NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 - Nona Guru

Keiko tidak langsung memberikan catatan itu.

Pagi harinya, dia meletakkan map tipis berwarna bening di dalam tas, tepat di samping botol air hangat. Sepanjang perjalanan ke sekolah, tangannya beberapa kali menyentuh ujung map itu. Bu Tuti yang menyetir melirik dari kaca spion, tetapi kali ini tidak bertanya.

Mungkin Bu Tuti tahu.

Ada beberapa hal yang jika ditanya terlalu cepat, Keiko akan kembali menjawab `nggak apa-apa`.

Di kelas, Kelvin datang sebelum bel. Itu sendiri sudah cukup membuat Fajar menatap langit-langit.

"Hari ini apa lagi? Bang Kel datang pagi, kemarin ikut tryout, besok mungkin jadi ketua OSIS."

Kelvin menjatuhkan tas ke kursi. "Besok kamu yang jadi korban pertama program kerja."

Fajar langsung menghadap depan. "Saya dukung dari jauh."

Keiko menahan senyum, lalu membuka tas. Map bening itu terasa licin di jari. Dia menunggu sampai Fajar berhenti menoleh, sampai Putri sibuk mencari penggaris, sampai Pak Arif belum masuk.

Lalu dia menggeser map itu ke meja Kelvin.

Kelvin menatapnya.

"Apa ini?"

"Soal yang kemarin kamu salah."

"Kamu mengembalikan kertas nilaiku pakai map?"

"Bukan hanya kertas nilai."

Kelvin membuka map itu. Di dalamnya ada beberapa lembar catatan rapi dengan tinta hitam dan garis ungu. Keiko menulis ulang soal-soal yang bisa dikerjakan dari dasar, memberi tanda kecil di samping konsep yang perlu dipahami, dan menambahkan langkah penyelesaian yang tidak terlalu panjang.

Kelvin membaca halaman pertama.

Wajahnya tidak berubah.

Namun jarinya berhenti pada judul kecil di bagian atas.

`Untuk Kelvin. Mulai dari sini.`

"Kamu bikin ini semalam?"

"Iya."

"Sampai jam berapa?"

Keiko berkedip. Dia tidak menyangka pertanyaannya itu. "Tidak terlalu malam."

"Itu bukan jawaban."

"Kamu juga sering menjawab begitu."

Kelvin menatapnya lebih lama. Untuk beberapa detik, Keiko mengira dia akan menutup map dan mengembalikannya. Mungkin dia akan berkata tidak butuh. Mungkin dia akan tersinggung karena nilai buruknya dibongkar sedetail itu.

Tetapi Kelvin hanya berkata, "Aku nggak suka dikasihani."

Keiko mengangguk pelan. "Aku tahu."

"Kamu yakin tahu?"

"Aku tidak sedang mengasihani kamu."

"Lalu?"

Keiko memegang pulpen ungu mudanya. "Aku sedang mengajarimu."

Kalimat itu keluar begitu tenang sampai Kelvin terdiam.

Fajar yang diam-diam menguping langsung tersedak udara.

"Anjir," bisiknya ke Putri. "Keiko berani banget."

Putri mencubit lengannya. "Jangan ganggu."

Kelvin menutup map perlahan. "Aku belum bilang mau diajari."

"Kalau begitu bilang tidak."

Keiko sendiri terkejut setelah mengatakan itu. Biasanya dia tidak menantang orang. Dia lebih sering menyesuaikan diri, mundur setengah langkah, memilih kalimat yang membuat semua orang nyaman. Namun di hadapan Kelvin, entah kenapa dia merasa kalimat yang terlalu lembut justru akan membuatnya lari.

Kelvin menyandarkan punggung ke kursi.

"Kalau aku bilang tidak?"

"Aku tidak akan memaksa."

"Map ini?"

"Kamu boleh buang."

Mata Kelvin turun ke map itu.

Dia tidak membuangnya.

Pak Arif masuk sebelum percakapan mereka selesai. Pelajaran pagi dimulai, tetapi map bening itu tetap berada di meja Kelvin. Sesekali Keiko melihatnya membuka halaman, membaca satu baris, lalu menutup lagi seolah takut ketahuan peduli.

Saat bel pulang berbunyi, Keiko mengira map itu akan tetap berada di laci.

Kelvin justru memasukkannya ke tas.

"Kelvin," panggil Keiko.

"Hm?"

"Kalau ada yang tidak paham, kamu bisa tanya."

"Sekarang?"

"Kalau kamu mau."

Kelvin menatap kelas yang mulai kosong. Fajar dan Putri sudah keluar, Pak Arif sedang berbicara dengan murid lain di depan. Matahari sore masuk dari jendela, membuat debu kecil di udara terlihat seperti titik-titik cahaya.

"Kamu nggak dijemput?"

"Bu Tuti baru datang setengah jam lagi."

"Setengah jam cukup buat apa?"

"Satu konsep dasar."

Kelvin mengangkat alis. "Kamu selalu mengukur hidup pakai konsep?"

"Tidak. Kadang pakai jumlah obat."

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Keiko langsung diam.

Kelvin juga.

Dia tidak mengerti sepenuhnya, tentu saja. Tetapi matanya berhenti di wajah Keiko, seolah menangkap sesuatu yang tidak seharusnya lewat.

Keiko menunduk, membuka buku latihan untuk menutup jeda. "Maksudku, jadwal. Aku terbiasa pakai jadwal."

Kelvin tidak mengejar.

Dia menarik kursi kembali dan duduk.

"Satu konsep," katanya.

Keiko menghela napas pelan, lega. "Persamaan linear dulu."

"Yang banyak hurufnya itu?"

"Itu masih sedikit huruf."

"Menyebalkan."

"Tapi bisa dipelajari."

Ruang kelas perlahan kosong. Suara murid-murid di koridor menjauh, menyisakan bunyi kipas angin dan kendaraan dari jalan depan sekolah. Keiko menggeser kursinya sedikit, tidak terlalu dekat, tetapi cukup agar Kelvin bisa melihat catatannya.

Dia menulis contoh soal.

`2x + 5 \= 17`

"Pertama, pindahkan angka yang tidak ada x ke kanan."

"Kenapa dia harus pindah?"

"Karena kita mau x sendirian."

"Kasihan."

Keiko berhenti menulis, menatapnya.

Kelvin menatap balik dengan wajah datar.

Lalu Keiko tertawa pelan.

Bukan senyum kecil. Bukan tawa yang ditahan karena sopan. Hanya tawa pendek yang keluar sebelum dia sempat mencegahnya.

Kelvin menatapnya seperti baru melihat sesuatu yang aneh.

"Apa?"

"Tidak apa-apa." Keiko menutup bibir dengan punggung tangan. "Kamu membuat aljabar terdengar seperti drama keluarga."

"Angka juga punya masalah."

"Iya. Dan tugas kita menyelesaikannya."

Kalimat itu membuat Kelvin diam sebentar.

Keiko tidak tahu apakah dia memikirkan soal atau hal lain. Namun setelah itu, Kelvin benar-benar mengikuti langkahnya. Dia bertanya kenapa angka berubah tanda, kenapa kedua sisi harus dibagi, kenapa hasilnya harus dicek kembali. Pertanyaannya kadang terdengar malas, tetapi matanya tidak lagi kosong.

Setelah dua puluh menit, dia mengerjakan satu soal sendiri.

Salah.

Keiko menandai bagian yang keliru. "Di sini. Kamu pindahkan lima, tapi tandanya belum berubah."

Kelvin mengambil pulpen, mencoret, mengulang.

Salah lagi.

Dia mengerutkan kening.

"Pelan-pelan," kata Keiko. "Jangan buru-buru menyerah sebelum mencoba."

Kelvin berhenti.

Kalimat itu berasal dari kategori yang dia tulis semalam.

Kosong karena menyerah sebelum mencoba.

Kelvin mungkin menyadarinya. Dia menunduk lagi, kali ini lebih lama. Pulpen di tangannya bergerak perlahan, menulis ulang langkah dari awal.

Hasilnya benar.

Keiko tersenyum. "Nah. Bisa."

Kelvin menatap angka itu.

Tidak ada ekspresi besar di wajahnya. Namun ujung jarinya mengetuk kertas sekali, seperti memastikan jawaban itu sungguh miliknya.

"Cuma satu soal."

"Satu soal tetap satu langkah."

"Nona Murid suka bicara seperti guru."

Keiko mengangkat pulpen. "Karena sedang mengajari."

Kelvin menatapnya.

Lalu, dengan suara rendah yang berbeda dari biasanya, dia berkata, "Kalau begitu, Nona Guru."

Keiko membeku.

Panggilan itu terasa aneh di telinga. Lucu, sedikit menggoda, tetapi juga hangat dengan cara yang sulit dijelaskan. Bukan `Nona Murid` yang dia pakai saat mereka baru saling mengukur jarak. `Nona Guru` terdengar seperti pengakuan kecil bahwa untuk urusan ini, Kelvin bersedia mengikuti.

"Jangan panggil begitu."

"Kenapa?"

"Aneh."

"Cocok."

"Kelvin."

"Aku di sini."

Jawaban itu datang begitu natural sampai Keiko lupa apa yang ingin dia bantah.

Di luar kelas, suara klakson pendek terdengar dari halaman. Mungkin Bu Tuti sudah tiba. Keiko menutup buku pelan.

"Hari ini cukup."

Kelvin melihat soal yang baru saja dia kerjakan benar, lalu halaman berikutnya yang masih kosong.

"Nona Guru."

Keiko menoleh.

Kelvin tidak menatapnya. Matanya tetap pada kertas, tetapi suaranya lebih pelan.

"Aku boleh tanya soal lagi nggak?"

Keiko merasakan sesuatu di dadanya menjadi sangat lembut.

Dia mengangguk.

"Boleh. Selalu boleh."

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!