NovelToon NovelToon
The Savior

The Savior

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Misteri / Action / Fantasi / Sci-Fi / Horor
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.

Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.

Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.

Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.

Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

Perempuan dewasa itu berjalan mendekat.

Irana mendatangi perempuan itu, langkahnya biasa, seperti anak kecil yang mendekati ibunya setelah bermain terlalu lama.

Siapapun yang punya kecepatan tertinggi, mereka tidak sering menggunakannya. Karena menghabiskan banyak stamina.

"Pulanglah, Irana. Biar ibu yang mengurus mereka," bisik perempuan itu pada Irana.

Suaranya pelan, lembut, tapi ada sesuatu di baliknya, seperti peringatan yang dibungkus kasih sayang.

Irana mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia terbang ke atas, meninggalkan tempat itu.

Will dan Clara yang melihatnya waspada.

Perempuan itu sekarang berdiri sendirian di hadapan mereka. Topeng putih masih menempel di wajahnya. Jubah hitam tidak bergerak, padahal angin bertiup.

"Ikuti aku," ucap perempuan itu sambil berbalik arah.

"Kenapa kami harus mengikutimu?" tanya Clara. Tangannya masih menggenggam pisau. Tidak ada niat melepaskannya.

"Kalian akan tahu nanti."

Diam sejenak.

"Itu keputusan kalian. Kalian mau keluar dari hutan ini, atau tidak?"

Will dan Clara saling menatap.

"Bagaimana menurutmu?" bisik Clara.

Will menatap punggung perempuan itu. Jubah hitam yang diam. Topeng putih yang tanpa ekspresi.

"Kita ikuti," jawab Will akhirnya.

"Kau yakin?"

"Kita tidak punya pilihan lain. Kita tersesat, dan dia tahu jalan keluar."

Clara menghela napas. Ia tidak suka ini. Ada banyak hal yang tidak masuk akal hari ini. Tapi Will benar.

"Baik," kata Clara pada perempuan itu.

"Kami ikut,"

Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya berjalan pelan, tenang, langkah demi langkah.

Will dan Clara mengikuti dari belakang. Ka

Tapi semakin jauh mereka berjalan, semakin terasa ada yang aneh. Pepohonan di kiri kanan mereka seolah menyingkir. Bukan bergerak. Bukan tumbang. Tapi seperti memberi jalan, tanpa suara, tanpa peringatan.

Clara merasakannya. Will juga.

"Hutan ini... takut padanya," bisik Clara.

Will tidak menjawab. Matanya terus tertuju pada punggung perempuan itu.

Jubah hitam yang tidak pernah berkibar.

Topeng putih yang tidak pernah menoleh.

Setelah beberapa menit berjalan.

Pepohonan mulai terasa renggang. Cahaya matahari mulai menembus daun-daun yang tadinya lebat. Udara tidak lagi lembap dan dingin.

Lalu, mereka sampai di sebuah persimpangan. Tanah yang lebih keras, bekas roda, dan jejak sepatu.

Clara berhenti. Matanya menyapu sekeliling.

"Ini jalannya," ucap Clara dengan suara lega.

Ia ingat jalan ini, jalan menuju gerbang kota, jalan yang mereka lewati kemarin pagi sebelum masuk ke hutan.

Will menghela napas. Bukan lega. Tapi sedikit tenang.

Ia menoleh ke perempuan bertopeng itu.

"Terima kasih sudah membantu kami mencari jalan keluar. Aku kira kau musuh juga,"

Perempuan itu tidak segera menjawab. Ia berdiri diam di pinggir jalan, jubah hitamnya tidak bergerak.

"Sama-sama,"

Kemudian, tangannya muncul dari balik jubah menggenggam selembar surat. Kertasnya berwarna krem, dilipat rapi, tidak ada segel atau lilin.

"Jangan lupa ini,"

Will mengerjap. "Apa ini?"

"Serahkan itu pada resepsionis Guild. Nanti kau akan tahu,"

Will menerima surat itu. Tangannya menyentuh jari perempuan itu sekilas.

"Baiklah," jawab Will sambil menyimpan surat itu ke dalam kantong.

Perempuan itu tidak berkata apa-apa lagi.

Ia berbalik arah, melangkah perlahan kembali ke dalam hutan, ke arah pepohonan yang masih gelap dan lebat.

Langkahnya tidak bersuara.

Jubah hitamnya perlahan menyatu dengan bayang-bayang.

Lalu, ia menghilang.

Will dan Clara berdiri di pinggir jalan, menatap ke arah perempuan itu lenyap di antara batang-batang pohon.

"Aneh," gumam Clara.

"Iya," jawab Will.

Mereka berdiri diam beberapa saat, lalu berbalik.

"Ayo pulang," kata Will.

"Iya,"

Mereka mulai berjalan kembali ke kota.

Jalan setapak yang mereka lewati semakin melebar. Bekas roda dan jejak sepatu semakin sering terlihat. Pepohonan mulai berganti dengan ladang-ladang kecil milik warga.

Clara berjalan di depan, matanya tetap waspada meskipun mereka sudah keluar dari hutan. Will mengikuti di belakang, sesekali menoleh ke belakang — memastikan tidak ada yang mengikuti.

Matahari mulai condong ke barat. Sore hampir tiba.

"Kita hampir sampai," kata Clara tanpa menoleh.

Will mengangguk. "Iya,"

Diam sejenak.

"Will,"

"Hm?"

"Apa yang sebenarnya terjadi di hutan itu?"

Will terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab dari mana. Tentang Irana. Tentang kecepatan yang melampaui batas. Tentang perempuan bertopeng yang memberikan surat. Tentang hutan ratusan tahun lalu.

"Aku sendiri juga bingung menjelaskannya," jawab Will.

Clara tidak memaksa. Ia hanya mengangguk.

Mereka berjalan lagi.

Tak lama kemudian, gerbang kota terlihat di kejauhan. Dua penjaga perempuan berdiri di samping pintu gerbang, sama seperti saat mereka keluar kemarin.

"Kita sampai," kata Clara.

Will menghela napas.

Setelah sekian lama di hutan, mereka akhirnya pulang.

Di kota.

Suasana kota terasa berbeda setelah seharian berada di hutan. Udara yang tadinya lembap dan dingin berganti dengan hangatnya sore. Orang-orang lalu lalang dengan aktivitas masing-masing. Pedagang kaki lima mulai bertebaran di pinggir jalan.

Will dan Clara berjalan cepat menuju Guild. Tidak banyak bicara. Keduanya sama-sama terlihat lelah, tapi ada satu hal yang mengganjal.

Misi yang membahayakan keselamatan mereka.

Pintu Guild terbuka. Suara ramai di dalam masih sama seperti biasa. Beberapa orang menatap mereka sekilas, lalu mengabaikan.

Clara berjalan lebih dulu menuju meja resepsionis.

Will mengikuti dari belakang.

Resepsionis yang duduk di belakang meja sedang sibuk menulis. Begitu menyadari ada yang mendekat, ia mengangkat wajah.

"Oh, kalian kembali," katanya dengan senyumnya yang ramah.

"Iya," jawab Clara dengan datar.

"Bagaimana misinya? Berhasil?" tanya Resepsionis.

Clara tidak menjawab. Ia mengeluarkan kertas misi dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.

"Ini misi rank A, bukan rank B," kata Clara. Suaranya tidak tinggi, tapi tegas.

Resepsionis itu terdiam sejenak. Matanya beralih ke kertas itu, lalu ke wajah Clara, lalu ke Will.

"Ah... maaf. Mungkin ada kesalahan administrasi," jawabnya dengan tersenyum. Tapi senyumnya terlihat berbeda.

"Apa! Kesalahan administrasi?" Clara menekan kata-katanya.

"Kami hampir celaka di hutan, tahu,"

Resepsionis itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil kertas itu dan menyimpannya.

"Akan saya laporkan. Untuk sementara, kalian istirahat dulu,"

Will yang dari tadi diam, kini maju selangkah.

Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong, lalu mengeluarkan surat pemberian perempuan bertopeng itu.

"Ada seseorang yang menitipkan ini untukmu," kata Will sambil menyerahkan surat itu.

Resepsionis menerimanya. Wajahnya berubah. Senyumnya hilang.

"Siapa yang memberi ini?" tanya resepsionis dengan suara yang tidak lagi ramah.

"Kita tidak tahu," jawab Will.

"Dia yang membantu kami keluar dari hutan,"

Resepsionis itu membuka surat. Matanya membaca pelan-pelan.

Kemudian melihat Clara dan Will.

"Ikuti aku," ucap resepsionis sambil keluar dari balik meja.

"Kenapa kami harus mengikutimu?" tanya Clara yang masih belum mempercayainya.

"Nanti kau akan tahu," jawab resepsionis. Suaranya tidak memberi ruang untuk bertanya lagi.

Will dan Clara saling melirik. Lalu mengikuti.

Bersambung...​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!