NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Baik, aku sudah merapikan teksmu dengan menambahkan titik, koma, serta tanda baca yang sesuai agar lebih enak dibaca. Berikut hasil revisinya:

---

Keretakan hubungan mereka pun dimulai karena perselisihan antara kedua belah pihak.

Di satu sisi, Alia merasa jengkel dengan sifat Arnold. Tetapi, Alia tidak menyangka bahwa Arnold akan menjelekkan orang tua sang wanita seperti itu.

Arnold juga terlalu terlarut dalam masalah yang sedang ia hadapi. Entah mengapa, dirinya jadi susah fokus untuk membedakan mana urusan pribadi dan mana urusan sekolah.

Keduanya memilih untuk beristirahat masing-masing dibandingkan harus bertemu tetapi berantem setiap hari.

Tanpa sadar, hubungan mereka mulai asing. Seperti tidak pernah mengalami rasa pacaran seperti sebelumnya.

Walau kehidupan Alia tidak jauh berbeda sebelum ada Arnold di dalam kehidupannya, Alia tetap menjalani hari-harinya dengan enjoy, walaupun tidak lagi berdekatan dengan Arnold.

Satu tahun sudah berlalu.

Akhirnya, Arnold lulus dari sekolah itu tanpa memberitahu Alia. Sedangkan Alia merasa biasa saja. Mungkin memang sudah saatnya dirinya tidak mengharapkan hal-hal yang tidak bisa dia gapai.

Namun, pertemuan antara dua keluarga itu selalu ada, dan selalu terhubung dengan Alia juga Arnold. Keduanya merasa biasa saja, sama halnya seperti pertemanan yang mungkin mereka bangun sejak awal.

“Keduanya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua mereka, tetapi memang sifat mereka tidak bisa dipungkiri. Mereka memang tidak memiliki hubungan apa pun lagi sekarang.”

---

Teras rumah Alia

“Aku minta maaf ya, soal kejadian masa lalu. Menurut kamu, bagaimana tentang hubungan kita ke depannya? Apakah kamu masih mau menikah sama aku?”

“Enggak. Karena aku ngerasa kita nggak pernah punya kecocokan. Kita memang orang yang berbeda, jadi kamu nggak bisa memaksakan.”

“Kenapa kamu bicara begitu? Bukannya awalnya kamu positif thinking banget kalau kita bisa bersama? Tapi kenapa sekarang kamu merasa kalau kita nggak bisa bersama? Apa karena sifat aku yang kemarin-kemarin itu bikin kamu sakit hati sama aku?”

“Nggak sih. Sisi aku ngerasa mungkin emang nggak seharusnya kita bersama, dan nggak seharusnya juga aku deket sama kamu. Mungkin kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku, ya kan?”

Arnold yang mendengar itu hanya merasa kecewa. Ya, mau bagaimana lagi? Mungkin itulah perasaan yang dilewati oleh Alia, tanpa dirinya bercerita kepada Arnold.

Di sisi lain, Arnold juga sadar bahwa dirinya salah. Tetapi mau bagaimana lagi, walaupun sudah salah ya nggak akan bisa diubah. Hanya permintaan maaflah yang bisa diterima oleh Alia.

Alia sudah berlapang dada, sudah berbesar hati untuk memaafkan kejadian yang sudah lampau. Tetapi entah mengapa, kejadian itu tidak bisa hilang begitu saja dalam sekejap.

Alia mencoba berdamai dengan hal-hal tersebut dengan cara belajar yang benar, dan mencoba untuk berkuliah di luar negeri.

Mungkin dengan cara itu ia bisa melupakan Arnold secara alami, tanpa harus ada paksaan atau pemikiran yang aneh-aneh.

---

“Setelah kamu lulus sekolah nanti, kamu bakal sibuk apa?”

“Aku mau ke luar negeri.”

“Kenapa kok nggak kuliah di sini aja? Kenapa harus di luar negeri?”

“Papa aku yang suruh. Karena aku anak papa, jadi aku harus nurut sama papa. Mungkin bapak aku mempunyai rencananya sendiri yang terbaik buat aku. Lagian, aku di sini juga buat apa? Toh aku nggak bisa berkembang. Kalau aku ke luar negeri, aku lebih bisa berkembang.”

Sebenarnya bukan jawaban seperti itu yang diharapkan Arnold. Tetapi apa dayanya? Dirinya memang bukan siapa-siapa lagi bagi Alia.

Alia merasa sedih ketika melihat Arnold tidak mencegahnya sedikit pun, atau melarangnya untuk pergi ke luar negeri. Tapi, ya sudah. Mungkin mereka berdua memang sudah asing dan bukan siapa-siapa lagi.

Mungkin, pikir Alia, perasaan Arnold sudah berubah kepadanya. Karena sudah satu tahun yang lalu, pasti sudah ada orang yang mengisi hatinya.

Walau Alia tidak pernah menanya siapa orang itu, ia percaya bahwa orang itu baik dan tepat untuk Arnold. Kalau sakit hati dan kecewa itu pasti ada, tetapi pintar sekali Alia menyembunyikan perasaannya agar tidak terlihat oleh Arnold.

“Kalau memang keputusan kamu sudah bulat, ya aku nggak bisa berkata apa-apa. Semoga kamu bisa berjuang di sana. Dan kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa kok chat aku. Itupun kalau memang kamu butuh.”

Alia sempat berpikir, mengapa Arnold menyuruhnya untuk memberi kabar walaupun sudah di luar negeri. Dalam hati, Alia bertanya-tanya. Apakah sebenarnya Arnold belum memiliki siapa-siapa untuk menjadi pendampingnya nanti?

Alia tidak mau kepedean duluan. Karena Arnold sosok pria yang ganteng. Mungkin dirinya bukan mencari kecantikan, melainkan hatinya. Walaupun dulu sebenarnya Arnold pernah membuat Alia tersinggung tanpa sadar.

Namun Alia tidak mau bertanya lebih jauh. Ia tahu dirinya juga memiliki batasan. Itu lebih baik daripada selalu dekat.

Terlalu erat dengan masa lalu itu tidak baik. Karena itu, Alia menjaga jarak dengan baik agar tidak melakukan penyesalan seperti yang dulu, dan di kemudian hari.

Arnold ingin pergi dari hadapan Alia, tapi tidak sedikitpun Alia mencoba untuk menghalanginya. Bagi Alia, tidak ada hak untuk dirinya menghalangi Arnold.

Arnold menjadi paham kenapa Alia tidak membutuhkan dirinya. Mungkin, Alia sekarang sudah mencoba menjadi orang yang ikhlas. Walau sebenarnya, Arnold yang tidak ikhlas dengan sifat Alia.

Saat Arnold pergi jauh dari hadapan Alia, Alia tidak bisa menahan air matanya lebih lama. Alia yang masih mencintai Arnold tidak bisa berkata apa-apa.

Bagi Alia, semua sudah terlanjur dan tidak bisa disambung kembali. Dengan disambung kembali, hanya akan membuat mereka sakit satu sama lain.

Arnold yang sudah sampai rumah merasa hancur mendengar Alia mau pergi dari hadapannya dengan alasan ke luar negeri. Itu sudah mencerminkan bahwa Alia tidak mau bertemu dengannya kembali.

Itu adalah hal yang terbaik untuk mereka. Walau bagaimanapun, tidak semua hal terbaik terasa indah. Terkadang, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.

---

Satu tahun lagi, Alia lulus dari sekolah ini. Mencintai kakak kelas adalah kenangan terbaik Alia. Dan kakak kelas itu, memiliki paras tampan.

Arnold lulus dari sekolah ini dengan nilai terbaik dan menjadi anak berprestasi. Arnold bukan pria sembarangan yang pernah dicintai Alia. Wajah Arnold masih terpampang di sekolah itu, walau sudah satu tahun berlalu. Tidak ada yang berubah.

Alia berharap semoga dirinya juga bisa lebih baik dari Arnold. Bila perlu, sampai dirinya tidak bisa direndahkan orang lain.

---

Kepala sekolah memanggil Alia, yang kini sudah berbeda penampilan. Setiap berbicara, kepala sekolah selalu salah fokus dengan kecantikan Alia yang tidak pernah orang lain tahu.

“Alia.”

“Iya pak, ada apa?”

“Saya sampai pangling lihat kamu. Ternyata kamu cantik juga ya. Kenapa dari dulu kamu nggak pernah mau berdandan seperti ini, Al? Kenapa kamu selalu menutup kecantikan kamu?”

“Buat apa saya terlihat cantik, Pak, kalau hanya untuk dipedulikan orang lain? Lebih baik saya menjadi orang jelek saja, daripada saya menjadi orang cantik yang dipeduliin, tapi pas saya jelek nggak ada yang peduli sama saya.”

Kepala sekolah merasa tertancap dalam hatinya. Seakan-akan Alia juga membicarakan tentang dirinya.

Alia keluar dari ruangan kepala sekolah tanpa merasa ada salah apa pun. Tak lama, Alia menghela napas.

“Capek ya, kalau aku tahu, aku nggak pernah berubah jadi orang lain. Walaupun sebenarnya diriku seperti ini sih.”

Alia pergi ke kelas. Tanpa sadar, ia bertemu dengan temannya, Tobi.

“Al, ke mana aja? Aku cariin.”

“Kenapa kamu cari aku? Pasti ada maunya ya? Kalau nggak minta tugas, pasti minta nyontek. Kenapa sih, selalu minta tugas mulu? Aku udah bilang ke kamu, belajar, jangan nyontek mulu, Tobi.”

“Aku cuma mau ngajak kamu ke kantin doang kali. Emang aku nggak boleh ngajak kamu ke kantin? Ya udah deh, kalau sama orang cantik mah emang susah kalau diajak ke kantin.”

Seketika, Alia berpikir. Sudah lama ia tidak ke kantin. Ada baiknya juga kalau dirinya ke kantin, agar penat yang ada di otaknya bisa hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!