Terjebak dalam tubuh karakter figuran yang sakit-sakitan, seorang wanita harus bertahan hidup di dunia novel sebelum maut menjemputnya. Demi mendapatkan obat dan perlindungan dari keluarganya yang manipulatif, ia mengajukan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Axion, pria berjuluk "Iblis" kekaisaran.
Namun, pernikahan ini menjadi rumit karena setiap anggota keluarga menyimpan rahasia besar. Axion ternyata menyimpan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang penuh dendam, sementara putra angkat mereka adalah sosok misterius yang aslinya bukan berasal dari dunia manusia.
Meski awalnya penuh ketegangan dan instruksi untuk hidup saling mengabaikan, sikap sang suami perlahan berubah drastis. Pria yang semula dingin itu kini menjadi sangat protektif dan tidak segan bertindak kasar pada siapa pun yang merendahkan istrinya. Hubungan yang seharusnya berakhir dalam setahun kini berubah menjadi ikatan keluarga yang rumit namun tak terpisahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Besar.
"Apa?"
"Kalau kau merasa aku hanya mencampuri urusanmu, lebih baik kita cerai saja. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau perpisahan itu memang selalu mendadak?"
Baru saat itulah, Axion benar-benar menatap wajah Gabriella.
Tidak ada amarah, putus asa, ataupun kesedihan di sana. Ekspresi Gabriella benar-benar datar, seolah ia sudah selesai dengan semuanya.
"Kau serius dengan ucapanmu?"
"Ya. Aku akan menemui Luceran sekarang dan bertanya padanya; apa dia ingin ikut denganmu, atau tetap tinggal di sini bersama nenek."
"Jika anak itu memilih untuk tetap di sini, maka kita cerai."
"Kenapa kau berubah pikiran seperti ini," desis Axion tak percaya.
"Itu karena kau tidak pantas menjadi orang tua. Aku tidak sudi melihat anak yang ku sayangi tumbuh di samping pria dingin sepertimu."
"....."
"Lagi pula, sejak awal pernikahan ini hanya kontrak untuk prosedur adopsi. Jika sekarang aku menentang adopsi itu, bukankah pernikahan ini tidak ada gunanya lagi? Kita harus bercerai."
Gabriella berbicara dengan nada yang sangat tenang dan jelas.
Ia tidak sedang terbawa emosi sesaat. Kalimatnya barusan adalah keputusan matang yang tidak bisa di tarik kembali.
"Apa kau melupakan syarat yang kau ajukan sendiri? Jika bercerai, kau harus merelakan seluruh harta kekayaanmu."
"Lalu?"
"Aku tidak berniat menumbalkan masa depan anak itu ke dalam kesengsaraan hanya demi kekuasaan."
Gabriella yang sudah bulat dengan keputusannya langsung melangkah melewatinya begitu saja.
Jika mau, Axion bisa saja menahannya dengan mudah. Tapi, ia membiarkan wanita itu pergi. Ia merasa muak karena merasa dipermainkan oleh seseorang dari keluarga Valencia.
"Du, Duke!"
Suara Hans membuat Axion menoleh.
"Astaga, apa-apaan ini..."
Hans yang tidak sengaja menguping perdebatan mereka, langsung memasang ekspresi tak percaya.
Di mata Hans, sikap Gabriella benar-benar tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin wanita itu rela melepaskan segalanya demi seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri?
Padahal, satu tahun lagi mereka akan menjadi orang asing. Tidak ada alasan bagi Gabriella untuk mempertaruhkan harta dan kedudukannya demi masa depan Luceran. Ia seharusnya tidak perlu melibatkan diri sejauh ini.
Namun, alih-alih mengecam tindakan nekat Gabriella, Hans justru melontarkan kalimat yang sama sekali tidak diduga oleh Axion.
"Apa yang sedang Tuan lakukan? Ini bukan waktunya Tuan berdiam diri!"
"Maksudmu, aku harus segera menceraikannya?"
"Apa? Apa kepala Tuan baru saja terbentur sesuatu yang keras? Omong kosong apa itu?"
Hans tidak melewatkan kesempatan itu untuk melontarkan sindiran tajam.
"Bukan itu maksudku! Cepat kejar dan tahan Nyonya sekarang juga! Apa lagi yang Tuan tunggu?"
Aku? Kenapa harus aku?
Seolah mampu membaca pikiran Axion, Hans semakin meninggikan suaranya.
"Jika kita membiarkan anak itu memilih, jawabannya sudah sangat jelas, bukan? Tentu saja dia tidak akan memilih Tuan!"
"Akan menjadi masalah besar jika anak itu pergi dan Nyonya benar-benar meminta cerai! Seluruh pelayan di Argenta mungkin akan mengajukan pengunduran diri secara massal!"
"Kau terlalu berlebihan," balas Axion dingin.
"Tuan pikir ini hanya bualan? Aku sendiri yang akan menjadi orang pertama yang menyerahkan surat pengunduran diri."
Hans akan mengundurkan diri? Hanya karena Gabriella?
Axion sempat mengira itu hanyalah lelucon yang buruk.
"Aku tidak sedang bercanda."
Raut wajah Axion menunjukkan bahwa ia tidak menanggapi ancaman itu dengan serius. Namun, tatapannya yang acuh tak acuh justru membuat Hans semakin kesal.
"Hans Randell. Jangan katakan padaku kalau kau sudah terpikat oleh kecantikannya?"
Sejak membaca laporan yang penuh pujian untuk Gabriella. Axion sudah merasa ada yang tidak beres.
Ia berniat menginterogasi Hans begitu tiba di wilayah Argenta. Namun, karena kekacauan akibat hilangnya Luceran, pertanyaan itu baru bisa ia ajukan sekarang.
"Kecantikan? Tuan pikir aku hanya terpikat oleh kecantikannya saja?"
"Jadi kau mengakuinya."
"Tentu saja. Nyonya adalah orang yang memperlakukan bawahannya sebagai manusia."
"Kapan aku pernah memperlakukanmu dengan buruk, hingga kau berani berbicara seperti itu pada ku?"
Hans merasa seperti sedang berbicara dengan tembok. Meskipun ia tahu betul ini hanyalah pernikahan kontrak, rasanya ia ingin mendukung perceraian Gabriella saat ini juga.
"Selama aku mengabdi di bawah Tuan, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku bisa memejamkan mata dengan tenang."
"Bukankah kompensasi yang kuberikan sudah lebih dari cukup untuk menebus waktu lemburmu?"
"Lihatlah diri Tuan sekarang," Hans menggelengkan kepala perlahan. Sorot matanya tampak redup, seakan sudah tidak ada lagi kata-kata yang mampu menembus logika sang Duke.
"Tuan bahkan hanya bisa bicara soal materi. Tuan pikir uang bisa menyembuhkan raga yang sudah hancur?"
"..."
"Kesehatanku memburuk hingga aku tidak bisa lagi beristirahat dengan tenang. Namun, sejak bertemu Nyonya, aku bisa tidur lebih dari tujuh jam setiap malam."
"Trik apa yang dia gunakan padamu?"
"Trik? Tuan bilang itu sebuah... trik?"
Nada bicara Hans mulai tidak terkendali.
"Nyonya selalu memastikanku agar memiliki waktu istirahat yang cukup di malam hari."
"Aku juga bisa melakukan itu Hans. Aku akan merekrut asisten untuk membagi beban kerjamu."
"Pria yang tidak pernah memercayai siapa pun sepertimu, mana mungkin bisa merekrut orang baru untuk menggantikanku!"
Selama keberangkatan Axion, Hans memikul dua tugas utama: mengawasi Gabriella dan merawat Luceran.
Namun menjaga Luceran nyaris menjadi persoalan yang tidak bisa menemukan jalan keluar.
Bahkan bagi Hans, hal itu tetap menjadi beban yang teramat berat meski ia telah mencurahkan seluruh perhatiannya.
"Faktanya, saat Tuan mengabaikan Tuan Muda dan sibuk bepergian ke luar, Nyonya-lah yang turun tangan menggantikan peran Tuan untuk merawatnya. Peran itu sangat besar."
"Hanya karena hal sepele seperti itu...?"
"Tuan bahkan tidak melakukan hal sepele yang Tuan maksud itu," potong Hans sambil menatap tajam ke arah Axion.
"Saat Tuan Muda harus menahan lapar selama berhari-hari, apa yang sebenarnya Tuan lakukan?"
"Bukankah aku sudah memberi perintah untuk menunjuk orang khusus yang merawatnya?"
"Benar. Namun, siapa pun yang Tuan tunjuk, tidak ada satu pun yang berhasil membawa perubahan, hingga kita harus mengganti orang setiap harinya."
Mengingat kembali masa itu, rasanya benar-benar seperti mimpi buruk bagi Hans.
"Waktu terus berlalu dan tubuh Tuan Muda semakin kurus, sementara orang yang membawanya kemari justru tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Apa Tuan pikir aku dan para pelayan bisa tetap tenang dalam situasi seperti itu?"
"Apa yang akan berubah jika aku sendiri yang turun tangan, sementara aku tidak tahu apa-apa tentang cara mengurus anak? Hans, salahkan saja mereka yang tidak becus bekerja meski sudah menerima bayaran tinggi."
Bagi Axion, setiap orang memiliki keahliannya masing-masing.
Jika seorang anak merasa lapar, maka koki terbaiklah yang harus menyiapkannya. Jika seorang anak kurang dalam pendidikan, maka guru terbaiklah yang harus membimbingnya. Axion merasa dirinya tidak pernah perhitungan soal materi demi memenuhi kebutuhan Luceran.
Namun, Hans segera membantah pemikiran tersebut.
"Bagaimana mungkin kasih sayang yang dibeli dengan uang bisa menandingi ketulusan yang nyata? Seharusnya, pada saat itu Tuan mengesampingkan ego dan menunjukkan sisi kemanusiaan Tuan."
"Situasinya benar-benar mendesak saat itu."
"Keberadaanku yang tidak ada di sana sudah menjadi masa lalu, kurasa memperdebatkannya sekarang hanya akan membuang waktu. Namun, biarkan aku memperjelas satu hal."
"Apa itu?"
"Hanya karena melewatkan makan selama beberapa hari, seseorang tidak akan mati semudah itu."
"Tentu saja bisa mati!" Hans berseru dengan cepat.
"Jika terus dibiarkan kelaparan seperti itu, nyawanya bisa melayang! Bahkan orang dewasa pun akan berada dalam kondisi kritis jika mengalami hal yang sama."
"....."
"Tuan terkadang kehilangan akal sehat hanya karena Tuan bukan manusia biasa. Tapi orang normal benar-benar bisa kehilangan nyawa karena hal itu!"
Hans memijat pelipisnya. Ia akhirnya menyadari mengapa pembicaraan ini tidak pernah menemui titik temu; ia harus membenahi logika dasar tuannya terlebih dahulu.
"Hanya Tuan atau Lady Viviana yang sanggup bertahan hidup tanpa makan selama itu."
"Anak itu juga sama seperti kami."
"Luceran hanya memiliki kekebalan terhadap energi hitam (Magi), tapi dia bukan putra kandung Tuan. Tuan tidak bisa menyamaratakan ketahanan fisiknya begitu saja."
Bagi keluarga Argenta, menahan lapar selama berbulan-bulan bukanlah hal yang mustahil. Namun, Luceran bukanlah keturunan langsung Argenta, apalagi ia hanyalah seorang anak kecil.
"Tuan mungkin menganggap remeh seorang anak hanya karena ia belum mengerti apa-apa, tapi luka di masa kecil itu akan membekas seumur hidup."
Hans menarik napas sejenak, ia menatap tuannya dengan binar mata yang menuntut kesadaran.
"Dan Tuan tidak ingin anak itu berakhir seperti Lady Viviana, bukan? Jika segala hal bisa diselesaikan hanya dengan uang atau bantuan orang lain, Lady Viviana pasti sudah lama pulih."
"Aku hanya memercayakan nya pada ahli," balas Axion, suaranya terdengar sedikit rendah, seolah sedang membela diri.
"Dalam urusan keluarga, terutama anak, tidak ada ahli yang lebih baik daripada orang tuanya sendiri. Sejak Tuan memutuskan untuk mengadopsinya, Tuan harus menjadi sosok yang paling memahami Tuan Muda."
Setelah Hans menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir, barulah Axion tampak mulai memahami situasi yang sebenarnya.
"Segera temui Nyonya dan minta maaflah tanpa syarat apa pun."
Hans mendorong punggung Axion agar segera beranjak.
"Tapi..."
"Tapi apa lagi? Apa pernah Nyonya mengatakan hal yang salah?"
Axion terdiam, mencoba merenungkan kembali setiap ucapan istrinya. Jika dipikirkan baik-baik, memang tidak ada satu pun perkataan Gabriella yang melenceng dari kebenaran.
"Saya benar-benar tidak habis pikir mengapa Tuan bisa bersikap sedingin itu padanya. Meskipun ini hanya pernikahan kontrak, ucapan Tuan terkadang jauh lebih kasar dari pada bicara dengan orang asing. Saya sampai terkejut mendengarnya."
Hans menatap tuannya dengan saksama. "Apa Nyonya pernah membawa kabur harta Tuan?"
'Tidak! Karena dia adalah keluarga Valencia.'
Jawaban itu muncul secara alami dalam benak Axion. Di kehidupan sebelumnya, Gabriella memang tidak pernah merugikannya secara langsung. Namun, hanya karena wanita itu menyandang nama Valencia, Axion tidak pernah bisa melontarkan kata-kata manis padanya.
Axion menggelengkan kepala, ia menyadari betapa buruknya pemikirannya selama ini.
"Jika sudah sadar, maka temui Nyonya sekarang dan berlutut lah untuk memohon ampun."
"Haruskah sampai sejauh itu?"
"Percayalah padaku, jika kemarahannya bisa reda hanya dengan Tuan berlutut, itu sudah sangat beruntung! Ini bukan waktunya untuk bimbang. Cepat pergi sebelum semuanya terlambat!"
Axion Argenta.
Dalam semalam, ia mendapatkan seorang istri dan seorang putra. Namun, dalam semalam pula, ia berada di ambang kehilangan keluarga sekaligus kepercayaan orang-orang di sekitarnya.
Ini benar-benar sebuah ancaman besar bagi dirinya.