Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Arini
Aku pikir setelah kasus kecelakaan ayah usai, aku dan pak Rama tidak akan berhubungan atau komunikasi lagi. Tapi siapa sangka, malah muncul masalah baru yang membuatku harus pura-pura menjalin hubungan dengan pak Rama.
Arini, nama perempuan yang mengaku sebagai korban pelecehan oleh pak Rama. Memiliki postur tubuh yang sama denganku dari belakang, seorang pramuniaga.
Pak Rama membawaku bertemu langsung dengan Arini di tempatnya bekerja, bukan di rumah kontrakannya. Hingga membuat teman kerja Arini mengetahui apa yang terjad, bahkan ada yang merekam saat kami berbicara.
"Saya bisa menuntut anda dengan pasal berlapis, karena tidak hanya menyebarkan berita bohong, tapi juga membuat nama baik saya dan kekasih saya jadi buruk." kata pak Rama setelah memperlihatkan video asli dan aku sebagai orang ada yang di dalam video.
"Saya tidak tahu, saya juga korban di sini." gugupnya dengan tangan meremas ujung kemeja yang dia gunakan.
Pak Rama tak bereaksi apapun melihat wajah Arini yang jelas ketakutan, berbeda denganku yang merasa kasihan melihatnya.
"Saya di tawarin untuk menjadi peran pengganti buat video pendek, hanya di gendong dan di bawa masuk ke dalam kamar, tanpa naskah dan menampakkan wajah."
"Tapi kamu yang menyebarkan video itu, bahkan bilang kamu trauma sampai tidak berani keluar dari rumah beberapa hari."
"Saya tidak tahu, akun medsos saya di bajak orang, bahkan Saya aja gak bisa login." ujarnya dengan berlinang air mata, dan tubuh gemetar.
Aku yang merasa kasihan, menarik kemeja pak Rama dan menggeleng memintanya untuk menyudahi, karena kasihan melihat Arini.
"Kalau itu jelaskan saja pada pihak yang berwajib, karena saya akan melaporkan kepada pihak berwajib." ujar pak Rama dingin, membuatku semakin kasihan pada Arini.
"Jangan pak! Saya akan jujur, saya akan membuat pengakuan di akun medsos, saya." ujarnya, membuatku melotot tak percaya.
"Bukannya tadi bilangnya, akunya di bajak bahkan dia gak bisa login." tanyaku di dalam hati, sambil melihat kearah pak Rama.
Pak Rama tidak menjawab, tapi matanya seolah bicara. "Inilah kebenarannya, jangan pernah mudah kasihan dengan air mata seseorang." Aku hanya bisa mengangguk pelan, berusaha mengusir rasa kasihanku.
"Bukannya kamu gak bisa login?"
"Sudah bisa, pak."
"Jujur, jika tidak saya akan lapor."
"Iya Pak saya akan cerita semuanya, tapi jangan lapor polisi."
Arini mengaku kalau mendapatkan bayaran 5 juta untuk pembuatan video tersebut, lalu mendapatkan 10 juta untuk meposting video itu. Setelah berita ramai tersebar, nomor orang tersebut gak bisa di hubungi lagi oleh Arini, saat Arini berniat minta tambahan upah karena merasa dirugikan.
Anehnya pak Rama masih memasang wajah datar, membuatku tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya.
"Sekarang saya akan hapus, dan langsung buat klarifikasi. Kalau orang yang menggendong saya bukan bapak, tapi orang lain untuk kebutuhan video pendek."
"Sekarang lakukan!"
"Tapi saya sedang bekerja, pak. Bolehkah nanti aja, setelah saya selesai jam kerja saya." mohon Arini, dengan melirik kearah pramuniaga lainnya.
"Saya tidak perduli!" tegas pak Rama.
Membuat Arini mengamati ke sekeliling, sebelum mengeluarkan ponselnya dan menjalankan apa yang di perintahkan oleh pak Rama.
Setelah Arini membuat pengakuan dan menghapus postingannya, barulah pak Rama mengajakku pergi tanpa mengucapkan terimakasih, atau berjanji untuk tidak melaporkan kepada pihak berwajib.
"Kita cari makan dulu, sekalian tanyakan, apa yang ingin kamu ketahui." ujarnya saat kami berjalan menuju mobil pak Rama.
Aku tidak menjawab cukup menganggukkan kepala setuju dengan ucapan pak Rama. Hari ini jadwal liburku kerja di kafe, jadi pak Rama membawaku ketemu Arini, sedang di warnet aku sudah berhenti beberapa hari yang lalu.
"Sebenarnya tanpa saya ikut, pak Rama pasti bisa membuat Arini mengakui kesalahannya."
"Belum tentu, bisa jadi dia tak percaya kalau kita saling mengenal. Dengan kamu ikut dan mengaku sebagai pasangan saya, itu akan membuat 2 pukulan dalam sekali gertak."
Aku mengerutkan keniku, karena tak paham maksud ucapan pak Rama.
"Jika saya hanya membawa video itu, dia bisa mengangap saya hanya menggertak seperti dirinya, yang pura-pura menjadi kamu. Tapi dengan membawa kamu, dia akan berpikir kamu berniat menututnya."
Aku mengangguk mendengar penjelasan pak Rama yang masuk di akal, meski aku juga tidak menyangka pak Rama berpikir sampai sejauh itu. Meski banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, aku memilih menahan sampai di tempat tujuan kami, sesuai ucapan pak Rama tadi.
Membuat kami sama-sama diam cukup lama, sampai mobil berhenti di restoran yang terlihat biasa dari luar, tapi begitu masuk di sungguhi kenyamanan rumah makan dan kemewahan yang elegan, dengan alunan musik yang memenangkan.
"Pilih aja menunya, saya mau angkat telpon dulu." kata pak Rama saat ponselnya berdering, padahal kami duduk baru dalam hitungan detik.
Aku ambil buku menu dan langsung di buat menganga, dengan harga yang ada di daftar menu. "Harganya dua kali lipat dengan yang ada di kafe tempatku kerja. Kira-kira, bagaimana dengan rasanya, ya."
"Haii, kamu yang pernah ada di apartemen Rama kan. Kalau gak salah namamu... Lina." ujar seorang perempuan, yang kalau aku gak salah ingat namanya Naya, saudara kembar pak Rama.
"Iya kak," jawabku sambil tersenyum canggung. "Kak Naya, kan."
"Iya betul, boleh duduk." ujarnya dengan langsung duduk tanpa menunggu jawaban dariku, membuatku tersenyum dengan terpaksa, karena tidak mungkin aku melarangnya.
"Lagi nyari siapa?" tanyanya dengan melihat ke sekeliling, yang kemudian mengikuti arah pandangan ku, yang melihat kearah pak Rama yang sedang telpon dengan seseorang.
"Ohh, sam Rama," serunya dengan tersenyum misterius, yang kemudian kulihat dia mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan.
"Aku mintak maaf atas kelakuan Rama dulu, tapi aku setuju dengan tindakanmu yang membuatnya pingsan, coba kalau hari itu Rama masuk perangkap Carol. Bisa habis karirnya yang baru seumur jagung, itu."
"Hehehe," senyumku canggung tidak tahu harus bilang apa, bersamaan dengan kedatangan pak Rama.
"Kok, ada kamu?"
"Habis ketemu orang, lapar. Mampir deh kesini, makan gratis."
"Makan gratis, apa jangan-jangan ini restoran milik keluarganya." tebakku di dalam hati.
"Kalian belum ada yang pesan makanan, kan?"
"Belum kak," jawabku karena pak Rama hanya diam aja.
"Ya sudah, sini biar aku aja yang pesan makanan." ujarnya yang langsung memesan makanan yang lumayan banyak, yang kira-kira cukup buat 6 sampai 7 orang.
"Banyak banget pesannya?" tanya pak Rama, seolah mewakili apa yang ada di dalam pikiran ku.
"Mama dan papa sedang dalam perjalanan ke sini."
"Apa!!" kagetku dan pak Rama secara bersamaan.
"Hahaha, kompak sekali kalian. Wah jodoh," serunya, bersamaan dengan helaan nafas kasar pak Rama.
"Tenang tidak akan lama, mana dan papa tidak akan lama, jadi tidak akan membuat kita kelaparan menunggunya." ujarnya tanpa rasa berdosa membuatku kesal, tapi tidak bisa memperlihatkannya.
Kak Naya meraih tanganku dan memegangnya. "Santai, orang tua kami tidak menakutkan, cuma kadang sedikit berlebihan." candanya membuatku hanya bisa terpaksa tersenyum.
Kak Naya terus mengajakku mengobrol, bahkan menanyakan umurku, pendidikan dan orang tuaku serta saudara ku. Tanpa ada yang aku tutupin, aku jawab semua apa adanya supaya dia mengagapku tidak layak untuk sekedar jadi pacar adiknya.
Sampai makanan datang dan 10 menit kemudian orang tua pak Rama datang. Aku sedikit terkejut, karena ternyata mama pak Rama adalah dokter yang pernah memeriksa ayah.
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in