Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Maya baru menyadari kakinya gemetar setelah masuk mobil.
Selama di ballroom, ia terlalu sibuk menahan malu, takut, dan perasaan aneh yang muncul setiap kali Raka menatapnya. Begitu pintu mobil tertutup, semua kekuatan yang ia pakai untuk berdiri tegak seperti lepas sekaligus.
Raka melihatnya.
"Kram?"
"Tidak."
"Kakimu gemetar."
"Itu karena saya menari di depan orang kaya satu ballroom."
"Kamu menari denganku."
"Itu justru sumber masalahnya."
Bima yang menyetir menunduk sedikit. Maya yakin pria itu menahan tawa.
Raka membuka botol air, menyerahkannya.
"Minum."
Maya menerima. "Kalau Mas terus memerintah seperti ini, anak ini nanti lahir-lahir langsung bisa bilang 'minum'."
"Bagus. Berarti dia patuh."
"Atau galak seperti ayahnya."
Raka menoleh.
Maya baru sadar ia menyebut ayahnya begitu alami. Wajahnya langsung panas.
Raka tidak melewatkannya.
"Ayahnya?"
"Maksud saya..."
"Aku ayahnya."
Maya menatap botol air.
"Iya."
Jawaban kecil itu membuat suasana di mobil berubah lagi. Tidak panas seperti di lorong hotel, tidak tegang seperti saat bertengkar tentang Yudha. Lebih lembut, tapi justru lebih berbahaya.
Raka menatap perut Maya yang masih belum tampak jelas.
"Besok kontrol."
"Saya ingat."
"Aku ikut."
"Mas Raka punya rapat pagi."
"Aku pindahkan."
"Mas tidak bisa terus memindahkan rapat karena saya."
"Bisa."
Maya menoleh. "Perusahaan Mas bagaimana?"
"Perusahaanku tidak akan runtuh karena CEO-nya menemani istrinya ke dokter."
Kalimat itu membuat Maya diam.
Dulu saat hamil Dimas, ia pergi ke puskesmas sendiri. Hendra sudah tidak ada. Ia ingat duduk di bangku panjang sambil memegang nomor antrean, mendengar ibu-ibu lain ditemani suami. Ia pernah mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia kuat. Bahwa tidak apa-apa sendiri. Bahwa bayi di perutnya cukup menjadi teman.
Sekarang Raka berkata rapat bisa dipindahkan.
Sesederhana itu.
Maya menoleh ke jendela agar Raka tidak melihat matanya basah.
"Menangis lagi?" tanya Raka.
"Tidak."
"Maya."
"Saya hanya ingat sesuatu."
"Tentang Dimas?"
Ia mengangguk pelan.
Raka tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengulurkan tangan, menaruh saputangan di pangkuan Maya.
Maya mengambilnya.
"Mas selalu membawa ini?"
"Sejak menikah denganmu, perlu."
Maya menatapnya, tersinggung. "Saya tidak menangis sebanyak itu."
Raka diam.
Bima diam.
Maya menatap keduanya. "Saya benar-benar tidak menangis sebanyak itu."
"Minum," kata Raka.
Ia jelas mengalihkan pembicaraan.
Maya memutuskan tidak melanjutkan karena ia mungkin kalah.
Di tengah jalan, mobil melewati penjual es krim kecil di depan minimarket. Ada beberapa anak sekolah membeli cone warna-warni. Maya menatapnya sedikit lebih lama.
Raka melihat.
"Mau?"
"Tidak."
Mobil terus berjalan.
Sepuluh detik kemudian Maya menoleh ke belakang.
Raka memberi instruksi, "Bima, putar balik."
Maya panik. "Jangan!"
"Kamu mau."
"Saya hanya melihat."
"Lama."
"Tidak semua yang saya lihat harus dibeli."
"Kotak musik sudah membuktikan sebaliknya."
Bima sudah menyalakan lampu sein.
Maya ingin protes, tapi mulutnya mengkhianatinya. "Kalau beli, satu saja."
Raka menatapnya seperti sudah tahu.
Mereka berhenti di depan minimarket. Bima hendak turun, tapi Raka keluar sendiri. Maya menunggu di mobil, melihat pria dengan setelan mahal berdiri di depan gerobak es krim kecil. Penjualnya tampak tegang begitu mengenali kualitas jas Raka.
Raka kembali membawa dua cone.
Satu vanila, satu cokelat.
"Dokter bilang jangan terlalu banyak gula," katanya sebelum Maya sempat senang.
"Lalu kenapa beli dua?"
"Cokelat untukku."
Maya menatap cone cokelat di tangan Raka.
"Mas suka es krim?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Supaya kamu tidak makan dua."
Maya hampir tertawa.
Ia mengambil cone vanila. Dingin manisnya menyentuh lidah, dan ia tanpa sadar memejamkan mata. Setelah malam yang melelahkan, rasa sederhana itu membuatnya bahagia.
Raka memperhatikannya.
"Seenak itu?"
"Iya."
"Berlebihan."
Maya menyodorkan es krimnya. "Coba."
Raka melihat bagian yang sudah ia gigit.
Maya baru sadar, lalu cepat-cepat memutar cone ke sisi lain. "Yang sini belum saya makan."
Raka menatapnya.
Lalu ia menunduk dan menggigit bagian yang tadi dimakan Maya.
Maya membeku.
Bima menatap lurus ke depan dengan disiplin luar biasa.
Raka mengunyah pelan.
"Lumayan."
Maya merasa seluruh wajahnya terbakar.
"Mas sengaja."
"Apa?"
"Itu bagian yang sudah saya makan."
"Oh."
Nada itu sama sekali tidak menyesal.
Maya memegang cone-nya seperti benda berbahaya.
"Mas Raka kan bersih sekali. Saya pikir..."
"Kamu istriku."
Lagi.
Kata itu selalu muncul di saat Maya tidak siap.
Ia menunduk dan memakan es krimnya dengan cepat agar tidak perlu bicara. Raka melihat, lalu mengambil cone itu dari tangannya.
"Cukup."
"Mas Raka!"
"Terlalu dingin."
"Saya baru makan setengah."
"Setengah sudah cukup."
Maya menatapnya dengan tidak percaya. "Mas membeli es krim untuk menyiksa saya?"
"Untuk menyenangkanmu dalam batas aman."
"Itu kalimat paling tidak romantis yang pernah saya dengar."
"Tapi benar."
Maya hendak merebut cone itu, tapi perutnya tiba-tiba terasa tertarik.
Ia berhenti.
Raka langsung melihat perubahan wajahnya.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Mungkin terlalu dingin."
"Sakit?"
"Sedikit."
Raka langsung melempar sisa es krim ke kantong sampah kecil di mobil.
"Bima, ke rumah sakit."
"Mas Raka, jangan berlebihan."
"Kamu bilang sakit."
"Sedikit."
"Rumah sakit."
Mobil langsung melaju.
Maya ingin protes, tapi rasa kencang di perutnya datang lagi. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya.
Raka memegang tangannya.
"Lihat aku."
Maya mengikuti.
"Tarik napas."
"Saya takut."
"Aku tahu."
"Kalau terjadi sesuatu..."
"Tidak akan."
"Mas tidak bisa memastikan."
Raka menggenggam tangannya lebih kuat.
"Kalau aku tidak bisa memastikan, dokter yang akan memastikan. Jadi kita ke sana."
Di rumah sakit, pemeriksaan dilakukan cepat. Dr. Laila yang dipanggil mendadak tampak tidak terkejut melihat wajah panik Raka.
"Pak Raka, Bu Maya hanya mengalami kontraksi ringan karena kelelahan dan mungkin makanan dingin. Janinnya baik-baik saja."
Maya menghela napas panjang.
Raka belum.
"Anda yakin?"
Dr. Laila tersenyum sabar. "Saya yakin. Tapi Bu Maya harus istirahat. Tidak boleh terlalu banyak berdiri, stres, atau makan dingin berlebihan."
Raka menatap Maya.
Maya menatap langit-langit.
"Saya hanya makan setengah."
"Seperempat mulai besok."
"Tidak ada mulai besok."
"Bagus."
Maya mengerang pelan.
Setelah dokter pergi, Maya berbaring di ranjang observasi. Raka duduk di sampingnya, wajahnya masih tegang.
"Mas marah?"
"Ya."
"Pada saya?"
"Pada diriku."
Maya menoleh.
"Kenapa?"
"Aku yang membelikan es krim."
Maya menatapnya lama, lalu tertawa pelan. "Mas Raka, bahkan janin pun mungkin bingung punya ayah sedramatis ini."
Raka tidak tertawa.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh perut Maya dengan ragu.
"Maaf."
Maya membeku.
Telapak tangannya hangat di atas perutnya. Gerakannya sangat hati-hati, seperti takut menekan terlalu kuat.
Maya menutup tangannya dengan tangan sendiri.
"Dia baik-baik saja."
Raka menatap tangan mereka yang bertumpuk.
"Kamu juga harus baik-baik saja."
Maya tersenyum lemah.
Pintu ruang observasi tiba-tiba terbuka.
Bu Ratna masuk dengan wajah marah, diikuti Vina yang masih pucat.
"Ternyata benar kamu di sini," kata Bu Ratna. "Hebat sekali, Maya. Setelah membuat keluarga kami hancur, sekarang pura-pura lemah di rumah sakit mewah."
Raka berdiri.
Udara di ruangan langsung turun dingin.
Maya memejamkan mata.
Es krim setengah cone rupanya bukan masalah terbesar malam itu.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍