Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017
Hendra baru sadar pabrik itu tidak secantik laporan yang biasa ia tunjukkan di meja makan.
Dulu, setiap kali Sari bertanya soal utang, ia akan marah. Ia bilang perempuan jangan ikut campur urusan laki-laki. Ia bilang Sari cukup mengurus rumah, kios, dan anak. Ia bilang pabrik adalah harga dirinya.
Sekarang harga diri itu berdiri di hadapannya dalam bentuk mesin rusak, gudang penuh barang retur, dan surat tagihan yang menumpuk seperti tembok.
Manajer produksi, Pak Didit, meletakkan map tebal di meja.
“Pak, supplier tepung minta pembayaran minggu ini. Kalau tidak, bahan baku ditahan.”
Hendra membuka map itu dengan tangan berat. “Berapa?”
Pak Didit menyebut angka.
Hendra memejamkan mata.
Ratna duduk di sofa kantor, kuku merahnya mengetuk layar ponsel. “Bukannya kemarin kamu bilang pabrik ini masih kuat?”
“Diam dulu, Rat.”
“Aku cuma tanya. Kamu selalu bilang setelah menikah, kita akan hidup tenang. Tapi dari kemarin orang datang menagih terus.”
“Aku bilang diam.”
Ratna mendengus. “Jangan bentak aku. Aku bukan Sari.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih sempit. Hendra menoleh tajam.
“Ya. Kamu memang bukan Sari,” katanya pelan. “Sari tidak pernah duduk manis sambil mengeluh saat ada masalah.”
Wajah Ratna berubah. “Maksudmu aku tidak berguna?”
Pak Didit pura-pura melihat lantai.
Hendra mengusap wajah. Ia tahu ia salah bicara, tetapi tidak punya tenaga untuk meminta maaf. Sejak resepsi yang gagal itu, semuanya bergerak melawan dirinya. Keluarga besar mulai menjaga jarak. Teman-teman bisnis mendengar kabar Sari bangkit dari kain kafan dan menuntut cerai. Beberapa orang tertawa di belakangnya. Beberapa lagi bertanya dengan nada sok prihatin.
Yang paling menyakitkan, bank mulai menanyakan kelayakan kredit.
“Pak,” kata Pak Didit hati-hati, “kalau ada tambahan dana dari kebun Bu Sari atau kios...”
Hendra membanting map. “Jangan sebut nama dia.”
Ponselnya bergetar. Pesan dari Tania.
Om, Mama demam tinggi. Aku sudah bawa ke klinik. Dokter minta cek darah. Bisa transfer?
Hendra membaca pesan itu sambil menahan napas.
Ratna langsung berdiri. “Tania kenapa?”
“Demam.”
“Kirim uang sekarang.”
“Rekening perusahaan kosong untuk operasional. Rekening pribadiku baru keluar untuk bayar supplier.”
Ratna menatapnya seperti baru melihat orang asing. “Jadi kamu mau anakku menunggu?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kamu bisa minta ke Sari.”
Pak Didit batuk kecil. Hendra memelototinya. “Keluar.”
Setelah pintu tertutup, Hendra menatap Ratna. “Kamu gila?”
“Kenapa gila? Kios dan kebun itu masih harta bersama. Dia baru dapat kontrak besar. Dia pasti punya uang.”
“Aku baru ribut dengannya kemarin.”
“Justru kamu harus menekan dia. Jangan biarkan dia merasa menang.”
Hendra tertawa tanpa suara. “Kamu pikir Sari masih perempuan yang bisa ditekan?”
“Kalau kamu laki-laki, kamu pasti bisa.”
Kalimat itu menyentuh bagian paling busuk dalam diri Hendra. Ia mengambil ponsel, menatap nama Sari cukup lama, lalu menekan panggil.
Panggilan ditolak.
Ia menelepon lagi. Ditolak lagi.
Ratna menyilangkan tangan. “Lihat? Dia sudah kurang ajar.”
Hendra mengetik pesan.
Tania sakit. Butuh uang untuk cek darah. Tolong transfer dulu. Nanti aku ganti.
Pesan terkirim. Dua centang. Dibaca.
Tidak ada balasan selama lima menit.
Lalu ponsel berbunyi.
Kirim tagihan klinik dan nama pasien. Aku akan bayar langsung ke klinik jika benar darurat. Bukan ke rekeningmu.
Hendra menatap layar.
Ratna merebut ponsel. “Dia menghina kita.”
“Dia minta bukti.”
“Karena dia tidak percaya.”
“Memang kenapa dia harus percaya?”
Ratna terdiam. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kata keluar.
Hendra mengambil kembali ponselnya. Ia mengirim foto tagihan yang dikirim Tania. Sari membalas beberapa menit kemudian.
Sudah dibayar. Minta Tania pulang setelah cek darah. Jangan beri obat sembarangan.
Ratna membaca pesan itu dan wajahnya makin gelap. “Dia sok jadi ibu baik.”
“Dia membayar.”
“Karena ingin membuat kita terlihat miskin.”
Hendra tidak menjawab. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa malu menerima bantuan dari Sari. Dulu, uang Sari masuk begitu saja ke rumah. Kios, kebun, uang simpanan, semua terasa seperti bagian wajar dari hidupnya. Ia tidak pernah bertanya bagaimana Sari menjaga semuanya. Ia hanya menikmati hasilnya.
Sekarang Sari memberi uang dengan syarat dan bukti. Rasanya seperti ditampar tanpa suara.
Sore itu Hendra pergi ke kios.
Ayu melihatnya dari jauh dan segera berdiri. “Pak Hendra, Bu Sari sedang ada janji.”
“Aku tunggu.”
“Tidak bisa. Kalau tidak ada janji, Ibu tidak menerima.”
Hendra menatap gadis itu. “Kamu pegawai, jangan ikut campur.”
Ayu pucat, tetapi tidak mundur. “Saya menjalankan aturan kios.”
Sari keluar dari ruang belakang sambil membawa kotak nota. Ia melihat Hendra, lalu menaruh kotak itu di meja.
“Ada apa lagi?”
“Aku ingin bicara baik-baik.”
“Kalau baik-baik, kirim pesan ke Pak Surya.”
“Ini soal keluarga.”
Sari tertawa pendek. “Keluarga yang mana? Yang menggelar resepsi saat aku dikira mati?”
Beberapa pelanggan menoleh. Hendra menahan emosi.
“Jangan buka aib di tempat umum.”
“Aib itu kamu yang buat. Aku hanya menyebut alamatnya.”
Hendra mendekat. “Sar, pabrik sedang sulit. Aku butuh waktu. Kalau kamu terus menekan soal pembagian harta, semua bisa hancur.”
“Pabrik memang sudah hancur sebelum aku menuntut. Kamu hanya menutupinya dengan uangku.”
“Aku membangun pabrik itu untuk keluarga.”
“Kamu membangun panggung untuk egomu.”
Hendra menarik napas panjang. “Aku tahu aku salah soal Ratna. Tapi jangan hancurkan semua yang kita bangun.”
Sari memandangnya lama. Ada masa ketika kalimat seperti itu akan membuat dadanya lunak. Kata kita dulu adalah tali. Setiap kali Hendra menyebutnya, Sari akan mengalah, menambal utang, meminta maaf untuk kesalahan yang bukan miliknya.
Sekarang kata itu terdengar seperti pintu tua yang engselnya patah.
“Kita?” ulang Sari. “Saat aku sakit, siapa yang kamu panggil? Saat dokter bilang aku mungkin tidak selamat, siapa yang kamu peluk? Saat kain kafan dibungkuskan ke tubuhku, siapa yang kamu ajak menikah?”
Hendra menunduk.
“Jangan pakai kata kita untuk mengambil uangku.”
“Aku tidak meminta cuma-cuma. Aku pinjam.”
“Tidak.”
“Sar.”
“Tidak.”
Hendra menelan ludah dengan susah. Ia teringat berapa kali Sari menyelipkan uang ke laci kantornya tanpa bertanya. Saat gaji karyawan terlambat, Sari yang memutar uang kios. Saat mesin rusak, Sari yang menjual perhiasan kecilnya. Dulu ia menyebut semua itu dukungan istri. Sekarang, di depan perempuan yang menatapnya seperti orang asing, ia baru sadar itu utang yang tidak pernah ia akui.
Wajah Hendra menegang. “Kamu tega melihat pabrik tutup? Banyak orang kerja di sana.”
“Kamu baru ingat nasib karyawan saat uangku tidak bisa kamu ambil.”
Hendra memukul meja dengan telapak tangan. Ayu tersentak. Pelanggan di sudut berhenti memilih bawang.
Sari tidak bergerak.
“Turunkan tanganmu,” katanya pelan.
“Kamu pikir aku tidak bisa melawan?”
“Aku tahu kamu bisa marah. Aku tahu kamu bisa mengancam. Aku tahu kamu bisa berteriak sampai seluruh kampung mendengar. Tapi sekarang aku juga tahu satu hal.”
“Apa?”
Sari mengambil ponsel dari meja. Layarnya menyala. Rekaman suara berjalan.
“Aku tahu cara menyimpan bukti.”
Hendra membeku.
Sari memanggil Ayu. “Tolong kirim rekaman ini ke Pak Surya.”
Ayu mengangguk cepat.
Hendra mundur selangkah. Untuk pertama kalinya di kios itu, ia tampak seperti tamu yang tidak diinginkan.
“Sari, kamu berubah.”
“Tidak,” kata Sari. “Aku hanya berhenti takut.”
Hendra pergi tanpa membeli apa pun. Dari balik kaca kios, Sari melihat mobilnya melaju terlalu cepat, nyaris menabrak motor yang lewat.
Ayu mendekat pelan. “Bu, Ibu tidak apa-apa?”
Sari memasukkan ponsel ke saku.
“Aku lapar,” katanya. “Ambilkan nasi padang. Pakai rendang dua.”
Ayu tertawa lega, tetapi matanya basah.
Di dalam mobil, Hendra menerima telepon dari Ratna.
“Dapat uang?”
Hendra memandang jalan yang mulai gelap.
“Tidak.”
Di seberang, Ratna terdiam, lalu berkata dingin, “Kalau begitu kita harus cari cara lain.”
Hendra tidak bertanya cara apa.
Ia takut sudah tahu jawabannya.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??