PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — DALAM KEGELAPAN
BAB 18 — DALAM KEGELAPAN
Brak!
Seluruh aula Hotel Grand Imperial mendadak gelap gulita.
Teriakan para tamu memenuhi ruangan.
"Aaah!"
"Lampunya mati!"
"Apa yang terjadi?!"
Suasana berubah menjadi kacau.
Dalam kepanikan itu, Mahendra masih menggenggam tangan Eiri.
"Eiri, tetap di sampingku."
"I-iya..."
Namun...
Di tengah kerumunan yang saling bertabrakan...
Seseorang dengan sengaja menyenggol Mahendra.
Brak!
Mahendra kehilangan keseimbangan sesaat.
Dan pada detik itulah...
Sebuah tangan lain menarik pergelangan tangan Eiri.
"Eiri!"
Mahendra berusaha meraihnya kembali.
Tetapi...
Genggaman mereka terlepas.
"EIRI!"
Suara Mahendra menggema di tengah aula.
Namun tidak ada jawaban.
Di sisi lain.
Eiri yang tidak dapat melihat apa pun hanya bisa mengikuti arah tarikan tangan itu.
"Si-siapa?"
"Tolong..."
Ia mencoba melepaskan diri.
Namun orang itu menggenggam tangannya semakin erat.
Beberapa langkah kemudian...
Lampu darurat menyala redup.
Eiri akhirnya dapat melihat sosok di depannya.
Seorang pria bertopi hitam.
"Kamu...?"
Pria itu segera melepaskan tangan Eiri.
"Maaf."
"Aku tidak berniat menyakitimu."
Suaranya terdengar tenang.
"Eiri."
"Kamu harus segera pergi dari hotel ini."
Eiri mundur beberapa langkah.
"Siapa Anda?"
Pria itu terdiam beberapa saat.
"Lupakan pertanyaan itu."
"Yang terpenting..."
"Hari ini ada orang yang ingin mencelakaimu."
Belum sempat Eiri bertanya lagi...
Suara langkah kaki terdengar dari lorong.
Pria bertopi hitam langsung menoleh.
"Mereka datang."
"Eiri."
"Lari ke arah tangga sebelah kiri."
"Lalu cari Mahendra."
"Dia akan melindungimu."
Eiri semakin bingung.
"Tapi siapa Anda?"
Pria itu hanya tersenyum tipis.
"Suatu hari nanti..."
"Kamu akan tahu."
Setelah berkata demikian...
Ia berlari ke arah yang berlawanan.
Di aula utama.
Lampu akhirnya kembali menyala.
Mahendra masih berdiri di tempat yang sama.
Wajahnya terlihat panik.
"Asisten!"
"Iya, Tuan!"
"Cari Eiri!"
"Seluruh pengawal menyebar sekarang juga!"
"Baik!"
Marchel yang mendengar itu langsung menghampiri.
"Ada apa?"
"Eiri hilang."
Seketika wajah Marchel berubah serius.
"Aku ikut mencari."
Melveri yang berada tidak jauh dari mereka ikut panik.
"Bagaimana bisa?"
Mahendra mengepalkan tangannya.
"Ada seseorang yang sengaja memisahkan kami."
Sementara itu.
Di lantai dua hotel.
Darius memperhatikan semua kekacauan itu dari balik kaca.
Ia tersenyum puas.
"Ternyata Rivan ikut campur."
Pria di sampingnya bertanya,
"Tuan..."
"Apakah rencana kita gagal?"
Darius menggeleng.
"Belum."
"Permainan baru saja dimulai."
Di lorong belakang hotel.
Eiri terus berlari.
Napasnya mulai terengah-engah.
"Tuan Mahendra..."
"Di mana Anda?"
Saat hendak berbelok...
Tiba-tiba...
Brak!
Eiri menabrak seseorang.
"Aduh..."
Ia mengangkat kepalanya.
"Maaf, saya ti-"
Ucapan Eiri terhenti.
Di hadapannya berdiri Mahendra.
"Eiri!"
Mahendra langsung memeluknya erat.
"Aku kira..."
"Aku kehilanganmu."
Suara Mahendra terdengar bergetar.
Eiri perlahan membalas pelukannya.
"Maaf..."
"Tadi ada seseorang yang membawaku ke sini."
Mahendra langsung memeriksa keadaan Eiri.
"Apa dia menyakitimu?"
"Tidak."
"Dia malah menyuruhku mencari Anda."
Mahendra mengernyit.
"Menyuruhmu mencariku?"
"Iya."
"Dia memakai topi hitam."
Mata Mahendra sedikit membesar.
"Pria itu lagi..."
Dalam hati Mahendra mulai muncul dugaan.
Mungkin selama ini pria bertopi hitam itu bukan musuh.
Namun...
Sebelum sempat berpikir lebih jauh...
Dor!
Suara tembakan menggema dari lantai bawah.
Semua orang terkejut.
"Asisten!"
Mahendra langsung menarik Eiri ke belakang tubuhnya.
"Tutup semua pintu keluar!"
"Siapa pun jangan ada yang keluar dari hotel!"
Para tamu mulai berteriak panik.
Sementara itu, Darius tersenyum tipis dari lantai dua.
"Bagus..."
"Sekarang Mahendra akan mulai mencari siapa musuh sebenarnya."
Di sisi lain hotel...
Rivan mengepalkan tangannya.
"Dasar gila..."
"Dia bahkan berani menggunakan senjata di depan orang banyak."
Rivan sadar.
Malam itu bukan sekadar ancaman.
Melainkan awal dari perang yang selama ini ia coba cegah.
Bersambung ke BAB 19 — Tembakan Pertama.