NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Keputusan dan restu dari rumah

Bab 6: Keputusan dan Restu dari Rumah

Suasana di ruang kerja Arga masih terasa hening setelah kenyataan itu terungkap.

Diana menunduk dalam, jari-jarinya saling meremas, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

Di sisi lain, Arga duduk terdiam, rasa bersalah dan malu melingkupi hatinya—

ia merasa bertanggung jawab atas kelakuan anaknya sendiri, meski ia tahu selama ini ia jarang bisa mengawasi pergaulan Gilang.

“Maafkan aku, Diana. Aku tidak menyangka bahwa luka yang kamu tanggung itu berasal dari anakku sendiri,” ujar Arga dengan suara rendah dan penuh penyesalan.

“Gilang memang selalu bertindak semaunya, menganggap segalanya mudah didapat dan bisa dibuang sesuka hati. Aku minta maaf atas perbuatannya.”

Mengapa keduanya berbeda, padahal mereka ayah dan anak. Tetapi kepribadian nya sangat jauh.

Orang ternama seperti Arga Wijaya saja sampai meminta maaf padanya,

Tetapi Gilang ?

Diana menggeleng pelan, lalu mengangkat wajahnya dengan senyum pahit.

“Ini bukan kesalahan Pak Arga. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Saya hanya… terkejut saja, mengapa takdir mempertemukan saya dengan Bapak justru setelah semua itu terjadi.”

Arga menatapnya lekat, lalu melanjutkan pembicaraannya dengan nada yang lebih tegas namun tetap lembut.

“Justru karena itulah tawaranku tetap berlaku, bahkan mungkin lebih masuk akal sekarang.

Jika kamu menerimanya, kamu tidak hanya mendapatkan jaminan hidup dan pekerjaan, tapi juga posisi yang membuat Gilang tidak bisa lagi mengganggu atau meremehkanmu.

Dia akan tahu bahwa orang yang ia sakiti bukanlah orang yang bisa dipermainkan begitu saja.”

Aku justru merasa ini akan semakin rumit.

Pikiran Diana berputar kencang.

Di satu sisi, ada rasa malu dan canggung mengingat hubungan masa lalunya dengan Gilang.

Namun di sisi lain, ia teringat akan ibunya yang sedang sakit di kampung halaman,

tagihan pengobatan yang menumpuk, dan kenyataan bahwa ia hampir kehabisan jalan.

“Bolehkah saya meminta waktu untuk memikirkannya dan bertanya kepada orang tua saya terlebih dahulu?” tanya Diana akhirnya.

“Tentu saja. Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Aku tidak akan memaksamu,” jawab Arga segera.

 

......................

Sore harinya, Diana pulang dengan perasaan berkecamuk.

Malam itu juga, ia menghubungi orang tuanya yang tinggal di desa jauh dari kota.

Melalui panggilan video, wajah kedua orang tuanya—Pak Joko dan Bu Lestari—tampak banyak keriput namun penuh kehangatan.

"Gimana kabar Ibu sama Bapak?" Tanya Diana.

Dia tersenyum lebar dan hatinya begitu merindukan mereka berdua.

"Bapak baik, Nduk. Ibu juga sudah lebih baik. Kamu gak usah khawatir" Jawab ayahnya.

"Kamu sehat, Nduk ?" Tanya sang ayah

"Aku sehat Pak. Pak - Bu, ada yang mau aku omongin sama kalian!"

“Nduk, kenapa wajahmu terlihat bingung seperti itu? Ada apa?” tanya Bu Lestari lembut, segera menyadari perubahan raut wajah putrinya.

Diana menarik napas panjang, lalu menceritakan semuanya dari awal:

pengkhianatan Gilang, kehilangan pekerjaan, pertemuan dengan Arga, hingga tawaran pernikahan perjanjian itu.

"Apa yang harus aku lakukan Bu - Pak ?" Tanya Diana resah.

Ia juga jujur menyampaikan siapa sebenarnya Arga dan hubungan keluarganya dengan mantan kekasihnya.

Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, Pak Joko mengusap dagunya yang dipenuhi uban, tampak berpikir dalam-dalam.

“Nduk, dengarkan nasihat Bapak. Hidup ini penuh dengan kejutan yang kadang tidak kita duga.

Jika tawaran itu membawa kebaikan dan tidak memaksamu melakukan hal yang melanggar hati nurani, mengapa tidak dipertimbangkan?”

“Tapi Yah… dia adalah ayah dari orang yang sudah menyakitiku. Orang-orang nanti pasti akan membicarakan banyak hal, apalagi usia nya berbeda jauh denganku !” jawab Diana ragu. Suaranya mencicit semakin kecil.

Bu Lestari sedikit memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih.

“Diana, lihatlah hatimu. Siapa yang menyakitimu? Gilang. Siapa yang mengulurkan tangan menolongmu? Pak Arga.

Jangan menghukum orang yang baik hanya karena dia memiliki hubungan keluarga dengan orang yang berbuat salah.

Kita tidak bisa menyamakan satu orang dengan orang lain hanya karena satu nama keluarga.”

“Selama ini kamu selalu berjuang sendirian, menahan beban berat tanpa pernah mengeluh,” lanjut Bu Lestari dengan suara lembut namun tegas.

“Jika pria itu menawarkan perlindungan dan jalan keluar, dan kamu melihat ketulusan di matanya, Bapak sama Ibu merestui keputusanmu.

Yang penting kamu tetap menjaga kehormatan dan hatimu sendiri.”

Pak Joko mengangguk setuju. “Benar kata Ibumu. Restu kami menyertaimu, apa pun keputusan yang kamu ambil. Kami percaya pada penilaian hatimu sendiri.”

"Lagipula, memang kenapa dengan perbedaan usia, jika dia bertanggung jawab, itu namanya laki-laki sejati" Ujar ibunya memberi semangat

Mendengar kata-kata itu, air mata Diana mengalir deras, kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena rasa lega dan kekuatan yang ia dapatkan.

Keraguannya perlahan mulai luntur digantikan oleh tekad yang semakin kuat.

“Terima kasih, Pak…Bu. Kalian benar-benar membuatku semakin rindu,” ucapnya terharu.

“Semangatlah, Nak. Ingat, kami selalu mendukungmu di sini,” balas Pak Joko dengan senyum tulus.

 

......................

Keesokan harinya, dengan hati yang sudah mantap dan membawa restu dari orang tua tercinta,

Diana kembali datang ke kantor Arga.

Resepsionis kembali mengantarnya, kali ini sepertinya Arga sudah memberitahu bahwa dia akan datang.

Jadi begitu dia datang, resepsionis langsung mempersilahkan tanpa basa-basi.

Seperti kemarin, resepsionis yang bernama tag - Sarah. Kembali ke lantai bawah setelah Diana Mengantarkan Diana

Diana mengetuk pintu pelan.

Tok tok tok...

"Permisi, Pak!"

Terdengar sahutan dari dalam, dan Diana langsung masuk.

Begitu bertemu, ia langsung menatap pria itu dengan pandangan yang lebih tenang dan pasti.

Mereka kembali duduk berhadapan.

“Pak Arga, saya sudah memikirkannya matang-matang dan sudah berbicara dengan kedua orangtua saya di kampung.”

Arga menatapnya dengan penuh perhatian, jantungnya tanpa sadar berdegup sedikit lebih kencang menunggu jawaban.

“Dan apa keputusanmu, Diana?”

Diana menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap.

“Saya menerima tawaran Bapak. Saya bersedia menjadi istri Bapak dalam perjanjian ini selama satu tahun ke depan.”

Kenapa rasanya aku bahagia. Batin Arga

Senyum tipis namun terasa sangat lega dan bahagia muncul di wajah Arga.

Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Diana.

“Baiklah. Mulai hari ini, kita akan berjalan bersama dalam kesepakatan ini. Aku berjanji akan menjagamu dan memenuhi semua tanggung jawabku sebagaimana mestinya”

Diana menyambut uluran tangan itu, merasakan genggaman hangat yang membuatnya merasa aman untuk pertama kalinya setelah sekian lama terpuruk.

"Emm tapi - " Dia melepaskan tangannya

Arga berkerut heran.

Apakah dia berubah pikiran!

Jantung berdebar, dia sudah menyiapkan diri jika memang Diana berubah pikiran.

"Ada apa ?" Tanya Arga

"Apa ... Aku juga , harus melakukan kewajiban sebagai istri ?" Ujarnya gugup, dia malu menanyakan ini.

Tetapi sepanjang malam matanya tidak bisa terpejam karena terus memikirkan ini.

Arga tertegun sejenak, dia lelaki dewasa dan sangat normal.

Meski usianya sudah 45 tahun, tetapi tubuhnya bugar dan kekar karena selalu menjaga pola makan dan berolahraga.

Dia pun bingung harus mengatakan apa, bagaimanapun nanti mereka pasti tinggal bersama.

"Untuk itu.... Aku tidak akan memaksa. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam padamu" Ujar Arga

Diana menatap lelaki di hadapannya ini, tatapan yang begitu dalam dan penuh makna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!