebutan yang dilontarkan sang dokter kepadanya.
"Siapa lagi kalau bukan kau." Tegas dokter tersebut sambil berjalan mendekati tempat dimana Gaby terbaring.
Dokter tersebut memperhatikan Gaby dengan seksama, kemudian ia mengernyitkan dahi sambil menopang dagu.
"Gadis ini cantik juga...," ucap sang dokter menggantung.
"Pantas saja kau tertarik," lanjutnya sambil melirik jail Ardiaz.
"Dia memang cantik," Ardiaz mengakui perkataan dokter yang memuji paras cantik Gaby.
"Tapi kenapa kau tertarik padanya, padahal aku dari dulu mencintaimu. Seharusnya kau tidak menolakku." Ucap sang dokter dengan manja dan membuat Ardiaz bergidik geli mendengarnya.
"Aku ini masih normal. Mana mungkin aku jatuh cinta pada sesama jenis." Jawab Ardiaz dengan santai sambil tersenyum menyepelekan perkataan dokter tersebut.
"Huuff... aku ini baru saja pulang dari Pranciss setelah bekerja...," ucap sang dokter sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Kenapa harus disuruh bekerja lagi...," keluhnya sambil berjalan menuju sebuah sofa kemudian ia duduk diatasnya sambil menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Ardiaz menghela nafas sambil melipatkan tangannya didepan dada lalu memejamkan matanya.
"Liburan ketempat yang kau mau, menggunakan pesawat pribadiku." Ucap Ardiaz dengan membukan matanya perlahan.
Sang dokter hanya terdiam tak menjawab tawaran dari Ardiaz.
"Kau juga bisa menggunakan kartu black card milikku." Tawar Ardiaz sekali lagi.
Sang dokter membuka matanya masih tak menjawab tawaran. Ia berpura-pura menolak agar tawaran semakin banyak.
"Huuff...," Ardiaz membuang nafas perlahan.
"Akan ku siapkan wanita cantik untuk pergi bersamamu." Ucap Ardiaz dengan malas.
Sontak hal itu membangunkan sang dokter dengan semangatnya.
"Setuju!!" Jawab sang dokter dengan gembira.
"Kau ini bila ada wanita cantik selalu bersemangat," ucap Ardiaz heran dengan sikap sang dokter.
"Tentu saja, aku tidak bisa hidup apabila tak ada wanita cantik dan seksi disampingku." Jawab sang dokter dengan senyumnya yang mempesona.
"Sudah tua masih saja mata keranjang." Ardiaz meledek dokter dengan santainya.
Sang dokter melotot kearah Ardiaz dengan ekspresi marah.
"Siapa yang kau sebut tua, dasar tua!!" Tegasnya dengan marah.
"Tentu saja kau, siapa lagi." Jawab santai Ardiaz.
"Mana mungkin aku tua. Jelas-jelas aku ini tampan dan mempesona," ucap sang dokter membanggakan diri.
Ardiaz jijik dengan ucapan dokter tersebut.
"Dasar tua!!" Ledek Ardiaz dengan tertawa.
"Hey!! Jangan panggil aku tua!!" Teriak sang dokter.
"Kau itu tua, dan lihat banyak sekali uban dirambutmu!!" Ardiaz tak berhenti meledek dokter tersebut walaupun sang dokter marah besar.
"Kau yang tua!!" Balas sang dokter.
"Kau!!" Ucap Ardiaz tak mau kalah.
Keduanya saling meledek satu sama lain sehingga membuat bising para tetangga ruang sebelah.
Anny masuk kedalam ruangan Gaby dan melihat keduanya sedang bertengkar, lantas Anny membentak mereka dan menyuruh mereka untuk diam.
"KALIAN BERDUA, DIIAAAMM!!" Teriak Anny dengan tegas dan berwajah ganas seperti seorang ibu yang marah.
Sontak keduanya terdiam dan menoleh kearah Anny yang sedang bertolak pinggang dengan marahnya. Keduanya saling menatap lalu memalingkan muka.
"Kalian ini, kalau nona Gaby terbangun bagaimana!?" Tegas Anny kepada keduanya.
Keduanya hanya diam tak menjawab dan memilih untuk saling memalingkan wajah.
"Uumm...," Gaby bergumam pelan lalu membuka matanya.
"Nona!!" Ucap Anny senang.
"Oh Tuhan... terima kasih," lanjutnya memanjatkan doa.
"Syukurlah nona baik-baik saja... saya... saya sangat khawatir...," ucap Anny dengan berurai air mata.
"Ah, bibi kumohon jangan menangis. Aku baik-baik saja," jawab Gaby dengan suara lirih.
Anny terisak menahan air matanya. Sementara sang dokter melangkah maju mendekati Gaby.
"Halo nona manis... perkenalkan saya Roger Alpheolus!"